Anak Kembar CEO Kaya

Anak Kembar CEO Kaya
18. Noah Mulai Curiga


__ADS_3

..."Semua orang punya ayah dan ibu, tapi kami cuma punya Mama?" ...


...***...


Saat pria berjas tadi selesai dengan barang belanjaannya, Noah yang masih terus menatap ikut berlari dan mengejar pria itu. Pria itu pun berbalik, melihat anak laki-laki berseragam TK tadi dengan bingung.


"Paman!"


Noah menatap barang di tangan pria itu. Bukan karena ingin. Namun karena pria itu sangat tinggi, secara refleks tatapannya justru jatuh ke botol dingin itu.


"Kau haus?" Tanya pria itu, yang kemudian cepat-cepat diralatnya kembali, "Ah, tapi ini tidak cocok untuk anak kecil."


Noah menggelengkan kepalanya. Tentu saja, karena bukan itu tujuannya. Dia memanggil pria itu untuk tujuannya yang lain. Melihat itu, sedikit banyak pria itu teringat dengan masa lalu.


"Paman sangat keren. Apa aku boleh bertemu denganmu lagi?" Tanyanya.


Pria itu tersenyum kecil. Baru kali ini dirinya bertemu dengan seorang anak kecil yang begitu pintar menilai orang lain, juga berani untuk berbicara dengan orang lain.


"Boleh. Bagaimana jika paman memberimu nomor telepon?"


Noah mengangguk. Dia menunjukkan jam di tangannya, yang ternyata bisa digunakan untuk menelepon.


Pria itu lantas menekuk lututnya dan menunduk, lalu memberitahukan nomor teleponnya yang kemudian segera disimpan oleh Noah.


"Oh, ya. Nama paman siapa? aku akan menyimpannya disini." Kata Noah.


Pria itu tampak berpikir sejenak, "Hm, simpan saja dengan nama Paman Gallen." Jawabnya.


Noah kemudian segera mengetikkan nama itu pada jam tangannya, karena bocah laki-laki itu sudah lancar membaca dan menulis sejak dini.


"Oke, Paman Gallen. Aku akan menghubungimu lagi nanti." Senyumnya mengembang dengan sempurna.


***


"Noah!" Panggil seseorang.


Winona baru saja kebingungan setelah menyadari bahwa anak sahabatnya itu menghilang saat dirinya tengah sibuk melihat-lihat barang belanjaan, namun sekarang dirinya bisa sedikit tenang saat menemukan Noah yang ternyata tengah berdiri sembari melihat jam tangannya di depan pintu masuk.


"Bu guru mencari-cari Noah tadi." Dia memeluk anak itu, "Noah kenapa bisa sampai disini?"


Sebuah seringaian kecil muncul di wajah anak itu. Winona yang melihat itu pun membelalakkan mata, sedikit terkejut saat melihatnya.

__ADS_1


"Bu guru, aku baru saja menemukan sesuatu yang menarik." Katanya.


Winona yang mendengar itu pun hanya bisa tersenyum canggung dan mengiyakan saja apa yang dikatakan oleh Noah. Tentu saja, karena tak akan ada yang bisa membatalkan niatnya jika anak itu sudah memutuskan sesuatu. Maka dengan sedikit ajakan, gadis itu kemudian merayu Noah untuk kembali ke dalam karena dirinya belum membayar belanjaannya.


"Wah, Zoya. Sepertinya anakmu memikirkan sesuatu yang akan membuatmu kesulitan." Gumamnya.


Yah, tentu saja. Karena semua orang tahu bahwa Noah selalu full dengan ide-ide yang tak sesuai dengan usianya, jadi tentu saja Mamanya akan sangat kesulitan jika anak itu sudah menyiapkan sebuah rencana.


***


"Hah, akhirnya sampai di rumah."


Zoya meletakkan sepatunya secara asal. Saat kakinya hendak melangkah, sebuah suara terdengar nyaring dari dalam.


"Mama! Kenapa Mama tidak menyusun sepatu dengan benar?"


Zoya mengangkat kepalanya. Ah, tentu saja itu anaknya. Noah yang entah sejak kapan sudah berdiri di depannya itu terlihat kesal hingga melipat kedua tangannya di depan.


"Ahaha," Zoya tertawa dengan canggung. Ia melihat ke samping, dimana anaknya ternyata memang menyusun sepatunya dengan rapi di rak sepatu, "Oke, Mama akan bereskan."


Dengan sedikit membatin, wanita yang telah menjadi ibu dari dua anak kemudian segera menyusun kembali sepatunya dengan rapi di rak sepatu.


Apa Noah mengidap OCD, ya? Seperti yang di film kartun itu?


"Huh, benar. Mama memang butuh seseorang untuk mengurusnya."


Zoya memejamkan matanya mendengar suara pelan yang masih bisa didengarnya itu. Sabar, karena yang berbicara barusan adalah anaknya yang sangat dirinya cintai, Zoya harus menahan semua kekesalannya dalam hati.


Tiba-tiba aku jadi merindukan Milo. Milo, segeralah tinggal bersama Mama. Hiks.


***


Saat malam datang, Zoya menemukan anaknya sedang duduk di depan TV sembari menonton kartun. Wanita itu kemudian mendudukkan dirinya di samping sang anak, mencoba untuk berbicara dengannya.


"Noah, bagaimana sekolahnya tadi?"


Noah menoleh sebentar, kemudian kembali melihat ke depan.


"Biasa saja." Jawabnya.


Zoya mengangguk-anggukkan kepala. Sudah biasa, Noah memang hanya menjawab ala kadarnya saat ditanyai.

__ADS_1


"Kita sudah lama enggak pulang ke desa. Bagaimana jika minggu ini kita pulang?" Zoya menaik-turunkan alisnya. Mungkin saja, anaknya itu akan menanggapi dengan lebih antusias jika Zoya bertanya dengannya menggunakan cara ini.


"Alis mama gatal?" Katanya kemudian yang menjatuhkan ekspektasi Zoya.


Astaga, ini anak siapa sih?


"Haha, bukan gatal," Katanya. Sepertinya lebih baik untuk melanjutkan percakapan tadi daripada menanggapi pertanyaan absurd yang Noah ucapkan, "Bagaimana dengan ide Mama tadi?"


Anak itu tampak diam, tapi sebenarnya dia sedang memikirkan sesuatu.


"Oke." Ujar Noah setelah berpikir sekian lama.


Yes, akhirnya!


Zoya segera menyembunyikan ekspresi senangnya saat Noah kembali menoleh, "Kenapa? film nya enggak seru?"


Anak itu menatap wajah mamanya dengan selidik, "Mama, apakah kami benar-benar tidak punya ayah?" tanya Noah tiba-tiba. Zoya nyengir lebar, heran kenapa anaknya tiba-tiba mempertanyakan hal ini lagi.


"Kenapa Noah tiba-tiba menanyakan ini?"


Noah kembali membuang wajah. Anak itu memperbaiki posisi duduknya dan menatap lurus ke depan, "Tidak ada, hanya ingin tahu saja."


Zoya tersenyum kecil melihat ekspresi Noah. Ia mungkin sedikit mengerti dengan kebingungan yang dirasakan oleh anaknya. Saat mengantar Noah ke sekolah, Zoya melihat ada banyak anak yang diantarkan tidak hanya oleh Ibunya, namun juga ayahnya. Mungkin karena itu Noah bertanya demikian.


"Yah, Milo dan Noah memang enggak punya ayah. Mama yang melahirkan kalian berdua sendiri." Jawabnya.


"Semua orang punya ayah dan ibu, tapi kami cuma punya Mama?"


"Iya, bukankah Mama sudah pernah memberitahu kalian bagaimana cara Mama mendapatkan Milo dan Noah?" Senyum kemenangan terpatri di wajah Zoya.


Noah yang mendengar itu pun menghela napas panjang karena Mamanya baru saja mengeluarkan jurus pamungkas, "Uleni tepung dengan telur dan air, kemudian bentuk menjadi bayi ... " Dia melihat ke arah mamanya yang tengah tersenyum lebar, "Aneh, sepertinya bukan itu caranya." Tatapan penuh ketidakyakinan terarah dari mata Noah ke Zoya.


Zoya yang melihat itu pun lalu memeluk anaknya hingga Noah meronta-ronta, "Memang seperti itu caranya, memangnya bagaimana lagi? Kakek dan Nenek juga pernah menjelaskannya, kan?" Ia merasa kesenangan sendiri saat memeluk tubuh mungil itu.


Noah yang berhasil melepaskan diri dari mamanya pun kembali mempertanyakan hal lainnya, "Aku mirip dengan Mama, lalu Milo mirip dengan siapa?" Anak itu masih sangat penasaran rupanya.


Zoya berpikir dengan cepat, "Aktor yang Mama tonton, mungkin?" Dia berusaha memberikan alasan-alasan yang mungkin bisa diterima oleh anak itu, "Ah, sudahlah. Pokoknya Noah jangan banyak memikirkan hal itu, lebih baik kita tidur sekarang."


Zoya beranjak dari duduknya, "Mama tunggu di kamar mandi. Noah enggak lupa kalau kita harus gosok gigi sebelum tidur, kan." Ia kembali tersenyum. Setelah merayu dengan satu dua kalimat, wanita itu kemudian meninggalkan anaknya yang masih terdiam di sofa tempatnya menonton.


"Huh," Noah mendengus, "Mama pembohong."

__ADS_1


***


__ADS_2