Anak Kembar CEO Kaya

Anak Kembar CEO Kaya
44. Keluarga Prawijaya


__ADS_3

..."Memangnya apa hubunganmu dengan orang-orang yang berasal dari keluarga Prawijaya itu?"...


...***...


Sebagai orang yang bekerja pada shift siang di sebuah restoran, jam makan siang adalah waktu yang sangat sibuk. Apalagi restoran tempatnya bekerja terletak di posisi yang strategis, berada di pusat kota yang dekat dengan perkantoran dan lain sebagainya, yang membuat para pekerja sering mampir ke tempat mereka. Belum lagi kedatangan beberapa orang penting dari perusahaan besar beberapa waktu lalu yang membuat restoran ini makin terkenal. Zoya sebenarnya merasa bersyukur, karena semakin banyak pelanggan maka artinya semakin banyak pula bonus yang akan diberikan kepada mereka.


Namun, waktu sibuk itu terasa seperti neraka untuknya.


"Ugh." Zoya meregangkan tubuhnya yang lelah.


Waktu makan siang telah selesai, restoran kembali damai seperti sebelumnya. Semua orang yang telah bekerja keras memilih untuk beristirahat, termasuk Zoya yang memilih untuk menyendiri di tempat duduk lantai dua yang menghadap ke jalan.


"Lelahnya. Apalagi sekarang aku harus mengurus dua bayi sebelum pergi bekerja." Zoya mengingat kembali apa yang dilakukannya pagi tadi, lalu membenturkan kepalanya ke meja.


Sebenarnya seperti biasa, Noah bisa mengurus dirinya sendiri tanpa perlu bantuan Zoya. Zoya hanya perlu menyiapkan bekal makan siangnya, memastikan bahwa anaknya itu telah benar-benar siap, lalu mengantarkannya pergi ke sekolah. Ia sangat bersyukur karena kemandirian Noah benar-benar membantunya. Tapi, satu bayi besarnya yang lain tidak seperti itu!


FLASHBACK ON


Zoya sedang sibuk menyiapkan makanan untuk sarapan mereka dan bekal Noah ke sekolah nanti. Ia sudah memastikan bahwa anaknya itu telah bersiap-siap untuk pergi ke sekolah, jadi Zoya tidak perlu khawatir jika Noah masih tertidur pulas dan terlambat pergi. Setelah mencicipi makanan yang dibuatnya, Zoya lalu menata semuanya ke dalam piring. Masakannya telah selesai, sekarang Zoya hanya perlu menunggu dua orang lainnya untuk bergabung.


"Zoya!" Panggil Gallen. Pria itu berlari keluar dari kamarnya, menghampiri Zoya yang tengah duduk di meja makan masih dengan pakaian tidurnya.


"Loh, bos enggak pergi kerja?" Tanya Zoya. Sebenarnya ia sudah menyarankan agar pria itu istirahat saja untuk hari ini karena kemarin dia baru saja mengalami kecelakaan. Namun, Gallen menolak saran itu karena hari ini dia memiliki pertemuan penting.


"Pergi, tapi, " Pria itu tampak kebingungan, "Aku kesiangan." Ujarnya.


"Hah?" Zoya terkejut. Tak biasanya Gallen kesiangan. Bahkan Zoya dapat meyakini bahwa kebiasaan baik anak-anaknya yang selalu bangun pagi itu menurun dari Gallen, lalu mengapa pria itu bisa kesiangan apalagi dihari penting begini?


"Gimana, dong?" Zoya sampai terbangun dari duduknya.


"Bantu aku!" Gallen meminta dengan sungguh-sungguh. Zoya mengangguk, tak ada waktu untuk berpikir panjang.

__ADS_1


"Oke!"


"Maksudku bantu aku mencuci rambut." Ujar Gallen yang membuat Zoya memelototkan mata.


"Loh, kok bantu mencuci rambut, sih?"


Gallen menghela napas, "Aku sudah tidak mencuci rambut sejak kemarin karena tanganku yang patah ini, dan aku merasa tidak nyaman. Sekarang aku harus bertemu dengan klien penting. Menurutmu bagaimana?"


FLASHBACK OFF


"Uh," Zoya bergidik ngeri mengingat hal itu. Gara-gara permintaan Gallen pagi tadi, dengan sangat-sangat terpaksa Zoya terpaksa membantunya mencuci rambut. Sudah bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya?


Hoho, tentu saja tidak ada adegan panas disana. Zoya benar-benar hanya menjalankan tugasnya untuk membantu Gallen. Gallen pun cukup sadar diri bahwa dia tak punya waktu banyak sehingga dia tak menggoda wanita itu. Tapi, meskipun begitu, Zoya jadi melihat setiap lekuk tubuh Gallen yang menggoda. Awalnya ia ingin menutup matanya seperti kemarin, namun Gallen terus-menerus berteriak karena Zoya membuat matanya terkena busa sampo.


Untungnya Gallen menggunakan celana pendeknya selama mandi, jadi mata Zoya masih cukup terselamatkan dari hal-hal yang tak semestinya ia lihat. Yah, meski sebenarnya ia sudah pernah melihatnya juga, sih. Tapi Zoya tak bisa melihat 'benda' itu lagi dalam kondisi sadar seperti ini. Apalagi mereka kan bukan pasangan suami istri. Masa mau membuat kesalahan lagi?


"Cukup Milo dan Noah saja, jangan ada kesalahan lagi." Zoya masih meletakkan kepalanya di atas meja. Kesalahan yang terjadi di masa lalu haruslah menjadi pembelajaran untuknya. Tidak boleh ada kesalahan lagi!


"Lagi nyantai?" Dafa bertanya padanya.


Zoya langsung menegakkan kepalanya lagi, mempersilakan pria itu untuk duduk di depannya, "Iya, restoran akhir-akhir ini jadi makin sibuk. Kayaknya bos harus nyiapin bonus banyak, nih."


Dafa terkekeh. Ia memberikan satu gelas minuman dingin itu pada Zoya, "Aman, tenang aja. Pasti disiapin, kok." Ucapan Dafa membuat Zoya senang. Tentu saja, siapa yang tidak akan senang jika mendapat bonus tambahan dari hasil kerjanya?


"Akhir tahun nanti orang-orang penting perusahaan kemarin mau menyewa kita untuk mempersiapkan acara kantor mereka. Kamu ingat itu, kan?"


Zoya mengangguk. Meski kemarin ia banyak ambil libur, tentu saja Zoya tidak akan melupakan itu.


"Tentu aja aku ingat. Itukan acara yang sangat penting untuk restoran ini. Sebentar lagi restoran ini bakal semakin dikenal, terutama dikalangan pengusaha besar seperti mereka." Ujarnya.


Zoya dan Dafa terkekeh bersama. Semakin banyak pengusaha dan orang-orang hebat yang mengenal restoran mereka, tentu saja itu akan menjadi bantuan besar untuk memperbesar usaha yang keluarga Dafa miliki. Contohnya, seperti sekarang ini. Restoran mereka diminta untuk membantu acara penting yang digelar sebuah perusahaan besar. Sangat hebat, bukan?

__ADS_1


Dafa mengangguk, "Memang, itu adalah peluang yang sangat bagus. Tapi, kamu ingat, kan, aku pernah bilang kalau perusahaan itu dipegang oleh keponakan dari Nyonya itu? Nyonya Pamela Prawijaya bukan pengusaha yang bekerja di kota ini. Dia hanya datang untuk membantu keponakannya menyiapkan acara perusahaan. Jadi, sebenarnya itu acara perusahan milik keponakannya."


Zoya mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar cerita itu, "Enggak ada masalah. Asal rencananya disetujui, mau itu acara milik Nyonya itu ataupun keponakannya, yang penting kita dapat uang." Zoya tersenyum lebar membayangkan pundi-pundi uang yang akan masuk ke kas restoran mereka.


Dafa terkekeh. Ia mengusap kepala Zoya beberapa kali, "Dasar, kalau soal uang memang kamu enggak pernah kalah." Pria itu tertawa hingga gigi putihnya yang rapi kelihatan.


Zoya mendengkus mendengar itu. Enggak pernah kalah masalah uang. Mungkin lebih tepatnya, Zoya memang selalu termotivasi saat mendengar kata-kata itu. Tapi untuk masalah kepemilikan uang dan lain sebagainya, tetap saja Gallen akan menjadi juaranya.


"Oh, tunggu," Zoya tiba-tiba teringat sesuatu, "Prawijaya, kan? Nama akhir wanita itu Prawijaya?"


Dafa mengangguk, "Aku ingat kamu bilang kalau kamu merasa familier dengan Nyonya Pamela. Apa karena nama belakangnya? Memangnya apa hubunganmu dengan orang-orang yang berasal dari keluarga Prawijaya itu?" Dafa merasa khawatir. Karena Zoya terlalu polos, bisa saja dia melakukan suatu kesalahan dengan orang-orang penting itu. Tapi, Zoya tak pernah mengatakan apapun. Apa ia hanya merasa takjub karena bekerja untuk orang-orang hebat itu, atau apa?


Zoya terdiam cukup lama. Sebuah kalimat yang pernah didengarnya itu akhirnya kembali teringat.


Tapi itu tidak buruk, bukan? Bahkan jika kau berhasil, kau bisa menjadi Nyonya Prawijaya


"Oh!" Dafa tersentak karena Zoya yang bersuara kencang tiba-tiba, "Dafa, menurutmu ada berapa banyak keluarga kaya di kota kita yang punya nama belakang Prawijaya?"


Dafa mengerutkan dahinya mendengar itu. Biasanya Zoya tak begitu peduli dengan para orang kaya kecuali orang-orang itu akan memberikannya keuntungan. Lalu, mengapa tiba-tiba Zoya penasaran akan hal itu?


"Aku enggak begitu tahu tentang orang-orang kaya, tapi kalau untuk Keluarga Prawijaya ... " Dafa berpikir sejenak, "Sepertinya hanya satu." Ujarnya.


Zoya menganggukkan kepalanya kecil. Kalau benar seperti yang dirinya pikirkan, itu artinya ...


"Hah!" Dafa kembali terkejut dibuat wanita itu.


Tanpa mengatakan apapun pada Dafa, Zoya beranjak dari tempat duduknya dan menatap ke luar. Bukan hal yang memalukan untuk bekerja sebagai pelayan, tapi jika itu memang benar ...


Artinya ia akan bekerja untuk mempersiapkan pesta perusahaan milik Gallen.


***

__ADS_1


__ADS_2