
..."Maaf, seharusnya aku berada di sampingmu saat itu. Bahkan seharusnya aku tidak pernah melakukan itu."...
...***...
"Eh, Zoya." Wanita setengah baya itu menyambutnya dengan cepat, "Apa kabar? semuanya baik-baik aja, kan?" Tanya wanita itu dengan wajah yang berseri-seri.
Zoya tersenyum kaku mendengar itu. Baik-baik saja katanya? Diusir dari kontrakan secara tiba-tiba apa bisa disebut baik-baik saja?
"Haha," Zoya akhirnya hanya terkekeh dengan kaku, "Yah, seperti yang ibu lihat."
Wanita itu adalah pemilik kontrakan Zoya. Atau lebih tepatnya, mantan pemilik. Karena katanya kontrakan itu sudah di jual pada orang lain yang Zoya curigai adalah Gallen. Bayangkan saja. Bahkan kemarin wanita itu seperti tidak ingin bicara lama-lama dengannya di telepon. Namun sekarang dia malah sampai datang ke tempat ini dan beramah tamah dengannya?
Yah, meskipun kunci kontrakannya memang ada di dia, sih.
Untuk meminimalisir adanya kemungkinan kunci hilang, Zoya sengaja menitipkan kunci kontrakannya pada si pemilik kontrakan. Namun sepertinya yang terjadi akhirnya, Zoya malah terusir dari kontrakannya secara tiba-tiba. Kontrakannya terkunci, Zoya pun tak bisa masuk. Karena itu ia dan Noah berkeliaran tak jelas hari kemarin.
Namun saat Zoya kembali lagi ke sini bersama Gallen, pemilik lama kontrakannya justru datang kemari dengan senang hati. Bersama suaminya pula. Seolah menyambut tamu penting, keduanya berdiri berjejeran dengan sikap hormat pada mereka bertiga. Zoya hanya tersenyum saja melihat itu. Alasan apalagi yang dapat menjelaskan kejadian ini jika bukan karena Gallen lah sang pembeli rumah kontrakan yang katanya memberikan harga berkali-kali lipat dari harga pasaran itu?
"Saya mau ambil barang, Bu. Bisa minta kuncinya dulu?"
"Oh, iya-iya." Wanita paruh baya itu memberikan kunci yang sedari tadi dipegangnya, "Ini, Ibu udah siapkan daritadi."
Zoya menerima kunci itu. Gantungan kuncinya adalah hadiah yang pernah Milo dan Noah berikan sebagai hadiah ulangtahunnya tahun lalu. Zoya harus mengambilnya nanti.
"Kalau begitu kami masuk dulu ya, Pak, Bu." Sopan Zoya pada kedua orang itu.
"Iya-iya, silakan."
Zoya, Gallen, dan Noah segera memasuki rumah kontrakan itu. Zoya masuk ke dalam kamar Noah, memasukkan baju-baju dan beberapa barang putranya itu ke dalam tas. Gallen yang melihat itu pun mendekat.
"Kau urus saja barang-barangmu. Biar aku yang mengurus barang-barang Noah." Gallen menawarkan bantuan.
Zoya yang mendengar itu tentu tak menolak. Ia kemudian memberikan pekerjaannya pada Gallen dan meminta Noah untuk menunjukkan apa-apa saja barang miliknya yang akan dibawa.
__ADS_1
"Noah tolong bantu Paman, ya." Kata Zoya.
"Papa, bukan Paman." Ralat Gallen dengan diiringi lirikan mata tajam.
Zoya terkekeh, "Iya, maksudnya itu." katanya. Ia lalu segera kabur dari kamar itu ketika tatapan Gallen semakin tajam melihatnya.
Zoya tak merasa keberatan jika Gallen ingin kedua putranya memanggilnya dengan sebutan Papa. Ia bisa mengerti. Akan menyedihkan jika anaknya sendiri justru memanggilnya dengan sebutan paman. Tapi, hanya sekedar itu. Benar sih jika sekarang Zoya tak terlalu menolak keberadaan Gallen. Ia ingin mencoba untuk lebih memahami pria itu. Jadi, yah, jangan terlalu berharap bahwa sikapnya ini menandakan bahwa dirinya telah benar dan yakin menerima Gallen untuk menjadi pendamping hidupnya. Zoya hanya tak ingin mengambil hak Gallen untuk diakui sebagai Papa dari anak-anaknya.
Melihat sudah ada yang membantu tugasnya mempacking barang Noah, Zoya lalu pergi ke kamarnya sendiri. Untungnya pakaian yang dirinya miliki tidak terlalu banyak, karena Zoya pun baru beberapa bulan ini tinggal di kota. Dengan semua pakaian yang dirinya miliki ini, Zoya dapat lebih mudah mempacking semuanya ke dalam sebuah tas beserta dengan barang-barangnya yang lain.
Sret
Setelah urusan bajunya selesai, Zoya lalu menarik semua foto dirinya bersama Milo dan Noah yang sebelumnya ia sembunyikan di bawah ranjang saat Gallen datang secara tiba-tiba beberapa waktu lalu. Dibersihkannya foto-foto itu. Karena Zoya pun sudah meninggalkan tempat ini selama lebih dari seminggu, wajar saja jika foto-foto itu kini berdebu. Zoya tersenyum kecil. Melihat wajah-wajah mungil itu, pikirannya melayang ke beberapa tahun lalu.
"Foto apa itu?"
Zoya menoleh ke belakang. Menemukan Gallen yang menggendong Noah kini telah berada di belakangnya. Pria itu terlihat bingung, karena baru kali ini melihat foto-foto itu ada di rumah ini.
Gallen yang dipanggil pun akhirnya mendekat. Di samping Zoya, pria itu lalu ikut mendudukkan dirinya di lantai.
"Lihat ini." Zoya menunjukkan foto-foto itu pada Gallen, "Lucu, kan?" Katanya.
Gallen memandangi semua foto itu dengan mata yang membulat penuh. Tangannya ikut bergetar saat menyentuh wajah-wajah yang ada dalam foto itu, "Ini ... "
"Itu aku dan Milo!" Noah ikut bersuara. Dia juga mengambil sebuah album, lalu menunjuk foto lainnya yang ada di sana, "Kalau ini Kakek dan Nenek. Mereka terlihat kelelahan, kan." Jelasnya sembari menunjuk satu persatu orang dalam foto itu. itu adalah foto Bapak dan Ibu Zoya yang terlihat kelelahan di luar kamar perawatan.
Gallen mencoba untuk tegar, namun hatinya serasa tercabik saat mendengar itu. Harusnya dia juga ada disana, kan? Tapi Gallen bahkan tak pernah tahu bahwa dirinya telah memiliki anak sampai beberapa waktu belakangan ini.
"Kenapa kau tak ikut berfoto juga?" Gallen bertanya pada Zoya.
"Aku?" Zoya tersenyum sendu mendengar itu, "Aku juga punya foto saat proses persalinan, kok. Tapi, ya, kurasa untuk foto-foto itu aku memang belum bisa difoto." Zoya tampak murung saat mengingat itu.
Gallen yang melihat itu pun semakin penasaran.
__ADS_1
"Kenapa?" Tanya Gallen meminta jawaban.
Zoya menatap Gallen sembari kembali tersenyum, "Sebenarnya, Milo dan Noah lahir beberapa Minggu lebih cepat. Itupun persalinannya cukup sulit. Jadi, yah, aku mengalami perdarahan yang cukup parah." Jelasnya sembari mengingat hal yang telah terjadi bertahun-tahun lalu itu.
Gallen terperanjat mendengar itu. Ia terdiam saking tak tahunya harus berekspresi macam mana. Selama ini Zoya tak pernah menceritakan sedikitpun tentang proses kelahiran kedua buah hati mereka. Wanita itu hanya terus mengatakan bahwa ia akan mengambil semua tanggung jawab dalam membesarkan mereka. Ternyata ada cerita seperti ini?
"Apa ... kau baik-baik saja?"
Zoya mengangguk. Ia sedikit terkekeh dengan pertanyaan itu, "Bukankah aku masih hidup? Meskipun sempat koma saat itu ---"
Grep
Gallen memeluk tubuh ringkih wanita itu. Zoya sempat terkejut, tubuhnya menegang mendapati perlakuan itu. Namun, ia tetap membiarkan lengan besar yang bergetar itu memeluk erat tubuhnya, "Maaf, seharusnya aku berada di sampingmu saat itu. Bahkan seharusnya aku tidak pernah melakukan itu." Katanya.
Suara Gallen terasa membisiki telinganya. Zoya mengangkat tangannya, menepuk-nepuk pelan punggung Gallen, "Yah, semuanya juga sudah lama berlalu. Enggak usah terlalu dipikirkan." Ia berusaha untuk membuat Gallen tak bersedih akan itu.
Gallen melepaskan pelukannya. Dipandanginya wanita didepannya itu, "Apa kau membenciku saat itu?"
Zoya menggeleng.
"Enggak, lah. Lagipula sejak awal itu bukan kesalahan Bos. Aku yang --- "
"Ssstt," Gallen menahan kata-kata Zoya, "Kau ingin berebut untuk menyatakan siapa yang salah lagi sekarang? Kalau begitu seperti yang kubilang, aku yang salah." Pria itu kembali ngotot tentang masalah itu. Bagaimanapun, menurut prinsip Gallen, pria sebagai pihak yang lebih kuat tentulah yang salah dalam hal ini!
Namun seperti sebelum-sebelumnya, Zoya yang tak terima akan itu pun kembali menjawab, "Lah, enggak mungkin. Kan aku yang mabuk saat itu, Bos cuma tergoda saja." Jawabnya lagi.
"Kamu mabuk, tapi aku tidak. Aku yang melakukan itu atas dasar kemauanku sendiri."
Zoya kembali memberikan pendapatnya tentang dirinya yang salah, dan begitupun dengan Gallen. Noah memandangi kedua orang itu dengan bingung. Hei, apa mereka berdua akan terus membicarakan proses pembuatan Milo dan Noah di depannya langsung seperti ini?
Dasar.
***
__ADS_1