
..."Apakah baik-baik aja kalau kami menikah hanya karena kami punya anak? kami bahkan enggak saling cinta."...
...***...
"Bagaimana bisa?"
Zoya menatap gadis di sampingnya itu, lalu mulai menceritakan pertemuan pertamanya dengan Gallen.
"Bos menolongku." Katanya.
Ia menatap langit yang mulai senja sambil mengingat kembali cerita hidupnya.
Zoya menceritakan pengalamannya itu tanpa menambah-nambahkan. Dimulai dari Gallen yang memberinya minuman, memberikannya ongkos untuk pulang, memberinya tempat istirahat juga pekerjaan, hingga akhirnya cerita tentang malam dimana dirinya dijebak oleh seorang pria yang mengaku kenalan Gallen. Winona mendengarkan semua itu, merasa terkejut.
Dia memang tahu bahwa Zoya memiliki anak tanpa suami, namun tak pernah Winona sangka bahwa cerita dibaliknya ternyata seperti itu. Winona pikir, Zoya hanya terlena saat menjalin kasih. Lalu kemudian ia mengandung, namun pria yang merupakan ayah dari anak-anak itu tak mau bertanggung jawab.
"Apa dia marah saat mengetahui keberadaan Milo dan Noah?"
Zoya menggeleng. Faktanya, Gallen tak pernah marah akan hal itu. Dia justru merasa bersalah karena membiarkan Zoya melewati semua itu seorang diri.
"Bos enggak marah. Dia bahkan memintaku menikah dengannya setelah mengetahui itu." Ujar Zoya dengan diakhiri helaan napas.
Winona menatap temannya itu karena terkejut untuk yang kedua kalinya. Itu hal yang bagus, kan. Meski awalnya kurang baik, namun Zoya akhirnya menemukan pasangan hidupnya. Milo dan Noah juga akan kembali mendapatkan Ayah mereka.
Namun mendengar helaan napas di akhir penjelasannya tadi, jelas saja membuat Winona semakin penasaran, "Apa yang membuatmu terlihat bimbang seperti itu?" Tanyanya. Barangkali, Winona bisa membantu memberikan masukan untuk Zoya.
Kepala wanita yang telah memiliki dua orang anak itu hanya tertunduk, "Kamu tahu, Winona, awalnya aku merasa aneh saat mendengar tawaran pernikahan itu. Apakah baik-baik aja kalau kami menikah hanya karena kami punya anak? kami bahkan enggak saling cinta." Ujarnya. Zoya tampak menarik napas panjang dulu sebelum kembali berbicara.
"Namun saat melihat Noah yang begitu dekat dengan Bos, sedikit demi sedikit aku mulai bertanya-tanya. Apakah aku egois jika hanya memikirkan perasaanku sendiri sedangkan anakku membutuhkan ayahnya? Kemudian aku melihat Bos juga sepertinya sangat menyayangi Milo dan Noah, dia juga sangat baik padaku, bahkan ---" Zoya teringat kata-kata Gallen
__ADS_1
"Aku jatuh cinta padamu sejak lama, dasar bodoh! Bagaimana mungkin kamu masih belum menyadarinya juga setelah semua lamaranku ini?"
"Dia bilang dia jatuh cinta padaku, sejak lama." Zoya menutupi wajahnya yang memerah.
Winona menutup mulutnya dengan kedua tangan. Astaga, astaga. Apa Zoya tidak sadar? Cerita cintanya sungguh menarik, bahkan bisa membuat Winona yang hanya mendengarnya pun ikut tersipu malu.
"Itu bagus, Zoya. Dia bahkan enggak melarikan diri dari tanggung jawab. Kalau pun saat itu kamu mengatakan padanya kalau kamu hamil, aku yakin Bos mu itu akan langsung menikahimu, jadi ---" Winona berhenti berbicara saat melihat ekspresi wajah Zoya. Ia memerhatikan temannya itu, lalu tersenyum saat menyadarinya.
"Zoya, kamu sebenarnya juga menyukai Bos mu itu, kan?"
Zoya hanya diam. Sepertinya jika diingat-ingat, ia memang bukan orang yang jujur. Mengapa ia tetap bersabar disamping Gallen saat pria itu terus saja mengatakan kata-kata kasar padanya? Mengapa tindakan kecil pria itu bisa memengaruhi perasaannya? Dan mengapa, ia ikut merasa sakit saat melihat pria itu terluka?
"Mungkin karena dia tampan, makanya aku ..." Zoya teringat wajah Gallen saat kesal akan kebodohannya, "Selama ini aku hanya berpikir bahwa menikah dengannya bukan hal yang buruk, karena dengan begitu Milo dan Noah pun akan mendapatkan orang tua yang utuh lagi, tapi sepertinya ... yang kamu katakan itu benar."
Winona tersenyum mendengar itu. Zoya bukan tipe orang yang melihat seseorang dari apa yang dimilikinya. Ia hanya mengikuti kaya hatinya saja. Sejak adanya permasalahan ini, Zoya hanya kebingungan dengan perasaannya sendiri. Apakah ia bisa menikah dengan seseorang jika hatinya tak tertuju pada pria itu? Apakah ia bisa bahagia bila melakukan itu?
Terkadang seseorang memang baru bisa menyadari perasaannya saat orang lain yang mengingatkan. Dan tampaknya, Winona berhasil melakukan itu untuk Zoya.
"Apa sekarang kamu akan jujur padanya?"
Zoya menggeleng, membuat Winona bertanya-tanya.
"Sekarang apa lagi masalahnya?"
"Hah," Zoya menghela napas, "Sekarang aku memikirkan perbedaan status kami. Apakah keluarganya akan menerimaku meski tahu bahwa aku hanya wanita biasa dari keluarga yang biasa juga? Bagaimana bila ternyata mereka sudah memilihkan wanita lain yang lebih cocok untuk menjadi pasangan Bos?"
Winona awalnya terdiam, namun akhirnya dia terkekeh. Sembari menepuk bahu wanita itu, ia memberikannya nasihat.
"Sekarang ini adalah masalahmu dengan dia. Bicarakanlah, mungkin saja itu tak seburuk yang kamu pikirkan." Katanya.
__ADS_1
Zoya menatap Winona. Tak seburuk pikirannya? Apa hal itu mungkin terjadi?
"Sudah, ah." Winona kembali bangkit dari duduknya, "Gorenganku bisa dingin kalau kita kelamaan disini. Sekarang masuk, yuk." Ajak Winona.
Zoya tersenyum. Ia kemudian ikut bangkit, mengikuti Winona yang telah masuk lebih dulu.
"Makasih, Win. Untuk sarannya tadi."
Winona hanya tersenyum saja.
"Siapa tahu ada kenalanmu atau Bosmu yang jomblo, jangan lupa kenalkan padaku." Candanya. Zoya tertawa mendengar itu.
***
Beberapa hari telah berlalu sejak itu. Zoya bahkan tak pernah bertemu lagi dengan Gallen. Terakhir kali saat mereka berbicara lewat telepon, mereka hanya membahas mengenai Milo. Zoya meminta Gallen untuk memberikannya waktu. Sebab Bapaknya masih saja keras kepala, jadi Zoya agak kesulitan untuk memenuhi permintaan Gallen.
Dan sekarang, Zoya hanya terdiam menatap sebuah buku dengan kertas yang berisi penuh oleh tulisan. Buku itu diletakkan di tengah-tengah meja. Saat ini mereka semua, para karyawan restoran dikumpulkan oleh Dafa untuk berdiskusi bersama. Mengingat akhir tahun telah dekat, acara besar yang merekrut mereka untuk bekerja sama juga akan segera dilaksanakan. Untuk itu, Dafa yang pagi ini baru kembali setelah berbincang dengan orang tuanya terkait permintaan tenaga tambahan untuk acara itu langsung menjelaskan apa-apa saja hal penting yang harus mereka ketahui.
"Karena pestanya cukup besar, aku sudah berkonsultasi dengan cabang lain untuk meminta bantuan tambahan dan mereka setuju. Jadi, kita tidak akan kekurangan pekerja untuk hari itu." Ujar Dafa.
Para karyawan agak lega mendengar itu. Jujur saja, mereka juga khawatir saat mengingat banyaknya tamu yang akan datang. Bagaimana jika mereka tak bisa menjamu para tamu karena kurangnya karyawan? Namun syukurlah, sekarang hal itu terselesaikan.
"Ini adalah daftar menu yang diminta pada saat pesta nanti. Sebagian besarnya adalah menu kita sendiri, namun ada beberapa menu tambahan yang mereka inginkan. Tapi enggak masalah, aku rasa menu-menu ini masih bisa dibuat oleh chef kita yang andal." Dafa membuat chef itu tertawa.
"Oke, itu aja. Semoga kita semua bisa bekerja sama untuk acara itu. Semangat!"
Semua orang menyambut acara itu dengan meriah. Mungkin, harusnya Zoya juga. Namun karena ia sadar siapa yang akan ditemuinya nanti, sedikit banyak membuat Zoya kepikiran.
***
__ADS_1