Anak Kembar CEO Kaya

Anak Kembar CEO Kaya
20. Kekesalan Zoya


__ADS_3

..."Itu anak sebenarnya mirip siapa, sih?!"...


...***...


Menghiraukan semua rasa penasarannya, Zoya masih tetap bekerja keras untuk memuaskan pelanggan istimewa tersebut. Sampai pada saatnya mereka pulang, para pegawai restoran berkumpul bersama di dapur untuk menunggu Dafa yang masih sibuk berbincang dengan mereka.


"Bagaimana, Pak?" Tanya Chef saat Dafa kembali ke dapur.


Dafa tampak lesu. Zoya yang melihat itu pun merasa khawatir dengan penilaian para pelanggan.


"Kalian semua sudah bekerja dengan baik. Mereka bilang ... " Dia sengaja membuat seluruh pegawainya menunggu-nunggu.


Dafa tersenyum dengan jahil. Pria yang merupakan atasannya itu kemudian berbicara setelah membuat para pegawainya ketakutan, "Mereka sangat senang dengan pelayanan kita. Bahkan katanya, mereka ingin kita ikut bergabung dalam acara kantor yang akan mereka buat di akhir tahun nanti." Katanya.


Suasana dapur yang sunyi saat orang-orang sibuk mendengarkan kata-kata Dafa pun langsung riuh dalam seketika. Zoya ikut bahagia, terutama saat melihat Dafa yang tersenyum saat melihatnya.


"Selamat ya, Daf." Ujar Zoya.


Pria itu menarik tangan Zoya, memintanya untuk ikut. Zoya yang sebenarnya tidak tahu kemana dan untuk apa Dafa membawanya pun hanya ikut-ikutan saja.


"Dibelakang terlalu ricuh, aku takut kamu terhimpit." ujar Dafa, alasan yang cukup untuk membuat Zoya tertawa.


"Apaan, sih. Mana mungkin aku terhimpit hanya karena beberapa orang itu."


Dafa terkekeh. Pria itu lantas menyuruh Zoya untuk duduk, sementara pegawai lainnya masih sibuk berbahagia di dapur sana, "Semalam kamu bilang mau pulang ke desa, udah yakin?" Tanyanya.


Zoya mengangguk, "Iya, karena itu mungkin untuk satu Minggu aku mau ambil cuti. Enggak apa-apa, kan?"


Dafa mengangguk. Lagipula dia juga berharap wanita di hadapannya ini bisa bersantai dan bertemu dengan keluarganya yang ada di desa, jadi tentu saja Dafa tidak akan keberatan.


"Enggak apa-apa, aku malah senang dengarnya. Perlu kutemani?" tawar Dafa.


Zoya yang mendengar penawaran itu pun terkekeh, "Aku udah tua, udah punya anak dua. Jadi enggak perlu ditemani lagi." ujarnya. Dafa tertawa kecil mendengarnya.


"Tapi teman hidup tetap butuh, kan?" Ledek Dafa.


Zoya hanya tertawa mendengar itu. Jujur saja, ia tak pernah memikirkan hal itu lagi sejak memiliki Milo dan Noah. Memang benar rasanya sulit untuk membesarkan kedua anaknya disaat ia juga harus bekerja, namun Zoya benar-benar tidak terpikirkan untuk mencari pasangan.


"Enggak dulu, deh. Lebih baik kamu yang cari teman hidup, Tante pasti senang kalau kamu pulang bawa calon mantu."

__ADS_1


Dafa hanya tersenyum mendengar saran itu. Tidak tahu harus menjawab apa atas perkataan yang dilontarkan oleh Zoya.


"Oh, ya." Tiba-tiba Zoya teringat sesuatu, "Pelanggan tadi, siapa namanya?" Tanyanya.


Sebelah alis Dafa terangkat saat mendengar pertanyaan Zoya yang tak biasa, "Kenapa? Ada masalah?" Dafa sedikit khawatir mendengarnya.


Zoya yang tak memerhatikan ekspresi sahabatnya itu hanya menaruh satu telunjuknya di dagu, "Aku enggak tahu, tapi rasa-rasanya aku cukup familier dengan orang itu." Jawabnya.


Dafa tampak berpikir sejenak, "Mungkin kamu pernah liat dia di berita? Dia putri pemilik salah satu perusahaan besar di negara kita, bahkan jaringan di luar negerinya juga luas. Tapi sekarang perusahaan itu dipegang oleh keponakannya, sih." Dia melihat kembali wajah Zoya yang tampak seperti tengah mengingat-ingat, "Kalau kamu cari di internet, nama dia pasti mudah ditemukan. Ketik aja Pamela Prawijaya." Lanjutnya.


"Pamela Prawijaya ... " Zoya bergumam pelan. Dafa hanya membiarkan saja wanita itu berpikir, tak berniat mengganggu.


"Ah, aku enggak ingat. Nanti aku ingat-ingat lagi, deh." Katanya.


Dafa tertawa kecil melihat itu. Sudah biasa. Zoya memang sering melupakan sesuatu yang sebenarnya penting.


"Ya sudah, enggak perlu dipaksa lagi. Lagian memorimu yang kecil ini mana bisa digunakan untuk menyimpan ingatan banyak-banyak." Ledek Dafa.


Zoya yang mendengar sindiran itu langsung tertawa. Kedua orang itu kemudian saling menyindir satu sama lain, tak ingat bahwa sekarang mereka sedang ada di tempat kerja.


***


"Siapa, ya?" Cobanya lagi.


Merasa tak ada tanggapan, Zoya memutuskan untuk mematikan sambungan telepon tersebut, "Aneh, kalau tidak bersuara mengapa menelepon?" Racaunya sendirian. Bibir berwarna merahnya itu mencebik, sedikit kesal dengan panggilan aneh yang baru saja diterima. Ia langsung memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas, berjalan santai setelah berhasil menenangkan diri.


Mungkin hanya orang iseng yang tidak punya kerjaan.


Ia hanya bergumam dalam hati. Tentu saja, tak mungkin dirinya terus merutuki seseorang yang batang hidungnya saja tidak dapat dirinya lihat. Orang-orang yang tidak tahu alasannya akan menganggapnya aneh nanti.


Zoya berhenti sejenak saat semilir angin membawa rasa sejuk untuknya. Bersama dengan langit yang mulai menjingga, ia kembali memikirkan banyak hal. Biaya bulanan, uang tak terduga, juga kiriman untuk kedua orang tuanya yang ada di desa. Jumlah yang cukup besar, namun ia yakin bisa mencukupinya. Lagipula itu sudah jadi rutinitas bulanan, kan? Zoya tidak ingin pikiran-pikiran buruk membuatnya bimbang.


"Baru pulang kerja, Mbak?" Sapa salah satu tetangganya. Wanita yang usianya satu tahun lebih muda darinya itu tersenyum lembut melihat dirinya sibuk melamun.


"Iya, kerjaan hari ini kebetulan cepat selesai. Eh, ada Vania juga rupanya." Bayi di dalam stroller yang di bawa wanita itu pun tampak tersenyum saat menatapnya. Pemandangan menyenangkan mengingat putranya tak pandai berekspresi. Sayangnya ia tak bisa lama-lama, jadi Zoya segera pamit untuk kembali.


"Kapan-kapan main ke rumah, ya."


"Tenang, bisa diatur."

__ADS_1


Kedua wanita itu tertawa kecil. Sebenarnya Zoya bisa saja sedikit lebih lama disana, namun ia tetap ingin segera pulang untuk menemui seseorang.


Hari masih agak siang dan ia memutuskan untuk segera kembali begitu jam kerjanya berakhir. Agak tidak biasa, memang. Karena jarang sekali dirinya bisa pulang secepat ini. Ia tersenyum kecil, membayangkan sosok manusia yang akan menyambutnya nanti. Meski biasanya orang itu cukup membuatnya kesulitan, mana mungkin dia akan menolak hadiah yang dibawanya, yakan?


"Loh?"


Tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali. Zoya memeriksa ke kamar putranya, namun Noah juga tak terlihat di sana. Oh, benar. Anaknya pasti masih berada di rumah temannya saat ini. Karena jika Noah telah kembali, dia pasti akan langsung datang menghampirinya bahkan meskipun itu hanya untuk mengomel karena Zoya tak meletakkan sepatu pada tempatnya atau pulang terlambat.


Yah, baguslah. Sekarang aku akan membuatkan makanan kesukaannya. Supaya saat Noah pulang nanti, dia bisa langsung makan.


Zoya memang berpikir demikian, namun ia masih ingin memastikan keberadaan anaknya terlebih dahulu. Ia kembali mengambil ponselnya yang berada di dalam tas. Setelah menekan satu nomor, ia lantas mendekatkan ponsel tersebut ke telinganya, "Halo, Win."


" ... "


"Bukan masalah besar, sih. Kalian belum kembali ke rumah, ya?"


" ... "


"Hah? Tapi kok dia enggak ada di rumah?"


Zoya mulai merasa khawatir. Untuk menenangkan diri, ia mendekatkan diri pada meja makan dan menuang segelas air untuk dirinya sendiri, "Iya, dia enggak ada."


" ..."


Winona sibuk berceloteh sementara Zoya mendengarkan. Di sela-sela kegiatan itu, Zoya menenggak air putih yang ada di gelasnya ketika tiba-tiba ia melihat sebuah kertas yang tertempel di pintu kulkas.


"Uhuk!"


" ... "


Zoya mengusap bibirnya kasar, segera beranjak menuju kulkas dan berteriak setelah membacanya, "Dasar anak ini ... "


Zoya menarik napas panjang dan bersuara dengan cukup tinggi, "Winona, sekarang juga kamu harus kemari!" Ujarnya.


Winona yang tak mengerti dengan pasti maksud temannya hanya mengiyakan dan segera menutup teleponnya. Begitu telepon ditutup, Zoya langsung terduduk di atas kursi makan. Tubuhnya lunglai. Rasanya seluruh tulangnya seperti dicabut keluar. Zoya kembali mengambil kertas itu, meremasnya. Entah mengapa tiba-tiba ia kesal sekarang.


"Itu anak sebenarnya mirip siapa, sih?!"


***

__ADS_1


__ADS_2