
..."Jika pertanyaan itu hanya akan membuatmu lebih jauh dariku, lebih baik aku menggunakan tindakan secara langsung untuk membuatmu tetap disini."...
...***...
"Siapa juga yang berpikir mesum," Zoya membuang wajahnya ke arah lain, "Bos paling yang pikirannya mesum." Lempar Zoya balik.
Meskipun pikirannya sedang agak konslet begini, tidak mungkin Zoya mengakui bahwa apa yang Gallen katakan itu benar. Malu! Gallen pasti akan menggodanya habis-habisan jika ia ketahuan.
Namun, bukannya mengelak, Gallen justru menyetujui kata-kata Zoya barusan, "Oh, kau memang paling bisa membaca isi pikiranku." Ia melepaskan jas dan dasinya.
Mata Zoya melotot melihat itu. Apa-apaan Gallen ini? Sengaja membuatnya malu, ya?
"Ih, bos mesum!"
Wanita itu lari terbirit-birit menuju kamar yang diberitahukan oleh Gallen. Gallen terkekeh, Zoya masih sama lucunya seperti dulu. Atau mungkin, semakin lucu?
"Ah, aku benar-benar tidak ingin melepaskannya."
***
Klek
Zoya menutup pintu kamar itu dan menguncinya. Setelah yakin Gallen tak akan bisa masuk, wanita itu lalu menatap pintu lalu menjulurkan lidahnya meledek, "Dasar, Bos kelamaan jomblo tuh makanya begitu." Ujarnya, mumpung Gallen tak mendengar.
Seingatnya dulu, Gallen sering berbicara kasar meski maksudnya baik. Seperti tidak tahu bagaimana cara bicara dengan baik. Namun sekarang, tampaknya cara bicara pria itu sedikit lebih baik. Meski kadang-kadang aura galaknya masih terasa, Gallen sudah tak selalu marah-marah seperti dulu. Ia juga menjadi lebih lembut saat bicara dengan Zoya, meski Zoya jadi kesal sendiri karena pria itu terus saja menggodanya sedari tadi.
Bruk
Zoya menjatuhkan dirinya di atas kasur. Ditatapnya sekeliling kamar dari posisi tidur. Tidak ada yang berubah. Letak ranjang, lemari, bahkan barang-barang lainnya masih sama seperti dulu. Setiap furnitur pun tampaknya masih sama. Apa Gallen sering membersihkan dan merawat kamar ini? Tapi, bukankah dia hanya sendiri di rumah ini? Untuk apa mengurus kamar yang tidak memiliki penghuni?
"Hm." Zoya bergumam kecil.
Seingatnya saat pertama kali masuk ke kamar ini enam tahun yang lalu, setiap barang ditutup oleh kain putih. Gallen bilang hal itu dilakukan karena tidak ada orang yang menggunakan kamar itu, makanya ditutupi agar setiap barang tidak kotor. Oh, atau ini sama seperti kamar yang dipakai Noah tadi? Gallen sudah mempersiapkan semuanya seolah tahu bahwa mereka akan datang dalam waktu dekat ini.
"Ck, bos licik." Omel Zoya.
Dipikirkan bagaimana pun, sepertinya benar bahwa Gallen telah dengan sengaja melakukan sesuatu untuk menarik dirinya juga Noah untuk datang kemari. Dalam hal ini, membeli rumah kontrakan yang ditempati Zoya agar ia dan anaknya tak lagi memiliki tempat tinggal sehingga mau tidak mau harus menerima ukuran tangannya. Zoya jadi tak habis pikir. Apa karena dia kesepian? Maka dari itu dia bertindak seperti ini?
"Usia kami berbeda lima tahun. Karena tahun ini usiaku dua puluh enam tahun, berarti usia bos tiga puluh satu tahun." Zoya langsung merasa tercerahkan setelah menyadari itu, "Ah, pantas. Bos sepertinya memang kesepian karena terlalu lama membujang."
Zoya berbalik ke satu arah. Mengingat itu membuatnya kembali teringat dengan lamaran yang Gallen ajukan beberapa waktu lalu. Cukup aneh karena dia gak juga mempertanyakan jawaban atas lamaran waktu itu. Atau Gallen lupa? Toh kemarin juga cukup mendadak, bisa saja tindakan yang dilakukan pria itu hanya tindakan impulsif sementara.
__ADS_1
"Enggak tahu, ah. Lebih baik aku istirahat dulu sebentar."
Zoya memejamkan matanya. Karena anaknya sudah terlelap sejak tadi, sekarang gilirannya untuk istirahat.
***
"Nomor yang anda tuju ---"
Zoya mematikan kembali panggilan telponnya. Ini sudah kali keberapa, namun Winona masih saja tak bisa dihubungi. Apa terjadi sesuatu pada wanita itu?
Zoya akui, ia hampir tak pernah berkirim kabar dengan wanita itu sejak pulang ke desa. Ia hanya memberitahu bahwa mereka telah sampai di desa di hari pertama, setelah itu sudah. Zoya tak lagi menghubungi Winona. Barulah saat akan pulang kembali ke kota, Zoya menyiapkan beberapa oleh-oleh untuk temannya itu. Namun mengapa Winona tak bisa dihubungi sama sekali?
"Aneh, deh." Gumamnya.
Sebenarnya ia bisa meminta tolong pada Dafa untuk membantunya mencari kontrakan baru, namun seperti yang dipikirkannya sejak awal, kalau bisa Zoya tak ingin melibatkan pria itu. Malu saja. Tapi jika Winona tak bisa dihubungi seperti ini, bagaimana lagi?
"Apa yang sedang kau lakukan?"
Zoya menoleh saat suara Gallen terdengar. Saat ini ia sedang menyiapkan makan malam. Yah, meski disela-sela itu tampaknya ia sedikit tidak fokus karena sibuk mencoba menghubungi temannya.
"Uhm, maaf enggak bilang. Aku menggunakan beberapa bahan dapur yang Bos punya. Enggak apa-apa, kan?" Tanyanya. Saat ia ingin meminta izin, Zoya tak menemui Gallen dimanapun. Namun melihat pria itu dan pakaian yang dipakainya, sepertinya dia baru pulang olahraga. Lari, mungkin?
Gallen mengangguk, "Ya, pakai saja." Katanya.
"Bos bisa masak? Bahan makanannya ada banyak." Tanyanya.
Dulu, boro-boro bahan makanan. Pria itu hanya meletakkan beberapa minuman dan makanan ringan di dalam kulkasnya. Makanya ketika itu, mereka langsung pergi berbelanja saat itu juga. Tapi sekarang sangat berbeda. Berbagai macam sayuran, daging, telur, buah, dan minuman yang baik untuk tubuh tertata dengan rapi di dalamnya.
Gallen terkekeh kecil, "Yah, lumayan." Katanya.
Dia mendudukkan dirinya di meja makan, "Karena kau, aku jadi terbiasa makan makanan rumahan. Tapi makanan di luar tidak memenuhi ekspektasiku sama sekali. Jadi mau tidak mau, aku belajar masak sendiri." Katanya.
Zoya menyimak cerita yang Gallen ceritakan dalam hati. Bertambah lagi rasa bersalahnya mengetahui itu. Pasti sulit membiasakan diri untuk memakan sesuatu yang bukan selera kita. Namun Gallen yang terbiasa makan makanan restoran tiba-tiba dipaksa untuk makan makanan rumahan. Dan ketika dia mulai terbiasa, Zoya pergi tanpa memberitahu apapun.
"Ma---"
"Jangan minta maaf," Gallen menghentikan kata-kata Zoya, "Karena bukan itu yang ingin aku dengar. Jika kau tidak ingin mengatakan sesuatu yang membuatku senang, lebih baik jangan katakan itu." Katanya yang membuat Zoya menutup mulut kembali. Oke, Zoya rasanya mengerti kata-kata apa yang ingin Gallen dengar.
"Mungkin agak enggak tahu diri jika mempertanyakan ini, tapi bolehkah aku tahu alasan bos enggak bertanya sedikitpun tentang percakapan kita seminggu yang lalu?"
Zoya ingin tahu. Ia hanya ingin tahu perasaan pria itu walau hanya sedikit.
__ADS_1
"Karena itu hanya akan menekanmu. Dan jika pertanyaan itu hanya akan membuatmu lebih jauh dariku, lebih baik aku menggunakan tindakan secara langsung untuk membuatmu tetap disini." Jawabnya. Mata mereka saling bertemu. Gallen menatap lekat wajah Zoya yang membeku mendengar kata-katanya.
Zoya terdiam beberapa detik. Untuk dirinya yang berotak kecil, butuh waktu untuk mencerna kata-kata yang baru saja Gallen katakan tadi.
"Maksudnya dengan membeli rumah kontrakan kami agar kami diusir?"
Gallen terdiam, lalu tertawa kuat mendengar itu. Benar, sih. Memang benar jika dirinya membeli rumah itu agar Zoya mau tak mau menuruti tawarannya untuk tinggal di rumahnya seperti sekarang. Tapi bagaimana mungkin suasana romantis yang dibangunnya tadi langsung dihancurkan dengan kata-kata itu?
"Tidak, aku kan sudah bilang bahwa bukan aku yang membeli rumah itu."
Zoya memanyunkan bibirnya. Karena pria itu terus tidak mengaku, mau tidak mau Zoya hanya bisa mengiyakannya saja.
"Terserahlah, lagipula aku enggak akan menang jika melawan Bos." Katanya.
Gallen si pengusaha sukses yang selalu berhasil memenangkan hati klien tak peduli sehebat apa lawannya yang lain, lalu Zoya yang bahkan bapak dan ibunya sendiri pun heran bagaimana bisa dirinya sebodoh itu. Tentu saja pemenangnya sangat jelas jika mereka bertengkar, bukan?
Gallen hanya terkikik melihat wanita itu.
Zoya kembali fokus ke makanan yang dibuatnya, meski sesekali matanya masih menatap ponsel yang saat ini dimasukkannya ke dalam kantung apron yang digunakannya.
"Daritadi kau terus menatap ponsel. Apa yang kau tunggu?"
"Aku sedang berusaha menelepon seseorang." Jelas Zoya, "Hari ini harusnya kami memindahkan barang-barang yang ada di kontrakan untuk dipindahkan ke kontrakan baru. Tapi karena aku belum menemukan kontrakan, pemilik lama kontrakan ngasih waktu sampai besok." Katanya.
"Terus?"
"Ya aku sedang mencoba mencari bantuan untuk pindahan besok. Tapi teleponku enggak diangkat juga daritadi."
Gallen berusaha mengontrol ekspresi wajahnya. Sebenarnya dia sengaja meminta pemilik lama kontrakan untuk mengatakan itu agar Zoya tinggal di rumahnya selama belum memiliki kontrakan baru. Syukur-syukur, jika selamanya wanita itu bisa tinggal bersamanya. Gallen tak masalah jika barang-barang lama Zoya ditinggal disana. Namun jika keadaannya sudah menjadi seperti sekarang, Gallen hanya bisa melanjutkan sandiwaranya.
"Besok aku akan membantumu. Pindahkan saja barang-barangnya kesini dulu." Saran Gallen. Zoya kembali menoleh.
"Bos enggak kerja?"
"Besok hari Minggu, kalau kau lupa." Ingatnya.
Zoya ber-oh ria. Iya juga, ia sampai lupa hari karena terlalu sibuk hari ini.
"Oke, kalau gitu mohon bantuannya, Bos."
Gallen agak terkejut karena Zoya mengiyakan hal itu dengan cepat. Biasanya, kan, wanita itu memerlukan waktu yang cukup lama untuk berpikir. Namun sekarang Zoya menyetujui sarannya dengan mudah tanpa perlu pikir panjang. Pria itu kembali bersorak dalam hati. Ya, begini lah yang dia harapkan. Semoga saja Zoya semakin bisa mengandalkannya seperti sekarang.
__ADS_1
***