
..."Lihatlah, Milo. Aku pasti akan menemukan ayah kita!"...
...***...
Pukul sepuluh malam, saat malam begitu sunyi hingga detik jam terdengar dengan jelas. Noah masih membuka kedua matanya. Anak itu menatap ke langit-langit kamar. Setelah lama terdiam, tiba-tiba dia bangun dari tidurnya dan berjalan ke sebuah lemari kecil dimana fotonya dan sang kembaran terpampang dengan jelas.
"Hm, benar." Dia kembali memerhatikan setiap bagian wajah kembarannya, "Mereka sangat mirip."
Noah kembali meletakkan foto tadi di atas lemari kecil. Setelah memposisikan dirinya untuk kembali terbaring di atas kasur, anak laki-laki itu kembali memikirkan beberapa hal.
Contohnya, tentang kemiripan Milo yang begitu kuat pada paman tadi.
Milo dan Noah memang bukan kembar identik. Mereka terlihat sangat berbeda meskipun memiliki Ibu yang sama dan terlahir hanya berjarak lima menit. Orang-orang bilang, visual dan sifat mereka sangat berkebalikan. Contohnya saat Milo sangat ramah dan menyenangkan hingga membuat orang-orang ingin mencubit pipinya, Noah justru akan memberikan tatapan tajam pada mereka yang berusaha mendekat. Warna kulit mereka juga sangat berbeda, dimana Noah memiliki kulit yang putih seperti sang ibu, sementara Milo berkulit kecoklatan. Beberapa orang bilang kalau Noah itu tampan, tapi Milo terlihat sangat keren.
Lalu untuk hobi, mereka juga sangat berbeda. Noah sangat suka dengan kegiatan yang membuatnya menggerakkan tubuh, sementara Noah justru membenci hal itu. Yah, mungkin karena itu pula kembarannya lebih suka si desa. Karena disana, kakeknya akan mengajak Milo untuk berkeliling desa ataupun memancing, bahkan terkadang juga berkerja di ladang. Dan Milo sangat suka dengan semua itu.
Meski secara sifat tampaknya berbeda, namun Noah sadar dengan benar bahwa paman tadi sangat mirip dengan Milo. Warna kulit mereka, warna mata, bahkan wajah mereka, semuanya mirip! Karena itu lah saat pertama kali melihatnya, Noah sempat tertegun selama beberapa saat. Aneh jika mengatakan mereka tidak memiliki hubungan dengan kemiripan yang sejelas itu. Tak ingin kehilangan kesempatan, maka tanpa pikir panjang anak itu meminta kontak paman tampan tersebut.
"Lihatlah, Milo." Ujarnya pada langit-langit. Karena kamar Zoya dan Noah berbeda, Zoya tak akan mendengar apa yang dikatakan oleh anaknya itu, "Aku pasti akan menemukan ayah kita!"
***
"Selamat pagi, sayang!" Zoya mencium pipi anaknya. Meski Noah memang sudah selesai menggunakan seragam, anak laki-laki itu tidak marah pada Mamanya. Tentu saja, karena Zoya tak sedang kesiangan. Namun jika dibandingkan dengan Noah, anaknya itu memang bangun lebih dulu darinya.
"Hari ini Mama masak nasi goreng untuk bekal Noah, ya."
Noah mengangguk. Saat melihat mamanya yang sedang sibuk berkutat pada alat-alat dapur dan bahan masakan, tiba-tiba saja Noah teringat dengan sesuatu yang dibelinya kemaren, "Kemarin Ibu guru membelikan santan untuk mama." Tunjuknya pada tempat dimana dirinya menyimpan barang belanjaan kemarin.
__ADS_1
Zoya yang mendengar itu segera memeriksa, "Santan? Untuk apa?"
Noah hanya membuang wajah. Melihat itu, jelas saja Zoya langsung tersenyum-senyum sendiri dengan tingkah menggemaskan anaknya, "Noah pingin makan opor ayam, ya?"
Anaknya itu masih tetap diam.
"Baiklah-baiklah. Tapi karena Mama belum beli ayamnya, pulang kerja nanti Mama masakkan, ya." Janji Zoya. Noah mengangguk dengan setuju.
"Dengan sambal kentang juga." pintanya lagi.
Zoya hanya terkekeh mendengar permintaan itu. Meski anak-anaknya memang lumayan tahan pedas, tapi sebenarnya Zoya mengurangi tingkat kepedasan pada sambal kentang yang dibuatnya agar anak-anaknya bisa memakan makanan yang dirinya buat.
"Oke, Bos!" Zoya memberikan sikap hormat pada anaknya. Noah yang melihat itu merasa keheranan, tapi Zoya justru tertawa melihatnya.
***
"Kalau Noah mau pulang langsung ke rumah, jangan lupa kunci pintunya dari dalam. Mama udah bawa kunci sendiri, jadi nanti Mama bisa buka pintu sendiri kalau pulang." Pesannya.
"Iya." Jawab anak itu.
Zoya mencium anaknya lagi sebelum pergi. Setelah memastikan bahwa Noah telah masuk ke kelasnya, barulah Zoya pergi menuju tempat kerjanya yang searah dengan sekolah tersebut.
Drrrtt
Getar dari dalam tasnya membuat ia sedikit terkejut. Zoya segera merogoh isi tasnya, kemudian menerima panggilan tersebut setelah mengetahui bahwa Dafa lah yang menelepon, "Halo?"
Dafa menjawab panggilan Zoya dan menanyakan posisinya saat ini.
__ADS_1
"Aku baru mengantar Noah ke sekolah. Ini mau jalan ke resto. Kenapa memangnya?"
Zoya masih mendengarkan kata-kata lawan bicaranya. Saat Dafa menawarkan diri untuk menjemputnya, Zoya langsung terkekeh, "Enggaklah, enggak usah. Sebentar lagi sampai, kok."
Terdengar sedikit elakan dari Dafa. Namun setelah perdebatan kecil itu, keduanya akhirnya sepakat untuk bertemu di restoran saja.
***
"Hari ini kita dapat tamu yang super spesial. Meski lumayan dadakan, tapi kedatangan mereka bisa menjadi batu loncatan untuk restoran kita agar bisa menjadi lebih terkenal." Dafa selaku manajer restoran memberikan pengumuman mendadak. Para pegawai merasa senang, namun juga khawatir. Bagaimana jika mereka tidak bisa memuaskan pelanggan penting tersebut?
"Oke, semuanya." Pria itu kembali mencoba menenangkan suasana, "Kalian tidak perlu terlalu khawatir. Sebagai restoran yang memang bukan kelas mereka, mungkin restoran ini tidak dapat memenuhi standar mereka. Tapi ... " Dia sengaja memotong kalimatnya. Tatapannya kemudian jatuh pada Zoya yang serius mendengarkan, "Yang penting kita sudah berusaha. Bagaimanapun hasilnya, tidak masalah." Lanjutnya kemudian.
Para pegawai restoran yang semula panik mulai terlihat tenang. Setelah memberikan pengumuman, Dafa segera mempersilakan semua pekerja untuk menyiapkan makanan karena tamu spesial tersebut telah memberikan catatan pesanan mereka.
"Mereka akan datang saat waktu makan siang nanti, jadi pastikan makanannya tetap fresh sampai saat itu." peringat Dafa lagi.
Zoya mungkin pelayan yang mengantarkan pesanan mereka, namun disaat-saat seperti ini ia juga tidak akan segan untuk menawarkan bantuan. Apalagi waktu mereka mepet seperti ini. Wanita itu pun segera mengambil alih beberapa peralatan dapur dan bekerja dengan cepat.
Setelah semua keributan yang dibuat di dapur, akhirnya waktu kedatangan tamu spesial itu pun tiba. Zoya segera merapikan penampilannya, memoles kembali bibirnya dengan lipstik agar wajahnya tidak terlihat pucat.
"Mereka datang!"
Zoya mengintip sedikit. Setelah beberapa sambutan dari Dafa, beberapa pelayan kemudian keluar dengan membawa makanan serta minuman. Zoya dan teman-temannya mengantarkan pesanan pelanggan tersebut dengan sangat rapi, membuat para pelanggan tersebut merasa senang.
"Kerja bagus." Ujar seseorang.
Zoya mengangkat kepalanya saat mendengar itu. Seorang wanita yang tampak berumur namun masih cantik itu tampak tersenyum padanya. Zoya membalas senyuman tersebut, lalu segera kembali ke bagian dapur.
__ADS_1
"Kenapa rasanya familier, ya?"
***