
..."Setidaknya jika aku tahu bahwa gadis itu baik-baik saja, mungkin aku bisa lebih tenang."...
...***...
Sejak usia kandungannya menginjak delapan bulan, Zoya telah menyiapkan hampir seluruh keperluan yang akan dibutuhkan nantinya. Beberapa barang bahkan sudah di packing kedalam tas besar. Bapak dan Ibunya sudah sering menyuruhnya istirahat, namun Zoya benar-benar tidak ingin melewatkan sesuatunya.
"Huh, semuanya sudah selesai di masukkan."
Ia melihat kembali barang-barang di depannya. Menggemaskan. Zoya tak sabar melihat bayinya menggunakan barang-barang itu. Ah, atau lebih cocok menyebutnya dengan 'bayi-bayinya'? sebab Zoya sebenarnya sedang mengandung bayi kembar.
Aku tidak tahu bagaimana kami melakukannya karena ingatanku pun tidak begitu jelas, tapi bagaimana bisa aku langsung hamil di percobaan pertama? kembar pula!
Memang agak malu untuk mengakuinya, namun tubuh Gallen memang luar biasa bagusnya. Selama sebulan Zoya tinggal bersamanya, tidak pernah sehari pun pria itu bolos dari olahraga. Mungkin itu yang menyebabkan tubuhnya dapat tercetak dengan bagus dan kesehatannya ... ya, sangat bagus.
Begitu bagus sampai bisa mencetak bayi kembar langsung. Huh.
Sekarang karena usia kandungannya sudah 34 minggu, selain bengkak kakinya yang makin parah, Zoya juga sudah sering merasakan keram di perutnya. Sesekali perutnya terasa sangat sakit, seolah-olah dirinya akan melahirkan saat itu juga. Namun kemudian, rasa sakitnya hilang. Dokter menyebutnya dengan kontraksi palsu. Zoya sepertinya sudah benar-benar bersahabat dengan rasa sakit itu, karena sedari tadi pun perutnya terasa nyut-nyutan.
Zoya ingin bangkit dari posisi duduknya, namun ia kesulitan. Luar biasa. Orang yang sangat lincah seperti dirinya pun kini kesulitan bangun setelah duduk? Wah-wah, Zoya benar-benar tak menyangka. Awas saja jika anaknya nanti durhaka. Zoya pastikan akan mengikat semangka besar di perutnya agar mereka tahu betapa sulitnya ia saat ini!
Tok Tok Tok
Suara ketukan terdengar nyaring. Zoya menghembuskan napas panjang. Karena saat ini tidak ada seorangpun selain dirinya, mau tidak mau ia harus berdiri untuk membukakan pintu.
"Sebentar."
Dengan berpegangan pada lemari kayu, ia memaksakan diri untuk bangkit. Sepertinya tetangganya butuh sesuatu, makanya dia terus mengetuk pintu sedari tadi.
"Oh, Bu Retno." Sapa Zoya. Sosok yang terus mengetuk pintu itu lantas bertanya.
"Ibumu ada?"
"Ibu kebetulan lagi ke pasar, Bu. Ada keperluan apa, ya?" Zoya mengelus-elus perutnya. Entah kenapa, perutnya tiba-tiba terasa sangat sakit.
"Bukan masalah besar, sih. Tadinya Ibu mau tanya arisan bulan ini di tempat siapa." Bu Retno yang menyadari keanehan pada Zoya pun mengerutkan dahi, "Kamu gapapa, Zoya?"
"Enggak," Ia memejamkan mata. Awalnya Zoya masih ingin mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja, namun ternyata rasa sakitnya justru terasa semakin menjadi-jadi, "Aduh!"
Bu Retno yang cukup sigap kemudian menangkap Zoya yang hampir jatuh. Zoya meringis kesakitan. Bersamaan dengan itu, ketubannya ternyata pecah.
"Zoya, kamu mau melahirkan!"
Zoya menahan sakit di perutnya, "Ta-Tapi ini baru 34 minggu." Jawabnya.
__ADS_1
Bu Retno yang mendengar itu pun segera memapah Zoya, "Bayi lahir lebih cepat dari perkiraan itu gak sedikit, apalagi kalau kembar. Lebih banyak resikonya. Ayo kita masuk dulu, biar Ibu minta bantuan orang dan panggil orang tuamu dulu."
Zoya yang tak mengerti apapun hanya mengangguk dengan lemas. Ia tak tahu jika hal-hal seperti ini juga akan terjadi padanya.
***
Crass
Gallen tertegun. Gelas kaca yang dipegangnya tiba-tiba jatuh begitu saja saat dia hendak minum.
"Bos," Alby yang melihat itu pun mendekat, "Anda baik-baik saja?"
Gallen mengangguk pelan. Dia menatap pecahan kaca yang hancur berkeping-keping di lantai. Aneh. Padahal sebelumnya dia baik-baik saja, namun sekarang tiba-tiba perasaannya menjadi tidak enak. Bahkan dadanya pun terasa sesak, seakan sesuatu yang berharga baginya tengah merasakan sakit. Apa-apaan sebenarnya ini?
Lagipula, tidak ada apapun yang begitu berharga bagi Gallen. Karena orang terakhir yang pernah dirinya anggap penting telah pergi begitu saja meninggalkannya.
"Apa kau sudah dapat kabar tentang Zoya?" Tanyanya tiba-tiba.
Alby tentu cukup terkejut. Meski dirinya tahu bahwa sang bos begitu sangat merindukan Zoya, dia tak menyangka bahwa pembicaraan ini tiba-tiba akan mengarah ke sana.
"Maaf, tapi kami belum mendapatkan informasi apapun. Apa bos masih ingin menemuinya secara langsung jika informasi itu sudah didapat?"
Gallen yang sebelumnya hanya berdiri kemudian memilih untuk duduk. Dia tidak tahu dengan pasti jawaban seperti apa yang akan dirinya berikan jika situasi yang Alby katakan terjadi. Apakah dia sungguh ingin menemui Zoya secara langsung? atau hanya ingin tahu dimana gadis itu berada?
"Setidaknya jika aku tahu bahwa gadis itu baik-baik saja, mungkin aku bisa lebih tenang." Jawabnya.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu, Bos."
Meninggalkan Gallen yang masih terduduk di kursinya, Alby kemudian memanggil seorang OB untuk membersihkan pecahan kaca yang berserakan di ruang kerja bosnya.
***
Dengan sekuat tenaga, Zoya berusaha untuk menahan suaranya. Kedua tangannya mengepal dengan kuat. Kali ini, rasa sakit yang terasa besarnya berkali-kali lipat lebih sakit daripada saat kontraksi-kontraksi palsu sebelumnya. Zoya masih berusaha untuk tenang. Di sisinya, seorang dokter tengah memeriksa bagaimana keadaannya.
"Gimana, Dok?" Bapak yang menemaninya pun bertanya. Dia merasa sangat tidak tega melihat putrinya yang tengah menahan sakit seperti itu.
"Kondisinya kurang bagus. Meski masih 34 minggu, bayinya memang harus dilahirkan." Saran Dokter. Sebenarnya sejak jauh-jauh hari Dokter selalu mengingatkan tentang bahaya saat mengandung bayi kembar. Contohnya, seperti saat ini. Ketuban pecah dini dan kondisi bayinya pun tak terlalu baik membuat Zoya harus melahirkan saat ini juga.
Bapak dan Ibu pun semakin khawatir. Bagaimana pun juga, kelahiran prematur sangat beresiko. Apalagi cucu mereka ini kembar. Bayi yang lahir prematur seringnya mengalami masalah kesehatan, meski mereka berharap itu tidak terjadi pada cucunya. Lalu Zoya, bagaimana dengan putrinya itu? Apakah ia akan baik-baik saja?
"Dokter," Suara Bapak terdengar bergetar. Dia sangat takut, benar-benar merasa takut, "Kami ini cuma orang bodoh yang enggak mengerti apa-apa, tapi tolong bagaimana pun juga lakukan yang terbaik untuk anak dan cucu-cucu kami." Katanya. Dia tidak tahu harus berbicara bagaimana lagi.
Dokter lalu tersenyum kecil. Ada rasa haru yang terasa saat mendengar kata-kata itu, "Kami pasti akan melakukannya dengan semaksimal mungkin, Pak, Bu."
__ADS_1
Dokter kemudian menginfokan untuk salah satu diantara mereka menemani Zoya selama proses persalinan. Ibu mengajukan diri untuk masuk. Sementara Ibu masuk, Bapak segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Halo, Nak Dafa. Zoya sekarang ada di rumah sakit. Persalinannya lebih cepat dari perkiraan."
***
Napas pria itu tersengal-sengal. Dia berlari dengan kencang begitu tiba di parkiran. Memasuki koridor rumah sakit, dia baru memelankan langkah kakinya karena tidak ingin mengganggu orang lain.
"Halo, Ma. Dafa udah sampai di rumah sakit."
Pria itu mendengarkan dengan seksama kata-kata sang Ibu.
"Oke, Dafa kesana sekarang."
Dengan agak terburu, dia bergerak dengan segera ke tempat yang dituju. Selain keluarganya, ada Bapak Zoya yang tengah terduduk dengan tegang di kursi tunggu.
"Pak." Sapa Dafa. Bapak mendongak, menemukan pria muda itu telah sampai di depannya, "Nak Dafa sudah sampai rupanya."
Bapak kembali tertunduk. Melihat reaksi bapak yang seperti itu, Dafa pun menjadi semakin bertanya-tanya.
"Pak, bagaimana keadaan Zoya?"
Tidak ada jawaban. Bapak justru terlihat seperti mendapat tekanan berat. Pria itu lantas menoleh ke arah ibunya yang juga ada di sana.
"Bu," Panggilnya. Ibu Dafa yang memahami kebingungan sang anak pun menarik tangan Dafa untuk berpindah sedikit dari tempat mereka.
"Bu, bagaimana keadaan Zoya?" Tanya Dafa lagi. Ibunya kemudian meminta Dafa untuk memelankan suaranya.
"Persalinannya agak sulit. Kami juga kurang tahu dengan pasti bagaimana kondisinya karena hanya Ibunya yang masuk ke dalam, tapi pelankan suaramu karena bapaknya benar-benar tertekan sekarang."
Dafa menutup wajahnya dengan kedua tangan. Persalinannya sulit katanya? lalu bagaimana keadaan Zoya kalau begitu?
"Aku bersalah pada Zoya." Ucap Bapak tiba-tiba. Dafa yang mendengar itu pun mendekat, berusaha untuk menenangkan.
"Pak, jangan bilang begitu. Zoya pasti sedih kalau mendengarnya." Dafa berusaha menenangkan. Namun bukannya berhenti, Bapak justru mengangkat tangan kanannya dan menunjukkannya pada Dafa.
"Tangan ini ... aku menampar Zoya dengan keras menggunakan tangan ini saat tahu bahwa dia hamil tanpa suami." Bulir beningnya jatuh, "Jika sesuatu terjadi pada Zoya sekarang, aku pasti tidak akan pernah bisa memaafkan diri sendiri." Lanjutnya.
Dafa merangkul pria tua itu. Semua orang khawatir dengan kondisi Zoya, namun pria itu benar-benar butuh penenang sekarang.
"Sekarang kita berdo'a saja ya, Pak. Semoga Zoya bisa segera melahirkan, dan mereka bertiga baik-baik saja." Lanjutnya.
Bapak kemudian mengangguk. Rasa takutnya belum hilang, namun dia berharap bahwa Tuhan akan mendengar dan mengabulkan do'a nya. Pria itu kemudian mengangkat kedua tangannya, berdo'a dengan khusyu yang diikuti oleh Dafa dan semua orang yang ada disana untuk Zoya.
__ADS_1
Semua orang berharap bahwa mereka akan baik-baik saja.
***