
...Kau pasti berbohong karena ingin menyembunyikan anakku dariku, kan?"...
...***...
Keduanya sama-sama terdiam saat saling berhadapan. Gallen melihat wanita di hadapannya, lalu beralih melihat Noah yang saat ini berdiri di samping Zoya berkali-kali.
"Tunggu. Jangan bilang anak ini --- mphhh."
Zoya berlari lalu membungkam mulut Gallen sebelum pria itu mengatakan sesuatu.
"Win, aku titip Noah. Bawa dia pulang sekarang juga!" Perintahnya.
Winona yang masih terkejut dan tidak tahu menahu mengapa sahabatnya itu tiba-tiba bertingkah liar hingga membekap mulut pria yang tak dikenalnya langsung mengajak Noah untuk pergi. Ia menarik tangan Noah, membawanya menuju mobil. Anak-anak tidak boleh melihat adegan kekerasan semacam ini!
"Noah," Panggil Winona, "Kita pergi sekarang."
Noah hanya mengikut saat Winona membawanya. Dilihatnya kembali Mamanya yang masih berdiri di belakang. Bocah laki-laki itu tersenyum. Akhirnya, usahanya sukses.
***
"Apa yang kau lakukan?!" Teriak Gallen setelah Zoya melepaskan tangannya dari mulut pria itu. Zoya menatap Gallen dengan berani, sama seperti yang dulu dilakukannya.
"Bos pasti mau mengatakan sesuatu yang aneh-aneh, kan? Mana mungkin aku diam saja melihat itu!" Jawabnya.
Gallen terdiam saat mendengar itu. Aneh. Jelas sekali ada banyak yang berubah dari wanita dihadapannya ini. Tapi saat dirinya melihat Zoya lagi, semua perbedaan itu tidak penting lagi. Gallen harus mengakui bahwa perasaannya tidak pernah berubah meski waktu telah berlalu.
"Cara bicaramu berbeda." Katanya. Zoya menatap Gallen.
"Penampilanmu juga. Dulu kau tidak sekurus ini, dan kau juga tidak pernah memakai lipstik apalagi warna merah seperti ini."
Zoya memandang bagian tubuhnya yang di tatap oleh Gallen, "Hih, Bos!" Zoya menyilangkan kedua tangannya di depan badan, "Jangan aneh-aneh, ya!"
Gallen tertawa. Kapan ya, dia bisa tertawa lepas seperti ini?
__ADS_1
"Ah, benar juga." Dia kembali teringat, "Noah, dia anakmu?" Tanyanya.
Zoya terdiam selama beberapa detik. Oh, astaga. Apa yang harus dirinya katakan sekarang?
Mata elang Gallen menatap Zoya penuh selidik. Sebelah bibirnya tertarik ke atas. Gallen sempat bingung mengapa dirinya tak merasa terganggu dengan keberadaan Noah, bahkan sampai mau menemui anak itu saat diberitahu bahwa dia hanya sendirian di rumah karena ibunya sedang bekerja. Tapi, ternyata karena ini?
"Anakku, kan?" Tebaknya.
"Bukan!" Tolak Zoya langsung.
Gallen yang mendengar itu pun terkekeh tak percaya, "Kau pikir bisa membohongiku? Darimana bayi itu muncul kalau bukan karena malam itu? Kau pikir kau itu amoeba yang bisa membelah diri?!"
Oya menelan ludahnya sendiri. Astaga, astaga. Bagaimana ini? Gallen benar-benar tidak percaya pada perkataannya.
"Darimana Bos bisa bilang kalau Noah itu anak Bos? Jelas-jelas kalian enggak mirip." Zoya mencoba memberikan alasan.
"Ada kemiripan diantara kami." Jawab Gallen yang membuat Zoya terhentak. Benarkah? Gallen dan Noah mirip? Kok, Zoya tidak tahu?
"Mirip?" Ia masih mencoba untuk terlihat tenang, "Bos, apa Bos enggak salah lihat? Bagian mananya yang mirip?" Tanya Zoya. Ia juga penasaran memangnya bagian mana dari Noah yang terlihat mirip dengan Gallen.
"Telinganya."
"Telinga --- Apa?" Zoya ternganga mendengar jawaban Gallen, "Bos, apa bos enggak salah? Telinga?"
Gallen masih terlihat percaya diri. Astaga, Zoya benar-benar tidak paham dengan cara berpikir pria di hadapannya ini. Telinga katanya? Hanya karena telinga mereka mirip lalu Gallen langsung mengatakan bahwa Noah itu anaknya?
"Yah, jika dilihat dari umurnya aku yakin anak itu adalah anakku. Dan model telinga sepertiku itu jarang, jadi itu semakin memperkuat bukti bahwa Noah adalah anakku." Lanjutnya.
"Hah," Zoya menghela napas panjang, "Aku sudah mengatakan bahwa Noah itu bukan anak Bos, jadi Bos jangan terlalu percaya diri seperti itu." Katanya.
"Sudahlah, aku ingin pulang sekarang."
Zoya hendak berbalik, namun Gallen justru menangkap tangannya, "Aku tidak bisa percaya dengan kata-katamu. Kau pasti berbohong karena ingin menyembunyikan anakku dariku, kan?" Tiba-tiba ekspresinya jadi serius. Jujur saja Zoya sedikit takut saat melihat ekspresi Gallen yang seperti itu. Namun, untuk melindungi Milo dan Noah, ia tetap tidak ingin Gallen tahu kebenarannya!
__ADS_1
Zoya menepis tangan Gallen, "Bos, aku sudah bilang bahwa Noah bukan anakmu. Kenapa Bos terus memaksa untuk diakui sebagai ayahnya?" Zoya benar-benar tidak ingin Gallen tahu. Sejak saat memutuskan untuk melahirkan anak itu, Zoya sudah meyakinkan diri untuk bertanggung jawab penuh atas kedua anaknya sendiri tanpa melibatkan pria itu. Jadi kenapa ia harus mengakui bahwa Gallen adalah ayah dari kedua anaknya?
"Bohong. Kau pasti sengaja mengatakan itu karena ingin memisahkan aku dengan anakku." Katanya lagi.
Zoya terkekeh. Sebagai jurus pamungkas, ia mengangkat tangannya dan menunjukkan cincin polos yang tersemat di jari manisnya, "Bos lihat ini? Aku sudah menikah." Katanya.
Gallen membulatkan matanya, terkejut setelah mendengar kalimat itu.
"Dan bagaimana mungkin aku mengakui Bos sebagai ayah dari anakku? Ayahnya saja masih hidup, kami hidup bahagia sampai sekarang."
Mungkin karena syok, Gallen tak dapat menjawab setelah mendengar kata-kata Zoya. Pria itu hanya menatap ke depan, menatap wanita yang terus dicintainya selama enam tahun ini.
"Maaf, Bos. Tapi aku akan pulang sekarang. Suami dana anakku pasti akan khawatir kalau aku tidak pulang juga."
Zoya kemudian melepaskan tangan Gallen yang masih memegang tangannya, lalu segera berbalik untuk pergi dari sana. Dengan begini, Gallen mungkin akan berhenti mencari-cari tahu kebenaran tentang Noah ataupun Milo.
***
"Argh!"
Zoya meninju bantalnya. Dasar. Bagaimana ini? Dia sudah berbohong pada Gallen, tapi mengapa justru hatinya terasa sakit sendiri?
"Hah," Zoya menghela napas panjang. Jika dirinya jujur pada Gallen, apa yang kira-kira akan dilakukan oleh pria itu? Menghinanya? Atau justru Gallen akan mengambil Milo dan Noah karena merasa dirinya tidak pantas menjadi ibu bagi kedua anak itu?
Karena Zoya percaya, Gallen tidak akan mungkin menerima dirinya sekalipun dia mau menerima kedua anak itu. Tapi apa dirinya egois jika tidak ingin jujur tentang hubungan mereka bertiga?
"Ah, aku enggak tahu lagi!"
Zoya menutup wajahnya dengan kedua tangan. Apalagi dirinya baru saja berbohong bahwa ia memiliki suami. Tidak dirinya sangka bahwa cincin tak bermodel miliknya ternyata akan berguna seperti ini. Tapi jika suatu saat nanti mereka bertemu dan Gallen tahu bahwa Zoya berbohong padanya tentang itu, maka kebohongannya bahwa Noah adalah anak dari dirinya dan suami juga pasti akan terbongkar.
Disaat Zoya tengah memikirkan alibi apa yang cocok digunakan untuk membohongi Gallen, Noah yang ada di kamar sebelah juga sedang sibuk dengan sesuatu. Bocah laki-laki itu mencari nama seseorang di kontak yang ada pada jam tangan pintarnya, lalu menekan tombol telpon.
"Datanglah kesini besok. Aku butuh bantuanmu."
__ADS_1
Bocah itu tersenyum mendengar jawaban di seberang telepon. Dengan begini, keadaan masih bisa dibalik kembali.
***