Anak Kembar CEO Kaya

Anak Kembar CEO Kaya
46. Mengetahui Masa Lalu Gallen


__ADS_3

..."Menangislah jika Bos ingin menangis, enggak akan ada yang melarangnya."...


...***...


"Bos!"


Zoya langsung mendekat ke arah Gallen. Pria itu masih terlihat kesulitan bernapas meskipun Zoya telah menyalakan senter di ponselnya. Zoya kemudian menyentuh bahu pria itu, mencoba melakukan sesuatu untuk membantu Gallen bernapas kembali, "Bos, tarik napas pelan-pelan." ujarnya.


Gallen menatap wanita itu. Kelihatan sekali bahwa Zoya merasa kebingungan dengan kondisi Gallen. Hal itu bisa dimaklumi. Wajar jika wanita itu merasa panik, karena tak semua orang pernah melihat kasus seperti ini. Gallen menatap wanita itu kembali. Melihat wanita itu yang terus mendampinginya dalam kondisi lemahnya ini membuat Gallen perlahan tenang. Zoya tak meninggalkannya, itu saja sudah cukup. Dan rasa hangat yang dihantarkan lewat genggaman tangan wanita itu membuatnya mendapatkan kembali rasa aman.


Zoya masih mencoba menenangkan pria itu, tak terlihat takut sama sekali. Sepertinya, ia lebih mengkhawatirkan keadaan Gallen dibandingkan dirinya sendiri.


"Aku akan tetap disini. Tenangkan diri bos, oke? Pelan-pelan saja." Suara wanita itu terdengar halus. Zoya tampaknya telah berhasil memenangkan rasa gugup dan paniknya hingga bisa bersikap tenang.


Gallen menarik napasnya dalam, mengeluarkannya secara perlahan. Secara bersamaan, listrik kembali berfungsi.


KLAK


Seluruh ruangan kembali terang. Gallen kembali menarik napas, menatap Zoya yang ternyata masih memandanginya sedari tadi, "Maafkan aku, aku pasti membuatmu takut."


Zoya menggeleng mendengar itu. Wanita itu sama sekali tak melepaskan genggaman tangannya dari Gallen, justru semakin memegangnya dengan erat, "Enggak, justru aku merasa bersyukur karena aku ada disini. Bukankah Bos merasa lebih tenang saat ada orang lain yang menenangkan bos?" Wanita itu tersenyum, hangat sekali.


Gallen tersenyum kecil. Sebenarnya hal itu tidak akan efektif jika orang lain yang melakukannya. Bahkan Alby sekalipun akan merasa kesulitan untuk melakukan itu. Namun anehnya, saat Zoya yang mencoba menenangkannya, Gallen justru merasa aman. Apa itu termasuk kemampuan spesial yang dimiliki wanita itu?


"Kamu ingin bertanya tentang orang tuaku, kan?" Tanya Gallen. Meskipun pembicaraan mereka sempat terputus, namun pria itu masih bisa mendengar dan mengingat dengan jelas apa yang diucapkan oleh Zoya sebelumnya, "Aku akan menceritakannya sesuai dengan apa yang aku ketahui." Lanjut Gallen.


Zoya menggeleng dengan kuat, tak ingin semakin memperparah keadaan Gallen. Apalagi pria itu baru bisa menenangkan dirinya, sangat tak punya hati jika Zoya membuatnya bercerita tentang sesuatu yang pastinya akan membuat Gallen semakin sedih.


"Aku hanya merasa penasaran aja, kok. Enggak perlu dijawab sekarang. Kapan-kapan aja." Tolak Zoya. Namun, pria itu tersenyum kecil.


"Tidak apa-apa. Aku tidak merasa keberatan untuk menceritakannya."


Zoya mengunci bibirnya. Salahnya karena memancing pembicaraan ini. Sekarang, ia tak bisa menghentikan Gallen untuk bercerita.


"Aku sudah tidak terlalu ingat, karena saat itu aku masih sangat muda. Tante Pamela pernah bercerita bahwa kedua orangtuaku menikah karena dijodohkan, jadi mereka hanya memperlakukan satu sama lain layaknya rekan bisnis. Namun, hubungan mereka baik-baik saja, tidak ada pertengkaran ataupun kesedihan karena mereka punya tujuan masing-masing dengan melakukan pernikahan itu."


Zoya hanya diam, namun sebenarnya ia merasa terkejut mendengar hal itu. Menikah karena bisnis? Bagaimana orang-orang bisa melakukan hal semacam itu? Apakah perasaan memang tak penting sama sekali?


Lalu, bagaimana dengan anak mereka? Apa mereka memperlakukan anak-anak seperti alat bisnis juga?


Gallen yang menangkap ekspresi aneh di wajah wanita itu pun terkekeh, "Jangan khawatir, bagaimanapun juga mereka adalah orang tuaku. Mereka memperlakukanku dengan sangat baik layaknya harta berharga yang mereka punya." Ujar Gallen.


Zoya menghela napas lega. Untunglah kalau begitu. Setidaknya masa kecil Gallen cukup bahagia.


Gallen menatap ke langit-langit, mengingat cerita yang pernah didengarnya, "Saat itu kakek memberikan kuasa untuk memimpin perusahaan kepada Papa. Aku ingat kami jadi sering pergi ke berbagai tempat untuk tugas bisnisnya karena Papa selalu membawaku dan juga Mama saat dia melakukan perjalanan bisnis dalam waktu lama. Mungkin karena Mama memiliki kemampuan yang hebat dibidang bisnis, karena itulah mereka selalu bersama." Cerita Gallen.


Zoya terdiam mendengar cerita itu. Ia sudah membacanya di berita, tapi, sesuatu terasa mengganjalnya.

__ADS_1


"Bukankah orang yang bernama Basman itu adalah anak pertama? Kenapa justru anak kedua yang memegang kuasa atas perusahaan?"


Gallen terlihat terkejut. Tampaknya dia tak menyangka bahwa Zoya akan berpikir sampai kesana. Sambil menatap ke arah lain, pria itu menjawab.


"Yah, karena sesuatu hal ... makanya Paman Basman kehilangan kekuatannya di dalam keluarga."


Zoya mengerutkan alisnya. Sesuatu hal? Kehilangan kekuasaan? Memangnya apa yang membuat orang tua begitu teganya sampai tidak memberikan hak yang semestinya didapatkan oleh sang anak?


"Pokoknya pada saat itu, kami benar-benar sibuk mengurusi bisnis di banyak tempat, lalu ... " Gallen melirik Zoya. Dia sengaja mengalihkan pembicaraan agar wanita itu tak bertanya lebih jauh, "Kecelakaan itu terjadi. Pada suatu malam, ditempat sepi dengan pencahayaan yang kurang dan hujan lebat. Sebuah mobil menyerempet mobil kami. Sopir sepertinya berusaha untuk mengendalikan mobil setelah kecelakaan kecil itu, tapi sebuah mobil lain kembali menabrak kami."


Zoya tak bisa berkata apa-apa. Bukankah itu artinya ... Gallen juga ada disana?


Gallen sadar dengan tatapan Zota. Namun, seolah tidak merasa sedih saat mengingatnya, pria itu justru tersenyum lebar menatap Zoya, "Dan seperti yang kamu lihat, hanya aku yang selamat." Ujarnya. Zoya menatap pria itu tak berkedip.


"Dan bos ingat dengan jelas kejadian itu?" Tanya Zoya.


"Mungkin karena aku memiliki otak yang jenius sejak kecil, maka dari itu --- "


GREP


Zoya menghambur ke pelukan Gallen. Tanpa berkata-kata terlebih dahulu, tanpa menunjukkan tanda-tanda sama sekali, wanita itu langsung memeluk Gallen dengan erat.


"Itu pasti hal yang sangat berat untuk Bos. Bagaimana Bos melaluinya selama ini?" Suara Zoya terdengar pelan di telinga Gallen.


Ini adalah pertama kalinya Zoya memeluknya seperti ini dalam keadaan sadar. Gallen tak pernah berpikir bahwa hari seperti ini akan datang dengan cepat, namun sepertinya dia merasa bersyukur karena Zoya memeluknya saat ini.


"Terimakasih." Gallen dengan tulus mengucapkan ini.


Gallen terkekeh mendengar itu.


Kenangan buruk yang telah berlalu, kenangan buruk yang tak pernah bisa Gallen lupakan. Dia telah dengan sangat rapi menutupi hal itu dari orang-orang. Hanya Alby, selebihnya tak ada lagi yang mengetahui ketakutannya. Bahkan Kakek, Paman, dan juga Tantenya pun tak pernah tahu. Gallen tak ingin menunjukkan kelemahannya di depan orang lain, namun wanita yang memeluknya ini justru memberikannya bahu untuk menangis.


"Aku tak pernah menangis kecuali saat aku masih bayi." Zoya terkekeh mendengar itu.


Bahkan hanya mendengarnya saja sudah membuat Zoya ingin menangis. Ia hanya terpaksa menahannya agar Gallen tak merasa semakin sedih saat melihatnya menangis. Namun, mengapa pria ini masih dengan santainya bisa terkekeh seperti itu?


"Akan lebih baik jika Bos memiliki foto mereka, jadi Bos bisa melihat mereka setiap kali bos merindukannya." Ujar Zoya.


Mendengar hal itu, tiba-tiba saja Gallen melepaskan pelukan mereka.


"Aku punya foto mereka. Kamu ingin melihatnya?"


***


"Oh?" Zoya menatap sebuah foto yang terpajang di dinding.


Gallen membawa Zoya untuk melihat foto kedua orang tuanya. Waktu telah berlalu lama, namun Zoya masih ingat dengan jelas tempat ini. Bukankah ini adalah kamar yang pernah Gallen tunjukkan padanya saat Zoya pertama kali datang?

__ADS_1


"Itu orang tua Bos?" Tunjuk Zoya.


Gallen mengangguk. Dia mengambil foto itu dari tempatnya, menunjukkannya dari dekat, "Ya. Ini adalah Papa dan Mamaku." Gallen menyodorkan foto berbingkai itu pada Zoya.


Zoya menerima foto itu. Ia mengusap pelan kaca foto, teringat saat pertama kali dirinya mengira bahwa itu adalah Gallen.


"Aku kira ini Bos. Lalu wanita ini adalah kekasih atau istrinya Bos. Fotonya tidak terlihat lama sama sekali."


Gallen terkekeh mendengarnya.


"Teknologi sekarang makin canggih, foto lama pun bisa diperbaiki seperti baru." Katanya.


Zoya mengiyakan kata-kata Gallen. Sepertinya kata-kata itu tidak salah, karena zaman sekarang semuanya bisa diedit dengan mudah. Zoya saja yang bodoh dalam segala hal, bahkan mengambil foto pun ia hanya tahu cara berfoto selfi di kamera biasa. Menyedihkan.


Melupakan kebodohannya tadi, Zoya kembali terfokus pada gambar yang ada dalam foto itu. Jika orang yang tidak tahu, mereka pasti akan mengira bahwa orang yang ada di dala foto itu adalah sepasang suami istri yang menikah karena cinta. Foto mereka terlihat sangat bahagia, tidak ada tanda-tanda terpaksa sama sekali. Oh, atau mungkin setelah menikah, cinta akhirnya tumbuh? Bisa saja itu yang terjadi.


Semakin melihat foto itu, tiba-tiba saja Zoya teringat sesuatu.


"Kalau begitu, baju yang aku pakai saat pertama kali kemari itu ... "


Gallen mengangguk.


"Ya, itu baju Mamaku. Kamu tidak merasa keberatan karena memakai baju orang yang sudah meninggal, bukan?"


Zoya mengegeleng dengan keras. Bukan! Bukan itu yang Zoya pikirkan sekarang! Tapi, bukankah itu artinya ia telah memakai sesuatu yang sangat berharga bagi pria itu?


"Aku jadi merasa bersalah. Pasti itu barang yang sangat penting bagi bos, tapi bos harus meminjamkannya padaku." Ia menatap Gallen.


Gallen terkekeh mendengar kata-kata Zoya, merasa senang, "Sepertinya Mamaku pun sudah mengizinkanmu menjadi menantunya. Aku tidak pernah mengizinkan orang lain menyentuh barang-barangnya, namun anehnya aku bisa dengan mudah meminjamkannya untukmu."


Zoya masih merasa bersalah meskipun mendengar itu. Ia menatap foto itu kembali, meminta maaf sedalam-dalamnya dalam hatinya sembari menutup mata.


Setelah selesai meminta maaf, Zoya kembali membuka matanya. Pandangannya kembali terarah pada foto itu. Seperti menemukan sesuatu, Zoya menatap Gallen, lalu kembali menatap foto itu.


"Bos benar-benar mirip dengan Papanya Bos." Ujarnya.


Zoya sudah menyadarinya dari lama, tentu saja, karena ia pun sempat mengira bahwa pria dalam foto itu adalah Gallen. Namun setelah mengetahui kebenarannya, tak dipungkiri Zoya pun mengakui bahwa pria itu memanglah sangat mirip dengan Papanya.


Gallen mengangguk, mengiyakan hal tersebut, "Hm, banyak yang mengatakan demikian."


"Dan Milo juga sangat mirip dengan Bos." Wanita itu menatapnya. Luar biasa, mereka seperti membuat salinan yang sangat mirip dengan mereka pada keturunannya.


Gallen tertawa puas, "Sepertinya Gen Kakekku sangat kuat."


"Kakek Bos pun mirip dengan bos?"


Gallen mengangguk.

__ADS_1


Zoya tak bisa berkata-kata. Wah, luar biasa. Kalau kedua orang itu masih hidup, bukankah mereka akan terlihat seperti salinan empat rangkap?


***


__ADS_2