Anak Kembar CEO Kaya

Anak Kembar CEO Kaya
26. Lamaran


__ADS_3

..."Aku bukan orang yang akan tidur secara sembarangan dengan wanita!"...


...***...


"Noah," Milo yang saat ini tengah berada di kamar kembarannya itu mencoba mengajaknya bicara, "Apa kamu yang membawa Paman ganteng itu kemari?" Tanyanya.


Bocah dengan plester penurun demam itu diam sejenak sembari menyandar, lalu menoleh saat selesai berpikir lama, "Papa kita tampan, kan?" Katanya.


"Pa---" Milo menghentikan ucapannya saat menyadari bahwa dia berbicara dengan intonasi tinggi, "Papa? Paman ganteng tadi?"


Noah menyipitkan matanya. Apa Milo tidak menyadarinya?


"Ah, pantas saja aku merasa pernah melihat paman ganteng itu di suatu tempat." Kata Milo.


"Maksudmu di cermin?"


Milo tersenyum lebar saat candaannya dipahami dengan cepat oleh sang adik. Bagaimana bisa adiknya sepintar ini?


"Hehehe." Dia jadi malu sendiri karena ketahuan mengakui bahwa dirinya tampan. Tapi, bukankah itu memang kenyataan? Semua orang di desa bilang bahwa Milo itu keren dan tampan. Jadi, tidak apa-apa, kan?


Sementara itu, Noah yang melihat Milo justru menggeleng. Abangnya yang entah mengapa menurutnya bodoh ini memang sering mengatakan sesuatu yang tidak penting seperti sekarang. Untung saja dia berguna. Jadi Noah akan memaafkan kebodohan bocah itu meskipun Milo memang sangat menyebalkan. Karena dengan kehadiran Milo, Noah bisa membuat kedua orang itu jujur.


"Kamu tidak memberitahuku masalahnya kemarin. Aku kan jadi bingung kenapa dipaksa datang ke kota." ujar Milo.


"Kalau aku memberitahumu, kamu pasti akan memberitahukannya pada Kakek. Bisa-bisa rencanaku gagal karenamu." Jawab Milo tanpa perlu pikir panjang.


Jika kakek tahu bahwa mamanya bertemu kembali dengan Papanya, Kakek pasti akan langsung datang ke kota ini. Yang membuat Noah khawatir, bukan tidak mungkin bila papanya nanti akan mendapat satu atau dua pukulan dari sang kakek, karena kakeknya itu memang sering terlihat kesal jika Milo ataupun Noah bertanya mengenai siapa ayah mereka.


"Hm, benar juga. Tapi ... " Milo melirik pada Noah yang menatapnya serius, "Bagaimana dengan Paman Dafa? Bukankah dia menyukai Mama?"

__ADS_1


Noah terdiam mendengar itu. Tentu saja dia tahu bahwa pria yang mengakui dirinya sebagai sahabat mamanya itu sebenarnya menyukai mamanya, namun Noah merasa dia akan lebih mendukung Gallen dibandingkan Dafa.


"Aku lebih menyukai Papa." Ujarnya.


Milo mengangguk-angguk mendengar itu. Yah, perasaan suka dan tidak suka itu kan tidak bisa dipaksakan. Milo mengerti mengapa Noah mengatakan itu. Jika adiknya lebih menyukai paman ganteng tadi, Milo pun tak bisa melakukan apapun.


"Hmm, aku sih terserah Mama saja." Bocah berkulit eksotis yang sama dengan Gallen itu menyengir lebar, "Kalau Mama bahagia, aku juga pasti ikut bahagia." Katanya.


Noah menatap tak percaya pada Abangnya. Bukankah Milo itu bodoh? Tumben sekali dia bisa berpikir bijaksana seperti sekarang.


"Aneh, apa kamu baru saja menabrak dinding? tidak biasanya kamu berpikir seperti itu."


Milo terkekeh mendengar kata-kata adiknya. Dia lalu mengacak rambut Noah, membuat sang adik yang galak berteriak kesal.


"Tentu saja, aku kan Abang disini. Jadi aku pastinya lebih pintar dibandingkan dirimu!" Katanya yang diakhiri dengan kikikan.


***


Ia menggigit bibirnya untuk menahan suara. Zoya bahkan tak pernah berpikir bahwa pria itu akan melihatnya sebagai wanita. Bukankah ia hanya seorang pembantu di istana milik pria itu? Bagaimana mungkin seseorang yang sehebat itu akan menawarkan tahta padanya yang hanya wanita miskin? Apa mungkin ... karena anak-anaknya?


"Bos," Panggil Zoya. Ia masih menatap dengan berani pada Bosnya, "Apa karena anak? Apa karena bos merasa bertanggung jawab atas apa yang terjadi padaku, makanya bos menawarkan ini?" Tanya Zoya.


Gallen yang mendengar itu berusaha menyangkal, namun Zoya lebih dulu memotong pembicaraannya, "Kalau memang seperti itu, enggak usah, bos. Aku tahu membesarkan dua orang anak itu memang berat, tapi aku masih bisa memberikan yang terbaik untuk anak-anakku. Bos jalani saja kehidupan bos, aku pun akan menjalani kehidupanku sendiri. Jangan merasa bersalah karena aku enggak pernah menyalahkan bos. Bukankah semuanya selesai?" Ujarnya.


Sekali lagi, Zoya tak ingin melibatkan Gallen dalam masalah yang dibuatnya. Bukankah Zoya yang menggoda pria itu duluan? Dengan alasan itu, sudah tepat bagi Zoya untuk menanggung semua akibatnya, Gallen tak perlu merasa bersalah.


Mata mereka saling memandang. Jujur saja, Gallen benar-benar tidak suka mendengar setiap kata yang keluar dari bibir wanita itu. Bagaimana mungkin Zoya memandang dirinya hanya menawarkan pernikahan karena merasa bersalah? Apa seburuk itu dirinya di mata Zoya, sampai-sampai Zoya tak bisa melihat bahwa dirinya tulus pada wanita itu?


"Si bodoh ini ... " Gallen berbicara demikian, namun suaranya terdengar rendah, "Apakah aku selalu seburuk itu di matamu? Kau selalu saja menilaiku dengan cara seperti itu."

__ADS_1


Zoya tak menjawab sepatah katapun.


"Malam itu, hanya kau yang mabuk. Sedangkan aku tidak." Katanya. Gallen menutup kedua matanya, kembali mengingat apa yang terjadi saat itu.


Zoya mengeratkan pegangannya. Apa Gallen ingin mengingatkan Zoya mengenai masa lalu? Jika iya, Zoya pun tidak keberatan untuk mengingatkan Gallen tentang apa yang terjadi.


"Ya, aku tahu. Karena itu aku menggoda Bos. Maaf. Seharusnya aku enggak menghancurkan hidup bos seperti itu." Katanya.


Gallen langsung menatap Zoya saat mendengar itu. Apalagi ini? Bahkan meskipun dia mencoba mengatakan dengan baik, Zoya masih saja mengatakan hal itu untuk mendorongnya.


"Aku bukan orang yang akan tidur secara sembarangan dengan wanita!" Zoya agak tersentak saat tiba-tiba Gallen berbicara dengan cukup kencang. Mata wanita itu menatap ke Gallen, namun tubuhnya sedikit bergetar.


Gallen menyadari bahwa dirinya telah menakuti wanita itu, sehingga dia melepaskan tangannya yang memegang kursi. Zoya kembali menapakkan kakinya pada lantai. Tatapan mata wanita itu kini terarah ke lantai. Gallen berlutut, memegang tangan Zoya dan memintanya untuk melihat ke arahnya.


"Maafkan aku, karena membuatmu takut." Zoya tak percaya akan mendengar kata-kata ini dari mulut Gallen. Kemana perginya sosok bos yang kekanak-kanakan dulu? Mengapa Gallen tiba-tiba bertindak seperti ini?


Gallen menarik tangan Zoya, meletakkan tangan itu di dada kiri miliknya yang berdebar kencang. Mata wanita itu membulat dengan sempurna. Apa ini benar-benar Gallen? Bagaimana mungkin dadanya bisa berdebar sekencang ini?


Gallen tersenyum samar, namun tatapannya sedikit sedih. Pria itu kembali bersuara meski pikiran Zoya mungkin sedang sepenuhnya tertuju pada jantungnya yang berdebar.


"Zoya ... " Entah mengapa suara Gallen justru terdengar seperti sedang memohon, "Menikahlah denganku, oke? Aku pasti akan membuatmu dan anak-anak kita bahagia."


Zoya menatap Gallen lamat-lamat. Gallen melamarnya? Lagi?


"Bos enggak boleh mengorbankan perasaan bos sendiri. Jangan membuat hidup bos berantakan hanya karena aku." Kata Zoya. Gallen menggeleng kuat-kuat mendengar itu. Pria berkulit eksotis dengan setelan jas itu lalu menatap Zoya kembali, kali ini tatapannya terlihat yakin.


"Aku jatuh cinta padamu sejak lama, dasar bodoh! Bagaimana mungkin kamu masih belum menyadarinya juga setelah semua lamaranku ini?" Kesalnya. Zoya terkejut mendengar itu.


Gallen sedang melamarnya, bukan? Apa ada orang yang melamar wanita yang disukainya dengan cara seperti ini?

__ADS_1


***


__ADS_2