Anak Kembar CEO Kaya

Anak Kembar CEO Kaya
59. Pasangan Baru


__ADS_3

..."Kalau kamu tidak keberatan, aku tidak akan menolak untuk menikahimu secepatnya....


...***...


Gallen melihat ekspresi senang, kesal, dan juga malu yang terlihat dengan jelas di wajah wanita itu. Dia pun menarik Zoya, membawanya dalam pelukannya "Haha, iya-iya." Katanya. Gallen bahkan tak permisi lebih dulu sebelum melakukan itu.


Zoya sangat terkejut. Jika sebelumnya ia menyikut pria itu yang memeluknya secara tiba-tiba, apakah ia juga harus menyikutnya sekarang? Disaat mereka sudah menjadi sepasang kekasih?


"Maaf, ya. Semoga kamu tidak merasa kesal dengan ucapanku." Katanya. Membuat wanita yang masih dipeluknya itu tak dapat berkutik.


Zoya menurunkan keinginannya untuk menyikut Gallen. Yah, anggap saja ia sedang berbaik hati pada pria itu sekarang. Lagipula Gallen tidak memiliki niat jahat padanya, jadi sepertinya ia akan membiarkan pria itu melakukan apa yang diinginkannya.


Gallen tersenyum senang saat melihat Zoya yang tak lagi menolak. Pria itu mendekatkan bibirnya ke telinga Zoya, berbicara dengan lembut.


"Tapi, kalau kamu tidak keberatan," Zoya punya firasat buruk saat mendengar itu. Ia mendengarkan Gallen dengan baik, meski tubuhnya tak bergerak sama sekali, "Aku tidak akan menolak untuk menikahimu secepatnya." Lanjut Gallen kemudian.


"Ih, Bos."


Zoya langsung meronta, berusaha melepaskan diri dari pria itu. Gallen yang melihat itu justru semakin mempererat pelukannya. Dia tertawa, senang karena berhasil membuat wanitanya itu semakin kesal.


Zoya akhirnya berhenti saat menyadari bahwa tindakannya sia-sia. Ia kemudian diam, membiarkan Gallen melepaskan tubuhnya dengan sendirinya. Mungkin Gallen tak mengerti, tapi Zoya pun sudah memikirkan hal itu sebelumnya. Memang benar saat ini dirinya menerima cinta pria itu, tapi bagaimana untuk langkah kedepannya? Menerima Gallen saja sudah merupakan pilihan yang sangat berani untuk dirinya yang hanya seorang gadis desa dan kurang pendidikan. Keluarga Gallen mungkin tak suka padanya. Belum lagi Bapaknya. Uh, memikirkannya membuat Zoya pening.


"Zoya?"


Zoya mengangkat kepalanya, terkejut karena ternyata Gallen menatapnya dengan bertanya-tanya.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanyanya.


Zoya hanya diam. Oh, apakah Gallen mengajaknya bicara tadi? Tapi Zoya tak mendengarnya karena sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Maaf, Bos. Bos bicara sesuatu?"


Gallen tak langsung menjawab. Dia hanya diam, lalu menghembuskan napas panjang.


"Tidak ada. Tapi ... " Gallen tiba-tiba saja tidak ingin menjelaskan apa yang sebelumnya dirinya katakan.


Pria itu menatap pakaian yang digunakan oleh Zoya sekali lagi. Pakaian itu memang membuatnya terlihat seksi, dan itu membuat Gallen semakin tak ingin menunjukkan kekasihnya pada orang lain.


"Kamu tidak mungkin bekerja dengan pakaian seperti itu, kan? Jadi bagaimana kalau pulang saja?"

__ADS_1


Zoya menatap pakaiannya. Hm, benar juga. Orang-orang pasti akan merasa penasaran jika melihat dirinya menggunakan pakaian milik pria. Apalagi pakaian itu terlihat mahal, prasangka-prasangka buruk mungkin akan tertuju padanya.


"Aku harus beritahu Dafa dulu." Zoya mencari ponselnya. Mungkin akan sulit baginya untuk masuk dan mencari pria itu, jadi setidaknya ia harus mengabari temannya itu lewat telepon.


Zoya ingat meletakkan ponselnya di saku celemek yang dia pakai, karena itu ia merogoh pakaiannya yang basah tadi. Sadar mendapat tatapan tajam, wanita itu kemudian kembali mengangkat kepalanya dan menatap Gallen, "Dafa itu Bos di tempatku bekerja. Bos masih ingat, kan? Dia temanku." Ujarnya.


Namun tak sesuai harapan, tatapan Gallen justru semakin tajam.


"Oh, teman rupanya." Katanya. Gallen hanya berbicara singkat, namun entah mengapa kata-kata itu tak terdengar ramah sama sekali.


Zoya mengerutkan dahinya dengan bingung tatkala Gallen membuka pintu di samping kemudi. Pria yang baru beberapa menit lalu menjadi kekasihnya itu mengode, meminta Zoya untuk masuk.


"Aku akan memberitahu Alby. Dia bisa memberitahukan hal itu pada 'temanmu'." Katanya.


Wanita itu menatap ke dalam mobil, namun tubuhnya masih tetap berada di tempat.


"Serius Bos mau nyuruh Kak Alby? Gimana kalau orang-orang malah jadi penasaran karena itu?"


Gallen tak langsung menjawab. Dia hanya mendekati Zoya, lalu membawa wanita itu untuk masuk ke mobilnya.


"Udah, tenang aja. Alby tidak sebodoh itu sampai-sampai bisa dicurigai oleh mereka." Katanya, menenangkan Zoya.


"Oke, sekarang kamu bisa kasih tahu aku dimana kalian tinggal?" Tanya Gallen.


Ah, benar. Zoya memang tak pernah memberitahu Gallen dimana dirinya tinggal. Ia takut pria itu akan datang secara tiba-tiba lalu membuat keributan, sama seperti saat pria itu tahu dimana kontrakannya. Namun, sekarang tidak ada masalah. Gallen adalah kekasihnya, jadi wajar jika pria itu tahu dimana mereka tinggal.


Wanita itu tersenyum dengan malu, menunjukkan alamat rumah Winona yang kini dirinya tinggali. Gallen kemudian menjalankan mobilnya, membawa mobil itu pergi ke tempat yang diberitahu oleh Zoya.


Mereka mungkin tak sadar. Bahwa sebenarnya, seseorang telah memerhatikan mereka sedari tadi dari jauh.


***


"Jadi kalian tinggal disini?"


Zoya mengangguk. Disinilah mereka tinggal. Rumah yang asri, terlalu bagus untuk disewakan secara cuma-cuma. Ukurannya cukup besar, meski pastinya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan milik pria itu. Namun, jika Gallen masih merasa bahwa rumah itu terlalu kecil dan sempit untuk Zoya dan Noah tinggali, maka sepertinya tempat yang cocok dimata pria itu untuk mereka berdua bukanlah rumah, tapi istana.


Zoya menatap pria di sampingnya yang tak mengatakan apapun lagi.


Gallen terpaku melihat pemandangan di depannya. Jika dilihat-lihat, ada persamaan antara rumah itu dengan kontrakan lama milik Zoya. keduanya memiliki suasana yang hangat. Jarak antar rumah tak terlalu jauh, juga para tetangga yang sepertinya saling akrab. Benar-benar berbeda dengan suasana di rumahnya. Tiba-tiba Gallen berpikir. Mungkin, suasana seperti ini lebih cocok untuk membesarkan anak ketimbang rumah mewah yang sepi karena para tetangga yang punya kesibukan masing-masing.

__ADS_1


Hm, apakah dia harus mulai mencari-cari rumah baru?


"Bos?"


Gallen menoleh. Zoya ternyata tengah menatapnya dengan serius. Ah, astaga. Ekspresi wanita itu terlalu lucu. Bolehkah Gallen mengambil ponsel dan memfotonya sekarang?


"Bos mikirin apa?" Tanya wanita itu lagi.


Sembari berdeham beberapa kali, Gallen berharap itu cukup untuk menutupi pikirannya yang buruk dari tebakan Zoya.


"Aku hanya sedang mengamati rumah ini. Meskipun mungkin lebih baik jika kalian tinggal di rumahku, tapi tempat ini tidak terlalu buruk." Katanya.


Zoya masih terus menatap Gallen. Saat pria itu akhirnya berkata demikian, Zoya mengangguk lalu tersenyum kecil mendengar hal itu. Pada intinya Gallen masih berharap Zoya kembali ke rumahnya, namun syukurlah dia memberikan penilaian yang cukup baik tentang rumah ini. Jadi, Zoya tidak akan dipaksa untuk mencari rumah baru.


"Iya, rumah ini memang bagus. Apalagi kami mendapatkannya secara gratis."


"Gratis?"


"Ini rumah Winona. Dia orang yang Bos temui di minimarket saat pertama kali bertemu dengan Bos. Dia juga yang bersamaku saat menjemput Noah di Restoran. Bos ingat dia?"


Gallen mengangguk. Tentu saja. Gallen bukan tipe orang yang mudah lupa seperti Zoya, apalagi untuk orang yang sudah dua kali ditemuinya.


"Kalian tinggal bersama?"


"Ya." Zoya menoleh pada Gallen, "Karena itu, Bos. Maaf. Sepertinya aku enggak bisa menjamu Bos di dalam karena ada Winona si dalam. Mungkin dia udah tidur, tapi enggak sopan bawa tamu malam-malam." Katanya.


Kata-kata Zoya membuat Gallen tersenyum.


Itu memang disayangkan, tapi Gallen tak berpikir tentang itu awalnya. Dia hanya ingin mengantarkan Zoya, lalu pulang dengan segera. Namun, karena Zoya sudah mengatakannya lebih dulu, sepertinya saran wanita itu ada benarnya juga. Karena hari sudah malam, suasana yang mendukung akan memudahkan mereka untuk melakukan hal-hal yang tidak baik.


"Kalau begitu masuk dan beristirahatlah. Sampaikan salamku pada Noah, juga terimakasih pada temanmu yang telah dengan baik hati membawamu kemari." Katanya.


Zoya tersenyum. Ia mengangguk, lalu memerintahkan pria itu untuk masuk ke dalam mobilnya dan pergi lebih dulu.


Ada sedikit perdebatan disini, tapi pada akhirnya Gallen mengalah. Dia akan pergi lebih dahulu.


"Dah, sampai jumpa lagi." Zoya melambai pada Gallen yang perlahan pergi.


Pria itu ikut melambai dari dalam. Meski hatinya tak cukup rela, namun akhirnya dia pergi juga. Mau bagaimana lagi, mereka tinggal secara terpisah. Zoya harus kembali ke tempatnya, begitu pula dengan Gallen. Karena itu, Gallen telah memutuskan. Secepat mungkin dia akan membuat mereka tinggal serumah, agar tak ada lagi kesulitan jika dia ingin bertemu dengan Zoya maupun anak-anaknya.

__ADS_1


***


__ADS_2