
..."Bagaimana denganku sendiri? Apa aku benar-benar jatuh hati dengan Bos?"...
...***...
Gallen tersenyum kecil dan mengangguk. Zoya masih menatap Gallen dari sela-sela jarinya, namun akhirnya ia menutup kembali matanya dengan kedua tangan.
"Enggak. Enggak mau, ah!" Wanita itu berbalik memunggungi Gallen, "Bos buka sendiri, kan tangan satunya enggak patah. Pakai tangan satunya, dong." Sekuat tenaga Zoya berusaha menolak permintaan itu.
Zoya selalu menjaga kepolosan dirinya selama ini. Meski terjadi hal yang tidak-tidak pada dirinya dan Gallen hari itu, gini-gini Zoya tak pernah melihat pria yang tidak memakai pakaian atas atau yang biasa orang sebut dengan topless. Haram! Bapaknya bisa marah jika dia ketahuan melihat hal-hal yang begituan. Bahkan jika itu hanya film pun, Zoya akan menutup matanya saat bagian itu.
Gallen tersenyum miring, tak kehabisan akal meski mendapat penolakan dari Zoya.
"Yah, sudah kuduga. Kamu mungkin tidak mau membantuku." Gallen membuka sedikit bagian bajunya, "Aku akan mencobanya sendiri, tapi --- akh! Aduh, tanganku ... " Dia melirik-lirik Zoya sambil terus merintih.
"Kurasa cederaku akan lama sembuh. Padahal aku punya banyak pekerjaan di kantor." Keluhnya lagi.
Zoya memejamkan matanya kuat-kuat. Ia tak ingin terpengaruhi lagi, tak ingin merasa kasihan lalu akhirnya menyerah dan membantu pria itu seperti sebelum-sebelumnya. Tapi, tapi ...
"Baiklah!" Zoya berbalik. Ia akui bahwa dirinya sangat bodoh karena tak pernah bisa melawan apapun yang dikatakan pria itu. Zoya lalu menurunkan tangannya, namun kedua matanya masih tertutup dengan rapat, "Aku akan membantu bos. Tunjukkan saja bagian mana yang harus dibuka." Ujarnya.
Gallen mencoba menahan tawanya mendengar itu. Dia rasa itu bukan ide yang buruk, namun tentu saja itu berdasarkan sudut pandang Gallen.
"Oke." Gallen menyetujui apa yang dikatakan oleh Zoya.
Mendengar itu Zoya lalu perlahan maju, mendekati Gallen dengan arahan pria itu yang menuntunnya.
"Angkat tanganmu, lagi," Ujar Gallen saat wanita itu telah berdiri di depannya.
Zoya mengikuti arahan dari Gallen, tetap tenang tanpa penolakan sedikitpun.
"Oke, coba sentuh bagian itu."
Zoya hanya menuruti apa yang Gallen perintahkan. Tangannya lalu menyentuh pada tempat yang diarahkan oleh Gallen. Alis Zoya berkerut. Tanpa melihat sekalipun, ia sadar bahwa tangannya telah menyentuh sesuatu yang aneh. Keras, namun juga halus. Tunggu, jangan bilang ini adalah ...
"Yap, kamu benar. Itu dadaku."
Zoya memukul keras dada Gallen dan mundur tiga langkah ke belakang dengan cepat. Dada! Itu adalah Dada Gallen tanpa balutan sehelai kain tipis sekalipun!
"Bos!!!"
Gallen tergelak dengan kencang. Meskipun agak berbahaya karena bisa saja justru dia yang terangsang lalu menyerang Zoya yang tak tahu apa-apa, namun dia masih saja merasa senang untuk menggoda wanita itu. Lucu! Zoya selalu menunjukkan semua ekspresinya, dan ekspresi marah wanita itu pun tak kalah menariknya dengan ekspresinya yang lain.
"Bos mesum! Aku enggak mau bantu bos lagi kalau gitu!"
Zoya langsung berbalik badan, namun Gallen yang menyadari itu kembali menahannya untuk tetap disana.
__ADS_1
"Eh, sebentar. Aku hanya bercanda."
Gallen mencoba menahan geli yang membuatnya ingin tertawa. Ia mendekat, memegang tangan Zoya dengan tangan kanannya yang baik-baik saja.
"Sekarang aku serius. Bisa bantu aku melepaskan kemeja ini?"
Zoya mengetatkan giginya mendengar itu. Kesal. Ingin sekali ia menghantam wajah Gallen yang menyebalkan lalu kembali ke kamarnya. Namun jika ia benar-benar melakukan itu, bisa2 Gallen kembali menahannya dan tak membiarkannya pergi.
"Huft." Zoya menghela napas panjang.
Wanita itu kembali berbalik, dengan mata yang kembali tertutup tentunya, "Jangan aneh-aneh lagi!" Peringatnya. Gallen mengangguk, meski tentu saja Zoya tak akan bisa melihat itu.
"Iya-iya. tenang saja."
Zoya kemudian kembali menjalankan tugasnya. Dengan dibantu arahan Gallen, Zoya melepaskan kancing baju pria itu satu persatu. Begitupun saat melepaskan kemeja itu dari tubuh Gallen. Dengan sangat lembut, ia memastikan agar Gallen tak kesakitan saat dirinya melepaskan pakaian yang pria itu kenakan.
"Oke, selesai."
Agak sulit memang, namun ia berhasil melakukannya. Sambil berbalik badan, Zoya kembali bertanya kepada Bosnya.
"Bos, aku udah selesai bukain kemeja bos. Tugasku udah selesai, kan? Kalau udah, aku kembali ke kamar." Katanya. Manatahu Gallen ingin Zoya menyiapkan air hangat untuknya mandi. Zoya akan menyiapkannya jika memang pria itu menginginkannya.
Gallen hanya bisa mendengar gadis itu sembari menatap punggungnya dari belakang. Wanita itu cantik, bahkan meskipun hanya dilihat dari bayangannya sekalipun. Tiba-tiba senyum nakalnya terbit kembali.
"Celananya tidak sekalian?" Ujar Gallen yang membuat Zoya kembali berteriak.
***
"Huh." Zoya pergi ke belakang. Ia memasukkan pakaian Gallen tadi ke dalam keranjang cucian untuk dicuci besok pagi.
Wanita itu bersandar pada dinding. Setelah digoda habis-habisan, akhirnya ia bisa pergi menjauh dari pria itu meskipun harus menahan kesalnya karena ulah Gallen. Dasar pria penggoda. Sampai kapan dia akan begitu? Zoya benar-benar malu dibuatnya.
"Bos enggak tahu malu apa ya? Bagaimana jika Noah melihatnya? Kami kan bahkan belum menikah." Omel Zoya sendirian. Gallen sangat menyebalkan, namun jantungnya yang ikut berdebar kencang tak kalah menyebalkannya.
Ia tiba-tiba membelalakkan matanya. Menyadari kata-kata 'belum menikah' yang keluar dari mulutnya itu, Zoya membekap mulutnya sendiri. Astaga, sepertinya dia benar-benar ketularan gilanya pria itu. Kemarin ia mengatakan bahwa dirinya dan Gallen 'belum memiliki hubungan', dan sekarang ia mengatakan bahwa dirinya dan Gallen 'belum menikah'. Apa yang dikatakannya ini sebenarnya? Apa Zoya diam-diam memang bersedia untuk menikah dengan pria itu?
"Sebetulnya jika aku menikah dengan Bos, tidak ada ruginya, sih. Milo dan Noah juga akan bersatu dengan ayah mereka lagi. Tapi ---" Zoya menyentuh dadanya. Wanita itu lalu berjongkok di lantai, memeluk tubuhnya sendiri, "Bagaimana denganku sendiri? Apa aku benar-benar jatuh hati dengan Bos?" Zoya bertanya pada dirinya sendiri.
Zoya tenggelam dalam pikirannya sendiri untuk beberapa saat. Dia tahu seharusnya tak egois apalagi jika memikirkan anak-anaknya. Tapi, sungguhkah ini yang terbaik? Apalagi Zoya sendiri pun tak pernah bertemu dengan satupun keluarga Gallen. Apa keluarganya yang kaya raya akan menerima ia dan anak-anaknya tanpa masalah?
"Jika keluarganya pun tak masalah dengan kami, mungkin ..." Zoya tersenyum kecil
"Mungkin aku bisa menerimanya." Zoya bersuara dengan sangat pelan.
Ia menutup wajahnya setelah mengatakan itu. Ah, dasar. Dia bahkan malu hanya karena mengatakan itu. Mengapa Gallen bisa dengan mudah mengatakan hal-hal semacam itu tanpa merasa ada beban? Apa semua pria memang seperti itu?
__ADS_1
"Tak tahulah, lebih baik aku menemui Noah saja sekarang." Putus Zoya. Ia kemudian beranjak, pergi dari tempat cuci untuk kembali ke kamarnya.
***
Noah bersembunyi di balik pohon yang ada di kebun belakang rumah Gallen. Dia melihat sesuatu. Sebenarnya Noah sedang bersama dengan Mamanya sebelum Gallen tiba-tiba memanggil Zoya, lalu dia diam-diam mengintip apa yang dilakukan kedua orang dewasa itu.
"Hihihi."
Noah mencari satu nama di kontak yang ada di jamnya, menghubungi orang itu.
"Noah!"
Suara dari seberang selalu terdengar bersemangat. Noah meminta kembarannya itu untuk tenang, takut tempat persembunyiannya ketahuan.
"Aku punya berita bagus." Noah ingin memberitahukan informasi yang terjadi disana.
Mendengar kata berita, Milo yang heboh pun mendadak tenang.
"Berita apa itu?"
Noah lagi-lagi terkikik. Milo mungkin heran dengan kembarannya ini, apa yang membuatnya begitu senang sampai terkikik seperti itu?
"Kau tahu, Mama dan Papa bermesraan." Ujarnya.
Milo yang tak tahu menahu tentang itu kembali bertanya.
"Bukankah kau sudah menyerah untuk menyatukan mereka? kenapa mereka tiba-tiba bermesraan?"
Noah tersenyum.
"Kau tidak tahu. Aku tidak memaksa mereka. Mereka yang mulai mendekat sendiri. Dan kau benar, aku tidak bisa memaksa mereka hanya untuk kebahagiaanku sendiri. Tapi, Milo, apakah kau tahu," Noah tersenyum membayangkan kedua orang tuanya, sedang Milo masih setia mendengarkan kembarannya dari sana.
"Sebenarnya jika mereka bersama, mereka bisa lebih bahagia. Mereka hanya akan merasa sedih jika berpisah." Ujarnya lagi.
Noah sudah memerhatikan Mamanya selama beberapa hari ini. Meski selalu mengaku kesal, namun senyum yang terbit dari bibir Mamanya setelah mendapat godaan dari Papa mereka itu justru lebih lebar dari senyum manapun yang pernah dirinya lihat. Dengan demikian bisa Noah pastikan, Mama mereka sebenarnya lebih bahagia dengan keberadaan Papa mereka, dan begitupun sebaliknya.
Milo terdiam untuk beberapa saat, mencoba memahami situasinya. Jujur saja, dia tak tahu harus merespons apa dengan berita yang diberitahukan oleh kembarannya. Dia bahkan tak benar-benar tahu apa yang terjadi di kota. Tapi, jika yang terjadi memang seperti yang kembarannya bilang ...
"Aku akan ikut bahagia jika itu benar-benar terjadi."
Noah tersenyum. Bagaimanapun, mereka berdua menginginkan yang terbaik untuk kedua orang tua mereka. Dan jika bersama akan membuat keduanya bahagia,
Maka Milo dan Noah pasti akan mendukung keduanya untuk bersama.
"Hm, aku juga."
__ADS_1
***