
..."Belum lama ini ada penggerebekan di kontrakan sebelah, karena yang bersangkutan bawa laki-laki padahal belum menikah. Jadi, sekarang orang-orang melarang ada yang membawa laki-laki ke kontrakan meskipun hanya di luar."...
...***...
Sebagai sikap profesional kerja yang telah dirinya latih, mendengar pertanyaan itu tak langsung membuat Zoya menjadi gugup. Dengan tersenyum, ia menjawab pertanyaan wanita itu tanpa ragu.
"Nama saya Zoya, Nyonya." ujarnya.
Wanita yang bertanya tadi, Pamela Prawijaya itu kemudian tersenyum, "Wajahmu terlihat sangat familier. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanyanya.
Zoya kembali menjawab, "Saya yang membawakan pesanan Anda kemarin, Nyonya. Mungkin karena itu Nyonya merasa familier dengan wajah saya."
Pamela tampak menganggukkan kepala. Sembari tersenyum ramah, dia mempersilakan Zoya untuk kembali.
"Maaf mengganggu waktu kerjamu. Kamu boleh kembali sekarang." Katanya.
Zoya kemudian pamit undur diri. Pamela Prawijaya nyatanya sangat baik. Dia bahkan mengucapkan kata-kata semangat saat Zoya akan beranjak.
"Zoya!" Beberapa rekan kerjanya memanggil.
Ia kemudian segera mendengat, memenuhi panggilan rekan kerjanya yang tampak penasaran.
"Apa yang kalian bicarakan tadi? Apa kamu membuat kesalahan?" Tanya salah seorang diantara mereka. Ada guratan kekhawatiran yang jelas di wajah mereka.
Zoya menggeleng menerima tuduhan itu.
"Enggak, Nyonya Pamela cuma merasa kalau wajahku familier, makanya dia bertanya." Jelas Zoya.
Semuanya menghela napas lega mendengar itu. Tentu saja karena para pelanggan kali ini adalah orang penting, makanya mereka tidak mau ada sedikitpun kesalahan yang akan membuat mereka mengurangi nilai restoran ini.
"Syukurlah kalau begitu. Kami bisa merasa sedikit lega."
Zoya terkekeh. Akhir-akhir ini restoran mereka tengah mendapat perhatian yang cukup besar, makanya semua orang jadi lebih khawatir akan banyak hal. Contohnya seperti sekarang. Karena mereka semua tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang telah datang dan membuat usaha mereka menjadi sia-sia.
"Yaudah, kalau gitu aku balik ke dapur dulu."
Mereka mengizinkan Zoya untuk pergi. Lagipula sebenarnya tidak ada banyak pekerjaan, jadi mungkin saja Zoya hanya ingin menjadikan itu sebagai alasan dan pergi ke tempat lain.
"Pergilah, nanti akan kami panggil kalau kami membutuhkan bantuan tambahan."
***
"Belum pulang?"
Zoya menoleh saat sapaan itu jelas terarah padanya. Dafa dengan mobil berwarna hitamnya berhenti tepat di depan Zoya. Zoya sedikit panik. Ia bisa memprediksi dengan jelas apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Aku bisa pulang sendiri, kok." Tolak Zoya langsung. Membuat Dafa terkekeh sendiri.
__ADS_1
"Lama. Mending aku antar aja, lebih cepet. Lagipula aku memang ada urusan yang searah sama kontrakanmu." Tawar Dafa.
Zoya tersenyum canggung, bingung. Bagaimana ini? Ia bahkan tak memberitahu Dafa bahwa sekarang mereka tak lagi tinggal di kontrakan lama. Kalau sampai Dafa tahu mereka pindah tanpa memberitahunya, bahkan sekarang tinggal dengan pria yang tidak dirinya kenal, maka habislah ia.
"Aku ada urusan, jadi --- ah!"
Dafa yang tak sabar melihat semua penolakan Zoya langsung turun dari mobilnya, membukakan pintu, dan mendorong Zoya untuk masuk.
BRAK
Pintu mobil pun langsung ditutup.
"Tenang aja, pasti diantar ke kontrakan dengan selamat, kok." Ujarnya di jendela. Zoya hanya terdiam, masih terkejut dengan tindakan Dafa.
Tanpa menunggu jawaban dari Zoya, Dafa kemudian memutar dan membuka pintu di samping kemudi. Dia langsung masuk, menyalakan mobil dan bersiap untuk pergi.
"Mati aku." Gumam Zoya sambil membuang wajah.
Karena sekarang ia sudah terlanjur masuk ke dalam mobil ini, untuk menutupi kebohongannya maka mau tak mau ia harus menuntun Dafa untuk mengantarkannya ke kontrakan. Namun karena spanduk yang bertuliskan kontrakan itu sudah dijual sangatlah besar, maka Zoya harus bisa menghentikan pria itu sebelum tiba tepat di depan kontrakannya. Mungkin sekitar beberapa meter sebelum sampai. Namun, bagaimana caranya?
Dafa yang melihat wanita itu hanya diam kemudian bertanya padanya.
"Sejak kalian kembali dari desa, aku belum pernah ketemu sama Noah lagi. Dia baik-baik aja?"
Zoya mengangguk. Beruntung sekali Dafa mengajaknya bicara jadi Zoya tak merasa terlalu canggung karena terus terdiam sedari tadi.
Dan Gallen juga, sebenarnya. Namun Zoya tak bisa membicarakan itu dengan Dafa.
Sebenarnya sejak bertemu dengan Gallen, Noah jadi lebih banyak bicara. Dia juga tak sering kesal tiba-tiba seperti dulu. Apa karena selama ini dia merasa kurang perhatian? Atau karena kehadiran Gallen membuat hidupnya lebih berwarna?
Ntahlah, yang jelas perubahannya ini mengarah ke hal yang baik. Jadi, Zoya tak akan mempermasalahkannya.
"Itu hal yang baik, kan?"
Zoya mengangguk. Hal yang baik, memang. Makanya Zoya semakin berpikir bahwa sepertinya menikah dengan Gallen adalah pilihan yang tepat. Mungkin saja anaknya akan lebih bahagia jika kedua orang tuanya bersatu, kan?
Duh, apa sih yang Zoya pikirkan ini? Membuatnya malu saja.
Mobil berputar ke kanan. Zoya tiba-tiba sadar, bahwa sebentar lagi mereka akan tiba di kontrakannya.
Tunggu. Sampai di kontrakannya?
"Ah, Dafa!" Zoya membuat Dafa sedikit terkejut. Masih sambil menjalankan mobil dengan pelan, Dafa menoleh pada wanita di sampingnya.
"Kenapa?"
Zoya sedikit ragu. Semoga saja teman masa kecilnya ini tak menangkap kebohongan yang dirinya buat.
__ADS_1
"Belum lama ini ada penggerebekan di kontrakan sebelah, karena yang bersangkutan bawa laki-laki padahal belum menikah. Jadi, sekarang orang-orang melarang ada yang membawa laki-laki ke kontrakan meskipun hanya di luar." Bohong Zoya.
Maaf, maaf, maaf!
Zoya meminta maaf sedalam-dalamnya pada pemilik kontrakan sebelah karena membuat cerita yang tidak-tidak.
Dafa berhenti di depan gang. Sebenarnya sekitar beberapa ratus meter lagi, barulah mereka akan sampai di kontrakan Zoya.
"Jadi disini aja?"
Zoya mengangguk dengan cepat. Untung saja Dafa percaya padanya. Dengan demikian, dia tak akan melihat spanduk besar yang terpasang di kontrakan itu.
"Baiklah." Dafa kemudian membiarkan Zoya turun.
Zoya melihat Dafa dari jendela, "Makasih, ya."
Senyum tipis terbit di wajah tampan pria itu, "Kalau butuh apa-apa, kabarin aja."
Zoya mengangguk. Setelah berbasa-basi sebentar, akhirnya Dafa pulang. Zoya menghela napas panjang. Meskipun ada kebohongan yang harus diingat buat, tapi syukurlah untuk saat ini dirinya selamat.
"Sekarang harus cari angkutan umum lagi, deh. Aduh."
***
Saat Zoya pulang bersama Noah, rumah masih terlihat kosong. Wajar saja, Gallen memang pulang sedikit lebih lama ketimbang dirinya. Ia kemudian pergi membersihkan diri, lalu buru-buru pergi ke dapur untuk memasak seperti biasa. Lama kelamaan, Zoya mulai terbiasa dengan urutan pekerjaannya ini. Bukankah dia sudah cocok untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik?
"Aduh, kepikiran lagi."
Ia langsung menggelengkan kepalanya. Awalnya kan Zoya yang menolak Gallen. Namun sekarang, malah ia yang terus-terusan kepikiran tentang status itu. Bukankah terlalu tidak tahu diri baginya melakukan itu padahal di menolak Gallen dengan tegas saat Gallen menyatakan perasaannya?
TRING
Zoya melirik ke arah sumber suara. Ada panggilan masuk ke telepon rumah. Wanita itu langsung beranjak kesana, mengangkat telepon tersebut sebelum telepon itu kembali mati.
"Halo?"
Zoya menunggu lawan diseberang bersuara. Namun berkali-kali pun ia mencoba nyatanya tetap tidak ada jawaban apapun juga.
"Salah sambung?"
Zoya kembali menyapa lawan bicaranya. Namun bukannya menjawab, orang itu justru mematikan sambungan telepon. Aneh, apa itu hanya orang iseng saja?
"Telepon dari siapa?"
Zoya berbalik, menemukan Gallen berdiri di depan pintu.
"Oh, Bos."
__ADS_1
***