Anak Kembar CEO Kaya

Anak Kembar CEO Kaya
7. Berbelanja Bersama


__ADS_3

"Bahkan ketika aku kembali ke desa nanti, aku tidak akan melupakan kebaikan hati bos."


\*\*\*


"Bos, saya tidak yakin apakah pakaian ini cocok dengan saya---," Zoya terdiam saat menyadari Gallen yang menatapnya tanpa berkedip, "Bos?"


Gallen yang mendengar panggilan itu lalu menggelengkan kepalanya kuat, menjawab panggilan Zoya dengan dehaman, "Sudah siap? Kalau begitu kita pergi sekarang." Ajaknya. Gallen bahkan tak ingin repot-repot menjawab pertanyaan gadis itu.


Zoya sebenarnya ingin menjawab, namun melihat Gallen yang telah berjalan lebih dahulu membuat gadis itu menyerah untuk bertanya dan memilih untuk mengikutinya, "Bos, tunggu!"


Tanpa perlu berhenti, Gallen masih terus berjalan di depan. Zoya akhirnya dapat menyamakan langkah kaki pria di sampingnya dan berjalan bersama. Tentu, itu karena gadis itu yang tidak menyadarinya. Bahwa sebenarnya, Gallen lah yang memperlambat langkah kakinya agar Zoya tak terlalu kesulitan saat mengikutinya.


Mereka berdua lalu masuk ke dalam sebuah mobil yang ada di garasi. Zoya tercengang. Tampaknya, ini adalah mobil yang berbeda dengan mobil kemarin. Sebenarnya seberapa kaya pria yang ada di sampingnya ini?


"Pasang sabuk pengaman." Peringat Gallen.


Zoya mengangguk. Ia lantas menarik sabuk pengaman yang ada di sampingnya, lalu berusaha memasangnya.


Oh, sebentar. Tapi bagaimana cara memasang sabuk pengaman?


Sepertinya jika diingat-ingat kembali, tadi pagi pun Zoya tak memakai sabuk pengaman saat perjalanan dari hotel menuju rumah Gallen. Lalu bagaimana cara memakainya?


Gallen yang menyadari bahwa Zoya tak juga memasang sabuk pengamannya lantas bertanya, "Jangan bilang kau pun tak tahu cara memasang sabuk pengaman?"


Zoya meringis, tebakan Gallen tepat sasaran.


Gallen menghela napas panjang. Oh, astaga. Entah seperti apa daerah asal gadis ini. Ia bahkan tidak tahu banyak hal dasar.


"Sini!"


Gallen mendekat, memasangkan sabuk pengaman gadis itu. Saat kepala Gallen mendekat, Zoya yang terkejut langsung refleks menekan punggungnya pada sandaran kursi. Ia berusaha menahan napasnya sendiri. Pria itu terlalu dekat. Zoya tak pernah sedekat ini dengan pria lain.


"Sudah."


Gallen menjauhkan kepalanya lagi. Gallen yang melihat ekspresi aneh gadis itu pun lantas merasa heran.


"Kau kenapa?" Tanyanya. Zoya menoleh, menatap bosnya yang kebingungan.


"Bos," panggilnya.


Gallen menatap serius pada Zoya, dahinya berkerut menunggu kalimat selanjutnya yang akan gadis itu ucapkan.


Zoya, yang lagi-lagi tidak merasa bersalah itu, tiba-tiba saja tersenyum dengan sangat polos dan menjawab, "Hehe. Anda wangi." Katanya.


Tak elak, Gallen yang mendengar jawaban itu pun langsung memarahi gadis itu lalu mengalihkan pandangannya ke luar jendela.


Sialan! Jantungku tidak akan aman jika terus mendapat perlakuan tiba-tiba seperti itu terus!

__ADS_1


Gallen tak menyangka bahwa gadis itu ternyata sangat berbahaya.


***


Zoya turun dari mobil dengan wajah yang masam. Bagaimana tidak? Ia hanya memuji bosnya, namun Gallen justru memarahinya dengan alasan yang aneh.


Memangnya kata-kataku salah? Aku kan hanya bilang bahwa bos itu wangi, lalu mengapa dia marah?


Zoya tak peduli meski Gallen tertinggal di belakang. Ia hanya ingin berjalan lebih dahulu karena tak ingin berduaan dengan bosnya yang labil.


"Kau mau kemana?" Panggil Gallen. Tapi, bukannya menjawab, Zoya hanya terus berjalan sembari menghentak-hentakkan kakinya kasar layaknya anak kecil.


"Memangnya kau tahu jalannya?"


Zoya seketika berhenti. Hm, benar juga. Ia sendiri pun hanya pendatang di tempat ini, jadi tentu saja Zoya tidak tahu apapun itu termasuk jalan menuju tempat belanja. Lalu ...


"Kau tidak akan bisa berbelanja jika tidak punya uang." Ujar Gallen telak.


Zoya memutar arah, kembali pada pria berkulit eksotis itu dengan wajah kesal. Dasar. Gallen tahu jika Zoya tidak punya uang, dan sekarang pria itu menghinanya?


"Saya kan sudah mengembalikan semua uang yang Anda berikan kemarin. Anda jahat jika mengungkit-ungkit kemiskinan saya." Ujar Zoya.


Gallen hanya tersenyum penuh kemenangan, lalu berjalan dengan puas. Zoya, yang melihat pemandangan itu pun hanya menelus dada, kembali teringat dengan kata-kata Alby.


Benar, Kak Alby bilang bahwa bos sebenarnya baik. Lagipula Bapak juga sama galaknya, jadi aku harus ekstra sabar menghadapi manusia raksasa itu.


Zoya menyemangati dirinya sendiri, lalu mengikuti Gallen dari belakang. Sudah sepantasnya ia memperlakukan Gallen dengan baik. Meski ia telah mengembalikan semua uang yang sebelumnya Gallen berikan, tapi Zoya telah berhutang banyak pada pria itu yang memberikannya kamar hotel untuk bermalam. Selain itu, Zoya juga merasa berhutang Budi pada Gallen yang bersedia terus membantunya saat kesulitan. Jadi, ia bertekad untuk membayar lunas semuanya.


"Hm, bisa. Tapi hanya masakan Indonesia. Bos bisa makan itu, kan?"


Gallen mengangguk. Sebenarnya pergi berbelanja itu hanya alasan saja, tapi syukurlah jika Zoya ternyata bisa. Karena Gallen sendiri sama sekali tidak berbakat dibidang itu.


Mereka berdua kemudian mulai sibuk berbelanja. Zoya yang ternyata memang terampil dalam hal memasak langsung mengambil kebutuhan dapur yang mereka butuhkan. Terutama setelah Gallen menyebutkan makanan apa yang ingin dia makan. Zoya tak lagi kebingungan untuk memikirkan makanan apa yang harus dirinya masak.


Gallen yang tak tahu apa-apa hanya ikut mendorong troli, mengikuti kemana pun gadis itu pergi. Sesekali, mereka saling bercanda. Entah mengapa sepertinya mood pria itu sedikit membaik sekarang, sehingga Gallen tak terus marah-marah seperti biasanya.


"B-Bos ... " Zoya tak tahu harus berkata apa. Begitu mereka selesai berbelanja, Gallen membawa gadis itu untuk pergi ke sebuah toko ponsel. Zoya pikir Gallen hendak membeli ponsel untuk dirinya sendiri, tapi ternyata ini untuk dirinya?


"Ponselmu kecopetan, kan? Jadi ambil saja." Ujar Gallen. Lagipula tanpa ponsel, akan sulit jika dia ingin menghubungi gadis itu.


Menghubungi? Kenapa aku harus menghubungi gadis itu?


Gallen sendiri pun tak tahu dengan apa yang dirinya lakukan sekarang, tapi dia rasa keputusan ini tidak buruk. Jika Gallen di kantor dan ingin meminta Zoya melakukan sesuatu, bukankah dia butuh ponsel? Jadi, ini memang pilihan yang tepat.


Apa gadis bodoh ini merasa terharu? Huh, mungkin ponsel ini memang terasa mahal bagi sebagian orang, tapi ini bukan apa-apa untukku.


Gallen lagi-lagi merasa terlalu percaya diri. Tapi jika dilihat dari seberapa kayanya pria itu, apa yang dia pikirkan memang tidak salah. Bagi Gallen, uang yang dirinya keluarkan barusan memang bukan apa-apa. Dia masih sanggup jika Zoya meminta puluhan atau bahkan ratusan ponsel lagi.

__ADS_1


"Anu, bos," Zoya menatap Gallen, "Kalau ditambah ponsel, utang saya jadi berapa banyak?" Tanyanya.


Gallen diam menatap Zoya, lalu mengambil tangan gadis itu dan menyerahkan ponsel tersebut padanya.


"Aku akan menganggap tidak mendengar pertanyaanmu barusan." Ujar Gallen.


Pria itu lantas berjalan lebih dahulu, meninggalkan Zoya yang kebingungan sendiri. Tiba-tiba saja dirinya menjadi kesal karena kadar kepekaan Zoya yang minus.


Menyebalkan. Gadis bodoh itu terus saja membuatku kesal!


Dan Zoya kembali kebingungan dengan tingkah bosnya tersebut.


***


Hari mulai malam. Ditengah suasana yang sunyi, suara detak jam terdengar begitu jelas di telinga mereka. Gallen duduk dengan tidak tenang di kursi meja makan. Sedangkan Zoya, sedang sibuk menata makanan yang dirinya buat di atas meja makan. Tiba-tiba saja, Gallen merasa gugup. 


Setelah selesai berbelanja, keduanya segera kembali. Mereka memang tidak makan siang di rumah, tapi setidaknya untuk makan malam Zoya lah yang akan memasak. Dan entah mengapa, suasana saat ini terasa sangat berbeda. Mungkinkah karena siang tadi mereka makan ditengah-tengah keramaian orang, karena itu Gallen tak begitu merasa canggung seperti sekarang? Tapi anehnya, hal-hal seperti ini terus terjadi sejak gadis itu datang. Gallen tak pernah secanggung ini saat berdiskusi dengan kliennya, dia bahkan terkenal sangat hebat dalam menangani mereka.


Lalu, mengapa sekarang dia jadi seperti ini?


"Bos, Anda benar-benar ingin makan ini?" Tanya Zoya. Meskipun Zoya mengatakan bahwa dirinya hanya pandai membuat masakan Indonesia, tidak dirinya sangka jika Gallen hanya meminta untuk dibuatkan Opor Ayam dan sambal kentang.


Seleranya cukup normal, ya.


Gallen mengangguk mendengar pertanyaan Zoya. Meskipun ada banyak jenis makanan yang mungkin bisa dirinya minta, rasa-rasanya saat ini dia hanya ingin dua menu tersebut. Bukankah kedua makanan tersebut biasa dimakan saat keluarga sedang berkumpul? Karena itu ...


Hati Gallen terasa hangat.


Dia sudah lama tak merasakan perasaan seperti ini saat berada di rumah. Memang benar bahwa dirinyalah yang tak membiarkan orang lain untuk mendatangi kediamannya ini, namun alasannya membuat peraturan itu tak lain karena dirinya tak ingin orang-orang yang membuatnya merasa tercekik di rumah lama ikut datang kemari. Karena itu, dia memilih untuk menyendiri.


Tapi sejak kedatangan Zoya, tempat yang mereka tempati saat ini tiba-tiba saja lebih terasa seperti rumah. Ada seseorang yang mengajaknya berbicara, bahkan ada pula wangi nasi yang baru dimasak dan lauk pauk yang tersaji di atas meja makan. Gallen menyuruh Zoya duduk, ikut makan bersamanya. Sebenarnya jika dilihat-lihat, sepertinya Gallen tak benar-benar menganggap gadis itu sebagai pekerja di rumah ini, melainkan sebagai teman bicara bagi Gallen yang kesepian.


Dan lagi kemampuan Zoya untuk urusan dapur tampaknya memang tak perlu diragukan lagi. Hanya dengan melihat saja, Gallen yakin bahwa Zoya memang ahli dalam memasak.


"Bos." Panggil gadis itu.


Gallen yang tengah mengambil beberapa centong nasi melirik padanya. Gadis yang memanggilnya itu tersenyum dengan tulus, menatap lurus sang bos yang duduk bersebrangan dengan dirinya.


"Terimakasih, ya. Karena Bos sudah banyak membantu saya, bahkan membelikan ponsel juga banyak pakaian yang sangat mahal. Saya tidak tahu bagaimana cara membalas kebaikan Bos, tapi, saya akan berusaha yang terbaik selama bekerja di rumah ini." Ujarnya.


Gallen tak menjawab kata-kata itu. Ia hanya terdiam untuk sesaat, kalau kembali beralih ke mangkuk berisi opor ayam untuk mengambil sepotong ayam yang ada disana.


Gallen memang kesal saat Zoya terus mengungkit-ungkit masalah utang. Seolah, gadis itu begitu tidak senang berada di tempat ini sehingga terus menghitung berapa lama dirinya harus berada disini. Tapi, kali ini Gallen merasa sedikit lega. Karena sepertinya, apa yang dirinya lakukan benar-benar berguna untuk gadis itu.


"Kau bekerja denganku, tentu saja aku harus memerhatikan kenyamananmu." Katanya.


Zoya tersenyum, lalu terkekeh kecil setelah mendengar jawaban Gallen. Benar-benar, deh. Bosnya ini ternyata sangat pemalu. Rasanya ia bersyukur karena bisa bertemu dengan pria itu.

__ADS_1


Bahkan ketika aku kembali ke desa nanti, aku tidak akan melupakan kebaikan hati bos.


***


__ADS_2