
..."Semalam, listrik mati, kan?"...
...***...
Ting Tong
Seseorang memencet bel. Zoya yang sedang menempatkan makan siang untuk Noah ke dalam kotak bekal lantas menghentikan kegiatannya, cepat-cepat pergi ke depan untuk membuka pintu karena tak ingin tamu di luar menunggu terlalu lama.
"Oh, Kak Alby," Zoya memberikan ruang bagi pria itu untuk masuk, "Masuk dulu, Kak. Bos masih ambil sesuatu di kamarnya." Tawarnya.
Alby tersenyum kecil lalu masuk. Zoya mempersilakan pria itu untuk duduk dan menawarkan makan juga minuman untuknya. Namun, Alby menolak.
"Saya sudah sarapan tadi, jadi masih kenyang." Ujarnya. Zoya mengangguk memahami hal itu.
Ia kemudian pamit. Namun sebelum wanita itu kembali ke belakang, Alby telah lebih dulu menahan dan bertanya kepadanya, "Semalam, listrik mati, kan?" Katanya. Tiba-tiba saja pria itu mengangkat topik ini.
Zoya mengangguk, "Ya, tapi enggak lama." Katanya. Zoya menyadari bahwa Alby seperti menunggu suatu jawaban darinya, dan Zoya pun kemudian teringat dengan apa yang terjadi semalam.
"Oh," Ia berbisik pada Alby, "Kak Alby mau bertanya tentang kondisi Bos karena semalam mati listrik, ya?"
Alby sedikit terkejut. Dia tahu kalau bosnya ini sudah bucin sampai jadi bodoh, tapi tak dirinya sangka jika Bosnya itu akan memberitahu kelemahannya dengan mudah pada wanita itu.
"Kamu tahu tentang 'itu'?"
Zoya mengangguk. Ia meminta Alby untuk mendekatkan telinganya kembali dan ia pun mulai berbisik.
"Semalam kami ingin menonton film. Pas sekali listrik tiba-tiba mati. Jadi sebenarnya aku enggak sengaja tahu. Tapi," Wanita itu tersenyum kecil, "Bos enggak apa-apa, jangan khawatir. Dia memang terlihat sangat kesakitan saat itu, tapi sekarang dia baik-baik aja." Jelas Zoya.
Alby menghela napas lega. Sebenarnya semalam dia ingin langsung pergi begitu listrik mati tiba-tiba, namun Gallen mengiriminya pesan agar Alby tak perlu panik karena dirinya baik-baik saja.
"Syukurlah kalau begitu, saya bisa lebih tenang."
Zoya menjauhkan wajahnya lagi dari pria itu, "Iya, syukurlah. Kami jadi membicarakan banyak hal setelah itu. Oh, ya, apa Kakak tahu? Ternyata enam tahun yang lalu Bos pernah meminjamkan baju Mamanya padaku." Ujar Zoya membuat Alby menatapnya.
"Bos meminjamkan baju Mamanya?"
Zoya mengangguk.
"Padahal Bos selalu menganggap berharga semua barang milik orang tuanya. Jangankan meminjamkan, disentuh pun dia pasti akan marah." Pria itu mengingat kembali alasan mengapa Bosnya membeli rumah ini bertahun-tahun yang lalu.
Gallen memilih meninggalkan rumah besar milik Keluarga Prawijaya karena dia ingin memiliki ruangan tersendiri dimana dia dapat menyimpan semua barang-barang milik orang tuanya. Beberapa tahun setelah kematian kedua orang tua Gallen, Kakek Gallen masih membiarkan kamar milik mereka terjaga secara utuh bahkan membersihkannya secara teratur layaknya kamar itu masih memiliki penghuni. Namun kemudian, Kakek Gallen merasa bahwa sudah waktunya bagi semua orang melupakan peristiwa naas itu dan melangkah maju, sehingga dia membersihkan kamar itu dan meletakkan semua barang milik mendiang anak dan menantunya itu di gudang.
Gallen tak bisa berbuat banyak pada saat itu karena dia masih tidak memiliki suara untuk berbicara di depan para orang dewasa Keluarga Prawijaya. Saat usianya dua puluh tahun, dimana Gallen telah banyak menyimpan uang hasil tabungannya selama ini ditambah gaji karena dia sudah mulai terjun ke perusahaan, Gallen membeli rumah ini. Dengan demikian, dia bisa melakukan apa saja di rumahnya sendiri tanpa takut akan ada yang melarangnya.
__ADS_1
Lalu setelah Kakeknya meninggal, Gallen lebih memilih untuk tinggal di rumah ini ketimbang rumah besar Milik Keluarga Prawijaya. Sesekali dia akan kesana, sekalian mengecek para pekerja yang masih bekerja di sana. Namun setelah itu, dia akan kembali ke sini.
"Iya, kan. Aku juga kaget setelah mengetahui itu. Merasa bersalah juga karena sepertinya aku tidak memperlakukan baju itu dengan baik saat itu." Zoya terlihat muram setelah menceritakan itu.
Alby terkekeh mendengar cerita Zoya.
"Memangnya bajunya harus diapakan? Dielus-elus terus?"
Zoya mencebikkan bibirnya, "Enggak juga, sih. Tapi ---"
"Ekhem."
Suara dehaman dari belakang itu membuat Zoya dan Alby sama-sama menoleh. Gallen, yang sebelah tangannya menggunakan arm sling dan satu tangannya lagi memegang tas, memandang kedua orang di depannya dengan tatapan membunuh.
"Seru sekali ceritanya. Boleh gabung?" ucapnya dengan ekspresi wajah yang tak ramah sama sekali.
***
"Hah," Zoya membenturkan kepalanya ke dinding. Wanita itu mencebikkan bibirnya, entah kenapa tapi perasaannya terasa campur aduk macam ini.
"Kesal, sebal, tapi juga senang ... " Wanita itu berpikir kembali. Senang? Senang kenapa? Karena Gallen cemburu padanya saat berbicara dengan Alby?
"Keterlaluan, deh. Masa cemburu sama orangnya sendiri. Bukannya dia yang bilang tadi malam kalau Kak Alby itu adalah orang nomor satu yang dia percayai?" Gumamnya pelan. Lagi, Zoya menghela napas panjang.
Namun, tidak seperti Zoya juga. Wanita itu hanya terus membenturkan dahinya ke dinding sambil berbicara sendiri layaknya orang gila. Beberapa orang menegurnya, namun wanita itu masih tetap melakukan hal yang sama. Lagi galau, ceritanya.
"Ngapain, sih?"
Zoya melirik saat suara yang familier itu terdengar mengejeknya. Ia langsung berbalik badan, menatap Dafa yang saat ini menyilangkan tangan di dadanya sambil menahan tawa.
"Oh, Dafa." Ia menatap ujung sepatunya sendiri, "Aku hanya baru sadar kalau ternyata mengurus bayi besar itu lebih susah daripada mengurus bayi beneran."
"Hah?" Dafa tak mengerti apa yang dibicarakan wanita di hadapannya ini.
Zoya menggeleng, mengibaskan tangannya tanda tak ingin melanjutkan pembicaraan tadi, "Enggak, enggak ada apa-apa. Aku cuma asal bicara." Ia menatap Dafa lagi. Meskipun tatapannya masih terlihat lesu.
Zoya menyadari sesuatu. Pria itu, yang tampilannya rapi dengan kemeja dan celana bahan layaknya orang kantoran, terlihat tidak cocok karena ikut nongkrong di dapur seperti ini.
"Kamu ngapain ke dapur?" Tanya Zoya, penasaran.
Dafa tersenyum. Dia meletakkan kedua tangannya di saku dan lanjut berbicara, "Tadi aku keluar dari ruanganku, terus aku dengar dari beberapa karyawan katanya ada orang stress nganggur di dapur. Jadi, aku periksa." Zoya memukul pelan pria itu sambil tertawa.
"Enak aja, jadi maksudmu orang stress nya itu aku?"
__ADS_1
Dafa terkekeh sambil mengedikkan bahu, "Ya mana aku tahu. Yang kulihat ngomong sama dinding cuma kamu." Katanya. Ia tertawa setelah mendapat pukulan kedua dari Zoya. Tidak sakit, karena wanita itu pun hanya bercanda.
"Tapi serius, aku mau tanya. Kalau ada masalah, bilang. Kamu ngutang berapa banyak, sih, sampai stress begitu?" Seperti tak ada rasa kapok, Dafa justru kembali menjahili Zoya. Gayanya saja mengajak bicara serius, padahal akhirnya ia kembali menggoda Zoya.
"Sembarangan, kamu pikir aku stress karena mikirin utang?"
"Hahaha." Pria itu tertawa dengan puas. Zoya awalnya hanya melihat, namun lama-lama ia ikut tertawa pelan. Bos aneh, dan karyawan yang sama anehnya. Mereka memang cocok.
Saat sedang asik-asik bercanda, kedatangan seseorang memutus pembicaraan mereka.
"Oh, Bos." Seorang karyawan masuk.
Kedua orang itu langsung bersikap profesional, menahan tawa dan kembali bersikap sesuai status mereka.
"Ya, ada apa?" Tanya Dafa pada orang itu.
"Di depan ada orang-orang penting yang kemarin datang. Katanya sih mau makan siang biasa, tapi dia minta ketemu sama bos juga." ujarnya.
Bukan hal yang mengejutkan lagi bila restoran mereka mulai kedatangan para orang penting. Namun, mengapa orang-orang itu ingin bertemu dengan Dafa, itulah yang agak membingungkan. Dafa menatap Zoya dan mengangguk, pamit pada wanita itu karena dia akan pergi ke depan.
"Oke, kalau begitu saya akan temui mereka." Ujar Gallen. Ia menatap Zoya kembali, menemukan wanita itu mengepalkan tangan dan mengangkatnya setinggi dada.
"Semangat!" Bisik Zoya.
Dafa hampir tertawa melihat ekspresi Zoya, namun ia masih bisa menahannya. Tanpa berkata lagi, dia langsung pergi menuju depan untuk menemui orang-orang penting itu. Sementara Zoya, tak bisa melihat ke depan meskipun penasaran. Karyawan tadi yang juga merupakan pelayan membawakan daftar pesanan orang-orang penting itu, yang artinya Zoya harus bersiap untuk membantu membawakan pesanan yang telah jadi nantinya. Hah, tak apa. Ia hanya harus bersabar sebentar.
Sambil menunggu pesanan itu dibuat, Zoya menyandarkan punggungnya di dinding. Ternyata masalah kecil antara dirinya dan Gallen kini bisa mengganggu pikirannya. Mungkin Zoya tidak sadar, namun sepertinya ia mulai memikirkan pria itu terus menerus. Bagaimana jika Gallen salah paham dengan dirinya dan Alby? Atau bagaimana jika Gallen akan terus merajuk padanya seperti tadi?
Zoya terus memikirkannya meskipun ia tahu bahwa tak ada yang aneh dengan percakapannya pagi tadi bersama Alby. Kenapa otaknya semakin aneh begini setelah bertemu kembali dengan Gallen?
"Zoya!" Panggil seseorang.
Zoya menoleh. Seorang pria bertopi putih baru saja memanggil dirinya. Zoya hanya melamun sedari tadi dan tiba-tiba saja makanan yang dipesan telah selesai dibuat. Ia langsung mendekat ke arah orang yang memanggilnya, turut membantu. Hm, apa ia memang melamun selama itu?
"Oke, aku akan bawa ke depan sekarang."
Zoya langsung mengambil nampan berisi makanan dan membawanya menuju pelanggan. Dengan hati-hati, ia membawakan pesanan itu. Bahkan Zoya tak melihat wajah orang-orang yang duduk di meja itu. Ia hanya meletakkan semua pesanan, lalu menunduk setelah semua pesanannya selesai dihidangkan.
"Selamat menikmati."
Zoya baru mengangkat pandangannya setelah mengatakan itu. Ada tiga orang yang duduk di depannya. Zoya sedikit terkejut, namun untungnya masih bisa mengatur ekspresi.
Zoya ingin segera pergi dari sana, namun tiba-tiba saja wanita yang menjadi pelanggannya itu bertanya, "Siapa namamu?"
__ADS_1
***