
...Bagaimana ini? Aku harus apa?...
...***...
Zoya berjalan cepat ke arah meja makan dan meletakkan pesanan ibunya di atas sana. Sang ibu yang melihat pun merasa heran. Namun karena tak ingin mengganggu privasi anaknya, dia memilih untuk tak bertanya.
Gadis itu segera masuk ke dalam kamar dan menguncinya. Ditempat dimana tak akan ada seorangpun yang melihat, Zoya mengeluarkan barang yang baru dibelinya tadi. Beberapa buah testpack! Ia benar-benar tak menyangka bahwa pada akhirnya akan membeli barang semacam ini di saat dirinya masih menyandang gelar sebagai seorang gadis, bukan istri dari seseorang. Ditatapnya lagi barang tersebut, dan sekarang Zoya benar-benar bingung.
Ini beneran aku harus coba?
Zoya mengambil ponselnya. Itu adalah ponsel baru yang bapaknya belikan untuk mengganti ponselnya yang hilang. Memang tidak secantik dan semahal ponsel yang pernah Gallen belikan, namun itu cukup untuk dirinya yang tidak punya banyak kesibukan atau hobi foto-foto.
Gadis itu lantas mengetik beberapa kata kunci di mesin pencarian, mencari-cari tahu sesuatu yang sebenarnya bisa dirinya tanyakan pada ibunya andai saja dirinya telah bersuami. Namun karena statusnya sekarang sangat ambigu untuk menanyakan hal tersebut, Zoya mencari-carinya sendiri.
"Seminggu setelah terlambat haid?" Zoya mengingat-ingat, "Sebenarnya harusnya sekarang aku sudah haid, tapi bisa saja ini hanya karena masalah stress atau terlambat biasa, kan? belum tentu aku benar-benar hamil." Zoya berkata dengan pelan. Tentu saja, karena ibunya yang berada di luar bisa mendengarnya jika Zoya berbicara dengan kuat. Gadis itu kemudian menatap testpack yang tergeletak di atas kasur. Dengan memikirkan banyak hal, Zoya akhirnya memilih untuk mengikuti kata-kata yang ada di mesin pencarian itu. Ia mungkin harus menunggu beberapa hari lagi, karena mungkin saja ia hanya sedang terlambat haid.
***
Benar-benar enggak datang.
Zoya duduk di pinggir ranjangnya. Setelah memutuskan untuk menunggu selama beberapa hari, Zoya akhirnya benar-benar disadarkan pada kenyataan bahwa dirinya masih juga tidak mendapatkan haidnya. Padahal selama ini ia selalu mendapatkan haid bulanan di waktu yang sama, namun sekarang Zoya sudah terlambat satu Minggu.
Katanya tunggu satu Minggu untuk hasil yang akurat, kan? Jadi apakah aku harus mencobanya sekarang?
Gadis itu menoleh ke tempat dimana dirinya menyimpan testpack kemarin. Sejak kepikiran dengan masalah ini, Zoya tak pernah bisa benar-benar tidur dengan nyenyak. Begitupun sekarang. Perasaannya sudah sangat tidak enak padahal dirinya belum mencoba alat itu sama sekali. Karena itu juga di pagi-pagi buta seperti ini, gadis itu sudah terbangun dan berencana untuk melakukan tes.
Tak ingin membuang waktu, gadis itu langsung mengambil testpack-testpack yang dirinya simpan, lalu kemudian segera membawanya ke kamar mandi. Sebelum bapak dan ibunya bangun, ia harus menyelesaikan misinya ini terlebih dahulu.
Tenang, Zoya. Ini hanya pemeriksaan biasa. Tidak mungkin langsung 'jadi' hanya karena satu kali percobaan, bukan?
Zoya menghembuskan napas panjang, menenangkan dirinya terlebih dahulu sebelum mencoba alat tersebut. Ia membaca dengan cermat cara menggunakan alat tersebut, lalu segera mempraktikkannya.
Setelah menunggu beberapa lama, gadis itu mengangkat alat tipis yang sebelumnya dirinya gunakan. Dua garis! Zoya terbelalak melihat hasil yang terpampang pada alat tersebut.
Enggak, enggak mungkin. Pasti ada yang salah dengan alatnya!
Gadis itu mencoba kembali. Namun baik itu percobaan kedua maupun ketiga, hasilnya tetap sama. Zoya benar-benar mengandung bayi hasil kecelakaannya malam itu.
"Hah." Ia terduduk dengan punggung yang bersandar pada dinding.
__ADS_1
Kacau. Apa yang harus dirinya lakukan sekarang? Bagaimana Zoya harus mengatakan kepada ibu dan bapaknya bahwa dirinya mengandung disaat belum bersuami seperti ini?
"Hiks, hiks."
Bulir bening itu jatuh begitu saja. Zoya selalu menjaga dirinya agar tak tersentuh oleh pria manapun yang bukan bapak atau suaminya. Saking ketatnya, beberapa pria sampai mengatainya sok jual mahal karena tak mengizinkan mereka mencolek barang sedikit pun kulit mulus yang dimilikinya. Lalu bagaimana akhirnya? Ia tetap hamil di luar nikah?
Sekarang aku harus bagaimana?
Mendengar bahwa orang tuanya sudah bangun, ia lantas menghapus air matanya secara kasar. Zoya kembali menyembunyikan hasil pemeriksaannya tadi, lalu mencuci muka agar tak dicurigai.
"Sudah bangun?" ibunya terlihat heran.
Zoya tersenyum kecil. Ia kemudian pamit untuk kembali ke kamarnya. Ibunya yang sudah bingung akhirnya bertambah curiga, mengapa putrinya tiba-tiba berubah dalam beberapa hari ini?
***
Bagaimana ini? Aku harus apa?
Zoya menatap pantulan dirinya di depan cermin besar. Melihat itu, ia lalu menyentuh perutnya yang masih terlihat rata. Ada kehidupan disana. Sebuah kehidupan yang mungkin tidak pernah diharapkan baik oleh Zoya maupun Gallen. Gadis itu kembali merasa dilema.
Meskipun bukan sesuatu yang diharapkan, tetap saja itu adalah anaknya. Zoya tak tega jika harus membunuh anaknya sendiri. itu adalah kesalahannya, jadi Zoya harus bertanggung jawab.
Dering ponsel terdengar nyaring. Zoya mengambil ponselnya tersebut dan menerima panggilan yang ternyata berasal dari teman masa kecilnya.
Dafa berkuliah di kota. Pria itu pulang setiap minggunya untuk membantu kedua orang tuanya di ladang. Meski masih saling berhubungan, tak biasanya pria itu menelponnya duluan seperti ini jika bukan karena sesuatu. Apa dia memiliki sesuatu yang penting untuk dibicarakan?
"Oke, aku kesana nanti."
Panggilan terputus. Zoya meletakkan ponselnya di atas meja, lalu membaringkan tubuhnya di atas kasur. Pria itu mengajaknya bertemu, sekalian jalan-jalan selagi dirinya belum kembali pergi ke kota. Gadis itu tak keberatan karena kebetulan dirinya pun sedang butuh udara segar. Karena hal itu lah, ia tak menolak ajakan tersebut.
***
"Zoya!"
Lambaian tangan dari pria yang berdiri di depan rumahnya itu membuat Zoya tersenyum kecil. Gadis itu segera keluar, menemui Dafa yang ternyata telah menunggunya selama beberapa saat.
"Bukannya kita janjian ketemu di tempat biasa? Kenapa malah kesini?"
Dafa terkekeh. Memang benar bahwa mereka telah membuat kesepakatan, namun apa salahnya jika ia memilih untuk datang secara langsung saja?
__ADS_1
"Haha, biar sekalian jalan juga. Ayo naik, katanya bosen di rumah aja." Godanya.
Zoya terkekeh. Ia lantas mengikuti perintah Dafa dan naik di kursi belakang sepeda motornya. Dafa mengemudikan sepeda motornya dengan pelan, tak ingin membuat gadis di belakangnya tak nyaman. Meski desa mereka cukup maju, namun Dafa memang termasuk salah satu orang terkaya di sana. Tidak heran jika orang-orang menatap Zoya dengan aneh saat ia berboncengan dengan Dafa di atas motor mewahnya yang terlihat keren.
"Ada tempat yang mau dituju?"
Zoya menggeleng, namun tentu saja Dafa tak dapat melihatnya, "Enggak, cuma pingin jalan-jalan aja."
Dafa kemudian melanjutkan perjalanan mereka tanpa tujuan. Berkeliling desa, melihat jalanan yang ramai, bahkan sampai ke daerah pertokoan. Dia hanya ingin mengajak gadis itu menikmati waktu menyenangkan bersamanya.
"Ada yang mau kamu omongin?" Tanya Zoya. Saat ini mereka berada di sebuah cafe sederhana yang ada di daerah mereka, tempat yang lumayan sepi karena sekarang bukan waktu istirahat.
Dafa tersenyum dengan jahil. Dia lantas menatap Zoya, melihatnya yang terus terlihat kusut sedari tadi.
"Itu muka kenapa? Perasaan dari dijemput sampai sekarang kayak lagi gak semangat. Ada masalah?" Tanyanya balik.
Zoya menatap Dafa. Bukankah dia yang ingin bicara? Mengapa sekarang jadi dirinya yang diinterogasi?
"Hm, seharusnya kamu duluan yang bicara. Kan kamu yang ngajak ketemuan."
Dafa terkekeh. Dia lantas menyeruput minumannya, masih sambil menatap Zoya yang seolah-olah menunggu jawabannya.
"Enggak ada alasan, cuma kepingin ngajak jalan aja." Jawabnya. Zoya menyipitkan mata. Rasanya, ada sesuatu yang disembunyikan Dafa. Namun apapun itu, Zoya tak ingin bertanya lebih lanjut. Karena setiap orang punya rahasianya sendiri, dan Zoya tak ingin memaksakan kehendak orang lain.
"Yah, kalau begitu ---" Kata-katanya berhenti saat ponselnya bergetar. Zoya kemudian meminta izin untuk mengangkat panggilan tersebut pada Dafa, lalu menjauh dari sana begitu mendapat persetujuan.
Dafa masih tetap duduk di tempatnya. Dari sini, dia bisa melihat sosok Zoya yang lagi-lagi menunjukkan ekspresi anehnya. Gadis itu sebenarnya sedang menerima panggilan dari sang ibu, namun entah mengapa wajahnya terlihat sangat ketakutan.
"Daf," Panggil Zoya setelah selesai menerima panggilan telepon, "Bisa antar aku pulang? Ibu minta aku cepat-cepat pulang soalnya."
Dafa mengangguk dengan cepat. Tentu saja, dia tak akan punya keluhan. Karena jika Zoya meminta diantarkan kemanapun, Dafa pasti akan menyetujuinya tanpa perlu berpikir dua kali.
"Oke, kita pulang sekarang."
Motor melaju dengan kecepatan sedang. Sepanjang perjalanan pulang, Zoya tak berbicara apapun. Ia hanya terdiam, seolah tengah berada di antara dua pilihan yang sulit. Dafa sebenarnya kebingungan juga. Namun saat melihat ekspresi wajah gadis itu, Dafa jadi tak tega. Ia akhirnya memilih untuk tetap diam sembari memikirkan masalah apa yang sebenarnya tengah terjadi pada gadis itu.
Keduanya akhirnya sampai setelah 15 menit perjalanan. Rumah Zoya benar-benar terlihat sepi. Dafa yang merasa ada sesuatu yang tak beres pun akhirnya ikut turun. Mereka berdua masuk ke dalam rumah, yang kemudian disambut oleh tatapan tajam dari dua orang di ruang tamu.
"Apa maksudnya ini, Zoya?"
__ADS_1
Zoya terbelalak. Dengan suara rendah namun terasa mencekik, bapaknya tengah menyodorkan tiga testpack yang dirinya sembunyikan dalam lemari.
***