
..."Maafin Noah, Ma. Karena selalu memaksakan keinginan Noah ke mama."...
...***...
Saat hari menjelang sore, Zoya kembali menyibukkan diri di dapur. Ia akan memasak makan malam untuk keluarganya. Hal ini sudah menjadi kegiatan rutin yang selalu dirinya lakukan saat berada di rumah, jadi Ibunya tak perlu ambil pusing untuk hal tersebut dan hanya membantunya sesekali.
"Mama!" Teriakan kuat itu terdengar dari luar. Zoya tersenyum kecil, cepat-cepat membasuh tangannya yang kotor.
"Anak mama udah pulang rupanya." Ia menyambut kedatangan Milo dan Noah. Kedua anak itu memeluk kakinya, sedang Zoya mengelus kepala mereka bersamaan.
Dan saat itulah, Zoya menyadari sesuatu.
Ia sadar bahwa Noah terlihat lebih diam dan tak bersemangat, namun sepertinya ia tahu apa penyebabnya. Karena itulah, Zoya tak menanyakan apapun dan hanya meminta mereka mandi karena ia akan menyiapkan makan malam, termasuk memasak ikan yang baru saja mereka tangkap.
"Ikannya mau diapain, Pak?" Tanya Zoya.
"Bakar kalau bisa, pakai kecap." Pintanya. Zoya mengangguk, lalu segera mengambil alih untuk membersihkan dan memasak ikan tersebut.
Zoya sempat menoleh sejenak saat menyadari anak-anaknya sedang beranjak menuju kamar mandi, termasuk Noah yang masih terlihat tak cukup bersemangat. Kasihan. Sepertinya ia memang tak bisa menahan jam tangan itu jika tak ingin anaknya terus merasa sedih.
Zoya menghabiskan waktu yang cukup lama di dapur. Setelah semua masakan selesai, ia lantas memanggil semua orang di rumahnya untuk datang ke meja makan.
"Pak, Bu, Milo, Noah, ayo makan!"
Seperti biasa, si periang Milo akan berlari paling cepat saat mendengar panggilan makan malam. Anak sulungnya itu lantas mengambil tempat, duduk dengan manis tepat di depan piring berisi ikan bakar.
"Haha," Zoya terkekeh, "Milo udah kelaparan, ya." Ujarnya.
Milo hanya tersenyum lebar mendengar tawa Mamanya. Dia memang tak bisa menahan diri untuk datang terlambat saat makanan telah disajikan. Namun karena sudah diajari sejak dini, Milo tak akan merebut atau mencuri makanan itu diam-diam kendati dirinya sangat menginginkan makanan itu jika semua orang belum berkumpul.
__ADS_1
Tak berapa lama kemudian, Bapak dan Ibu juga datang. Mereka membawa Noah untuk turut pergi menuju meja makan bersama mereka. Semua orang sudah duduk di bangku masing-masing. Zoya mengambil piring, meletakkan nasi dan membagikannya satu persatu ke setiap orang.
"Ini ikan yang kita tangkap, loh." Milo berbicara dengan kembarannya. Noah hanya menoleh, namun tak berbicara sepatah katapun.
"Nah, makan yang banyak." Kakek meletakkan daging ikan panggang ke piring kedua cucunya. Milo tampak sangat kesenangan. Setelah berdoa, dia lantas memakan makanan di piringnya dengan lahap.
"Eum, enak!"
Semua orang tertawa melihat keceriaan Milo. Namun sebagai ibunya, Zoya masih curi-curi pandang ke arah Noah. Apa anak itu sebegitu sedihnya karena jam tangannya Zoya sita?
***
"Noah." Panggil Zoya. Karena hari sudah semakin malam, Kakek dan Neneknya meminta kepada kedua anak kembar itu untuk segera kembali ke kamar mereka masing-masing. Milo sudah kembali ke kamar. Dan sebelum Noah ikut masuk, Zoya memanggilnya lebih dulu.
"Nah," Ia menyerahkan jam tangan milik Noah itu kepada pemiliknya. Noah tampak mengangkat kepalanya, heran mengapa barang yang katanya tak boleh disentuh selama mereka ada di desa tiba-tiba dikembalikan padanya, "Noah ingin jam tangan Noah kembali, kan? Ini Mama kembalikan." Kata Zoya.
"Lho? bukannya Noah pingin jam tangannya dikembalikan?" Tanya Zoya lagi.
Noah kemudian mendekat, memeluk kaki mamanya dengan erat, "Maafin Noah, Ma. Karena selalu memaksakan keinginan Noah ke mama." Katanya.
Zoya menatap ke bawah, agak heran dengan tingkah anaknya.
"Ada yang membicarakan Noah?" Tanyanya memastikan. Aneh sekali. Baru pagi ini Noah meminta jam tangannya dikembalikan, tapi tiba-tiba saja dia tak menginginkannya lagi sekarang.
Noah menggeleng mendengar pertanyaan dari Zoya, "Tidak, Noah hanya tidak ingin saja." Katanya.
Zoya yang tidak tahu apa yang terjadi pada anaknya itu pun menekuk kakinya, menyamakan tingginya dengan Noah, "Bener enggak ada apa-apa?" Zoya hanya tidak ingin anaknya itu menyembunyikan ketidaksenangannya seorang diri.
Noah kembali mengangguk. Setelah mendengar kata-kata Milo, sepertinya dia jadi berubah pikiran. Jika memang kehadiran Papanya hanya akan membuat semua orang tidak bahagia, maka dia pun tidak akan menginginkannya. Cukup Mama, Kakek, Nenek, dan Milo, Noah tak butuh siapa-siapa lagi.
__ADS_1
Zoya mengelus rambut lurus Noah yang berwarna hitam legam seperti miliknya, "Yaudah, kalau itu yang Noah mau." Katanya. Berbicara dengan anak kecil memang susah-susah gampang, takutnya jika Zoya memaksa agar Noah bicara, anak itu justru akan merasa tertekan.
Setelah mendapatkan persetujuan dari Mamanya, Noah kemudian kembali melanjutkan niatnya untuk pergi ke kamar. Zoya kembali berdiri, melihat ketika pintu di depannya akhirnya ditutup. Tak terasa sekarang Milo dan Noah sudah semakin besar. Mereka bahkan memiliki sesuatu yang disembunyikan darinya sekarang.
"Yah, aku mulai merindukan masa-masa mereka bergantung padaku." Zoya terkekeh kemudian. Waktu memang tak bisa diulang, namun ia senang karena kedua anaknya tumbuh dengan baik sampai sekarang.
***
Setelah menghabiskan waktu berlibur yang cukup panjang, Zoya dan Noah akhirnya harus kembali ke kota lagi. Ia tak bisa mengambil cuti lama-lama meskipun bosnya adalah temannya sendiri. Tidak enak dengan karyawan lain, tentunya. Barang-barang sudah dipacking, hanya menunggu sampai mobil yang mereka pesan untuk datang.
Dan kali ini, Milo tak akan ikut ke kota lagi.
"Milo mau sama Kakek dan Nenek lagi?" Tanya Zoya. Anak laki-laki itu mengangguk. Sejak awal, memang Milo yang selalu menolak untuk ikut dengan Zoya ke kota. Mungkin kapan-kapan dia akan pergi mengunjungi Mama dan kembarannya lagi, namun untuk menetap bersama mereka, Milo menolak.
"Jangan khawatir, Mama. Aku baik-baik saja disini." Katanya, berusaha menenangkan Mamanya. Zoya memeluk bocah laki-laki itu, mencium keningnya.
"Jangan nakal ya, nurut kalau dibilangin Kakek dan Nenek." pesannya. Milo lagi-lagi mengangguk.
Suara bapak menyadarkan Zoya. Travel yang dipanggilnya akhirnya datang. Dibantu oleh bapak, Zoya memindahkan semua barang-barangnya ke dalam travel. Ia masih sempat melambaikan tangan ke arah keluarganya sebelum pergi, sampai akhirnya mobil menjauh dan mereka tak terlihat lagi.
Zoya menyandarkan tubuhnya. Bersama Noah, kini ia akan kembali ke kota yang menjadi tempatnya mengadu nasib. Ia juga akan kembali ke kehidupannya yang berputar di kontrakan kecil dan restoran tempatnya bekerja. Zoya memejamkan mata. Mungkin ia akan tertidur selama perjalanan yang cukup panjang ini. Dan saat terbangun nanti, ia akan kembali ke kehidupannya yang semula.
***
Begitu sampai di tempat tujuan, Zoya dan Noah segera turun dari mobil. Supir membantunya mengeluarkan barang-barang. Setelah semua barang-barangnya dikeluarkan, wanita itu lantas membawa tasnya untuk dibawa masuk ke dalam rumah kontrakannya.
Namun, sesuatu yang aneh justru terjadi. Zoya terbengong di depan kontrakannya sampai tas yang dibawanya tadi pun terjatuh ke tanah. Meski tak langsung diusir keluar, apa-apaan spanduk besar yang terpasang di kontrakannya ini?!
***
__ADS_1