Anak Kembar CEO Kaya

Anak Kembar CEO Kaya
57. Pertolongan


__ADS_3

..."Maafkan aku karena terlambat menemuimu."...


...***...


"Selamat menikmati."


Zoya pamit undur diri, lalu segera mundur dari para tamu yang baru saja dilayaninya. Wanita itu berencana untuk segera kembali ke tempatnya. Namun sebelum ia benar-benar pergi, seorang pria dengan setelan formal yang terlihat mahal justru mendekatinya.


"Siapa namamu?"


Zoya mengangkat wajahnya sesaat, melihat siapa yang mengajaknya bicara. Setelah sadar bahwa ia tak mengenali orang itu, Zoya kemudian segera menunduk kembali sebagai bentuk kesopanan.


"Zoya, Tuan. Apa ada sesuatu yang Tuan butuhkan?" Tanyanya dengan sopan.


David tersenyum miring mendengarnya, "Zoya, ya." Dia menggoyangkan gelas berisi air yang dipegangnya, "Nama yang bagus."


Zoya benar-benar tidak paham apa alasan pria itu memanggilnya, namun apakah ia harus tetap disini? Rekannya sedang sibuk mondar-mandir membawakan pesanan para tamu, namun Zoya justru tertahan dengan seorang pria yang tak dikenalnya. Sepertinya ia tak bisa diam saja.


"Maaf, Tuan. Jika tidak ada yang Tuan butuhkan, saya pamit permisi." Ujarnya.


Zoya hendak pamit dan undur diri. Namun sesaat sebelum dirinya benar-benar pergi, seseorang tanpa sengaja mendorong pria itu, membuat gelas yang dipegangnya terdorong. Zoya terkejut, dinginnya air terasa membasahi pakaiannya.


David berbalik badan, menatap kesal seseorang yang baru saja menabraknya.


"Kau ingin cari mati?!"


Itu bukan candaan, David sungguh-sungguh mengatakannya.


Semua orang menatap ke arah mereka. Pria dengan nama belakang Prawijaya itu mengancam rekan bisnisnya demi seorang pelayan, tentu saja hal itu membuat orang-orang merasa tertarik. Bukankah orang-orang merasa lebih tertarik dengan bahan gosip ketimbang makanan dan minuman enak yang telah tersedia di meja mereka masing-masing?


Dafa yang berdiri cukup jauh mendengar keributan itu. Dia berusaha untuk mendekat, tak akan bisa dirinya melihat apa yang terjadi dengan jelas dari jaraknya saat ini. Karena itu, dia harus maju untuk dapat melihatnya.


Pria itu pastinya mengenali siapa orang yang baru saja dirinya tabrak. Wajahnya terlihat pucat. Pria itu menunduk, berusaha berdiri dengan kondisi tubuhnya yang bergetar.

__ADS_1


"Ma-Maafkan saya. Saya tidak sengaja." Katanya.


David sungguh tidak ingin melepaskan pria itu. Ketakutan yang ditunjukkan pria itu justru membuat emosi tersembunyi di dalam dirinya semakin membesar. Dia ingin menghancurkan pria itu. Namun, mengingat apa yang terjadi barusan, dia akhirnya milih untuk berbalik badan dan menatap Zoya yang menyilangkan tangannya di depan dada. Karena kemejanya berwarna putih, air yang tertumpah di kemejanya membuat pakaian yang dikenakan wanita itu menjadi transparan.


David berjalan maju ke arah wanita itu yang masih berusaha menutupi tubuhnya.


"Kau---"


SRET


Zoya menoleh saat merasakan kehadiran seseorang didekatnya. Aroma parfum yang tercium dari tubuh itu begitu familier. Ia kemudian mengangkat wajahnya, menatap seseorang yang sudah lama tak ditemuinya itu kini tengah memasangkan jas ke tubuhnya untuk menghalangi mata orang-orang agar tak melihat tubuh wanita miliknya yang berharga.


"Bos ... " Lirihnya pelan.


Gallen menoleh saat mendengar namanya dipanggil. Tanpa menjawab, dia kemudian merangkul Zoya dan membawa wanita itu pergi bersamanya.


"Ayo."


DRAP DRAP DRAP


Gallen masih terus membawa Zoya pergi bersamanya. Mereka semakin menjauh, tak lagi berbalik meski hanya untuk melihat ke belakang. Awalnya Zoya pun mengikuti pria itu. Namun lama kelamaan, ia sadar bahwa tindakan mereka pastinya telah menyebabkan kekacauan besar. Wanita itu kemudian menghentikan langkahnya.


"Bos, stop!" Ucap Zoya.


Gallen yang mendengar itu ikut menghentikan jalannya. Ia melepaskan rangkulannya dari wanita itu membuatkan Zoya memegangi jasnya sendiri untuk menutupi tubuhnya.


"Apa restoran yang bekerja sama dengan kami adalah restoran yang sama dengan tempatmu bekerja?"


Zoya awalnya membuang wajah ke arah lain, namun kemudian ia mengangguk sebagai bentuk jawaban atas pertanyaan pria itu.


Gallen menghela napas. Seperti biasa, dia tak pernah memeriksa apapun yang berkaitan dengan persiapan pesta. Gallen hanya menyerahkan semua itu pada Tante Pamela, percaya bahwa selera wanita itu tentulah yang terbaik untuk pesta mereka. Dia pun tak begitu tahu dimana tempat Zoya bekerja, karena Gallen hanya mendengarkannya secara sekilas tentang hal-hal yang berkaitan dengan wanita itu.


Karena Gallen tak peduli tentang latar belakang wanita itu. Baginya Zoya hanyalah Zoya. Itu saja.

__ADS_1


Gallen kembali menatap wanita itu. Tatapannya berubah setelah melihat Zoya yang tampak memegang erat jas miliknya. Sepertinya, ia khawatir jika kemejanya yang transparan akan membuat bagian tubuhnya terlihat. Gallen Kemudian mendekatkan dirinya pada wanita itu, memeluknya.


"Maafkan aku karena terlambat menemuimu."


Zoya mendongak. Gallen tak salah apapun padanya. Ia hanya menjalankan tugasnya untuk bekerja seperti biasa. Tidak ada alasan bagi pria itu untuk memohon pengampunan darinya.


"Bos enggak melakukan kesalahan apapun padaku." Katanya.


Suara wanita itu terdengar lirih. Gallen melepaskan pelukannya, menatap wanita itu yang masih memegang erat jasnya.


"Ikut denganku."


Tanpa meminta pendapat Zoya lebih dulu, Gallen kembali membawanya. Mereka keluar dari gedung dimana pesta itu diadakan, menuju ke tempat dimana mobil-mobil milik para tamu saling berjejeran. Gallen mengajak Zoya menuju satu tempat. Disana, mobil Gallen terparkir dengan rapi.


Gallen kemudian membuka pintu mobil. Setelah mengambil sebuah tas yang berada di kursi belakang, dia membuka tas itu dan memberikan isinya pada Zoya.


"Aku tahu ukurannya pasti besar, tapi lebih baik ganti bajumu daripada kamu masuk angin."


Zoya menatap barang yang baru saja diberikan Gallen kepadanya. Sebuah kemeja. Itu pasti kemeja milik Gallen. Wajar saja jika pria itu mengatakan bahwa ukurannya pasti lebih besar.


Gallen kembali menyuruh Zoya untuk berganti pakaian.


"Aku akan berjaga di luar, sekarang cepatlah masuk dan berganti pakaian. Aku tidak akan berbalik ataupun melihatmu." Katanya lagi.


Zoya menatap Gallen yang mulai membuang pandangannya ke arah lain. Dia benar-benar menepati janjinya untuk tidak mengintip. Melihat itu, membuat Zoya menatap kemeja itu kembali. Zoya dapat mencium wangi yang sama seperti milik Gallen dari kemeja itu. Terdiam cukup lama, membuat Zoya tiba-tiba mencengkeram kemeja itu dengan kuat.


"Kenapa Bos membantuku?" Tanya Zoya.


Gallen harus sadar dengan apa yang dilakukannya. Membawa pergi seorang pelayan seperti dirinya pergi seperti itu, pastinya hal itu akan menimbulkan gosip. Apakah Gallen tak peduli dengan itu sama sekali? Apakah pria itu benar-benar tak peduli dengan konsekuensinya?


"Tolong jawab pertanyaanku dulu, baru aku akan memutuskan untuk menerima bantuan Bos atau tidak."


***

__ADS_1


__ADS_2