
..."Aku tidak ingin mengatakannya berulang-ulang kali karena takut kalau hal itu hanya akan membebanimu. Tapi apakah kamu lupa kalau aku ini mencintaimu sampai-sampai bertanya seperti itu?"...
...***...
Gallen yang telah membuang pandangannya itu pun kembali menatap Zoya. Wanita itu menatapnya dengan serius. Sepertinya, ia benar-benar serius dan tak akan pergi jika Gallen tidak memberikan jawaban atas pertanyaannya barusan.
Zoya mungkin terlihat tenang-tenang saja saat bertanya, namun sebenarnya ia juga menyimpan sesuatu di hatinya. Pria itu tentu tahu konsekuensi yang mungkin didapatkannya atas tindakannya tadi. Namun, dia terlihat tak peduli. Gallen memang terbiasa bersikap seperti itu. Melakukan apapun sesukanya karena merasa bahwa dirinya adalah yang terhebat dibandingkan orang lain. Tapi, kalau ternyata Gallen melakukan itu untuk dirinya, karena Gallen memang secinta itu pada Zoya, maka ...
Aku mungkin tidak perlu khawatir lagi.
Zoya menatap lurus ke arah Gallen tanpa berkedip. Malam cukup dingin. Tak apa, Zoya bisa menahan semua itu meski pakaiannya basah tertumpah minuman. Karena ia ingin mendengar jawaban dari pria itu, meskipun bisa saja hanya kecewa yang didapatkannya. Mungkin saja Gallen menolongnya karena tidak ingin ada keributan berlebih sebab suara pria tadi yang mengundang atensi orang-orang, bukan? Jadi, jawabannya memang belum pasti. Dan Zoya akan menanti sampai dia menjawabnya.
"Hah."
Gallen menghela napas panjang. Ah, begitu. Mungkin saja Gallen merasa lelah dengan sikap Zoya yang menyebalkan. Apalagi beberapa waktu terakhir ini mereka memang selalu bertengkar. Zoya tersenyum kecil, namun hatinya terasa sakit. Mengapa ia harus merasa seperti ini padahal dirinya sendiri lah yang membuat Gallen menjauh?
"Zoya," Panggil pria itu.
Zoya tak ingin Gallen melihat kekecewaan di hatinya, jadi wanita itu tetap menatap Gallen seolah dirinya baik-baik saja.
"Ya, Bos. Bicaralah." Katanya.
Gallen menarik napas panjang sekali lagi sebelum dirinya berbicara. Setelah tenang, barulah kemudian dia menatap Zoya dengan serius.
"Kamu ... serius bertanya padaku tentang alasannya?" Tanyanya, balik.
Mata Zoya berkedip beberapa kali. Ei, bukankah Zoya yang bertanya duluan tadi? Lalu, mengapa Gallen justru balik bertanya kepadanya?
"Zoya ... " Gallen terlihat frustrasi dengan wanita di hadapannya itu, "Aku tidak ingin mengatakannya berulang-ulang kali karena takut kalau hal itu hanya akan membebanimu. Tapi apakah kamu lupa kalau aku ini mencintaimu sampai-sampai bertanya seperti itu?" Tanyanya.
Seperti kejatuhan sesuatu di kepalanya, Zoya hanya terdiam. Itu bukan jawaban yang buruk, namun tetap saja membuat Zoya terkejut. Matanya terbuka sedikit lebih lebar, namun tubuhnya tak bereaksi apapun. Apa ini yang dinamakan syok?
"Zoya?" Tiba-tiba Gallen merasa khawatir dengan respon yang diberikan wanita itu, "Hei, kamu bisa dengar aku?"
Mata Zoya bergerak dan mengikuti pergerakan Gallen. Oh, syukurlah. Sepertinya kesadarannya kembali.
"Tunggu sebentar."
Tanpa menunggu jawaban dari Gallen, Zoya telah lebih dulu memasuki mobil pria itu yang pintunya memang sengaja di buka sedari tadi lalu menutupnya. Ia memang bertindak semaunya saja, hingga Gallen pun merasa cukup terkejut dengan tingkah wanita itu. Dengan segera Gallen memalingkan wajah agar tak melihat Zoya yang pastinya tengah berganti pakaian di dalam sana. Itu memang menggoda jiwa kelakiannya, apalagi Gallen yang telah dengan sabar menanti kehadiran wanita itu selama bertahun-tahun. Namun, sebagai orang yang berjanji, dan juga sebagai orang yang bisa dipercaya, Gallen harus menahan hasratnya itu agar tak berbalik dan menatap ke dalam.
__ADS_1
"Beritahu aku kalau kau telah selesai berganti pakaian."
Terdengar jawaban mengiyakan dari dalam. Gallen kemudian menyandarkan tubuhnya pada mobil, masih memunggunginya. Zoya pasti tengah tergesa-gesa untuk berpakaian, tapi itu tak masalah karena Gallen pasti bisa menunggunya meskipun itu memakan waktu yang cukup lama.
Yah, meskipun ternyata tak selama itu juga. Karena Zoya yang memang terbiasa bergerak cepat tiba-tiba saja sudah menyelesaikan urusannya, lalu wanita itu mengetuk kaca jendela sebagai tanda bahwa dirinya telah selesai.
"Sudah?"
Zoya mengangguk, meski pastinya pria itu tak dapat melihatnya, "Ya. Sekarang pintunya bisa dibuka." Jawab wanita itu.
Mendengar jawaban tersebut, Gallen baru berani berbalik badan. Dia kemudian membukakan pintu mobilnya, membiarkan Zoya keluar dari sana. Untuk sesaat, Gallen seperti terbius melihat pemandangan di depannya. Itu hanya kemeja biasa miliknya. Namun ketika kemeja milikmu yang besar digunakan oleh seorang wanita, visual yang tercipta benar-benar menakjubkan. Gallen menoleh ke arah lain, tak mau melihat Zoya. Sekarang dia tahu mengapa beberapa orang menyebut adegan ini sangat berbahaya, karena nyatanya penampilan Zoya dalam balutan kemeja miliknya yang kebesaran memang benar-benar menggoda.
Yah, Gallen hanya berharap semoga saja dirinya cukup kuat untuk menahan godaan tersebut.
"Kamu ingin kembali bekerja atau pulang?" Tanya Gallen dengan berpura-pura terlihat biasa. Lagipula situasinya sudah menjadi seperti tadi. Jika Zoya kembali dengan kemeja kebesaran miliknya, tentu hanya akan mengundang pertanyaan dari banyak pihak. Jadi biarkan saja Zoya pulang duluan, dia bisa membicarakan hal itu nanti dengan bosnya.
Namun Zoya yang mendapati pertanyaan itu justru terlihat bingung. Wanita itu tampak menatap Gallen dengan sedikit terkejut, sebelum kemudian akhirnya ia menatap Gallen dengan cara yang berbeda. Seperti orang yang kebingungan, mungkin?
"Bos." Panggilnya. Itu hanya panggilan yang begitu lembut, namun Gallen tentu dapat mendengarnya dengan baik.
Gallen menatap ke arahnya dengan cepat. Tentunya dia bertanya-tanya tentang hal yang ingin dibicarakan wanita itu, namun Gallen cukup sabar untuk menunggu Zoya melanjutkan kata-katanya. Kurang baik macam mana lagi Gallen ini pada Zoya?
Wanita yang telah menjadi ibu dari dua anak itu tampak malu-malu sebelum berbicara, namun Zoya sudah membulatkan tekadnya untuk mengatakan hal itu. Jadi, Zoya akan mengatakannya.
"Bagaimana kalau sekarang aku mengatakan 'iya'?" Ungkapnya.
Gallen menatap lurus ke depan, tak ada ekspresi apapun dalam tatapannya.
Zoya merasa berdebar sendiri. Tatapan Gallen membuatnya khawatir. Apa ia terlambat? Tiba-tiba membahas ini di depan Gallen yang berkali-kali ditolaknya. Apakah itu aneh?
"Apakah kata-kataku terdengar aneh, Bos?" Tanyanya.
"Tunggu, sebentar." Gallen menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan, "Bisa kamu jelaskan apa yang kamu katakan tadi?" Pinta Gallen. Karena sepertinya dia tak yakin dengan apa yang didengarnya tadi.
"Masa harus dijelasin lagi sih, Bos?" Keluh Zoya. Itu terdengar aneh untuknya.
Ia sudah bersusah payah mengumpulkan keberaniannya untuk mengatakan hal itu tadi. Namun sekarang Gallen ingin Zoya menjelaskannya? Seriusan?
Yang bener aja, gimana caranya coba?
__ADS_1
Zoya menatap Gallen, dan pria itu menatapnya dengan memohon. Astaga, pria itu. Ternyata dia benar-benar ingin Zoya menjelaskannya?
"Aku menerima Bos." Ujar Zoya dengan suara pelan. Sangat pelan, sampai-sampai Gallen pun tak dapat mendengarnya dengan jelas.
"Apa? Aku tidak bisa mendengarnya." Tanya Gallen, lagi.
Gallen jujur, serius. Zoya memang berbicara dengan kelewat pelan. Wajar jika dirinya bertanya karena Gallen memang tidak dapat mendengarnya. Namun, Zoya yang merasa Gallen terus saja mempermainkan dirinya kemudian merasa kesal dan berbicara dengan suara lantang.
"AKU MENERIMA BOS, ITU AJA MASA ---" Zoya berhenti berteriak saat sesuatu yang terasa lembut menempel secara tiba-tiba di kulitnya.
Zoya menoleh, menatap Gallen yang terlihat bangga.
Gallen baru saja mencium pipinya!
"Akh! Bos!" Zoya memegang pipinya yang dicium oleh Zoya, "Enggak boleh! Haram!" Teriaknya lagi.
Gallen tertawa dengan keras mendengar itu. Zoya memang lucu. Gallen dilarang mencium pipinya? Padahal mereka bahkan sudah memiliki dua orang anak atas tindakan mereka yang jauh lebih nakal dari ini.
Gallen masih tak bisa berhenti tertawa saat melihat tingkah Zoya yang dinilainya menggemaskan.
Bukan berarti Gallen menormalisasi kesalahan yang dirinya buat. Gallen sadar bahwa hal itu bukanlah sesuatu yang bisa dirinya banggakan. Perbuatannya adalah sesuatu yang salah dilihat dari norma manapun juga. Namun, untuk sekarang, tolong izinkan dirinya untuk merasa bahagia. Karena wanita yang dirinya cintai akhirnya menerima pernyataan cintanya.
"Terimakasih, Zoya. Aku pasti akan membuatmu bahagia seperti yang kukatakan saat aku melamarmu waktu itu." Ujarnya pada Zoya. Tangannya memegangi tangan wanita itu dengan lembut, takut jika dirinya akan menyakiti Zoya yang terlihat rapuh.
Zoya tak menarik tangannya, tak juga menahan Gallen yang ingin memegangi tangannya. Namun, ia berusaha menatap ke lain arah, menyembunyikan rona merah yang ada di wajahnya. Malu! Usianya memang sudah dua puluh enam tahun. Tapi bisa dipastikan ini adalah pengalaman pertamanya dalam berpacaran. Zoya benar-benar tidak terbiasa dengan semua ini, bahkan pada sentuhan yang pria itu berikan padanya, namun ...
Zoya sadar, dirinya merasa sangat bahagia saat ini.
"Jangan bilang-bilang dulu ke orang lain." Pinta Zoya. Ia masih merasa canggung jika orang-orang mengetahui tentang mereka. Lagipula ia merasa bahwa waktunya belum tepat, jadi lebih baik mereka merahasiakan hubungan mereka terlebih dahulu sampai mereka yakin bahwa waktu yang tepat telah tiba.
Namun, Gallen yang mendengar itu malah tersenyum dengan jahil, "Bagaimana dengan WO?" Tanyanya.
Zoya memukul pelan punggung tangan pria itu, membuat Gallen langsung terkikik. Gallen memang menyebalkan, tidak ada bosan-bosannya dirinya membuat Zoya merasa kesal meskipun itu artinya dia harus siap menerima pukulan darinya.
"Baru aja diterima, masa mau manggil WO." Zoya memberikan lirikan tajamnya pada pria itu yang sedang tertawa. Dasar.
Memangnya mereka akan langsung menikah?
***
__ADS_1