Anak Kembar CEO Kaya

Anak Kembar CEO Kaya
40. Konsultasi bersama Alby


__ADS_3

..."Jika saat dekat denganku pun sulit baginya untuk menerimaku, lalu bagaimana jika Zoya benar-benar pergi? Bisa saja dia benar-benar jatuh cinta pada bosnya itu, kan?"...


...***...


"Bos, Anda tahu kalau saya sangat parah untuk masalah percintaan, kan?"


Gallen mengangguk.


"Aku tahu, tapi terkadang pemikiranmu bagus juga."


Alby meraup wajahnya dengan tangan.


Dia tak tahu apa yang ada dipikiran bosnya ini sekarang, sampai-sampai memintanya untuk menjadi konsultan cinta. Dia mungkin tak akan merasa heran jika bosnya ini bertanya masalah lainnya, misalnya mengenai urusan perusahaan. Karena itu memang tugas dan keahlian Alby. Namun kali ini Gallen justru bertanya masalah percintaannya, yang notabene nya tidak sesuai dengan keahlian Alby.


Alby menggaruk-garuk tengkuknya yang sebenarnya tak gatal. Bingung.


Masalahnya mereka berdua ini sama, sama-sama tak paham masalah percintaan sampai akhirnya masih terus menjomblo diusia sekarang. Orang-orang sering berpikir bahwa mereka pasti mudah mendapatkan kekasih, bahkan sering bergonta-ganti pasangan hanya karena melihat rupa dan keadaan finansial mereka yang bagus. Alby juga berharap hal yang sama, namun sampai saat ini dia terpaksa harus terus mendengar ocehan Ibunya yang memintanya cepat menikah karena sampai saat ini pun, Alby tak pernah dekat dengan wanita manapun. Kemampuan percintaannya nol besar!


"Saya hanya akan berbicara menurut saya ya, Bos. Jangan salahkan saya jika salah bicara." Alby mengamankan posisinya dulu. Jangan sampai bosnya ini menghajarnya atau memberinya hukuman karena tak suka dengan jawabannya.


Gallen menyeruput minumannya lagi. Sebelum asistennya itu bicara, seorang pelayan cafe datang dan memberikan pesanan Alby sebelumnya. Mereka berdua memilih diam sampai pelayan itu akhirnya pergi.


"Oke, lanjutkan lah." Gallen mempersilakan Alby bicara setelah pelayan tadi pergi.


"Saya hanya berbicara berdasarkan norma dan adat yang ada di negara kita. Di Eropa tinggal bersama lawan jenis yang tidak terikat dengan hubungan pernikahan mungkin bukan hal yang aneh, tapi di negara kita hal itu sangat tabu. Salah-salah, Zoya akan dianggap sebagai wanita tidak baik karena setuju untuk tinggal dengan pria yang bukan suaminya." Ujarnya panjang lebar, yang kemudian dihadiahi tatapan tajam dari Gallen.


Sebenarnya, Gallen hanya menyipitkan mata mendengar kata-kata yang Alby ucapkan. Namun Alby yang merasa deg-degan sejak awal tentu semakin khawatir dengan tatapan yang dilemparkan oleh bosnya itu.


Saking gugupnya, Alby bahkan sampai harus menelan ludahnya dengan susah payah karena tenggorokannya terasa tercekat.


"Itukan menurut saya, bos. Saya juga sudah bilang kalau bos tidak boleh menyalahkan saya jika pendapat saya tidak bisa memuaskan bos." Lanjut Alby untuk menghentikan Gallen menatap tajam dirinya lagi.

__ADS_1


Gallen mendengkus. Pria itu menundukkan tubuhnya dengan kedua tangan saling bertaut dan bertumpu pada paha, "Jujur saja, aku juga sudah memikirkan itu. Tapi aku masih belum bisa rela melepaskan mereka pergi."


Alby akhirnya bisa bernapas lega. Setidaknya, pemikiran mereka sama jadi Gallen tak akan memberinya pukulan ataupun hukuman setelah mendengar jawabannya tadi.


"Lalu, apa yang bos pikirkan?"


Gallen memejamkan mata, "Jika saat dekat denganku pun sulit baginya untuk menerimaku," Pria itu membuka matanya kembali, "Lalu bagaimana jika Zoya benar-benar pergi? Bisa saja dia benar-benar jatuh cinta pada bosnya itu, kan?"


Alby menelengkan kepalanya.


"Bosnya?"


Gallen pun mengangguk, "Kau ingat bocah sialan bernama Dafa yang disebutkan tetangga Zoya saat itu? Dia bosnya." Ujar Gallen.


Alby merasa takjub. Meskipun polos begitu, ternyata Zoya hebat juga. Dia bahkan berbakat dalam menggaet para bos muda seperti Gallen maupun pria bernama Dafa itu.


"Tapi kontrakannya sudah bos beli, dan Zoya pun sudah tinggal selama beberapa hari di rumah bos. Apa dia sudah menemukan kontrakan baru?"


Gallen pun tersenyum kaku mendengar itu.


"Bukan kontrakannya yang seukuran kamar mandi, tapi kamar mandi bos yang seukuran rumah." Ralatnya. Rumah Gallen sangat besar, tak heran karena pria itu memang sangat kaya. Apalagi rumah utama keluarga Prawijaya. Dilihat berapa kali pun masih saja membuat Alby takjub.


Gallen menatap Alby dengan bingung karena kata-katanya tadi, "Memangnya rumahmu pun sebesar itu?"


Alby terkekeh. Sebenarnya sejak bekerja bersama Gallen, kehidupannya memang telah banyak berubah. Karena bekerja di perusahaan besar nan sukses seperti milik Gallen ini memang memberikan penghasilan yang tak main-main. Belum lagi kalau ada bonus yang diberikan. Namun bahkan jika rumahnya yang sekarang dibandingkan dengan rumah Gallen pun, tentu saja itu tak sebanding. Rumah Gallen jauh lebih besar dan mewah dibandingkan rumah Alby. Yah, meski tak seukuran kamar mandi juga, sih.


"Dulu iya, tapi sekarang sudah tidak lagi. Bekerja bersama bos membuat saya bisa membuatkan rumah yang layak untuk orang tua saya di kampung. Hormat kepada Bos!" Alby berlagak seperti memberi hormat dengan membungkukkan tubuhnya.


Gallen tersenyum kecil melihat tingkah absurd asistennya, "Bukan masalah besar, lagipun kau memang pantas mendapatkannya."


Sejak saat Gallen berkecimpung di dunia bisnis, kakeknya selalu mengingatkan dirinya untuk mencari seorang asisten yang tak hanya melihatnya sebagai seorang bos, namun juga teman. Karena seorang bawahan hanya akan takluk pada uang, namun teman akan setia bersamanya. Itupun jika Gallen beruntung menemukan teman yang setia, sebab teman pun bisa menusuknya dari belakang.

__ADS_1


Gallen sedikit mengingat masa lalu.


Kakek Gallen memang telah berhenti bekerja di kantor sejak beberapa tahun sebelum kematiannya karena sakit lama yang dideritanya, namun dia masih sering mengawasi pekerjaan Gallen. Saat itu, ada banyak pelamar yang menawarkan dirinya untuk bekerja sebagai asisten bagi Gallen. Namun saat surat lamaran kerja dari Alby terlihat oleh kakeknya, Kakek Gallen bilang bahwa wajah Alby terlihat tulus. Dia juga sepertinya adalah orang yang baik. Karena itu Kakek Gallen menyarankan pria itu untuk menjadi asistennya, meskipun sebenarnya kualifikasi Alby tak sebagus pelamar lainnya.


Dan sekarang, Gallen merasa sangat bersyukur dan berterima kasih karena Kakeknya telah memberikannya pilihan yang terbaik. Mungkin itu adalah berkah, karena dirinya telah menjadi cucu yang sangat penurut. Haha.


Lagipula setelah orang tuanya meninggal dunia, Kakeknya lah yang lebih banyak mengurusnya. Meski Tante Pamela juga sangat baik, namun dia tinggal jauh bersama suami dan anaknya. Jarang bagi Gallen untuk bisa menemui Tantenya itu. Sedangkan Paman Basman yang sifatnya sebelas dua belas dengan Gallen, agak kurang cocok jika harus disatukan dengannya karena mereka sama-sama keras kepala. Mereka hanya akan berkelahi jika bersama.


Alby yang telah bersamanya untuk waktu yang lama telah menjadi keluarga bagi Gallen. Dan Gallen tahu, bahwa penilaian kakeknya saat itu tidak salah. Alby memang sangat bisa diandalkan, cekatan, dan juga cermat dalam bekerja. Hanya satu tugas yang tak bisa diselesaikan dengan baik oleh pria itu, yaitu mencari keberadaan Zoya yang menghilang hampir selama enam tahun.


Agak menyebalkan, namun Gallen merasa sayang untuk melepaskan Alby jika mengingat cara kerjanya yang bagus.


"Hah." Pria itu menghela napas lagi. Saat ini Zoya pasti sedang pergi bekerja, sedangkan Noah sedang berada di sekolahnya. Setelah mereka semua pulang, Wanita itu pasti akan membahas masalah pindahan lagi. Gallen tak ingin membahasnya, dia tak ingin mendengar hal itu lagi. Namun dengan sifat Zoya yang seperti itu, sepertinya itu akan sangat sulit untuk dilakukan.


Gallen menatap Alby yang tengah menyeruput minumannya. Sepertinya dia sangat menikmati minuman itu.


"Habiskan minumanmu, kita akan kembali ke kantor setelah ini." Ujar Gallen.


Alby yang mendengar itu segera mempercepat minumnya. Dia tentu tak ingin membuat jadwal Bos nya terganggu, sedang Gallen yang melihat itu justru menahan bibirnya untuk tersenyum. Takut saja jika Alby akan tersedak andai dirinya menertawakan tingkah pria itu yang lucu. Alby sangat tergesa-gesa, dia terlalu memaksakan dirinya untuk segera menghabiskan minuman itu. Setelah selesai dengan minumannya dan merapikan diri, Gallen langsung mengajak Alby untuk keluar. Pria itu langsung mengikuti langkahnya dari belakang.


Di dalam kepala, Gallen masih terus memikirkan cara apa yang dapat dirinya gunakan untuk menahan Zoya agar tetap tinggal. Dia masih tidak rela jika harus membiarkan wanita itu pergi, apalagi jika memikirkan kemungkinan Dafa akan datang menemui Zoya saat wanita itu jauh dari pengawasannya. Gallen terlihat sangat kusut. Pria itu lantas menatap ke depan, dimana tampaknya seorang anak kecil hendak menyebrang tanpa pengawasan.


Tiiinnn


Sebuah mobil box melaju dengan kecepatan tinggi, tak juga berhenti meski anak itu telah berjalan setengah jalan. Gallen yang melihat itu sontak berlari. Sebagai seorang pria yang telah memiliki anak, dia tidak bisa membiarkan saja anak itu terluka tanpa menolongnya. Mungkin, itu nalurinya sebagai seorang ayah untuk melindungi anaknya. Bahkan meskipun tahu bahwa itu bukan Milo atau pun Noah, tanpa pikir panjang Gallen langsung menarik anak kecil itu sebelum mobil box yang ugal-ugalan itu menabraknya. Mereka berdua terguling ke samping, membuat semua orang yang melihatnya berteriak histeris.


Bruk


Alby terkejut melihat pergerakan bosnya yang tiba-tiba juga kejadian yang baru saja terjadi di depannya. Pria itu berlari, memeriksa bosnya yang masih terbaring di pinggir jalan.


"Bos!"

__ADS_1


***


__ADS_2