
..."Habisnya bos suka mengerjai orang. Siapa tahu bos hanya cari kesempatan."...
...***...
Zoya terlihat terkejut hingga memelototkan matanya setelah mendengar itu. Meski sebelumnya ia pun sudah menduga itu, namun Zoya tetap kelimpungan sendiri setelah mendengar jawaban langsung dari Gallen.
"Itu ... " Wanita itu menatap ke seluruh tempat, "Bos, duduk disini!" Zoya meminta Gallen untuk duduk di sofa.
Gallen berjalan ke tempat yang disuruh Zoya. Dia duduk sambil menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa yang empuk. Hari ini cukup melelahkan. Gallen bahkan tak peduli lagi dengan posisi duduknya yang sebenarnya salah. Yang penting dia bisa duduk sekarang.
Zoya sedang mengambil keranjang buah yang sebelumnya ia jatuhkan. Namun saat melihat Gallen duduk secara asal, Zoya yang semula hanya memerhatikan langsung mendekat dan menundukkan kepalanya di depan pria itu, membantunya duduk dengan nyaman. Jantung Gallen berdebar. Gallen membuang wajahnya ke samping, menelan ludahnya dengan susah payah secara diam-diam. Zoya sebenarnya tidak memiliki maksud lain. Namun gerakan wanita itu yang berusaha membuatnya nyaman malah terlihat menggoda olehnya. Sialan, semoga saja 'adiknya' tidak bangun karena ini.
Alby yang turut mendekat itu lantas meletakkan tas Gallen di samping pria itu, berencana untuk langsung pergi.
"Kalau begitu saya permisi." Pamitnya.
Meski Alby tak cukup ahli dalam masalah percintaan, untungnya ia masih cukup peka dalam melihat situasi sekitar. Terutama, untuk saat-saat seperti ini.
Zoya yang mendengar bahwa Alby akan pamit pun mengangkat kepalanya, "Kak Alby enggak mau duduk dulu disini?" Tawarnya. Namun pria itu menggeleng.
"Mobilku masih di kantor. Selain itu, ada beberapa hal yang harus aku bicarakan dengan karyawan lain, jadi aku harus segera kembali sebelum mereka pulang." Alby membuat alasan agar Zoya membiarkannya pergi.
Zoya menganggukkan kepala. Meski dia tak mengerti dengan cara kerja kedua pria di hadapannya ini, tentu Zoya tak boleh menghalanginya saat akan bekerja, "Oke. Lain kali mampirlah kesini."
Alby tersenyum sekali lagi, "Pasti. Kalau begitu aku pergi dulu, ya." Alby menundukkan kepalanya sebagai bentuk hormat, "Bos, saya pamit." Katanya.
Gallen mengangkat tangan kanannya dan mengibaskannya ke atas.
Alby kemudian keluar dari rumah itu. Setelah memastikan pria itu keluar, perhatian Zoya kembali terfokus seutuhnya pada pria di hadapannya ini.
"Sekarang sudah bisa melihatku?" Tanya Gallen, sedikit merajuk. Sedari tadi wanita itu terus menatap Alby, melupakannya dan tak peduli sedikitpun padanya.
Zoya memicingkan matanya, "Ini beneran patah?" Tanyanya lagi. Bisa saja Gallen hanya membual, padahal sebenarnya dia tak sakit sama sekali.
"Tentu sama --- Akh!"
Zoya menepuk pelan lengan pria itu.
"Kamu mau mematahkan tanganku, ya?!"
Zoya meringis mendengar itu. Karena kurang meyakinkan, ia jadi melakukan sedikit pemeriksaan pada pria itu. Sepertinya memukul itu agak keterlaluan, tapi ia tak memukul terlalu kencang. Paling tidak Zoya yakin pria itu tak berbohong karena Gallen benar-benar kesakitan saat ia memukul pelan tangannya.
"Habisnya bos suka mengerjai orang. Siapa tahu bos hanya cari kesempatan." Ujarnya.
Jujur saja, sebenarnya itu benar. Namun Gallen tetap akan merasa kesakitan jika wanita itu memukul lengannya karena lengannya itu terkilir.
"Aku tidak pura-pura sakit." Gallen kembali menegaskan kondisinya. Zoya mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar itu.
"Iya-iya, percaya."
Gallen tersenyum kecil, sedikit senang mendengar itu.
Zoya yang melihat keranjang buah yang diletakkannya tadi kemudian mengambil sebuah jeruk, mengupas dan membersihkan buah berwarna orange itu sampai bersih, "Tadi aku mampir ke toko buah dan beli beberapa. Jeruknya manis banget. Cobalah." Zoya menyuapkan satu bagian jeruk itu pada Gallen.
Gallen memakan jeruk itu. Manis. Apalagi dia disuapi langsung oleh Zoya. Ah, sepertinya Gallen akan diabetes.
"Manis, kan?" Zoya tersenyum kepadanya.
__ADS_1
Gallen mengangguk dan membuka mulutnya lagi, "Aaa."
Dia meminta Zoya menyuapinya lagi.
Zoya menurut dan menyuapkan satu bagian jeruk lagi kepadanya, "Sebenarnya kan tangan Bos yang patah sebelah kiri, Bos bisa makan sendiri tanpa harus disuapi."
Gallen hanya terus mengunyah jeruk itu, tidak merasa bersalah sama sekali. Zoya yang melihat itu hanya tersenyum dan menggeleng, ia akan mengalah saat ini karena kondisi pria itu yang mengenaskan.
"Oh, ya," Zoya menyuapkan satu bagian jeruk lagi pada Gallen, "Ternyata teman yang kuhubungi itu enggak bisa menerima teleponku karena ponselnya sedang diperbaiki setelah terjatuh ke air. Saat mengantar Noah, aku sempat berbicara padanya."
Gallen masih sibuk mengunyah jeruk di mulutnya.
"Terus?"
Zoya mengambil satu bagian jeruk lagi untuk diberikan pada Gallen, namun pria itu tampaknya masih sibuk dengan jeruk di mulutnya.
"Aku menceritakan kondisi kami padanya. Dan Winona bilang kami bisa tinggal di rumahnya jika mau."
"Uhuk!"
Zoya langsung meletakkan jeruk ditangannya keatas meja. Dengan cekatan, tangan wanita itu meraih sebuah teko air dan gelas di meja dan menuangkannya untuk Gallen.
"Minum dulu."
Gallen meminum air dari gelas yang Zoya berikan, menghabiskannya sampai tandas. Pria itu tampak terdiam setelahnya, sebelum akhirnya kembali meledak.
"Kamu akan pergi?!"
Zoya sempat terkejut, namun akhirnya mengangguk.
Gallen melihat tangannya, lalu menatap Zoya dengan kesal, "Kamu akan meninggalkanku saat sedang seperti ini?"
Zoya menggaruk pelipisnya, "Aku kan tidak tahu kalau bos akan pulang dalam kondisi seperti ini." Katanya.
"Sekarang kamu sudah tahu, tapi kamu akan tetap pergi?"
Zoya menelan air liurnya. Loh, kok, Gallen malah seperti ini lagi, sih? Dia bahkan menggunakan kondisinya untuk menahan Zoya pergi.
"Bos, kok bos begini lagi sih?"
Gallen menatap Zoya dengan wajah kesal. Mendengar wanita itu berbicara demikian, Gallen lalu menyandarkan tubuhnya di kursi dalam kondisi miring.
"Pergilah, tidak apa-apa."
Zoya terkejut mendengar persetujuan Gallen.
"Beneran, Bos? Bos enggak apa-apa?" Zoya ingin memastikannya sekali lagi. Jangan sampai pria itu tiba-tiba menyuruhnya pulang saat ia baru saja sampai di rumah Winona.
"Ya, pergi saja." Katanya.
Zoya tersenyum cerah mendengar itu.
"Hah, akhirnya Bos mengerti juga. Aku --- "
"Lagipula tidak ada yang peduli padaku." Gallen memotong kata-kata Zoya, "Orang tuaku meninggal saat aku masih berusia lima tahun, kakek yang merawatku meninggal saat aku baru mulai berkerja di perusahaan." Gallen mulai berbicara panjang, menunjukkan penderitaannya.
"Anu, Bos --- "
__ADS_1
"Paman Basman juga selalu memarahiku bahkan saat aku tidak melakukan kesalahan. Tante Pamela yang selalu membelaku juga lebih sibuk mengurus keluarganya sekarang. Aku tidak punya teman, bahkan kucing pun akan menggigitku jika kudekati." Gallen menghela napas panjang, "Biarlah, mungkin memang takdirku untuk sendiri." Lanjutnya.
Dahi Zoya berkerut. Astaga, Gallen pasti sengaja melakukan ini, kan? Dia pasti sengaja memberitahukan seluruh penderitaannya pada Zoya untuk menahannya, kan?
"Oke-oke." Zoya akhirnya mengalah. Sudah diduga, ia memang akan selalu kalau dari pria itu, "Aku tidak akan pergi." Putusnya. Siapa orang yang akan tetap pergi setelah mendengar itu? Zoya yakin Gallen mengatakan itu untuk menyindirnya.
Gallen menoleh. Dengan wajah memelasnya, pria berkulit eksotis itu menatap Zoya yang juga menatapnya, "Serius?"
Zoya mengangguk.
Gallen tersenyum mengetahui pilihan yang dibuat wanita itu. Sudah dirinya duga, Zoya pasti tidak akan tega meninggalkannya yang sedang terluka, "Terimakasih, hanya kamu yang aku punya."
*Hanya kamu yang aku punya
Hanya kamu yang aku punya
Hanya kamu yang aku punya*
Zoya memelototkan matanya mendengar kata-kata itu. Hanya mendengarnya sekali dan kalimat itu langsung terngiang terus di kepalanya. Zoya menutup kedua telinganya. Ah, tidak bisa.
Kalimat itu terlalu berat untuk dirinya!
***
"Halo, Win."
Setelah memutuskan untuk tidak pergi, salah a
satu hal yang harus Zoya lakukan adalah memberitahukan hal itu pada temannya. Mungkin saja Winona sudah mempersiapkan untuk menunggu kedatangannya, namun Zoya terpaksa untuk menunda hal itu setidaknya sampai kondisi Gallen membaik.
"Aku mau bilang kalau aku belum bisa pindah ke rumahmu untuk beberapa waktu ini."
Winona terdengar terkejut. Wanita itu menanyakan alasannya, khawatir jika ada sesuatu yang menahan Zoya untuk datang.
"Ah, aku baik-baik aja. Tapi kebetulan pemilik rumah baik hati yang kuberitahukan padamu tadi pagi sakit, jadi aku harus merawatnya sampai dia sembuh."
Winona memahami kondisi Zoya. Wajar saja wanita itu akan bertindak seperti itu karena Zoya adalah orang yang sangat tahu cara membalas budi. Dia pun memberitahukan bahwa pintu rumahnya akan selalu terbuka untuk wanita itu.
"Terimakasih."
Sambungan telepon di putus setelah Winona menjawab. Zoya memasukkan ponselnya ke dalam saku, saat tiba-tiba suara Gallen terdengar memanggilnya.
"Zoya!"
Merasa dicari, Zoya kemudian keluar dari kamarnya. Mungkin saja Gallen membutuhkan bantuan. Zoya mencari Gallen dan akhirnya menemukannya. Di ruang tengah, Gallen telah membuka sebagian kancing kemejanya hingga dadanya yang menggoda itu kelihatan.
"Ih, Bos!" Zoya menutup matanya, terkejut.
Gallen menatap penampilannya sekali lagi, tahu apa yang diributkan wanita itu namun tetap tak ingin mundur.
"Aku ingin mandi. Tolong bantu aku melepaskan kemeja ini." Katanya.
Dengan kedua tangan yang masih menutup mata, Zoya kemudian merenggangkan jari-jarinya hingga ia bisa melihat Gallen.
"Membantu melepaskan kemeja Bos?"
***
__ADS_1