
..."Kalau tidak begini, Zoya pasti akan langsung pergi."...
...***...
Zoya mengedikkan bahu saat Gallen mendekatinya, "Entah. Dia yang menelepon tapi enggak ada suaranya." Jawabnya dengan jujur.
Padahal Zoya sudah menyapa lebih dulu, namun orang yang menjadi lawan bicaranya tak menjawab sepatah katapun. Gallen mengambil gagang telepon yang masih dipegang wanita itu, meletakkannya kembali ke tempat semula.
"Kalau begitu biarkan saja." Dia menatap Zoya sebentar, kemudian segera berbalik dan meninggalkannya.
Zoya menatap punggung Gallen dengan bingung. Hei, apa pria itu masih kesal karena masalah pagi tadi?
"Bos merajuk karena tadi pagi?" Tanya Zoya tanpa basa-basi, membuat Gallen langsung berbalik badan dan menatapnya sengit.
"Bodoh, pikirkan saja sendiri." Gallen menjawab dengan acuh tak acuh.
Zoya ber-oh ria mendengar itu. Sepertinya, ia sudah bisa menebak apa yang dipikirkan pria itu dari caranya menjawab. Gallen selalu berbicara kasar saat dirinya kesal dengan ketidakpekaan Zoya. Dan mendengar Gallen menyebutnya bodoh tadi, artinya benar bahwa pria itu kesal karena melihat Zoya berbicara berduaan dengan Alby.
"Dasar, padahal yang kami bahas dia juga." Bisik Zoya pelan.
Ia terlalu malas untuk menjelaskan, jadi biarkan saja Gallen berpikir semaunya. Lagipula dia memang mudah berganti-ganti suasana hati, jadi dibiarkan saja pun lama-lama dia sendiri yang akan mendekati Zoya lagi.
***
Satu Bulan Kemudian
"Ini laporan keuangan perusahaan kita bulan ini." Alby memberikan laporan itu pada bosnya.
Gallen mengambilnya, membaca laporan itu dengan seksama. Dia selalu sangat teliti untuk urusan kantor semacam ini, "Lumayan, tapi aku harap kenaikannya akan semakin bagus untuk bulan-bulan selanjutnya." Gallen kemudian meletakkan laporan itu di atas mejanya.
Sekarang sudah saatnya pulang. Gallen mengambil arm sling nya yang semula dia letakkan di dalam laci, mengenakannya kembali.
"Bos, Anda masih tetap memakai benda itu meskipun lengan Anda sudah baik-baik saja?" Alby bertanya.
Sebab sejak awal sebenarnya Gallen hanya terkilir saja, jadi lengannya sudah membaik sejak seminggu setelah kecelakaan. Namun, untuk membohongi Zoya, pria itu masih tetap memakai arm sling nya selama sebulan ini.
Gallen menatap lengannya yang telah dipasangi arm sling, "Kalau tidak begini, Zoya pasti akan langsung pergi." ujarnya. Tentu saja. Zoya kan bilang bahwa ia akan mengurusi Gallen selama pria itu sakit. Jadi jika tangannya telah sembuh, ia pasti akan langsung pergi dari rumah Gallen.
Alby pun mengangguk mengerti, "Kalau begitu, rencananya Bos ingin berbohong sampai berapa lama?"
"Tiga bulan, mungkin?" Gallen menghela napas panjang, "Kami sudah tinggal bersama selama sebulan, tapi sepertinya tidak ada kemajuan juga." Ujarnya.
__ADS_1
Padahal Gallen pikir dengan tinggal bersama mereka bisa lebih dekat, namun nyatanya malah terjebak housemate zone. Sialan.
"Semoga berhasil, Bos."
Gallen mengaamiini hal itu dalam hati. Sebenarnya dia sudah melakukan banyak hal. Dari mode manja sampai pura-pura kesal, bahkan memberitahukan kelemahannya pada wanita itu, namun sayangnya hubungan mereka masih begini-begini saja. Gallen ingin menegaskan status mereka dengan bertanya, namun dia takut hal itu akan semakin memperburuk keadaan. Jadi, untuk saat ini, yang Gallen lakukan hanyalah membiarkannya mengalir dengan apa adanya.
"Kalau begitu, ayo kita pulang."
***
Gallen mendudukkan tubuhnya di atas sofa. Setelah pulang dan membersihkan diri, dia memilih untuk ikut bergabung dengan Zoya dan juga Noah yang ingin menonton TV. Katanya, ada film yang cukup bagus akan tayang hari ini. Cukup bagus juga untuk ditonton bersama-sama.
Mereka bertiga duduk di atas sofa, menunggu film yang akan ditayangkan itu sambil menonton film yang saat ini sedang ditayangkan. Karena akan memakan waktu yang cukup lama, tiba-tiba Zoya terpikirkan sesuatu.
"Karena masih agak lama, gimana kalau Mama buatkan makanan dan juga minuman sebagai teman nonton?" Tawar Zoya.
Noah mengangguk dengan cepat.
"Aku mau es susu coklat." Pintanya.
Zoya menerima itu dengan senang hati.
"Bos minum kopi, kan?"
Seperti yang sudah pernah dirinya katakan, Gallen cukup pandai memasak sejak ditinggal oleh Zoya. Hanya saja sejak tinggal bersama, dia belum pernah memiliki kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya itu karena Zoya selalu melarangnya pergi ke dapur. Alasannya, karena Zoya lebih mementingkan kondisi Gallen. Jadi ia ingin Gallen diam dan memulihkan tangannya saja, tidak perlu ikut membantunya di dapur.
Dan seperti yang sudah diduga, Zoya lagi-lagi menggeleng setelah mendengar tawaran pria itu.
"Enggak usah, lebih baik Bos banyak-banyak istirahat aja. Lagian enggak terlalu susah, kok." Katanya.
Gallen agak kecewa sebenarnya. Padahal, romantisme di dapur juga lumayan bagus. Tapi karena dia pura-pura patah tulang begini ...
Yah, sudahlah.
Setelah menanyai apa yang diinginkan masing-masing orang, Zoya langsung pergi menuju dapur. Ia menyiapkan bahan-bahan untuk membuat camilan lebih dahulu. Rencananya ia akan membuat beberapa jenis gorengan. Tentu saja, perhitungan waktu sangat dipikirkan olehnya karena sebisa mungkin Zoya ingin menyelesaikan pekerjaannya sebelum film yang akan mereka tonton dimulai
"Oke, sekarang aku akan mulai memasak."
Zoya membuat adonan untuk beberapa gorengannya. Mungkin karena sudah terbiasa berada di dapur sejak kecil, ia tak begitu kesulitan membuat dan menyesuaikan rasa yang tepat untuk masakan yang dibuatnya. Itu sangat mudah untuk Zoya.
Namun sayangnya sepertinya ia kekurangan waktu. Zoya melihat jam di dinding dan sadar bahwa sebentar lagi filmnya akan dimulai. Sebenarnya Zoya tidak masalah jika ketinggalan bagian awal filmnya. Namun jika Noah merasa kesal karena itu,
__ADS_1
Hm, habislah ia.
Zoya lantas mengambil tiga gelas yang berbeda untuk membuat minuman sesuai dengan pesanan. Dua gelas besar adalah untuk minuman dingin, sedangkan cangkirnya adalah untuk minuman panas. Tepat setelah selesai membuat minuman, suara Noah terdengar nyaring memanggilnya.
"Mama, filmnya akan segera dimulai!"
Zoya meletakkan minuman-minuman itu di atas nampan, lalu segera membawanya menuju depan. Disana, Gallen dan Noah memandangnya seperti menunggu-nunggu. Zoya meletakkan gelas minuman mereka di atas meja. Tak langsung duduk, ia kembali mengangkat nampannya dan berdiri.
"Nanti Mama bawakan camilannya, ya. Masih belum selesai digoreng." Zoya menjelaskan.
Noah mengangguk mengiyakan itu. Sepertinya suasana hati Noah sedang bagus. Dia juga lebih bersemangat dari biasanya. Kira-kira kenapa, ya?
Tak ingin memperpanjang waktu, Zoya langsung beranjak menuju dapur. Ia kembali meletakkan bahan yang ingin digorengnya ke dalam penggorengan, kemudian menunggu sampai gorengannya berubah warna menjadi cokelat keemasan.
Sambil menunggu, Zoya menatap dapur secara keseluruhan.
Setelah tinggal selama satu bulan di rumah ini, mereka semakin merasa terbiasa. Tentu saja Zoya ingat bahwa dirinya hanya menumpang, jadi sebisa mungkin ia tak bertindak semena-mena seolah dirinya adalah nyonya rumah di rumah ini. Hanya saja, karena sudah terbiasa mengurusi semuanya, Zoya jadi tahu seluk beluk rumah ini dengan jelas.
Itulah sebabnya Zoya juga tahu bahwa Gallen tak lagi menyimpan botol minuman beralkohol di rumahnya. Entah karena sadar bahwa itu hanya akan merusak tubuhnya ataupun merasa kapok setelah adanya kejadian itu, namun sepertinya Gallen memang berhenti meminumnya lagi.
Zoya membalik gorengannya. Saat sedang serius seperti itu, tiba-tiba sebuah suara yang memanggilnya membuatnya terkejut.
"Akh!" Tangannya tak sengaja menyentuh penggorengan.
Gallen yang sadar akan hal itu langsung mengulurkan kedua tangannya. Dia menarik Zoya, membawa wanita itu menuju westafel cuci piring dan mengalirkan air ke tangannya yang memerah akibat terkena panas.
itu hanya luka bakar sederhana, sebenarnya. Namun karena Gallen bertindak secara otomatis saat mendengar Zoya berteriak kesakitan, dia jadi lupa dengan apa yang harusnya dirinya sembunyikan.
"Lho, Bos. Tangan Bos kok ... "
Zoya menatap pria itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
Gallen yang sadar telah melakukan kesalahan langsung melepas tangan Zoya. Sambil merintih, dia memegang tangan kanannya dan berpura-pura kesakitan lagi.
"Akh, aduh." Gallen mengintip Zoya yang melipat tangannya di dada. Dia menjadi gugup sendiri. Padahal Zoya selalu mudah untuk dibohongi. Namun mengapa kali ini ia tak menunjukkan rasa simpati sama sekali?
Zoya hanya menatapnya terus tanpa berekspresi.
"Salah tangan, Bos." Peringat Zoya.
Gallen menatap tangannya sendiri. Sialan. Pantas saja Zoya bersikap seperti itu. Karena dia terlalu terburu-buru, Gallen jadi lupa tangan sebelah mana yang sebenarnya patah.
__ADS_1
***