Anak Kembar CEO Kaya

Anak Kembar CEO Kaya
9. Tertipu


__ADS_3

"Tapi itu tidak buruk, bukan? Bahkan jika kau berhasil, kau bisa menjadi nyonya Prawijaya."


 


\*


 


"Aku mungkin akan pulang terlambat."


Gallen yang tengah bersiap-siap untuk berangkat kerja tiba-tiba berbicara demikian. Zoya hanya mengangguk, tidak masalah jika harus menunggu.


"Ini."


Gallen menyerahkan beberapa lembar uang seratusan pada Zoya. Ia menerima uang itu, namun bingung mengapa bosnya memberikan uang dalam nominal yang banyak.


"Kau mungkin bosan terus di rumah. Jadi kau boleh berbelanja dengan uang itu." Katanya. Sontak, perkataan Gallen membuat Zoya terkejut.


"Sebanyak ini? Saya tidak ingin membeli apapun kok, bos." Tolak gadis itu. Lagipula ia memang tidak berniat membeli apapun, jadi adanya uang itu hanya membuatnya kebingungan.


Namun Gallen yang merasa kebodohan gadis itu masih tak juga hilang lantas menjentik pelan dahi Zoya, "Bodoh, kalau begitu kau simpan saja." Sarannya. Lagipula Gallen tak memaksa Zoya untuk menghabiskannya, jadi gadis itu bisa menyimpannya terlebih dahulu disaat dirinya belum butuh.


Sedangkan Zoya kini tengah menyentuh dahinya yah baru saja dijentik. Sebenarnya tidak terlalu sakit, namun tetap saja pria itu telah menjentik dahinya!


"Aku pergi." Katanya. Gallen kemudian keluar dan pergi menuju garasi mobilnya, sebelum akhirnya pergi dari sana.


Hm, sekarang aku sendirian lagi.


***


"Halo!"


Zoya menatap pria di hadapannya dengan bingung. Gallen tak pernah cerita jika seseorang akan mengunjungi rumahnya hari ini, lalu mengapa pria yang tak dikenalnya ini bisa ada di sini?


"Maaf, saya tidak mengenal Anda. Jadi saya tidak bisa membiarkan Anda masuk." Ujar Zoya tegas. Bersamaan dengan itu, ia berencana untuk menutup kembali pintu rumah Gallen. Namun sayangnya, pria itu telah lebih dahulu mengganjal pintu dengan kakinya dan menahan pintu tersebut agar tak sepenuhnya tertutup.


"Aku Kevin, temannya Gallen. Apa Gallen tak pernah menceritakan tentang diriku padamu?" Tanya pria itu.


Zoya berpikir sejenak, lalu menggeleng dengan kuat, "Tidak pernah. Maaf. Sebaiknya Anda segera pergi dari sini." Zoya masih berusaha menutup pintu itu, namun pria bernama Kevin itu semakin kuat menahan pintunya.


Akhirnya setelah semua perjuangan itu, Kevin berhasil membuka pintu tersebut. Pria itu, yang masih tidak tahu apakah benar teman Gallen atau bukan, langsung menyelonong masuk bahkan meskipun Zoya memintanya untuk berhenti.

__ADS_1


"Aku benar-benar teman Gallen, bagaimana mungkin kau tak percaya padaku." Ujarnya untuk kesekian kali.


Sayangnya, Gallen memang tida pernah menceritakan apapun tentang pria ini. Bahkan pria itu bersikap seolah-olah dirinya tidak memiliki teman, jadi bagaimana bisa Zoya percaya padanya?


"Uwah!"


Hidangan yang telah tertata dengan rapi di atas meja mengalihkan perhatian pria itu. Gallen memang mengatakan bahwa dirinya akan pulang terlambat, namun Zoya tetap menyiapkan makanan untuk bersiap jika sewaktu-waktu Gallen pulang lebih cepat. Namun sekarang, pria itu sudah mengambil piring untuk menikmati hasil masakannya?!


"Jangan! Aku membuat itu untuk bos!" Teriaknya. Zoya memang selalu berbicara dengan formal dan sopan pada Gallen, namun pria tak tahu sopan santun itu tak berhak untuk mendapatkannya!


Zoya berjalan mendekat, lalu menarik kerah pria itu, "Keluar, aku tidak mengizinkanmu menyentuh apapun yang ada di sini!" Teriaknya.


Namun sekuat apapun Zoya menarik, ia masih tak cukup kuat untuk mengusir pria itu keluar, "Tidak mau, aku akan makan dulu sebelum pergi dari sini." Tolaknya. Zoya benar-benar kesal, namun ia tak punya kekuatan apapun lagi untuk mengusir pria itu. Akhirnya, ia mengambil ponselnya untuk memotret pria itu, dan mengirimkannya pada Gallen.


Sekarang pukul delapan malam. Kapan bos akan pulang?


Zoya masih bisa menunggu. Namun ia merasa tidak nyaman dengan keberadaan pria itu. Sekarang, ia hanya berharap agar Gallen segera datang agar pria tak tahu diri itu segera pulang dari tempat ini.


Kevin makan dengan lahap makanan yang ada di atas meja. Sekarang dia paham mengapa Gallen selalu membawa makanan sendiri dari rumah. Makanan buatan gadis itu memang enak, tak kalah dari makanan buatan restoran. Kekurangan gadis itu hanyalah ia yang tak pandai membuat makanan lain selain makanan Indonesia, sehingga hari-harinya makanan yang ia buat hanyalah makanan Indonesia saja.


Tapi lebih dari apapun itu, Kevin juga mengerti mengapa Gallen berubah akhir-akhir ini.


"Hei, siapa namamu?" Tanyanya. Zoya hanya membuang wajah, tak berminat untuk menjawab. Tingkah Zoya yang menolak untuk menjawab itu membuat Kevin tertawa.


Kevin yang telah menghabiskan makanannya lalu beralih ke satu lemari yang ada di dapur, membukanya. Disana, tersimpan banyak minuman berbotol kaca. Pria itu mengambil beberapa, membawanya ke sofa dimana Zoya tengah duduk.


"Darimana Gallen membawamu?" Tanyanya. Zoya hanya memberikan tatapan tajam, semakin kesal dengan pria itu.


"Memangnya darimana aku berasal itu penting? Lagipula, itu bukan urusanmu." Katanya.


Kevin membuka salah satu botol minuman dan menuangkan isinya ke dua gelas, "Aku akan bersikap baik padamu, tenanglah." Ujarnya. Namun, itu tak cukup untuk membuat Zoya merasa senang akan kehadiran pria itu yang tiba-tiba. Terlebih ...


"Apa ini? Baunya aneh."


Zoya tak berani meminum cairan yang ada di dalam gelas yang pria itu berikan. Lagipula, baunya terasa asing. Bau yang kuat dan asing itu justru membuat Zoya merasa curiga.


Alkohol? Aku belum pernah melihat bos meminum ini, tapi bagaimana bisa orang ini tahu tempat penyimpanannya? Apa dia benar-benar temannya bos?


"Apa kau pikir ini alkohol?"


"Memangnya bukan?"

__ADS_1


Kevin tersenyum. Mungkin, dia bisa mengerjai gadis lugu ini.


"Bukan, baunya mungkin cukup aneh karena kau tidak pernah mencobanya. Cobalah!" Kevin kembali menyodorkan minuman itu. Zoya memundurkan tubuhnya, tentu tak akan menerima minuman aneh itu.


"Tidak, aku tidak butuh."


Zoya kembali memeriksa jam di ponselnya. Sudah hampir jam sembilan malam, namun masih belum ada jawaban dari Gallen. Sebenarnya apa yang pria itu kerjakan?


"Bagaimana kalau begini," Tawar pria itu. Jujur saja, Zoya sebenarnya sudah sangat ingin menendang pria itu keluar dari tempat ini, namun sayangnya ia tahu bahwa dirinya kalah tenaga dibandingkan Kevin, "Aku akan memberikanmu tantangan. Jika kau mau melakukannya, aku akan memberimu hadiah. Jika tidak, kau harus minum minumannya. Bagaimana?"


Dahi gadis itu berkerut. Ia terus berharap jika Gallen segera kembali, namun tampaknya pesannya saja tak dilihat oleh pria itu.


"Aku tidak akan mengikuti permainanmu. Lebih baik kamu bermain dengan orang lain saja." Katanya.


"Ah, ayolah. Mengapa kau kaku seperti ini."


Kevin tiba-tiba mendekati Zoya, "Ini tidak sulit. Kau tahu, kan. Gallen itu sedikit aneh. Sampai-sampai ada rumor kalau dia sebenarnya tidak menyukai wanita." Zoya melirik pria itu. Entah apa yang sebenarnya pria itu ingin Zoya lakukan.


Kevin tersenyum, sepertinya ia berhasil menghasut gadis itu, "Bagaimana ... jika kau menggodanya?"


Mendengar kata-kata tak masuk akal yang diucapkan pria itu, tak elak membuat Zoya kesal, "Apakah otakmu tertinggal di rumah? Bagaimana mungkin aku menggoda bosku sendiri?"


"Tapi itu tidak buruk, bukan? Bahkan jika kau berhasil, kau bisa menjadi nyonya Prawijaya."


Zoya menatap kesal pria itu. Kata-kata Kevin seolah mengisyaratkan bahwa keberadaan dirinya tak lain hanyalah untuk menggoda Gallen agar ia bisa menikmati kekayaan pria itu. Padahal, tidak begitu. Demi apapun, Zoya hanya tinggal disini untuk melunasi utang-utangnya. Ia tak memiliki niatan apapun, apalagi panjat sosial seperti itu. Tapi, kata-kata Kevin benar-benar menyakitinya.


Terutama, karena ia merasa bahwa pria itu menghina bosnya.


Grep


Zoya mengambil botol minuman yang ada di atas meja, lalu meminum isinya. Kevin yang awalnya hanya bermain-main lantas terkejut. Dia segera merebut botol minuman itu, mengambilnya secara paksa hingga botol minuman itu jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping.


"Kau gila?! Bagaimana mungkin kau meminum alkohol seperti meminum air putih seperti itu?!"


Zoya terhuyung ke belakang. Gadis itu menatap Kevin dengan sengit dan berkata, "Kamu tidak berhak menghina aku maupun bos!" Katanya.


Ia memegangi kepalanya saat rasa sakit menyerang secara tiba-tiba.


Pemandangannya menjadi buruk. Dunia seolah melebur menjadi satu, dan Zoya tak tahu apa-apa sampai tubuhnya terasa sakit karena bertabrakan dengan lantai yang keras.


Bruk

__ADS_1


Zoya tidak sadarkan diri.


***


__ADS_2