
..."Menurutmu wajar untuk orang biasa yang hanya sekedar teman, melibatkan diri untuk bertanggung jawab atas apa yang enggak dia buat?"...
...***...
Saat kedua anaknya pergi memancing dengan bapaknya, Zoya pergi ke pasar bersama sang ibu. Ia sudah memasakkan bekal makan siang untuk ketiga orang yang pergi memancing itu, jadi sepertinya mereka akan pulang sore nanti.
"Kamu mau beli apa, Ya?" Tanya Ibunya. Zoya tampak menimbang-nimbang, lalu melihat ke jajaran sayur segar di lorong sebelah.
"Sayur aja kayaknya, Bu. Nanti Bapak dan anak-anak bawa ikan, butuh sayur-sayuran untuk pelengkap." Usul Zoya. Mereka kemudian pergi ke pedagang sayur. Ibu melihat berbagai macam sayuran yang dijajakan, lalu memilih beberapa ikat bayam, kangkung, serta sebungkus perlengkapan Sop.
Selepas berbelanja sayuran, Ibu membawa Zoya untuk mengunjungi pedagang ayam. Mereka akan membeli sedikit daging ayam untuk pelengkap sop yang sebelumnya dibeli.
"Nah, udah semua. Ada yang mau dibeli lagi?"
Zoya menggeleng. Tampaknya bahan makanan yang mereka beli sudah cukup banyak, jadi kegiatan berbelanja ini dapat segera disudahi.
"Kayaknya enggak ada, Bu."
Ibu mengangguk. Jika semuanya sudah selesai dibeli, itu artinya mereka bisa segera kembali. Ibu kemudian mengajak Zoya untuk pergi ke tempat parkiran motor dan pulang. Wanita itu menurut, menenteng beberapa kantung belanjaan dan berjalan di belakang Ibunya.
Di jalan menuju parkiran, tiba-tiba saja ia mendengar suara seseorang.
"Loh, Zoya?"
Zoya menoleh saat merasa namanya dipanggil. Bu Aini, Ibunya Dafa, ternyata juga sedang berbelanja di sini. Zoya kemudian mendekati wanita yang usianya sama dengan ibunya itu, bersalaman dengannya.
"Eh, Ibu. Lama enggak ketemu." Basa-basinya. Bu Aini kemudian memeluk Zoya, menepuk-nepuk punggungnya pelan.
"Iya, lama enggak ketemu. Gimana kabar kamu?"
"Baik, Bu. Ibu gimana?" Tanyanya balik.
"Ibu sehat-sehat aja, enggak ada yang perlu dikhawatirkan." Jawabnya.
Zoya menoleh ke arah Ibunya. Menyadari ternyata Ibu Zoya pun ada disini, Bu Aini kemudian beralih dan bersalaman dengan wanita itu juga.
"Aduh, maaf. Saya terlalu semangat kalau udah liat Zoya." Ia sedikit terkekeh karena malu.
__ADS_1
Ibu tampak terkekeh. Yah, biasa. Dia sudah cukup tahu dengan sifat wanita yang ada di hadapannya ini. Bu Aini orang yang baik, sangat baik. Karena kebaikannya ini, sepertinya dia tak mempermasalahkan status Zoya yang sudah memiliki anak dan tetap mendukung jika anak laki-lakinya memilih wanita itu sebagai istri.
"Iya, enggak apa-apa. Lagian kita sering ketemu." Canda Ibu.
Mereka kemudian sama-sama terkekeh. Bu Aini menatap kantung belanjaan ditangan kedua wanita itu, "Udah selesai belanja, ya? Saya telat nih." Katanya.
"Iya, nih. Lain kali kita belanja bareng, biar bisa ngobrol-ngobrol lebih lama."
"Nah, betul tuh. Saya setuju."
Zoya tersenyum. Mungkin karena sudah lama kenal dengan keluarga itu, karenanya mereka sudah tak lagi merasa canggung saat berbincang-bincang seperti ini. Namun meskipun Zoya yang dirangkul lebih dahulu, kedua wanita itu justru mulai sibuk sendiri sekarang.
Tapi, yah, Zoya tidak merasa keberatan, kok. Dia malah senang karena hubungan keluarga mereka baik-baik saja.
"Saya jadi gangguin kalian, nih. Kalian mau pulang, kan?" Tanyanya.
Zoya mengangguk, "Iya, Bu. Lain kali kita belanja bareng, ya."
Bu Aini tampak senang mendengar ajakan itu. Setelah sedikit berbadan-basi lagi, mereka akhirnya memisahkan diri. Zoya dan ibunya akan kembali ke rumah, sementara Bu Aini akan masuk ke pasar untuk berbelanja.
Ibu memberikan kantung belanjaan pada Zoya untuk dikaitkan pada pengait yang ada di motor, sementara dia merogoh dompetnya kembali untuk membayar tukang parkir. Setelah mereka sama-sama selesai dengan tugasnya, Ibu segera naik ke atas motor yang Zoya kendarai. Zoya membawa motor tersebut dengan kecepatan sedang. Biasanya Ibunya akan mengajaknya bicara disepanjang perjalanan, jadi dia akan marah jika Zoya mengemudikan motornya dengan cepat.
Zoya tak menoleh sama sekali. Ia hanya terus mengendarai motornya seperti awal, "Biasa aja, kayak yang ibu tahu. Kenapa emangnya, Bu?"
"Enggak, Ibu cuma pingin tahu aja. Dafa anak baik-baik soalnya." Kata Ibu. Entah mengapa kalimat itu terdengar ganjil ditelinga Zoya.
"Dafa anak baik-baik, emangnya Zoya bukan anak baik-baik?" Candanya. Ibu yang mendengar itu memukul pelan punggung Zoya.
"Kamu ini. Bukan begitu." Katanya. Ibu tampak menghela napas dahulu sebelum menjawab, "Anak sebaik itu, enggak pernah mencari pasangan dan cuma berkeliaran di sekitarmu. Menurutmu itu normal?" Tanya ibu.
Zoya tampak berpikir. Sebenarnya Dafa enggak berkeliaran di sekitarnya, sih. Tapi jika maksud ibu adalah Dafa selalu ada disisinya, itu mungkin benar. Tapi bukannya itu wajar, ya. Apalagi mereka kan berteman sejak kecil.
"Zoya enggak ngerti ibu ngomong apa."
"Hah." Lagi-lagi ibu menghela napas. Rasa-rasanya dia sudah banyak mengonsumsi vitamin saat mengandung anak itu, bahkan Zoya pun meminum obat yang membantu menambah kecerdasan selama duduk dibangku sekolah dasar. Tapi, entah mengapa tampaknya itu tak berpengaruh padanya. Zoya terlihat biasa-biasa saja sejak di masa sekolah. Saat Dafa pulang sembari membawa hadiah juara, Zoya harus merasa bangga selama ia masih berada di peringkat sepuluh besar. Ibu dan Bapak akan memaklumi itu. Namun sekarang, untuk urusan cinta, sangat tidak dipercaya karena nyatanya Zoya masih sama bodohnya seperti dulu.
"Kamu masih ingat saat Dafa mengajukan untuk bertanggung jawab waktu kamu ketahuan hamil?" Tanya Ibu lagi.
__ADS_1
Zoya mengangguk. Tentu saja ia ingat itu.
"Menurutmu itu wajar?"
"Membantu teman? Niatnya memang baik, sih. Tapi Dafa enggak seharusnya melibatkan diri dalam masalah orang lain. Bukannya Zoya enggak tahu diri, ya. Tapi itu hanya akan menjadi masalah untuk Dafa nantinya." Kata Zoya yang membuat Ibu menepuk dahinya.
"Aduh, Zoya. Bukan itu maksud ibu."
Zoya menoleh ke samping. Lah, salah lagi?
"Maksud ibu, menurutmu wajar untuk orang biasa yang hanya sekedar teman, melibatkan diri untuk bertanggung jawab atas apa yang enggak dia buat? Dafa bahkan enggak tahu siapa yang menghamili kamu, dia juga enggak tahu kamu sebenarnya dijebak atau memang mau sama mau melakukan itu dengan ayah si bayi, tapi dia mau bertanggung jawab atas kesalahan yang kamu buat. Menurutmu wajar?"
Zoya terdiam sejenak.
"Enggak, sih." Jawabnya kemudian.
"Nah!" Ibu merasa bersyukur karena anak perempuannya ini akhirnya sedikit bisa paham arah pembicaraan yang dirinya angkat, "Untuk orang biasa, agak mustahil rasanya mau bertanggung jawab atas kesalahan yang enggak dia lakukan. Sedangkan yang melakukan kesalahan aja lebih memilik kabur, kok. Tapi kenapa dia melakukan itu? Bisa jadi, ini menurut pemikiran ibu ya, mungkin Dafa itu ..." Ibu menunggu reaksi yang akan ditunjukkan oleh Zoya.
Zoya yang menunggu kelanjutan kata-kata ibunya itu pun lagi-lagi menoleh ke samping, "Dafa kenapa, Bu?" Tanyanya.
"Heh," Ibu agak geregetan sendiri, "Dia suka sama kamu, lah. Itu baru pemikiran ibu, ya." Ujar Ibu lagi.
Zoya tetap diam, namun sepertinya ia tak lagi memerhatikan jalan dengan benar.
"Zoya, kambing!"
Zoya menarik rem dengan cepat. Segerombolan kambing lewat di jalan aspal, hampir saja tertabrak olehnya.
"Bisa bawa motor apa enggak, sih?" Tanya ibu dengan kesal.
Zoya menyengir lebar. Lagian ibunya juga salah. Mengapa membicarakan hal aneh saat dirinya sedang mengemudikan motor? Ia kan jadi tidak fokus!
"Yaudah, jalan lagi." Perintah ibu.
Zoya kembali mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Harusnya ia menjernihkan pikiran untuk memikirkan tawaran pernikahan yang Gallen ajukan, namun sekarang Ibunya membuatnya bertambah pikiran. Dafa suka padanya?
"Masa, sih?"
__ADS_1
***