Anak Kembar CEO Kaya

Anak Kembar CEO Kaya
53. Gallen, Bapak, dan Santan Sachetan


__ADS_3

..."Aku memang tidak bisa memaksamu. Tapi kamu tidak akan menghalangiku jika ingin menemui anak-anak, kan?"...


...***...


"Bos, bisa pelan-pelan enggak bicaranya?"


Gallen setengah berteriak setelah mendengar itu.


"Kamu pikir aku bisa tenang, setelah melihat tidak ada orang di rumah dan barang-barang kalian pun ikut hilang?"


Zoya menghela napas sebelum berbicara. Ia sudah menduga hal ini pasti terjadi, makanya pergi tanpa sepengetahuan Gallen memang jalan yang terbaik karena pria itu pasti akan menghalanginya lagi.


"Aku kan udah bilang sejak awal, kami hanya akan menumpang selama beberapa hari sampai menemukan kontrakan baru. Kebetulan saat itu Bos terluka, jadi kami menunda pindahan. Tapi sekarang kan Bos udah sembuh, enggak ada alasan untuk kami tetap disitu, dong." Jelasnya.


Lagipula apa yang ia katakan memang benar. Zoya dan Gallen tak memiliki hubungan apapun, jadi tak pantas rasanya bila dua orang dewasa seperti mereka tinggal serumah tanpa ada ikatan apapun. Walau Gallen sendiri pun sudah berkali-kali memintanya untuk menjadi istri, dan Zoya sepertinya mulai jatuh hati pada pria itu, namun sepertinya ia masih belum yakin.


Terlalu egois, memang. Apalagi jika memikirkan kedua anaknya.


Namun bahkan bila Zoya merasa yakin sekalipun, ada banyak langkah yang harus mereka lewati. Memberitahu masing-masing keluarga, contohnya. Jangankan keluarga Gallen yang kemungkinan besar pasti akan menolak dirinya. Merayu Bapaknya sendiri untuk mengizinkan pelaku yang membuat anaknya hamil diluar nikah enam tahun yang lalu dan akan menikahinya sekarang pun mungkin akan sangat sulit.


"Beritahu dimana kalian sekarang."


"Lalu membiarkan Bos menjemput kami lagi?"


"Zoya ... "


Zoya hanya menatap kedua kakinya sendiri, berusaha untuk tak terbujuk dengan apapun yang dikatakan oleh Gallen.


"Bos enggak perlu khawatir, sekarang kami memiliki rumah yang cukup bagus untuk ditinggali. Meski tentunya enggak sebesar rumah Bos, tapi ini jauh lebih bagus daripada rumah kontrakan kami sebelumnya."


Ada jeda beberapa detik. Baik Zoya maupun Gallen tampaknya memiliki pemikiran mereka masing-masing. Tak beberapa lama, suara helaan napas terdengar kuat. Sepertinya Gallen berusaha kuat untuk mengalah dalam hal ini.


"Aku memang tidak bisa memaksamu. Tapi kamu tidak akan menghalangiku jika ingin menemui anak-anak, kan?"


Zoya mengangguk, meski tentunya Gallen tak dapat melihat itu, "Ya, enggak akan."


Bagaimanapun Gallen adalah ayah kandung mereka. Jika dia ingin bertemu dengan anak-anaknya, tentu saja Zoya tak akan menahannya.


Namun, tampaknya hal itu digunakan dengan baik oleh Gallen.


"Kalau begitu, aku mau Milo juga tinggal di kota ini."


"Hah? Milo?"


Zoya tahu pria yang berbicara dengannya ini adalah ayah dari kedua anaknya, Milo dan Noah. Tapi ia pikir pria itu tidak akan mencari-cari putra pertamanya karena sejak awal Zoya sudah menjelaskan bahwa Milo tinggal bersama Kakek dan Neneknya.


Namun sekarang dia ingin anak pertamanya itu juga dibawa ke kota?

__ADS_1


"Bos, bukannya aku enggak mau bawa Milo. Tapi Milo yang selalu menolak untuk tinggal di sini karena katanya kota itu enggak seru. Selain itu aku pikir saran dari orang tuaku juga benar, karena akan sulit pastinya kalau mengurus dua anak dengan kondisiku yang sendirian." Zoya mencoba menjelaskan. Namun, tampaknya Gallen masih tetap pada keputusannya.


"Milo juga anakku. Tapi sejak tahu bahwa ternyata aku memiliki dua orang anak, aku belum pernah memegang tangannya apalagi memeluk anak itu. Lalu apakah menurutmu egois kalau aku ingin berkumpul dengan anak-anakku sendiri?"


Zoya mengepalkan tangannya.


"Tapi, Bos---"


"Kalau masalah sulit mengasuh dua anak sekaligus," Gallen memotong kata-kata Zoya, "Aku pasti akan bantu. Kalau perlu, aku bisa menyewa pengasuh. Mudah, kan?"


Dasar orang kaya, semua-muanya pakai uang!


"Halo? Kamu dengar apa yang aku bilang*?"


Zoya menarik napas, lalu menghembuskannya perlahan untuk kembali tenang.


"Akan aku bicarakan dengan Bapak dan Ibu dulu. Kalau boleh, mungkin aku bisa membawa Milo ke kota."


Gallen langsung menutup teleponnya setelah Zoya berkata demikian. Zoya menatap layar yang menampilkan tulisan bahwa telepon telah berakhir, dan ia sekarang menjadi kesal sendiri.


"Argh! Dasar Bos jahat!"


Zoya menatap layar ponselnya lagi. Apa tepat mengatakan bahwa Gallen itu jahat? Atau sebenarnya, justru ialah yang jahat?


"Enggak tahu, ah!"


"Halo, Pak." Sapa Zoya saat telepon itu diangkat.


"Ya."


Suara dingin Bapaknya terdengar. Zoya menelan air liurnya sendiri, mencoba untuk menenangkan diri meski sepertinya itu tidak begitu berhasil. Zoya sedikit berbasa-basi, namun Bapak menyuruhnya untuk langsung ke inti pembicaraan.


"Anu, sebenarnya Zoya menelepon Bapak karena pingin ngomong. Zoya kepikiran terus tentang hal ini. Milo kan anak Zoya, kasihan kalau dia terpisah dari Zoya dan Noah. Jadi --- "


"Kamu pikir kamu udah cukup hebat untuk mengurus dua anak sekaligus?"


Kan, kan, kan, Zoya sudah menebak bahwa ini lah yang akan terjadi jika ia ingin mengambil Milo dari orang tuanya.


"Iya, tahu. Zoya masih banyak kurangnya. Tapi kan kasihan kalau Milo jauh dari Mamanya terus." Zoya mencoba memberikan alasan.


"Kalau begitu, kamu aja yang berhenti kerja!"


Zoya menjauhkan ponselnya dari telinga. Mau itu Gallen atau pun Bapaknya, kenapa dua pria itu sama-sama suka berteriak, sih?


"Zoya kan kerja untuk cari uang tambahan, Pak." Ia menjawab. Namun mungkin karena merasa diremehkan, Bapaknya justru semakin marah.


"Ho, apa karena menurutmu bapakmu ini kere, makanya kamu mau cari uang sendiri? Gini-gini bapak masih sanggup untuk kasih makan kalian meskipun kamu enggak kerja!"

__ADS_1


"Bukan gitu, Pak. Tapi---"


Tut


Bapak telah mematikan sambungan telepon itu. Zoya menurunkan ponselnya, semakin merasa kesal.


"Dasar laki, mau yang ini atau yang itu, sama aja!"


Zoya akhirnya hanya menyandarkan tubuhnya di kursi itu. Lelah, ia tidak tahu lagi harus bagaimana. Kalau nanti Gallen bertanya dimana anaknya, Zoya tak tahu harus jawab apa. Bapaknya tak mengizinkan Zoya mengambil Milo kembali. Mungkin yang dipikirkan Bapaknya itu memang benar, bahwa akan sulit bagi Zoya untuk mengurus dua anak sendirian. Tapi kalau Gallen masih tetap ingin mengurus anak-anaknya? Apa yang harus Zoya lakukan?


"Udah selesai telponnya?"


Zoya menoleh. Winona kemudian duduk di samping Zoya, menemaninya yang sedang galau. Meskipun mereka sudah sangat dekat sejak Zoya pindah ke kota ini untuk bekerja, namun Winona hanya tahu beberapa poin pentingnya saja. Seperti status Zoya yang telah memiliki dua orang anak namun tak pernah menikah, juga dimana ia bekerja. Namun untuk status ayah dari si kembar, Winona belum tahu.


"Win, ingat saat kita menyusul Noah yang hilang lalu menemukannya di restoran mewah bersama seorang pria?"


Winona mengangguk. Tentu saja dia ingat peristiwa itu. Apalagi, baru kali itu dia melihat Zoya kesal karena tingkah anaknya yang dinilai melewati batas.


"Apa kalian pernah bertemu sebelumnya? Kayaknya kamu enggak begitu terkejut waktu lihat pria itu." Tanya Zoya.


Winona ikut menyandarkan punggungnya ke kursi. Untung saja dia masih ingat bagaimana pertemuannya dengan pria itu. Awalnya Winona memang tak menganggap hal itu penting, karena mereka hanya bertemu satu kali. Namun saat mereka bertemu untuk yang kedua kalinya, sebenarnya dia sudah berencana untuk menceritakannya pada Zoya. Tapi jika melihat ekspresi Zoya saat ini, sepertinya memang benar bahwa Winona lupa menceritakannya.


"Sehari sebelum Noah hilang, aku membawa Noah pergi berbelanja. Ingat bungkus jajanan yang kuberikan pada Noah? ada santan sachetan juga di dalamnya."


Zoya menganggukkan kepala. Ia masih ingat tentang itu.


"Terus?"


Winona kembali menceritakan apa yang terjadi saat itu, "Awalnya aku menawari Noah untuk membeli jajanan, namun dia malah mengambil santan sachetan itu untuk membuat opor ayam katanya. Aku sih enggak masalah dia ambil itu. Setelah itu, Noah berbalik badan. Nah rupanya, di belakang dia sudah ada seorang pria, jadi Noah enggak sengaja nabrak dia."


"Dan pria itu adalah pria yang kita temui di restoran?"


Winona mengangguk, "Aku ingat dia bilang, 'Selera makanan yang bagus'. Noah mengejar pria itu saat dia keluar. Mungkin mereka saling bertukar nomor saat itu, makanya mereka bisa bertemu kembali."


Zoya memahami ceritanya sekarang. Jadi, mereka saling bertemu hanya karena santan sachetan itu?


"Takdir terkadang memang aneh."


Ucapan Zoya membuat Winona bertanya-tanya. Namun sebelum wanita itu benar-benar bertanya pada Zoya, Zoya sudah lebih dulu memberitahukannya.


"Dia Papanya Milo dan Noah." Ujar Zoya.


Winona terdiam, sampai akhirnya wanita itu pun terkejut setelah berhasil memahami apa yang Zoya katakan.


"Apa?!"


***

__ADS_1


__ADS_2