Anak Kembar CEO Kaya

Anak Kembar CEO Kaya
55. Teman Masa Kecil Zoya


__ADS_3

..."Kalian enggak dalam masalah, kan?"...


...***...


"Hayo, mikirin apa?"


Sari membuat Zoya terkejut. Wanita itu sedang membersihkan meja terakhir yang baru saja ditinggalkan oleh pengunjung. Zoya lalu menoleh, memberikan tatapan pura-pura kesalnya.


"Dasar, kebiasaan deh suka banget ngagetin orang."


Sari terkekeh. Dia melihat rambut Zoya yang kini telah kembali dikuncir kuda, tak ada lagi bekas merah yang sempat tertinggal disana.


"Bos akhirnya pulang, nih. Kamu pasti seneng, kan?" Tanyanya.


Zoya melirik ke bangku paling ujung, dimana Dafa terlihat serius dengan kertas yang dipegangnya. Pria itu baru mengecek beberapa hal di restoran, termasuk perlengkapan dan bahan masakan agar kualitasnya selalu terjaga.


"Tapi kayaknya dia butuh istirahat deh. Pasti capek banget ngurusin ini-itu dalam beberapa hari ini." Komentarnya.


Untuk memastikan semuanya berjalan dengan lancar, Dafa memang lebih bekerja ekstra beberapa hari ini. Mungkin dia tak terlalu mempedulikan kondisi tubuhnya. Namun Zoya yang melihat, tentu saja sadar bahwa lingkaran mata pria itu pun ikut menghitam karena lelah dan kurang tidur.


Namun Sari yang sepertinya telah salah paham, tersenyum sendiri mendengar jawaban dari Zoya.


"Bikinin sesuatu, gih. Aku yakin kalau disuruh istirahat pun, Bos bakal menolak kalau pekerjaannya belum siap." Saran Sari.


Zoya kembali memerhatikan Dafa. Ia kemudian berpikir bahwa saran Sari mungkin ada benarnya.


"Hm, oke. Kalau gitu aku pergi ke dapur dulu."


Sari mengangguk. Tanpa perlu jawaban secara lisan sekalipun, Zoya kemudian segera beranjak dan pergi untuk membuatkan sesuatu.


Sari mengambil alih kain pembersih yang ditinggalkan oleh Zoya. Dia membersihkan meja itu dan menyusunnya kembali. Tak berapa lama, wanita yang meninggalkannya tadi telah kembali. Ia membawa segelas jus dan sepiring buah yang telah dipotong.


"Wah, cepet banget." Goda Sari.


Zoya hanya terkekeh. Ia tak menjawab apapun, hanya terus berjalan menuju meja dimana Dafa berada.


"Sibuk banget." Sapa Zoya. Ia kemudian meletakkan apa yang dibawanya ke atas meja, tersenyum pada Dafa, "Nah, biar makin semangat." Katanya.


Dafa menatap apa yang dibawa oleh teman masa kecilnya itu. Ia pun terkekeh, "Siapa yang ngasih ide?"

__ADS_1


Sepertinya dia tahu bahwa temannya ini tak mungkin bergerak sendiri tanpa arahan dari orang lain.


"Tuh," Tunjuk Zoya pada Sari. Sari yang melihat itu tentu terkejut, lalu buru-buru pergi ke dapur, "Lagian kalau capek itu istirahat, kenapa masih sibuk ngurusin kerjaan?"


Dafa lagi-lagi hanya tersenyum. Dia menyusun beberapa kertas yang tengah dilihatnya, menyingkirkan semua itu ke pinggir, "Acaranya kan sebentar lagi. Ini juga acara perdana dimana restoran ini diajak bekerja sama untuk mempersiapkan acara perusahaan besar. Tentu aja banyak hal yang harus disiapkan." Katanya.


Zoya menganggukkan kepalanya. Sebenarnya ia juga paham, karena Zoya dan para karyawan lain pun juga memikirkan hal itu. Namun, Dafa sepertinya sudah sangat kelelahan sekarang.


"Omong-omong," Dafa meminta Zoya untuk duduk. Di kursi yang saling bersebrangan dengan pria itu, Zoya bisa melihat dengan jelas wajah Dafa yang lelah, "Kamu kepikiran sesuatu?"


"Hah?" Zoya bingung.


Bukannya Dafa yang sedang memikirkan sesuatu? Kenapa pria itu justru menunjuk dirinya?


"Aku lihat ekspresimu tadi, waktu aku menjelaskan tentang acara ini. Semua orang pasti punya ketakutan sendiri, tapi sepertinya ada sesuatu yang membuatmu kepikiran."


Zoya menatap ke bawah, memilah-milah kata yang tepat agar Dafa tak mengetahui alasannya yang sebenarnya.


"Itu ... cuma ketakutan biasa. Kamu tahu, kan, ada banyak orang-orang penting di acara itu. Jadi aku cuma merasa takut." Katanya.


Dafa memerhatikan Zoya. Dia kemudian mengambil satu potong apel dengan garpu yang sudah Zoya siapkan, "Beneran?" Dafa menyuapkan apel itu pada Zoya.


Dafa tergelak mendengar itu. Zoya menerima saja saat dia menyuapkannya buah, namun sekarang wanita itu protes padanya.


"Lagipula kamu juga enggak keberatan, kan." Dia kemudian menyiapkan satu potong buah ke dalam mulutnya, menggunakan garpu yang sama seperti yang ia gunakan saat menyuapi Zoya.


Zoya melihat itu, lalu menatap Dafa lagi.


"Padahal aku bisa, loh, ngambilin garpu baru."


Seolah tak perduli, Dafa hanya tersenyum sambil memakan potongan buah tadi.


Zoya menatap pria itu dan tersenyum. Sepertinya jika diingat-ingat, mereka juga sering seperti ini saat masih kecil. Dafa selalu memperhatikan Zoya, memastikannya baik-baik saja bahkan disaat dirinya sendiri sedang bermasalah. Seperti sekarang, saat Dafa kelihatan kelelahan, di masih saja memperhatikan ekspresi wajah Zoya dan menanyakan keadaannya.


"Oh, ya. Pagi ini," Dafa menusuk sebuah anggur dan memasukkannya ke dalam mulut, "Aku pergi ke kontrakanmu. Dan kayaknya ada spanduk kalau kontrakan itu dijual?"


Zoya terdiam, namun matanya melotot mendengar itu. Astaga, kenapa temannya itu pergi kesana?!


"Ahahaha." Zoya tertawa dengan canggung.

__ADS_1


Ia melihat Dafa, tak paham ekspresi apa yang sebenarnya ditunjukkan oleh pria itu.


"Emangnya kamu mau ngapain sampai datang ke kontrakanku pagi-pagi?" Zoya memberanikan diri untuk bertanya.


Dafa meletakkan garpu yang dipegangnya, "Enggak ada apa-apa. Tapi kayaknya kamu yang harus jawab pertanyaanku dulu, Zoya." Katanya.


Tatapan Dafa memang tidak semengerikan Gallen. Dia juga tetap berbicara lembut meski Zoya yakin bahwa pria itu sedang sangat penasaran akan dirinya. Namun, membohongi Dafa sama saja dengan memberikannya beban mental. Pria itu iya-iya saja dengan jawaban Zoya, membuat Zoya merasa bersalah. Jadi, apakah ia harus jujur?


"Sebenarnya, Daf," Zoya menatap pria itu, "Yah, seperti yang kamu lihat, aku memang udah enggak tinggal disitu lagi." Jelasnya.


Dafa masih terus menatapnya, "Kalau begitu, kalian tinggal dimana sekarang?" Tanyanya.


Dengan menyebut kata 'kalian', itu artinya Dafa juga mengkhawatirkan keadaan Noah. Dia memang sangat peduli pada keadaan si kembar, meski tawarannya untuk menjadi ayah sambung mereka ditolak oleh Zoya.


"Kami tinggal di rumah Winona sekarang. Kamu ingat dia, kan? Gurunya Noah." Ujar Zoya.


Dafa tentu mengingat nama itu. Mereka pernah bertemu beberapa kali saat Dafa datang menemui Zoya di kontrakannya. Pria itu lalu menghela napas dan menatapnya kembali, "Kalian enggak dalam masalah, kan?"


Zoya mengegeleng, "Kalau kamu pikir kami diusir karena enggak sanggup membayar kontrakan, itu salah. Karena nyatanya pemilik kontrakan menjual kontrakan itu karena Bo--- ekhem, maksudnya ada orang gila yang berani membayar mahal hanya untuk mendapatkan kontrakan itu." Jelasnya.


Dafa cukup tercengang, namun dia berhasil bertahan untuk tetap mendengarkan tanpa menyela sedikitpun.


"Tapi kalian gapapa?"


Zoya mengangguk, "Enggak apa-apa, tinggal di rumah Winona juga bukan pilihan yang buruk, kok. Dia juga kelihatannya senang dengan keberadaan kami."


Dafa merasa lega mendengar itu. Seolah merasa senang karena kebingungannya akhirnya terjawab, pria itu akhirnya kembali tersenyum, "Syukurlah kalau gitu." Katanya. Dia kemudian menunduk, seperti mencari sesuatu di bawah, "Sebenernya aku datang ke kontrakanmu untuk ngasih ini."


Pria itu mengeluarkan sebuah paperbag yang disimpannya di bawah. Dia memberikannya pada Zoya, "Karena aku sempet mampir ke rumah, aku juga udah kasih hadiah yang sama untuk Milo dan juga orang tua mu. Jangan khawatir mereka enggak bisa mencicipinya."


Zoya melihat isi paperbag itu. Ada berbagai macam jajanan ringan yang merupakan oleh-oleh darinya yang baru pulang dari luar kota. Tiba-tiba saja hal itu membuat Zoya terkekeh. Sepertinya Dafa ingat dengan kata-katanya saat Zoya bilang bahwa dirinya selalu kepikiran dengan Milo dan orang tuanya saat ia memakan sesuatu yang enak ataupun mahal, karena itu Dafa memberitahunya hal itu.


"Makasih, ya." Katanya.


Dafa tersenyum. Ia mengangguk setelah mendengar ucapan itu.


"Sama-sama."


Zoya yakin Noah akan senang melihat hadiah yang diberikan oleh Dafa. Karena pria itu sangat tahu selera anak-anaknya, sehingga dia membelikan makanan yang disukai oleh mereka. Ah, Zoya jadi tidak sabar. Dia ingin segera pulang.

__ADS_1


***


__ADS_2