Anak Kembar CEO Kaya

Anak Kembar CEO Kaya
33. Tawaran


__ADS_3

..."Aku menunggu kalian siang dan malam selama satu Minggu, tapi mengapa Milo tidak kembali lagi ke kota ini?"...


...***...


"Ehem." Gallen pura-pura berdeham. Sosok yang menggunakan jas formal berwarna hitam itu berdiri tepat di depan Zoya, "Akhirnya kau kembali juga." Katanya. Gallen bersikap seolah jual mahal, meski sesekali matanya melirik ke arah Zoya. Jelas saja. Toh selama ini dia kesal karena Zoya tiba-tiba pergi begitu saja disaat dirinya sedang menunggu jawaban.


Zoya menyipitkan mata. Aneh, sangat aneh. Meskipun Zoya bodoh, namun sepertinya ada sesuatu yang terjadi disini. Bagaimana bisa Gallen muncul di depan dirinya disaat seperti ini? Apalagi, disaat dirinya baru saja diusir dari kontrakan.


"Oh, jangan-jangan---"


"Apa ini Noah?" Alby memotong kata-kata Zoya. Jujur saja, sebenarnya itu sengaja. Karena Alby dan Gallen sudah bekerjasama untuk mengelabuhi Zoya, jadi tak mungkin dia membiarkan wanita itu menyelesaikan ucapannya, "Paman sudah mendengar cerita tentangmu. Dimana Milo?" Tanyanya. Karena Gallen sudah pernah menyebut nama anak-anaknya, Alby pun langsung mengingat nama-nama itu.


Noah yang ditanya kemudian menggeleng, "Di kampung, dia tidak ikut ke kota." Jawab Noah singkat, jelas, dan padat. Dia bahkan berbicara dengan tegas, tak seperti anak lain pada umumnya.


Gallen langsung menatap Zoya setelah mendengar itu. Awalnya, dia memang hanya mengetahui keberadaan Noah. Mereka sudah bertemu beberapa kali bahkan sebelum Gallen tahu bahwa Noah adalah putranya. Kemudian muncul Milo, yang menjadi pemecah atas kebenaran yang selama ini ditutupi oleh Zoya. Gallen langsung merasa bersalah karena tak pernah mengetahui keberadaan mereka.


Karena itu lah, sekarang dia ingin mengganti ketidakhadirannya selama ini kepada Milo dan Noah. Meski tentu saja tawarannya untuk menikah dengan Zoya bukan hanya sekadar rasa tanggung jawab. Gallen sungguh-sungguh mencintai Zoya. Dia ingin membuat satu keluarga yang utuh bersama Zoya dan anak-anaknya. Tapi, belum lagi dia berhasil mencapai cita-citanya, Zoya sudah membawa Milo pergi jauh ke tempat dimana Gallen tak akan dapat menemuinya.


"Kenapa kau tidak membawa Milo?" Gallen bertanya dengan wajah serius, "Aku menunggu kalian siang dan malam selama satu Minggu, tapi mengapa Milo tidak kembali lagi ke kota ini?" Tanya Gallen.


Zoya memerhatikan ekspresi wajah Gallen. Dahinya berkerut dan wajahnya menjadi kaku. Jelas, Gallen seperti sedang menahan kesal dan sedihnya menjadi satu. Zoya ikut mengerutkan dahinya. Tiba-tiba saja, ia bisa memahami maksud tatapan yang terpancar dari mata Gallen.


"Tunggu. Sepertinya ada salah paham disini." Ujar Zoya, "Milo sedari awal memang tinggal bersama Kakek dan Neneknya di desa. Kemarin dia ada di kontrakanku karena sedang memberi kejutan dengan datang tiba-tiba. Itulah sebabnya dia enggak ikut bersama kami lagi setelah selesai liburan." Jelas Zoya.


Gallen terdiam sejenak untuk memahami maksud kata Zoya.


"Sungguh?" Tanyanya setelah berpikir jernih.

__ADS_1


Zoya mengangguk. Melihat jawaban itu, Gallen bisa sedikit bernafas lega.


"Oh, syukurlah kalau begitu." Katanya kemudian masih dengan berlagak keren. Dia membuang pandangan ke arah lain, membuat Zoya merasa heran dengan tingkahnya yang tidak jelas. Tiba-tiba marah, dan sekarang Gallen sok tidak ingin melihat ke arahnya.


Zoya menghela napas panjang. Dipandanginya lagi Noah yang tetap duduk sembari memandangi semua orang dewasa di depannya. Kasihan. Meski tak merengek seperti anak lainnya, tetap saja ekspresi lelahnya tergambar dengan jelas di wajah polosnya. Zoya tak ingin berpikir panjang lagi. Ia lalu mengambil ponselnya untuk mencari taksi online. Bagaimana pun juga, ia harus segera mencari tempat bermalam agar Noah bisa istirahat.


Gallen yang semula berpura-pura melihat ke arah lain menangkap pergerakan aneh yang Zoya lakukan. Pria itu menatap diam-diam, lalu bertanya saat menyadari Zoya tengah melakukan sesuatu yang mungkin saja akan menggagalkan rencananya.


"Kau sedang mencari taksi online?"


"Ya." Zoya menjawab tanpa melihat, "Kami tidak mungkin tidur di jalan, jadi tentu saja aku harus mencari penginapan. Paling tidak, untuk satu hari." Kata Zoya.


Gallen menutup layar ponsel Zoya, membuat wanita itu menatap bingung ke arahnya.


"Untuk apa kalau hanya satu hari? kau kan tidak punya rumah kontrakan lagi." Katanya. Sial, dia kelepasan. Bahkan Gallen langsung menutup matanya setelah selesai mengatakan itu. Dia benar-benar tidak bisa menahan mulutnya!


Zoya menatap Gallen dan Alby secara bergantian. Karena sinyal otaknya sedang 5G, ia langsung bisa menangkap maksud pembicaraan itu tanpa perlu pikir panjang, "Ah, pantas saja kami diusir dari kontrakan. Ternyata karena bos? Bos yang membeli rumah itu?"


Gallen menggeleng cepat.


"Tidak, untuk apa aku melakukan itu." Elaknya. Meski itu kenyataan, tidak mungkin Gallen mengakuinya sekarang.


"Bohong, darimana Bos tahu kalau kami tidak punya kontrakan jika bukan karena bos sendiri yang mengusir kami?" Zoya masih tidak percaya. Gallen bahkan mengetahui perihal dirinya yang diusir dari kontrakan, padahal Zoya tak pernah menyebutkan hal itu sedari tadi. Bagaimana dia bisa mengetahuinya kalau bukan karena itu?


"Maaf saya memotong pembicaraan," Alby mengambil bagian. Dia bahkan mengangkat tangannya untuk masuk dalam pertengkaran kedua orang itu, "Begini, bos sebenarnya tidak tahu. Tapi bukankah kamu sendiri yang mengatakan itu? Kamu bilang, kamu harus mencari penginapan untuk satu hari. Mungkin karena itu bos menyimpulkan bahwa kalian tidak punya rumah untuk tinggal." Alby melirik Gallen agar pria itu bisa ikut dalam sandiwara yang dibuatnya.


"Ya, maksudku begitu." Tambah Gallen.

__ADS_1


Zoya menyipitkan matanya. Zoya memang mengatakan itu, namun ia tak benar-benar mengatakan bahwa mereka tak lagi memiliki rumah kontrakan. Apa kalimatnya cukup jelas untuk mengartikan bahwa dirinya baru saja diusir? Entahlah, Zoya tidak tahu bagaimana cara berpikir orang-orang pintar.


Zoya pun sebenarnya tak yakin dengan kata-kata keduanya. Apakah itu sungguhan? Atau Gallen hanya memperdayainya saja? Zoya tidak mengerti. Yang pasti, dua pria di depannya ini memang sangat mencurigakan.


"Aku enggak bisa langsung yakin dengan kata-kata kalian ... " Zoya memandangi mereka. Namun sebagaimana pelaku bisnis yang sudah terbiasa berhadapan dengan klien yang beraneka ragam sifatnya, kedua pria itu berhasil mengontrol ekspresi mereka dengan baik, "Tapi, ya sudahlah. Aku enggak bisa mengatur kalian juga." Katanya.


Dalam hati, Gallen merasa lega. Untung saja Zoya adalah tipe yang percaya-percaya saja dengan perkataan orang. Meski itu bukan sifat yang baik karena bisa saja ia ditipu orang, namun karena sifatnya ini lah Gallen bisa selamat.


Zoya kembali menatap layar ponselnya. Seperti tadi, Gallen kembali menghentikannya, "Kau mau mencari tempat bermalam, kan? Bagaimana jika menginap di rumahku dulu?" Tawarnya.


Zoya menaikkan sebelah alisnya saat mendengar tawaran itu, "Bos enggak ingat apa yang terjadi saat kita tinggal bersama?"


Gallen meringis dalam hati. Ya, dia ingat. Mereka melakukan sesuatu yang kelewat batas hingga lahirlah Milo dan Noah. Cerita yang sangat tidak bisa dipercaya akan muncul dari Gallen yang terkenal menyeramkan saat bertemu dengan wanita. Namun saat bersama Zoya, dia yang harusnya menjadi singa malah berubah menjadi kucing menggemaskan.


"Itu tidak akan terjadi lagi. Manusia kan belajar dari pengalaman. Bagaimana mungkin mengulang kesalahan yang sama untuk kedua kalinya." Ujar Gallen dengan percaya diri.


Zoya hanya memutar bola mata lalu menggeleng. Tidak bisa dipercaya. Dia lebih memilih menginap di hotel untuk malam ini lalu meminta Winona atau Dafa membantunya mencari rumah kontrakan besok. Dengan demikian, masalahnya selesai.


"Mama." Suara Noah membuatnya menoleh. Sembari mengucek matanya, anak yang sedari tadi diam itu tiba-tiba berbicara, "Bisakah kita ikut dengan Paman dulu? Aku mengantuk." Katanya.


JRENG


Zoya menoleh ke arah Gallen.


Apa yang harus Zoya lakukan jika Noah sendiri yang meminta ini?


***

__ADS_1


__ADS_2