
..."Harusnya kau menguatkan hatimu setelah meyakini untuk tidak memberitahu Bos tentang kebenaran itu!"...
...***...
"Zoya!"
Gallen, orang yang dikunci di luar rumah oleh Zoya itu berteriak-teriak memanggil namanya. Zoya yang tersadar dari lamunannya setelah mendengar itu pun langsung beranjak, mengambil satu persatu foto dimana Milo berada dan menyembunyikannya.
"Zoya! Aku akan mendobrak pintu ini jika kau tak juga membukakannya baik-baik." Teriak Gallen lagi.
Zoya yang sedang kerepotan dengan barang bawaannya itu berhenti, menoleh sejenak ke arah pintu yang masih terkunci.
"Sebentar! Aku sedang membereskan rumah dulu sekarang!" Katanya.
Gallen yang mendengar itu lantas menyilangkan tangan di depan dada. Membereskan rumah katanya. Zoya ternyata benar-benar berubah dari Zoya yang dikenalnya. Wanita yang tak pernah membiarkan satupun barang tergeletak secara sembarangan saat bekerja di rumahnya itu sekarang menjadi orang yang akan langsung menutup pintu saat mendengar kedatangan tamu. Ini sangat berbeda dengan Zoya yang dikenalnya, namun anehnya tetap tak dapat mengubah perasaan Gallen kepadanya.
Sedangkan Zoya yang masih sibuk di dalam rumah terburu-buru menyembunyikan semua foto itu di bawah ranjang kamarnya lalu kembali ke depan untuk membuka pintu.
Ceklek
Ia menemukan Gallen yang masih setia menunggunya di depan. Kedua mata mereka saling bersirobok, "Aku --- Bos?!" Gallen memaksa masuk ke dalam bahkan sebelum Zoya mempersilakan padanya untuk masuk. Pria itu sama sekali tidak peduli pada panggilan Zoya, dan Zoya pun harus bersyukur karena berhasil menyembunyikan foto-foto tadi sebelum Gallen melakukan hal yang sama seperti yang dirinya lakukan sekarang.
"Dimana Noah?" Tanyanya langsung.
Zoya menunjuk kamar dimana anaknya berada. Tanpa basa-basi, Gallen langsung berjalan ke arah kamar itu dan membuka pintunya.
Ceklek
Begitu pintunya terbuka, terlihatlah sosok bocah laki-laki yang sedang terduduk di atas kasurnya sembari melihat ke arah dinding di depan.
"Noah." Panggil Gallen.
Pria itu lantas masuk, duduk di samping Noah dan menyentuh kepalanya, "Kau demam. Apakah sudah minum obat?" Tanya Gallen.
Noah terbelalak mendengar hal tersebut.
__ADS_1
"Noah baru selesai makan. Aku berencana memberikannya obat sebelum akhirnya gagal karena bos datang kemari." Jawab Zoya dari ambang pintu.
Pria itu melihat ke sekitar dan menemukan sebotol obat yang tersedia di atas nakas.
"Ini obat Noah?" Tanya Gallen yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Zoya. Gallen mengambil obat itu, membaca aturan penggunaan yang tertera disana.
"Aku akan memberikannya." Ujarnya.
Zoya sempat terkejut saat mendengar itu. Mengapa Gallen begitu ingin ikut campur untuk semua hal yang menyangkut Noah? apakah ikatan antara ayah dan anak diantara mereka begitu kuat, sampai-sampai Gallen tetap melakukan hal-hal itu meski Zoya berulang kali mengatakan bahwa Noah bukanlah putranya?
"Hm, baiklah. Aku akan keluar dulu kalau begitu."
Gallen mengangguk. Dia sedang menuang obat tersebut ke atas sendok takar sehingga tak memiliki minat untuk menjawab.
***
Zoya masih memandangi pintu kamar Noah meskipun memutuskan keluar dari sana. Apa yang baru saja dilihatnya itu? Bukti cinta dan kasih dari seorang ayah untuk anaknya? Mengapa Zoya merasa miris sekaligus sedih karena tiba-tiba menganggap bahwa dirinya lah yang memisahkan mereka berdua?
Duh, Zoya. Harusnya kau menguatkan hatimu setelah meyakini untuk tidak memberitahu Bos tentang kebenaran itu!
Tak ingin semakin merasa bersalah, ia kemudian memutuskan untuk pergi ke dapur dan menyiapkan semangkuk opor ayam beserta sambal goreng kentang dan nasi lalu menyajikannya di meja makan. Meskipun tidak bisa menyenangkan perasaan Gallen, setidaknya mungkin ini dapat membantu menyenangkan perutnya.
Zoya menunggu selama beberapa saat sebelum akhirnya pintu itu kembali terbuka. Tanpa sadar, ia terbangun dari duduknya saat melihat Gallen. Pria itu pun melihat Zoya dengan aneh, lalu mendekat karena Zoya tersenyum kepadanya. Ralat, tersenyum canggung.
"Apa yang kau lakukan?"
Zoya masih tersenyum canggung, lalu mempersilakan Gallen untuk duduk, "Aku enggak tahu gimana Bos bisa sampai disini, tapi sepertinya Noah yang meminta Bos datang, kan?" Ujarnya. Gallen hanya melirik diam-diam, lalu Zoya tersenyum karena menyadarinya.
"Mungkin karena dia anakku, jadi aku tahu dengan pasti sifat Noah. Karena itu sebagai Mamanya aku ingin meminta maaf kepada Bos." Zoya menyendokkan nasi ke piring Gallen, lalu menyodorkannya pada pria itu, "Makanlah, Bos. Mumpung opor dan sambal goreng kentangnya masih hangat." Ujar Zoya.
Gallen menatap makanan yang tersaji di depannya, lalu kembali menatap pada wanita di depannya, "Kau sengaja memasakkan ini untukku?"
Zoya tergelak pelan mendengar itu. Apa karena makanan itu adalah makanan kesukaannya, sampai-sampai Gallen mengira bahwa Zoya sengaja memasakkan itu untuknya?
"Haha, bukan. Noah yang meminta itu, aku sudah memasaknya bahkan sebelum Bos datang kesini." Jelas Zoya yang membuat Gallen sedikit malu. Pria itu kemudian menyendokkan satu sendok penuh nasi dan opor ayam, merasakan secara perlahan rasa yang pernah dirinya kecap.
__ADS_1
"Selera kami ternyata sama."
Zoya menoleh. Gallen, pria dingin itu terlihat tersenyum kecil sembari membayangkan sesuatu, "Biasanya anak kecil lebih suka makanan cepat saji, tapi Noah justru lebih suka makanan seperti ini."
Zoya menggaruk pelipisnya mendengar itu.
"Ah, ya. Mungkin karena Kakek dan Neneknya selalu melarang dia makan makanan semacam itu, jadi Noah hampir enggak pernah makan itu." Jawabnya.
Gallen mengangguk setuju mendengar itu. Yah, sebenarnya itu bukanlah hal yang buruk. Memakan makanan yang dibuat langsung oleh Ibu jelas lebih baik daripada membeli makanan cepat saji seperti itu. Gallen tentunya setuju jika anak-anak harus makan makanan rumahan, apalagi jika masakan itu seenak yang Zoya buat.
"Oh, ya. Mana suamimu?" Gallen bertanya tiba-tiba. Zoya terlihat agak terkejut, namun dia berhasil menyembunyikan keterkejutannya dengan baik.
"Dia pergi bekerja." Zoya menatap Gallen, "Bos ingin menemuinya? Kalau iya biar aku panggil dia untuk mampir sebentar." Tawar Zoya. Tentu, tidak benar-benar. Zoya hanya ingin membuat Gallen percaya padanya, meski dia pasti akan sangat kelabakan jika Gallen benar-benar menyetujui rencana itu.
"Tidak, tidak usah." Jawaban Gallen tiba-tiba terdengar dingin, "Bisa-bisa suamimu berpikir aneh melihatku datang kesini saat dia tidak ada." Kesalnya.
Zoya tersenyum dalam hati. Syukurlah!
"Hmm, baiklah kalau Bos berpikir demikian." Kata Zoya. Dia benar-benar terselamatkan!
"Kalau kalian bertemu nanti---"
Tok Tok Tok
Zoya menoleh mendengar suara ketukan pintu tersebut.
"Hm, Bos. Aku akan membuka pintu dulu."
Gallen mengangguk dan mempersilakan Zoya untuk pergi. Tanpa membuang waktu, Zoya segera beranjak dari tempatnya duduk. Meski sebenarnya ia pun tak tahu siapa yang ada di depan, namun sudah sewajarnya ia membukakan pintu untuk tamu.
"Ya, cari sia---"
Cengiran khas bocah di hadapannya itu membuat Zoya shock hingga tak tahu harus berkata apa.
"Mama!"
__ADS_1
***