
..."Setidaknya aku tidak akan mati hanya karena ini." ...
...***...
"Bos!" Alby berjongkok di samping tubuh Gallen yang tengah meringis kesakitan, "Bos masih bisa mendengar saya, kan?"
Gallen mengangguk. Dia memeriksa bocah perempuan dalam pelukannya untuk memastikannya baik-baik saja.
"Bantu anak ini bangun."
Alby segera menggendong bocah perempuan itu. Dia mengulurkan satu tangannya untuk membantu Gallen bangun, dan Gallen pun menerima uluran tangan itu lalu berdiri.
Orang-orang yang mengetahui kejadian itu berkerumun. Gallen memegangi tangan kirinya. Punggung tangannya mengalami luka yang lumayan parah. Darah segar tampak mengalir darisana. Sedang lengannya juga terasa sakit, mungkin karena benturan saat terguling tadi.
Bocah perempuan dalam gendongan Alby itu terus menangis. Alby berusaha menenangkannya, namun tampaknya itu tidak cukup berhasil.
"Kita harus segera ke rumah sakit, tapi anak ini ... " Alby menoleh pada bocah perempuan itu, "Dia mungkin butuh diperiksa juga, tapi kalau kita asal membawanya, orang tuanya bisa kebingungan nanti."
Gallen setuju dengan apa yang dikatakan oleh Alby, "Tunggu saja, orang tuanya pasti akan datang sebentar lagi."
"Tapi luka bos ---"
"Tidak apa-apa." Gallen memijat pelan bahunya, "Setidaknya aku tidak akan mati hanya karena ini."
"Duh, Bos." Alby tak tahu lagi apa yang dipikirkan bosnya ini.
Gallen terlihat sangat santai padahal tangannya terlihat memprihatinkan seperti itu. Untung saja jas yang dipakainya cukup tebal. Jika tidak, bukan hanya punggung tangannya yang terluka. Mungkin seluruh lengannya akan bernasib sama.
Alby kemudian meminta pertolongan orang-orang di sekitar untuk menemukan orang tua dari bocah itu. Aneh sekali anak sekecil itu berjalan-jalan sendirian. Apa orang tuanya tidak mengawasinya? Dia bahkan hampir saja tertabrak mobil.
"Sava!" Seorang wanita muda berlari ke arah mereka. Bocah perempuan itu sepertinya mengenalinya, dia langsung meminta gendong pada wanita itu.
"Maaf!" Wanita itu menundukkan kepalanya setelah menggendong bocah perempuan itu.
"Saya benar-benar teledor! Saya tidak sadar kalau anak saya pergi." Ujarnya.
Alby dan Gallen saling berpandangan. Pantas saja anak itu sendirian sejak tadi. Ternyata anak itu lepas dari pengawasan Ibunya.
"Ya, tidak apa-apa. Tapi sepertinya kita harus ke rumah sakit sekarang. Bocah itu --- ehm, namanya Sava? Sepertinya dia juga harus diperiksa." Ujar Gallen. Pasti tidak sopan jika dia menyebut anak kecil dengan sebutan 'bocah itu', meskipun sebenarnya itu tidak salah.
Wanita muda itu mengangguk, "Ya, saya harus menunggu suami saya datang dulu --- " Wanita itu terperanjat melihat Gallen yang santai-santai saja padahal tangannya berdarah seperti itu, "Tu-Tuan, Tangan Anda---" Dia sampai tergagu saat bicara.
"Oh, ini," Gallen menunjukkan tangannya, "Tidak masalah, jaman dipikirkan. Lebih baik Anda pikirkan kondisi putri Anda. Karena meskipun saya berusaha melindunginya, itu tidak menjamin bahwa dia tak terbentur jalan tadi." Ujar Gallen.
"Saya benar-benar minta maaf." Wanita itu sangat merasa bersalah.
Alby menatap kedua orang itu secara bergantian. Kalau begini, kapan bosnya ini bisa pergi untuk mendapatkan perawatan?
"Hm, Bos." Alby angkat bicara, "Bagaimana kalau kita ke rumah sakit dulu sekarang? Nyonya dan Sava juga bisa ikut dengan kami, biar suami Nyonya menjemput Nyonya dan Sava di sana." Sarannya. Pokoknya Gallen harus segera pergi ke rumah sakit sekarang juga!
Gallen hanya mengangguk-anggukkan kepala saja. Biasanya dia tidak suka jika orang lain menumpang di mobilnya, namun untuk situasi darurat seperti ini sepertinya dia bisa membuat pengecualian.
__ADS_1
Tawaran yang diberikan Alby membuat wanita itu mengangguk. Mungkin saja, dia merasa bahwa saran itu sangat tepat sehingga tak perlu pikir dua kali untuk memikirkannya, "Kalau begitu, terimakasih atas tumpangannya."
Alby segera pergi ke parkiran untuk mengambil mobil. Dia lantas pergi ke tempat dimana Gallen dan wanita itu berada, kemudian langsung tancap gas untuk pergi ke rumah sakit setelah ketiganya masuk ke mobil.
***
"Apa ada tulang yang patah?" Tanya Alby pada dokter yang tengah memeriksa. Dokter itu tersenyum kecil.
"Tidak ada, tapi lengannya terkilir akibat benturan itu. Luka robek di punggung tangannya juga sudah dijahit, tapi ada beberapa luka lecet juga disana. Untuk beberapa hari usahakan agar lukanya tidak terkena air." Saran dokter itu.
"Oke." Gallen kembali memijat bahunya yang sakit.
Mungkin karena dia selalu melatih fisiknya, Gallen tak terlalu merasa sakit pada luka di punggung tangannya. Namun bahu dan lengannya memang terasa tidak nyaman, itu sebabnya dia selalu memijatnya sedari tadi.
"Mungkin untuk beberapa hari ke depan lengan Anda akan terasa tidak nyaman dan juga sakit, jadi saya sarankan untuk menggunakan arm sling untuk membantu proses penyembuhannya." Saran dokter itu lagi.
"Arm sling? Seperti patah tulang saja." Dahi Gallen berkerut mendengar bahwa dirinya harus menggunakan benda itu. Yang benar saja. Apakah dia harus menggunakan benda itu untuk kedua kalinya? Lagipula lengannya hanya terkilir, bukan patah tulang.
"Iya, lengan Anda akan teristirahatkan dengan menggunakan arm sling, jadi itu bisa membantu proses penyembuhannya. Lagipula, arm sling bukan hanya untuk patah tulang, kok. Tapi juga untuk cedera lainnya juga seperti yang Anda alami ini."
Gallen masih terus menunjukkan wajah masamnya mendengar itu. Bukan saran yang buruk, namun dia masih enggan untuk menggunakannya. Tapi jika memang hal itu dapat membantunya pulih lebih cepat ...
Mau bagaimana lagi.
"Baiklah."
Dokter yang melihat keengganan Gallen sedari tadi hanya berusaha menahan senyumnya. Wanita itu lantas menuliskan beberapa resep, memberikannya pada Alby yang sedari tadi berdiri dengan setia dibelakang Gallen, "Ini resep obatnya, semoga lekas sembuh."
"Loh, Pak Gallen?" Pria itu agak terkejut melihat siapa orang di hadapannya.
Gallen menatap pria itu yang tak asing baginya, sedikit banyak mengerti dengan apa yang terjadi, "Pak Aditya, apa kabar?" Sapanya. Gallen bahkan menyodorkan tangan kanannya pada pria itu.
Gallen tak menyangka bahwa bocah perempuan yang ditolongnya tadi ternyata adalah anak dari seorang pengusaha yang cukup terkenal juga di dunia bisnis.
Pria berwajah ramah itu lalu tersenyum, "Baik." Dia menerima jabatan tangan dari Gallen.
Aditya memerhatikan tangan Gallen yang telah mendapatkan perawatan, "Saya mendapat telepon dari istri tentang kecelakaan tadi. Terimakasih telah menyelamatkan anak kami." Ungkapnya. Sama seperti istrinya, pria itu juga merasa sangat bersalah.
Gallen yang melihat itu hanya tersenyum kecil, "Ya, sama-sama. Kebetulan saya ada disana saat itu, sudah sewajarnya saya membantu."
Aditya tersenyum kecil, "Tidak semua orang akan melakukan itu, tapi saya bersyukur bahwa anak kami bertemu dengan Pak Gallen yang berjiwa pahlawan."
Gallen terkekeh.
"Mungkin karena saya juga memiliki anak, jadi saya tidak bisa melihat anak kecil yang hampir terluka begitu saja." Ujar Gallen yang membuat Aditya terkejut.
"Anak? Saya tidak pernah mendengar bahwa Pak Gallen telah menikah." Katanya. Dia melihat Gallen yang tampak tersenyum bahagia setelah mengatakan itu, dan Aditya pun bisa mengerti tanpa perlu dijelaskan. Pria itu tersenyum.
"Saya harap suatu saat nanti akan diundang ke resepsi pernikahan kalian."
"Tentu, tenang saja."
__ADS_1
Kedua pria itu lantas tertawa kecil. Alby yang melihat keduanya terlihat akrab lantas meminta izin untuk pergi, karena sepertinya dia harus pergi menebus obat itu sendiri.
***
"Kau yakin aku harus menggunakan ini?"
Gallen menatap lengannya yang telah dipasangi arm sling. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan pulang, dan Gallen terus saja mengomel sejak menggunakan benda itu.
"Kan Bos sendiri yang bilang iya setelah mendengar nasihat dokter, kenapa sekarang jadi berubah pikiran lagi?"
"Ck," Dia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, "Merepotkan."
Alby terus menjalankan mobil. Sebagai orang terdekat Gallen, Alby tentu bisa mengerti alasan mengapa Gallen enggan menggunakan benda itu. Bukan hanya karena sifatnya yang malas repot, namun juga karena hal itu pasti akan mengingatkannya tentang masa lalu yang kelam.
Alby membelokkan mobil di halaman rumah Gallen. Ini adalah mobil Gallen, jadi dia akan pergi ke kantor dengan menggunakan taksi online nanti. Mobilnya masih ada di kantor, tak mungkin Alby meninggalkannya begitu saja disana.
"Saya akan bawa tas bos ke dalam."
Mereka berdua kemudian masuk ke dalam rumah. Setelah banyak hal yang terjadi hari ini, Gallen jadi lupa bahwa dia tak hanya tinggal sendiri di rumah ini sekarang. Wanita itu, Zoya, yang ternyata sudah pulang kerja, datang dari dapur sembari menundukkan kepala karena tangannya sibuk memegang keranjang buah.
"Tumben Bos pulang cepat. Biasanya malam." Wanita itu kemudian menatap ke depan setelah selesai bicara. Tatapannya jatuh pada tangan Gallen yang menggunakan arm sling. Zoya terkejut.
"Bos!"
Keranjang buah yang dipegangnya jatuh. Wanita itu lalu berlari, mendekati Gallen yang masih mematung, "Bos, bos terluka? Apa yang terjadi?"
"Oh, oh itu ... " Gallen justru menatap Alby dan meminta bantuannya untuk menjawab.
Alby semakin heran dengan bosnya itu.
"Bos menolong anak kecil yang hampir tertabrak, jadi, yah, begitulah." Jelas Alby.
Zoya merasa ngilu melihat itu. Dia menatap arm sling yang dikenakan Gallen, kemudian menatap wajah pria itu dengan wajah sedih, "Tangan Bos patah? Sampai harus menggunakan ini ... cederanya pasti parah." Dia merasa kasihan pada Gallen.
Alby tersenyum melihat reaksi Zoya. Meski wanita itu terus menolak Gallen, namun dari bagaimana ia bersikap setelah melihat cedera pria itu, sepertinya benar bahwa Zoya sebenarnya juga memiliki perasaan pada Gallen. Alby memang tidak pandai dalam hal itu, tapi jika Zoya sampai seperhatian ini, setidaknya itu berarti ia masih peduli pada Gallen.
Tapi untunglah, Zoya tak perlu khawatir. Karena Gallen hanya cedera ringan saja. Meski harus menerima beberapa jahitan, sih. Tapi tidak lama lagi lukanya pasti akan sembuh kembali.
Alby tersenyum sembari menunggu Bosnya untuk menjawab pertanyaan Zoya. Dia yakin bahwa bosnya ini sangat senang di dalam hatinya karena menerima perhatian dari wanita itu.
Gallen menunduk untuk melihat tangannya, kemudian kembali menatap Zoya yang menunggu jawabannya.
"Ya, tanganku patah." Katanya.
Alby langsung memelototkan mata mendengar itu. Apa yang barusan pria itu katakan? Patah? Gallen membohongi Zoya dengan mengatakan bahwa tangannya patah?
"Bos ini ... " Gumamnya pelan sembari menggelengkan kepala. Alby sedikit terkikik melihat usaha bosnya demi menarik perhatian Zoya.
Tangannya kan, cuma terkilir.
***
__ADS_1