
..."Papa mu ini pasti akan menikahi Mamamu. Tapi kita masih harus menunggu, karena Mamamu masih terus menolakku."...
...***...
Setelah shift nya selesai, Zoya langsung membereskan barang-barangnya. Sembari menunggu karyawan shift selanjutnya datang, wanita itu memainkan ponselnya dan mengetik beberapa kata kunci di mesin pencarian.
Keluarga Prawijaya.
Zoya menyandarkan punggungnya di kursi. Kemajuan teknologi di masa sekarang ini benar-benar luar biasa. Hanya menyebutkan beberapa kata kunci saja berbagai info langsung keluar dengan begitu mudahnya. Wanita itu menggeser beberapa artikel, mengklik salah satunya saat dirasanya berita itu cukup penting.
Zoya membaca berita itu dengan baik, padahal selama ini ia sangat anti dalam hal itu, "Alexander Prawijaya membangun perusahaan besarnya bersama ketiga anaknya, Basman Alexander Prawijaya, Tony Alexander Prawijaya, dan Pamela Alexander Prawijaya." Zoya berpikir sejenak. Otak kecilnya perlu waktu untuk memahami isi artikel tersebut.
"Kalau diingat-ingat, Bos sepertinya pernah mengatakan bahwa ... " ia mencoba mengingatnya kembali.
Paman Basman juga selalu memarahiku bahkan saat aku tidak melakukan kesalahan. Tante Pamela yang selalu membelaku juga lebih sibuk mengurus keluarganya sekarang. Aku tidak punya teman, bahkan kucing pun akan menggigitku jika kudekati.
"Itu artinya Alexander Prawijaya itu Kakeknya Bos, lalu ketiga anaknya ini adalah Ayah, Paman, dan Tantenya Bos, kan?"
Zoya kembali membaca berita itu.
"Perusahaan selanjutnya diserahkan kepada putra keduanya, Tony Alexander Prawijaya, yang hanya memimpin dalam kurun waktu yang singkat karena meninggal dalam kecelakaan tragis bersama istrinya." Zoya terdiam saat membaca bagian itu. Orang itu ayahnya Gallen, bukan? Jadi maksud kata-katanya yang mengatakan bahwa orang tuanya meninggal saat usianya masih lima tahun, adalah karena ini? Karena sebuah kecelakaan?
"Kasiannya."
Zoya jadi ikut sedih membayangkan itu. Meskipun Bapaknya Galak, namun Zoya merasa bersyukur karena masih diberikan kesempatan untuk berkumpul bersama kedua orang tuanya dalam keadaan utuh diusianya yang sekarang. Dia mungkin bukan tipe orang tua yang ramah, namun Zoya tahu bahwa bapaknya sebenarnya sangatlah menyayangi dirinya. Terbukti disaat-saat terburuknya saat itu, Bapaknya selalu pasang badan dihadapan orang-orang yang menghina Zoya, tak membiarkan Zoya mendengar setiap cercaan dan hinaan yang mereka lontarkan.
"Apa karena ini, ya, makanya Bos bersikeras untuk menikah? Karena dia tahu dengan jelas bagaimana rasanya memiliki keluarga yang tak utuh? Atau, karena dia ingin memiliki keluarganya sendiri?" Ia mulai menebak-nebak.
Zoya menatap layar ponselnya kembali, membaca lanjutan berita itu.
"Sepertinya aku harus memperlakukannya dengan baik." Putusnya kemudian.
Melihat karyawan shift selanjutnya datang dari kejauhan, Zoya langsung mematikan ponselnya. Ia memasukkan ponsel itu ke dalam tas kecilnya, kemudian menyapa dengan ramah wanita itu.
"Maaf, ya. Aku ada urusan tadi." Ujar wanita itu. Jika dilihat-lihat, ternyata wanita itu sudah telat tiga puluh menit. Pantas saja dia meminta maaf.
"Enggak apa-apa. Nah karena kamu udah datang, sekarang aku pulang, ya." Zoya memasang tas kecilnya di bahu, "Dah!" Lambainya.
Wanita itu melambai balik.
***
__ADS_1
Setelah pulang kerja, Zoya langsung menjemput Noah di rumah Winona. Mereka pulang bersama menggunakan angkutan umum, kemudian segera mandi dan membersihkan diri. Noah memilih duduk di depan TV, sedangkan Zoya mulai menyiapkan bahan masakan untuk makan malam nanti. Meski masih lama, namun ia ingin membuatkan makanan yang enak untuk Gallen.
Beberapa waktu kemudian, deru mesin mobil terdengar jelas dari luar. Zoya masih tetap tenang saat menyiapkan masakannya. Ia yakin bahwa orang yang ada di luar pasti adalah Gallen.
Pintu terdengar dibuka. Bersamaan dengan derap langkah seseorang, sosok pria berkulit eksotis itu kemudian muncul dan menghampiri mereka.
"Aku pulang!" Serunya.
Noah menoleh, menatap Gallen yang telah masuk ke dalam rumah, "Mama, Paman sudah datang." Katanya. Ucapan Noah membuat Gallen menghela napas, lalu berjongkok untuk menyamakan tinggi tubuhnya dengan sang anak.
"Papa, bukan Paman. Ingatlah bahwa aku adalah Papamu, oke?" Gallen kembali mengingatkan.
Zoya hanya tersenyum lucu melihat interaksi kedua orang itu. Ia yang baru saja selesai memasak lalu mengambil segelas air untuk membasahi tenggorokannya yang kering.
"Papa? Kalau Paman adalah suami Mama, aku baru bisa memanggilmu dengan sebutan itu." Ujar Noah yang membuat Zoya menyemburkan kembali minumannya.
"Ohok, ohok."
Gallen tersenyum mengejek dari tempatnya. Ia melihat Zoya menepuk-nepuk dadanya masih dengan memegang gelas berisi air.
"Bukan masalah. Papa mu ini pasti akan menikahi Mamamu. Tapi kita masih harus menunggu, karena Mamamu masih terus menolakku." Gallen berpura-pura membisiki Noah, padahal Zoya masih bisa mendengarnya dengan jelas.
"Bos, jangan mencuci pikirkan anakku." Peringat Zoya.
Noah menatap kedua orang itu yang terlihat seperti bertengkar, namun bagi Noah mereka justru terlihat seperti orang yang sedang saling menunjukkan rasa sayang mereka meski dengan cara yang berbeda. Noah tahu bahwa selama ini dia ditipu oleh Kakek, Nenek, dan Mamanya, namun sepertinya ini akan cocok untuk membalas kebohongan yang mereka buat.
"Oh, jadi Paman ikut membantu menguleni tepungnya?"
"Tepung?" Gallen menautkan kedua alisnya. Apa hubungannya antara anak dan tepung?
Zoya yang paham arah pembicaraan ini langsung berbalik dan berteriak meminta Noah untuk menghentikan kata-katanya, "Stop!" Perintah Zoya. Bocah laki-laki itu melihat sekilas pada Mamanya. Diiringi dengan satu senyuman licik dari bibir mungilnya, Noah kemudian kembali melanjutkan kata-katanya tadi.
"Iya. Bukankah bayi dibuat dari adonan tepung, telur, dan air?" Ujar bocah laki-laki itu.
***
"Hahaha." Gallen masih tak bisa menghentikan tawanya. Pria yang tangannya masih memakai arm sling itu bahkan tak bisa fokus makan hanya karena terus teringat dengan kata-kata Noah.
"Memangnya kamu pikir mereka itu kue? Bagaimana bisa menggunakan tepung, telur, dan air untuk membuatnya." Gallen masih terkikik. Saat ini Noah sudah kembali untuk tidur di kamarnya, hanya ada Gallen dan Noah saja di ruang TV karena rencananya mereka ingin menonton film bersama.
Zoya melirik tajam pada pria itu yang masih tak henti-hentinya tertawa, "Ya terus aku harus jujur, gitu? 'Hei, nak. Sebenarnya kalian lahir karena lesung dan palu yang saling bertemu'. Begitu?"
__ADS_1
Gallen memegangi perutnya. Geli dan lucu telah bercampur menjadi satu. Dia tak bisa berhenti tertawa.
"Aku sudah menduga ini. Mereka sangat pintar, pasti akan ada banyak pertanyaan yang mereka ajukan namun itu tak sesuai dengan umurnya. Tapi, tapi, " Gallen menutup wajahnya yang memerah, "Astaga, aku tidak bisa berhenti tertawa."
Zoya mencubit kuat-kuat pinggang pria itu, membuat Gallen berteriak kesakitan sambil tertawa secara bersamaan.
"Ini bisa dilaporkan sebagai bentuk KDRT." Ujar Gallen. Dia mengelus-elus pinggangnya yang dicubit. Terasa sakit, namun Gallen tidak kesal sama sekali pada wanita itu.
Zoya menatap Gallen, mendecih sambil terkekeh mendengar kata-katanya tadi.
"Belum nikah, Bos. Gimana bisa KDRT." Zoya kembali mengingatkan.
Gallen terkekeh mendengar itu, "Ya karena itu, makanya kita nikah." Gallen tersenyum ke arah wanita di sampingnya, "Nanti kalau kamu mau pukul atau cubit aku kayak tadi, aku tidak akan melawan." Katanya.
Zoya bergidik, geli sendiri.
"Udah, ah. Mending kita nonton aja."
Zoya memilih film apa yang ingin ditontonnya. Gallen memerhatikan wanita itu, lalu memberikan satu usulan.
"Bagaimana kalau seri terakhir dari film cinta antara vampir dan manusia itu?" Zoya menoleh pada Gallen. Pria itu tersenyum, kembali teringat akan masa lalu, "Kamu pergi sebelum menyelesaikan film itu dulu." Lanjutnya.
Zoya terdiam untuk beberapa saat. Jantungnya berdebar dengan sangat kencang. Ada perasaan aneh yang menelusup ke dalam hatinya saat mendengar itu. Bukankah kejadiannya sudah sangat lama? Mengapa dia masih ingat?
"Oke." Zoya memilih film itu. Ia kemudian menyalakan film itu, lalu kembali duduk di sofa yang sama dengan Gallen. Ia melihat pria itu yang terfokus pada layar di depannya, tak melirik Zoya meskipun wanita itu ada di sampingnya.
"Oh, ya, Bos. Aku ingin tanya." Zoya berbicara lebih dulu. Orang yang diajak bicara itu kemudian menoleh, menunggu-nunggu pertanyaan yang akan Zoya ajukan.
"Aku melihat di mesin pencarian, orang tua bos ---"
KLAK
Zoya menatap sekeliling. Seketika saja semuanya menjadi gelap. Listrik tiba-tiba mati padahal film yang mereka putar baru saja dimulai. Zoya meraba-raba sekitarnya, mencari ponsel yang sebelumnya ia letakkan secara asal.
"Sebentar, Bos. Aku akan cari ponsel dulu untuk mengaktifkan senternya."
Zoya kembali meraba-raba. Seingatnya ia meletakkan ponsel di atas meja yang ada didepan mereka. Setelah berusaha cukup keras, akhirnya ia bisa menemukan ponselnya itu. Zoya langsung mengaktifkan senter yang ada di ponselnya itu dan menunjukkannya pada Gallen.
"Nah, sekarang kita ---"
Zoya langsung terdiam setelah melihat apa yang ada dihadapannya. Setelah menyalakan senter, Zoya akhirnya bisa melihat dengan jelas. Pria itu, Gallen, tengah memegang dadanya dengan kesakitan, sementara napasnya tak teratur dan matanya pun terbelalak.
__ADS_1
"Bos!"
***