Anak Kembar CEO Kaya

Anak Kembar CEO Kaya
28. Gagal


__ADS_3

..."Apa ... bos melakukan itu tanpa persetujuan dari Zoya?"...


...***...


Sebenarnya Alby masih tidak tahu kemana atau siapa yang ingin ditemui oleh Bos nya ini. Namun, pria itu tetap setia menemani saat Gallen memintanya untuk menjadi supir. Alby juga tidak tahu sejak kapan Gallen menyiapkan barang-barang yang saat ini sudah disimpan di dalam bagasi, namun yang jelas pria yang selalu dikenal galak itu telah banyak membeli mainan untuk anak laki-laki.


"Berapa usia anak-anak itu, Bos?" Tanya Alby. Karena tebakannya tadi salah, Gallen sepertinya agak kesal dengannya. Namun saat pertanyaan itu terdengar, bibir yang sedari tadi terlihat datar itu sedikit terangkat.


"Lima tahun, mereka sudah TK sekarang." Katanya.


Alby menoleh saat mendengar itu, "Mereka seumuran?" Tanyanya lagi. Seperti yang Alby dengar, Gallen menyebutkan bahwa dia ingin menemui 'anak-anaknya'. Itu berarti ada lebih dari satu anak yang ingin ditemuinya.


Gallen mengangguk dengan rona wajah yang terlihat senang, "Yah, mereka memang kembar."


Alby ber-oh ria. Dia tidak tahu kapan Bos nya ini 'membuat' anak-anak itu, dia juga tidak tahu apakah bos nya ini sebenarnya menikah diam-diam atau hanya melakukan one night stand dengan wanita yang tidak dirinya ketahui, namun untuk saat ini Alby hanya akan menuruti perkataan Gallen daripada terkena lirikan tajamnya lagi.


"Belok kiri."


Alby langsung membelokkan mobilnya ke arah yang ditunjuk oleh Gallen. Bukan jalanan yang buruk, bukan pula lingkungan yang kumuh. Alby hanya merasa bertanya-tanya bagaimana calon istri dan anak-anak dari bos nya ini bisa berada disini, sebuah lingkungan biasa yang jauh dari kata mewah.


Begitu sampai di depan sebuah rumah kontrakan, Gallen memerintahkan Alby untuk berhenti. Mobil mewah berwarna hitam itu pun diparkirkan di halaman rumah, sedang Alby diperintahkan oleh Gallen untuk membawa beberapa kotak mainan yang sudah disiapkannya sejak kemarin.


Pria itu memperbaiki penampilannya terlebih dahulu, kemudian mengetuk pintu kayu itu tiga kali.


Tok Tok Tok


Gallen sudah bersiap untuk menyambut kedatangan Zoya. Namun meskipun dia menunggu selama satu menit, tidak ada tanda-tanda seseorang akan membukakan pintu rumah itu.


Tok Tok Tok


Gallen masih mencoba untuk bersabar. Mungkin saja Zoya sedang berada di belakang rumah sehingga tidak mendengar suara ketukan pintunya, bukan?

__ADS_1


"Bos, benar ini rumahnya?" Tanya Alby memastikan. Pasalnya, tidak ada suara apapun dari dalam rumah.


Gallen hanya melirik sekilas pada sekretarisnya itu. Ia ingin mengetuk pintu itu sekali lagi, namun suara seorang ibu membuatnya berhenti.


"Mas, nyari Zoya?" Tanya seorang Ibu berdaster dari halaman rumahnya. Sepertinya dia merasa keheranan dengan keberadaan dua pria itu di depan rumah Zoya.


Gallen mundur beberapa langkah dari teras kontrakan Zoya, mencoba sopan dengan mendekati ibu tadi, "Benar. Apa Anda tahu dimana pemilik rumah ini?" Tanyanya.


"Zoya kalau jam segini pergi kerja, Mas. Anaknya juga masih di sekolah." Kata Ibu tadi.


Ah, Gallen ingat. Saat itupun, Noah bilang kalau Mamanya sedang bekerja. Tidak heran juga kalau sekarang rumah ini kosong. Tapi, bukankah dia sudah mengatakan bahwa hari ini dia akan datang kembali? Mengapa gadis itu tidak bisa menunggunya dengan mengambil cuti?


"Hm, kalau begitu aku akan kembali lagi nanti." Putus Gallen kemudian.


Gallen berencana untuk kembali. Namun sebelum pria itu kembali ke mobilnya, ibu tadi tiba-tiba kembali berbicara, "Tunggu, Mas. Zoya biasanya memang pergi kerja kalau jam segini, tapi hari ini dia enggak pergi kerja." Ucap ibu tadi tiba-tiba yang membuat Gallen mengernyitkan dahi. Apa maksud ibu itu? Zoya tidak pergi bekerja, ia juga tidak ada di rumah. Lalu kemana perginya wanita itu?


"Maksud Ibu? Lalu Zoya ada dimana sekarang?" Tanya Gallen lagi.


"Hm," Ibu tadi berusaha mengingat-ingat, "Tadi pagi dia pamitan, kayaknya dijemput sama calon mertuanya. Mungkin mau pulang kampung, Mas. Soalnya Mbak Zoya sama Mas Dafa kan emang sekampung" Lanjut sang ibu dengan aksen Jawanya yang lumayan kentara.


"Ah, terimakasih, Bu. Kalau begitu kami permisi sekarang."


Alby segera menarik tangan Bos nya. Jika dibiarkan, pria itu bisa meledak!


"Si bodoh itu, dia kabur lagi?!" Teriak Gallen setelah berada di dalam mobil. Untung saja Alby sudah membawa pria itu masuk. Jika tidak, mungkin Ibu tadi merasa bahwa Gallen memarahinya.


"Bos, tenang dulu." Alby berusaha menenangkan Bosnya.


Gallen menoleh ke arah Alby, namun itu tak cukup untuk menenangkan amarahnya, "Kau dengar tadi? Dia pulang bersama calon mertuanya? Hah, mimpi. Memangnya Zoya akan menikah dengan siapa sampai punya ayah mertua?" Kesal Gallen kembali.


Alby tersenyum miris. Iya, sih. Gallen kan bilang bahwa wanita itu adalah calon istrinya. Dan karena Gallen adalah yatim piatu, tentu saja wanita itu tidak akan punya ayah ataupun ibu mertua.

__ADS_1


"Gelap, ya." Bisik Alby.


Alby memerhatikan Gallen yang tampak memejamkan mata setelah mengungkapkan kekesalannya lagi. Tiba-tiba dia teringat. Bukankah Ibu tadi menyebut nama wanita itu dengan ...


"Zoya," Gallen menoleh saat Alby menyebut nama itu, "Saya jadi penasaran. Zoya yang dimaksud Ibu tadi, apakah itu Zoya yang sama seperti yang saya kenal enam tahun lalu?" Tanyanya dengan penuh penasaran. Alby menunggu jawaban Gallen, namun pria itu justru memalingkan wajah.


"Berarti benar." Gumam Alby, "Kalau tebakan saya salah, bos pasti akan memaki atau menunjukkan ekspresi malas dan kesal pada saya. Tapi sekarang --- " Alby kembali terdiam saat Gallen melihat wajahnya.


"Apa ... bos melakukan itu tanpa persetujuan dari Zoya?" Alby hanya ingin mengecek kebenarannya. Jika hal itu dilakukan atas dasar mau sama mau, tentu Zoya tidak harus bermain kejar tangkap seperti ini dengan Gallen, bukan? Dan Gallen pun tak perlu susah payah mencari-cari wanita itu selama enam tahun. Tapi, jika memang itu dilakukan tanpa persetujuan dari Zoya langsung ...


"Pantas saja Zoya melarikan diri dari bos. Ternyata ada kejadian seperti itu." Ujar Alby.


Gallen menyandarkan tubuhnya. Benar, memang salahnya melakukan itu tanpa persetujuan Zoya. Tapi bagaimana lagi? Hal yang sudah terjadi tidak bisa diubah kembali. Apalagi, mereka sudah punya anak.


"Oh, ya. Siapa nama anak-anak Bos?"


"Milo dan Noah." Jawab Gallen langsung.


"Apakah Bos punya sesuatu yang bisa digunakan untuk menghubungi mereka?"


Gallen meraba kantung celana dimana dia meletakkan ponselnya. Pria itu mencari nama Noah yang nomornya sudah dia simpan, lalu menelponnya berulang kali. Sayang, tidak ada jawaban dari nomor tersebut.


Apa paman bisa menelepon Mama?


Gallen tiba-tiba teringat. Saat bertemu dengan Noah di Restoran, tepatnya sebelum mengetahui bahwa Noah adalah anak Zoya, Noah pernah meminta Gallen untuk menghubungi Mamanya dan memberitahukan bahwa dia sedang bersama Gallen karena takut Mamanya marah jika mengetahui bahwa Noah pergi tanpa izin bersama orang yang tidak dikenal. Jika itu memang benar demikian, bukankah itu artinya Noah memberikan nomor Zoya padanya?


Dia kembali mencari-cari nomor telepon yang dihubunginya hari itu. Gallen mencoba menghubungi nomor itu, namun sayangnya Zoya juga tak mengangkat panggilan tersebut.


"Sial. Kemana mereka sebenarnya?!"


Alby yang melihat wajah kesal Gallen hanya diam. Sekarang, apapun yang keluar dari mulut Alby hanya akan memancing kekesalan di hati Gallen. Untuk mencari aman, lebih baik dia diam lebih dulu.

__ADS_1


"Alby," Panggil Gallen tiba-tiba. Alby menoleh, menemukan wajah bosnya yang seperti penuh dengan siasat, "Cepat cari tahu siapa pemilik rumah ini. Aku punya rencana yang bagus untuk membalas wanita itu." Ujarnya.


***


__ADS_2