
..."Bukankah semuanya baik-baik saja? Jadi mengapa kita harus pergi dan meninggalkan Paman?"...
...***...
Sekarang Zoya benar-benar tidak tahu, apakah orang yang ada di hadapannya ini sungguh-sungguh pernah melihat dirinya bersama sang keponakan, Gallen, atau hanya sekedar merasa bahwa dirinya mirip dengan seseorang.
"Saya tidak pernah bertemu dengan Nyonya di luar restoran ini." Jawab Zoya dengan jujur. Mereka saling bertatapan.
Apapun alasannya, yang pasti Zoya tak ingat jika dirinya pernah bertemu dengan Nyonya Pamela Prawijaya. Bisa bertemu dengannya sekarang pun adalah sebuah kebetulan karena Zoya bekerja di restoran ini. Perbedaan status mereka terlalu jauh. Seseorang yang memiliki status tinggi seperti Nyonya Pamela, rasanya aneh jika Zoya bertemu dengannya namun tak dapat mengingatnya.
Pamela tersenyum.
"Hm, baiklah kalau begitu. Mungkin aku hanya salah ingat." Katanya.
Dia mengambil salah satu jenis makanan yang dipesannya tadi, menyodorkannya pada Zoya.
"Makanlah. Aku memintamu untuk menemaniku, kan." Katanya.
Zoya tersenyum canggung mendapati perlakuan itu. Sepertinya, ia memang tidak bisa menolak tawaran ini lagi sekarang. Meskipun merasa ada yang mengganjal, namun akhirnya Zoya mengambil makanan yang diberikan Nyonya Pamela. Setelah mengucapkan terimakasih, ia mulai memakannya sedikit.
Nyonya Pamela mengambil piring makanan yang lain.
"Oh, ya. Dimana rumahmu?"
"Uhuk."
Zoya langsung meraih segelas air yang ada di dekatnya. Hal itu sontak membuat Pamela merasa terkejut. Apa pertanyaannya terlalu berat? Sampai-sampai Zoya terbatuk hanya karena mendengar pertanyaannya?
"Kamu baik-baik saja?"
Zoya meraih tisu dan mengangguk.
"Maaf, Nyonya. Saya baik-baik saja." Katanya.
Ia membuang tisu bekas pakainya. Saat kembali menatap ke depan, ternyata Pamela masih saja memperhatikannya.
Uh, andai dia tahu kalau aku tinggal bersama keponakannya. Pasti Nyonya Pamela tidak akan memperlakukanku dengan baik seperti ini.
Zoya tersenyum, menutupi isi hatinya.
"Saya tinggal di sebuah kontrakan bersama anak saya." Jawab Zoya, tentu saja ia terpaksa berbohong lagi.
"Anak?" Nyonya Pamela tampak begitu terkejut, "Kamu sudah punya anak?"
"Ya, dua orang." Jawabannya semakin membuat wanita itu terkejut.
Zoya merasa aneh. Sepertinya usianya tidak terlalu muda untuk memiliki anak. Apakah wajahnya terlalu baby face untuk usia 26 tahun? Sampai-sampai Nyonya Pamela merasa heran mendengarnya.
Nyonya Pamela tampaknya masih merasa penasaran, "Lalu suamimu? Kenapa kamu mengatakan bahwa kamu hanya tinggal di kontrakan dengan anakmu?"
Apa Nyonya Pamela selalu penasaran seperti ini? Biasanya kan orang-orang tidak akan bertanya sesuatu yang pribadi sampai ke akarnya begini.
"Uhm, suami saya --- "
"Zoya."
Zoya menoleh ke belakang. Dafa tiba-tiba mendatanginya. Setelah meminta maaf pada orang dihadapan Zoya, pria itu lantas mengatakan alasannya datang kemari, "Bapak sama Ibu bilang ponselmu enggak bisa dihubungi. Mereka khawatir."
Zoya mengecek ponselnya. Ah, benar. Zoya memang meng-silent ponselnya sedari tadi, jadi wajar saja jika ia tak mendengar panggilan itu.
"Oh, bener. Ponselnya aku silent tadi."
__ADS_1
Dafa terkekeh, lalu menepuk-nepuk pelan kepala Zoya seperti biasa, "Untung suamimu ini baik hati, sampai rela keluar demi menemui kamu padahal sebentar lagi harus segera pergi ke luar kota." Zoya menepuk pelan lengan pria itu karena dia bercanda terus, "Telpon Bapak sama Ibu dulu sana, nanti mereka makin khawatir." Dafa memberikannya saran.
Zoya yang masih terkekeh itu mengangguk. Sepertinya ia harus menghubungi orang tua nya kau tidak ingin Bapaknya semakin marah. Tapi sebelum pergi, ia menatap Nyonya Pamela lebih dulu.
"Maaf, Nyonya. Boleh saya permisi untuk menelepon?"
Tidak ada alasan untuk menahan wanita itu lagi jika ia memiliki alasan yang jelas seperti itu. Nyonya Pamela lalu tersenyum, membiarkan Zoya pergi sementara Dafa masih bersamanya disini.
"Pasti menyenangkan karena bisa bekerja bersama istri."
Dafa tertawa. Itu memang candaannya tadi, tapi Nyonya Pamela malah menanggapinya sungguhan.
***
"Uh, pinggangku."
Zoya menatap tumpukan tas yang baru saja dikemasnya tadi, lalu segera menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang. Lelah.
"Andai ada cara agar semua barang-barang ini langsung tersusun dengan cepat."
Zoya menatap langit-langit kamar, namun kemudian segera menutup matanya lagi. Sebentar lagi mereka akan pindahan. Sebenarnya Zoya belum mendapat persetujuan dari Gallen, tapi pria itu pasti akan melarangnya pergi jika ia memberitahukannya. Jadi sepertinya, satu-satunya cara adalah mereka pergi secara diam-diam.
Namun, mengapa menyusun pakaian saja rasanya melelahkan, sih? Padahal sebelumnya saat bersama Gallen, rasanya semua ringan-ringan saja.
"Bos."
Tiba-tiba saja bibirnya mengucapkan satu kata itu. Zoya segera menutup mulutnya, tak sadar mengapa tiba-tiba nama itu terucap.
"Mama ... " Tiba-tiba Noah naik ke atas ranjang.
Bocah laki-laki berusia lima tahun itu kemudian masuk ke dalam pelukan Zoya. Dia menatap Mamanya, meminta penjelasan.
"Apa sekarang kita harus pergi?" Tanya Noah. Ekspresinya terlihat tidak baik, sepertinya dia tidak ingin pindah dari sini.
Noah memeluk Mamanya, "Bukankah semuanya baik-baik saja? Jadi mengapa kita harus pergi dan meninggalkan Paman?"
Zoya tersenyum. Padahal biasanya Noah jarang sekali berbicara. Namun, lihatlah sekarang. Dia berbicara hanya untuk mendukung Papanya.
"Karena Paman Gallen bukan siapa-siapa kita, akan menjadi masalah kalau kita tetap disini untuk waktu yang lama." Ujarnya lagi.
Noah masih terlihat tak bersemangat, namun bocah itu kemudian bangkit dan duduk di atas ranjang, "Apa ada yang bisa Noah bantu?"
Zoya tersenyum. Ia kemudian ikut duduk dan memeluk anaknya yang menggemaskan, "Nah, bagaimana kalau sekarang kita merapikan barang-barang Noah?"
***
Tok Tok Tok
Zoya mengetuk pintu sebuah rumah. Seseorang yang telah diberitahukan akan kedatangannya itu lalu membuka pintu. Winona tersenyum, membuka lebar pintunya lalu membantu Zoya membawa barang-barang.
"Kupikir akan lebih lama, tapi ternyata cepat juga."
Zoya langsung mendudukkan dirinya di sofa, "Yah, karena barang kami memang enggak banyak. Tapi ini juga sudah cukup membuat lelah, kok." Katanya. Zoya bahkan bersandar di sofa saling kelelahannya.
Winona terkekeh. Dia kemudian pergi ke dapur. Cukup lama, namun kemudian wanita yang belum menikah itu kembali sembari membawakan satu teko teh es dan tiga gelas kosong.
"Aku lagi buat cemilan, tapi belum matang semua. Tunggu, ya." Pamitnya lagi yang kemudian segera pergi menuju dapur.
Zoya mengambil gelas kosong itu. Saat aroma gorengan tercium di hidungnya, ingatannya langsung berputar pada kejadian kemarin.
Butuh bantuan?
__ADS_1
"Uh." Zoya langsung menggelengkan kepalanya saat bayangan Gallen terlihat jelas di depannya. Apa-apaan ini? Mereka sudah pergi dari rumah pria itu, namun sekarang malah Zoya yang terbayang-bayang terus?
Zoya kembali menuangkan teh es itu ke salah satu gelas untuk diberikan kepada Noah. Tak lama kemudian, Winona kembali sembari memberikan sepiring gorengan. Wanita itu mengatakan padanya bahwa masih ada banyak gorengan lainnya di dapur. Jadi, tak perlu khawatir dan makan saja sebanyak yang ia mau.
"Kamu udah cari kontrakan baru?"
Zoya menggeleng, "Sebelumnya aku udah cari, tapi belum nemu yang cocok." Jelasnya.
Winona mengangguk mengerti.
"Yaudah kalau gitu disini aja, lagipula aku cuma sendirian."
Zoya terkekeh. Sebenarnya Winona sering menawarkannya untuk pindah saja ke rumahnya, dengan begitu ia bisa menghemat uang sewa. Namun, tetap saja rasanya agak segan jika menumpang terus di rumah orang seperti itu.
"Kalau kamu kasih harga sewanya, mungkin aku bisa tinggal disini." Ujar Zoya, masih tak ingin menyusahkan.
"Kan aku udah bilang, gratis aja." Winona juga Kukuh pada pendiriannya.
"Kalau dikasih gratisan, aku cuma bisa tinggal selama beberapa hari disini. Makanya, kasih tahu harga sewanya dong." Ujar Zoya, lagi.
"Tapi --- "
Winona berhenti berbicara saat ponsel Zoya yang diletakkannya di atas meja berbunyi. Zoya mengambil ponselnya, sedikit terkejut saat melihat nama yang terpampang di layar ponselnya itu.
"Orang yang selama ini kasih tumpangan ke kamu?"
Zoya mengangguk.
"Kalau begitu, angkat telponnya." Winona memberikannya saran.
Zoya menatap ponselnya lagi. Masih tidak berani.
"Aku pergi enggak izin dulu sama dia tadi." Ujar Zoya yang membuat Winona tergelitik.
"Kok bisa?" Tanyanya.
Terkadang, ada sisi yang membuat Zoya terlihat lucu. Contohnya saat ini. Bisa-bisanya wanita itu pergi dari rumah orang yang memberinya tumpangan selama ini tanpa bilang apa-apa? Walaupun Zoya pun merawatnya selama ini, namun wajar saja jika orang itu marah melihat Zoya tiba-tiba pergi bersama barang-barangnya.
Ponsel itu berhenti berbunyi. Zoya menatap layar ponselnya yang kembali menghitam.
"Oh, akhirnya mati."
Entah mengapa meski ia merasa lega, tetap saja ada rasa bersalah karena tak mengangkat panggilan itu.
Drtttt
Zoya terkejut saat ponsel itu kembali berdering dan bergetar. Zoya menatap nama yang ada di layar, dan lagi-lagi itu dari orang yang sama.
"Gimana, nih?" Zoya meminta saran dari Winona.
Winona menahan tawanya. Sambil memegang perutnya, dia memberikan saran pada Zoya.
"Udah, angkat aja. Kalau malu karena ada aku, kamu bisa angkat teleponnya di luar." Katanya.
Merasa tak ada pilihan lain, Zoya akhirnya memilih pilihan itu. Ia menitipkan Noah pada Winona, sementara Zoya kemudian pergi ke teras depan.
Ada kursi di teras. Zoya mendudukkan dirinya dulu sebelum akhirnya mengangkat telepon.
"Ha---"
"KAMU KABUR LAGI?!"
__ADS_1
Zoya menjauhkan ponsel itu dari telinganya. Astaga, Gallen keterlaluan. Bisa-bisa gendang telinganya pecah jika mendengar suara Gallen yang berteriak itu lagi.
***