
..."Jika aku membawa Zoya ke sana, ke tengah-tengah pesta yang dipenuhi oleh para tetua berisik nan juga licik, bukankah sama saja dengan menyeretnya ke dalam masalah?"...
...***...
"Makanannya sudah siap?"
Seorang pria bertopi putih kemudian menjawabnya, "Sudah, Bos."
"Minuman untuk tamu?"
"Sudah juga, Bos."
Dafa merasa tenang setelah mendengar itu. Sebagai Bos, pria itu berkewajiban untuk memastikan agar semua persiapan untuk acara hari ini dapat berjalan dengan baik. Makanan, minuman, dan para pelayan telah disiapkan sesuai dengan yang mereka diskusikan beberapa waktu lalu. Sekarang, mereka hanya harus menunggu waktu untuk masuk dan menyajikan makanan serta minuman tersebut.
Dafa melirik Zoya yang tampak merapikan penampilannya. Waktu memang berjalan dengan begitu cepat. Tahu-tahu saja, acara akhir tahun untuk perusahaan Prawijaya Group sudah tiba. Dafa memang sudah mengusahakan agar dapat memberikan pelayanan terbaik pada pelanggan pentingnya tersebut, begitu pula para karyawan yang lain. Semoga saja tidak ada masalah yang terjadi nantinya.
Saat salah seorang penyelenggara acara mengode mereka untuk masuk, para pekerja yang bertugas untuk menjadi pelayan langsung sigap dan mengambil tugas. Zoya juga melakukan hal yang sama, ia pergi untuk membawakan makanan ke ruang acara yang telah selesai di atur.
***
Gallen menatap tampilannya di cermin. Sama seperti biasanya, dia memang terlihat keren dengan setelan apapun. Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda darinya. Tak ada raut senang, bangga, atau apapun itu di wajah Gallen, karena dia terus saja berwajah datar sedari beberapa hari yang lalu.
"Bos masih kepikiran tentang Zoya?"
Alby yang berdiri beberapa meter di belakang bertanya. Sebenarnya, itu adalah pertanyaan yang percuma. Karena tentu saja, satu-satunya hal yang bisa membuat suasana hati bosnya naik turun seperti itu hanyalah wanita itu, Zoya.
Sejak Zoya memilih keluar dari rumah Gallen, pria itu sudah kehilangan semangatnya. Dia memang meminta pada wanita itu untuk membawa Milo, anak mereka, dengan harapan hubungan dekat antar ayah dan anak diantara mereka akan membuat wanita itu luluh. Namun, entah mengapa, Gallen merasa tak yakin dengan idenya itu.
"Sebenarnya aku ingin mengajak Zoya untuk menghadiri pesta ini, tapi ... " Gallen tak melanjutkan kata-katanya. Dia hanya menghela napas panjang.
__ADS_1
Alby menunggu-nunggu kata selanjutnya yang akan diucapkan pria itu. Namun, pria itu hanya tertunduk sembari menatap lantai. Gallen menyadari, bahwa semakin lama hubungan mereka justru menjadi semakin ambigu. Kenapa Zoya tak menerimanya saja, sih?!
Tak sabar menunggu, Alby kemudian mengambil keberanian untuk bertanya.
"Apa Bos khawatir jika ajakan itu hanya akan membebani Zoya?"
Gallen mengangguk.
"Sejak awal ia memang belum menerimaku sedikitpun. Jika aku membawa Zoya ke sana, ke tengah-tengah pesta yang dipenuhi oleh para tetua berisik nan juga licik, bukankah sama saja dengan menyeretnya ke dalam masalah?"
Alby memikirkan itu, dan kata-kata Gallen memang tak sepenuhnya salah. Sejak awal dunia perbisnisan memang cukup keras. Jika kita tak cukup kuat untuk bertahan, maka mudah saja bagi orang lain untuk menyingkirkan kita.
Apalagi untuk Gallen yang telah kehilangan para pendukung kuatnya. Meski beberapa tetua terlihat pro kepadanya, bisa dipastikan bahwa itu semua hanyalah sandiwara karena mereka juga menginginkan keuntungan dari dirinya.
"Kalau begitu apa kita bisa berangkat sekarang, Bos? Karena acaranya akan dimulai sebentar lagi."
Alby memahami perasaan bosnya. Namun sebagai asisten, sudah merupakan tugasnya untuk mengingatkan Gallen disaat-saat penting seperti ini. Bagaimana pun pria itu hanyalah manusia. meski beberapa orang menganggap Gallen sebagai atasan keras kepala yang tak punya hati, pada akhirnya dia tetap menderita permasalahan hati seperti ini.
Gallen kemudian berjalan lebih dahulu, pergi bersama Alby untuk kemudian menuju ke tempat diadakannya pesta. Meski sebenarnya dia pun tak terlalu menyukainya, namun sebagai pewaris utama tentulah Gallen memiliki kewajiban untuk hadir disana.
***
Seperti tiap tahunnya, Gallen maju ke depan untuk menyampaikan sepatah dua patah kata sebagai motivasi dan saran untuk kemajuan perusahaan mereka di masa yang akan datang. Tidak panjang, tentunya. Karena Gallen pun tak suka berbicara panjang lebar. Itu hanya akan membuat orang yang mendengarnya merasa lelah dan mengantuk. Maka setelah memberikan pidato singkat, pria itu pun langsung turun darisana dan menuju ke sebuah kursi yang merupakan kursinya tadi.
"Pidato yang sangat singkat seperti biasa, keponakanku."
Gallen terkekeh kecil mendengar kata-kata Tantenya, Tante Pamela. Dia tahu jika Tantenya ini selalu berharap bahwa Gallen akan sedikit lebih serius dalam memberikan pidato, namun pada akhirnya dia hanya memberikan pidato singkat yang hanya berisi sekitar dua atau tiga menit.
"Mereka pasti akan merasa lelah dan mengantuk jika aku berbicara dengan panjang lebar, Tante." Jawabnya.
__ADS_1
Tante Pamela ikut terkekeh. Disampingnya ada David, putra Tante Pamela satu-satunya. Dia tidak terlihat bersemangat sama sekali dengan pesta yang mereka selenggarakan, malah asik melihat ke pintu keluar. Hal itu sangat berbanding terbalik dengan tahun-tahun sebelumnya.
"David, sapa kakak sepupumu." Perintah Tante Pamela.
Seperti yang diketahui, Tante Pamela mengurus perusahaan milik suaminya di kota lain. Dia hanya sesekali datang ke kota ini, terutamanya saat akan diselenggarakan acara-acara seperti saat ini. Dia sadar bahwa keponakannya belum cukup dewasa untuk mempersiapkan pesta ini sendirian. Demikian juga dengan David, dia jarang berada di kota ini sama seperti Ibunya.
Namun David sejak dulu memang tidak terlalu dekat dengan Gallen. Mendengar Ibunya berkata demikian, David hanya menoleh dan kembali membuang wajahnya.
"Kami kan sudah dewasa, Ma. Kenapa masih harus sapa-sapaan segala." Katanya. David menolak perintah Ibunya.
"David!"
"Tante," Gallen mengehentikan kemarahan Tantenya, "Terimakasih telah membantuku menyelenggarakan acara ini setiap tahunnya."
Tante Pamela sedikit terkejut, tak menyangka akhirnya di dapat mendengar kata-kata terimakasih dari keponakannya itu. Bukankah bertahun-tahun ini dia selalu membantu keponakannya itu? Tapi, baru kali ini dia mendengar kalimat itu secara langsung dari mulut keponakannya.
"Ah, ya. Tidak perlu terlalu dipikirkan. Kita ini kan keluarga." Katanya.
Tante Pamela memegang salah satu tangan Gallen, seperti seorang Ibu yang memegang tangan Putranya dengan penuh kasih dan sayang. Biasanya Gallen pasti akan menghindar saat Tantenya itu ingin memegang tangan ataupun sekedar menepuk bahunya, namun kali ini pria itu diam saja. Tante Pamela bahkan bertanya-tanya di dalam hatinya. Apa yang membuat keponakannya itu begitu ramah hari ini?
David hanya memutar mata saat melihat itu.
Seseorang memanggil pelayan untuk membawakan minuman tambahan. Tak butuh waktu lama, beberapa pelayan kemudian masuk ke tengah-tengah acara.
"Oh ya, Gallen. Beberapa waktu yang lalu Tante sempat menelpon ke nomor telepon rumahmu. Tapi sepertinya orang yang mengangkat adalah wanita?
Gallen tak terlalu mendengar kata-kata Tantenya karena terlanjur salah fokus dengan sepupunya yang sebelumnya terlihat tidak tertarik dengan acara ini, namun sekarang dia malah tersenyum dengan lebar. Gallen ikut menatap ke arah yang sama. Dilihatnya arah tatapan David, dan seketika itu pula Gallen terkejut setelah mengetahui siapa orang yang ditatap oleh sepupunya itu sebenarnya.
"Zoya?" Gumam Gallen dengan suara pelan.
__ADS_1
***