
..."Aku minta maaf, oke? Aku benar-benar buntu untuk mendapatkan perhatianmu sampai-sampai melakukan ini. Tolong maafkan aku, Zoya ... "...
...***...
Ini sudah keterlaluan. Zoya tak butuh penjelasan lagi. Tanpa bertanya pun, ia akhirnya sadar bahwa selama ini Gallen hanya mempermainkannya saja. Maka tanpa berkata sepatah katapun, ia segera berbalik dan pergi darisana.Tak ingin rasanya Zoya melihat wajah Gallen untuk sementara.
"Zoya!"
Gallen menarik tangan wanita itu, namun Zoya langsung menepisnya dengan kasar.
"Sepertinya tangan Bos sudah sangat sembuh, jadi kami tidak punya alasan lagi untuk tinggal disini. Sesegera mungkin kami akan pergi." Katanya.
Zoya kembali berbalik, namun Gallen langsung memojokkannya hingga bersandar pada dinding. Salah satu tangannya yang besar menyentuh dinding, membatasi pergerakan Zoya agar tidak pergi.
"Ini yang selalu kutakutkan." Bisiknya pelan.
Gallen menundukkan kepalanya, membuat wajah mereka saling berhadapan.
"Aku selalu takut bahwa kamu akan pergi, maka dari itu aku menggunakan sakitku untuk membuatmu tetap disini." ujar Gallen.
Zoya masih memandang kesal pria itu, tak begitu percaya dengan ceritanya. Satu-satunya yang Zoya Zoya tahu adalah pria itu baru saja menipunya. Sebenarnya beberapa kali Zoya sadar bahwa Gallen hanya membodoh-bodohinya saja, seperti saat pria itu membeli rumah kontrakannya. Namun kali ini, rasanya Gallen sangat kelewatan. Zoya secara tulus benar-benar mengkhawatirkan kondisi Gallen.
Namun ternyata, itu semua hanyalah tipuan saja?
"Hah."
Sembari menutup mata, Zoya menghela napas panjang. Ia sadar bahwa dirinya memanglah sangat bodoh. Sampai-sampai, mudah sekali untuk membodohinya. Teman-temannya pun mengatakan hal yang sama. Namun kali ini, Zoya benar-benar kesal dengan tingkah Gallen. Bukankah Gallen menyia-nyiakan ketulusannya? Dan bukankah dia sangat jahat karena berbohong tentang kondisinya pada Zoya?
"Enggak tahu, ah. Bos nyebelin." Omelnya.
Zoya berusaha melepaskan diri dari kungkungan pria itu, Namun Gallen kembali meletakkan tangan satunya lagi untuk mengunci pergerakan Zoya. Sekarang, wanita itu sungguh-sungguh tak bisa pergi kemana pun.
"Aku minta maaf, oke? Aku benar-benar buntu untuk mendapatkan perhatianmu sampai-sampai melakukan ini. Tolong maafkan aku, Zoya ... " Gallen memohon.
Zoya menatap kedua mata itu. Mata yang sama seperti milik kedua putranya. Mata berwarna cokelat yang sangat indah. Melihat itu, hampir-hampir saja Zoya melemah karena tak tega melihat mata indah itu berkaca-kaca.
"Aku mau pergi."
Zoya mendorong dada pria itu dengan keras. Gallen sedikit terhuyung, membuat Zoya akhirnya bisa melepaskan diri. Namun, belum lagi Zoya beranjak dari tempat itu, Gallen telah lagi-lagi menangkapnya.
Kali ini, dia memeluk Zoya dari belakang.
"Tidak, aku mohon jangan pergi. Kita bicarakan ini baik-baik, ya? Jangan terbawa emosi dulu."
Zoya terdiam dalam pelukan Gallen. Lebih tepatnya, terdiam. Dia belum pernah dipeluk seperti ini oleh pria manapun, bahkan Bapaknya pun sangat jarang memeluk dirinya. Jadi wajar jika Zoya terbatu dengan perlakuan Gallen, kan?
"Bos, aku enggak tahu apa yang Bos pikirkan sekarang, tapi ..."
Zoya terpejam saat merasakan deru napas Gallen di tengkuk lehernya. Sialan!
"Kamu wangi." Ujar Gallen tiba-tiba, tak sesuai dengan arah pembicaraan.
"Tentu saja, aku kan sudah mandi jadi --- "
Zoya memelototkan matanya saat merasakan sesuatu yang aneh telah dilakukan Gallen pada dirinya.
"Aaaaaa!"
Buagh
__ADS_1
"Akh!"
Zoya akhirnya menyikut Gallen dengan kuat. Gallen mundur beberapa langkah, terbungkuk sembari memegangi perutnya yang sakit. Tak dirinya sangka bahwa wanita itu ternyata memiliki kekuatan yang lumayan juga.
"Bos, bos gila ya?!"
Zoya menyentuh tengkuknya. Baru saja, Gallen, yang sekarang ingin sekali Zoya panggil dengan kata-kata makian, dia mencium tengkuk leher wanita itu dengan nafsu!
Dan sialnya pria itu sekarang menatap Zoya dengan sama-sama terkejut, seolah tak sadar dengan apa yang dirinya lakukan barusan.
"Aku bersumpah aku tak berniat melakukan itu!" Gallen mengangkat tangannya ke atas. Zoya memang wangi, itu adalah kenyataan. Namun dia sama sekali tak mengerti mengapa pada akhirnya dia menyerang wanita itu.
Namun mendengar apa yang dikatakan Gallen tadi, tidak sama sekali membuat perasaan Zoya menjadi lebih baik. Ia menatap Gallen dengan tatapan mematikan, lalu mengambil sebuah wajan yang digantung di dekatnya, dan memukuli Gallen habis-habisan.
"Akh! Zoya! Kenapa malah memukuli aku?!"
Zoya tak menghentikan itu. Ia masih memukuli Gallen, bahkan meskipun pria itu berlari menjauhinya.
"Dasar laki-laki buaya, udah nyium orang sembarangan terus bilang gak ada niat?! Emang minta dihajar, ya!" Zoya masih terus mengejar Gallen.
Sibuk dengan urusannya sendiri, Zoya akhirnya lupa bahwa sebelumnya ia sedang menggoreng sesuatu di dapur.
"Bau gosong." Zoya berhenti mengejar Gallen saat menyadari itu. Ia menengok ke belakang, melihat asap mengepul yang berasal dari masakannya.
"Astaga gorenganku!"
Zoya langsung berlari menuju kompor. Ia mematikan kompor, lalu mengangkat gorengannya yang kini berubah warna menjadi hitam. Sangat menyedihkan.
"Hahahaha."
Gallen yang melihat penampakan gorengan buatan Zoya beserta ekspresi wajahnya dari jauh tertawa dengan keras. Tampaknya, pukulan yang dilakukan Zoya tadi sama sekali tak memberikan rasa padanya. Buktinya dia masih tertawa-tawa seperti itu, seolah minta dipukuli lagi oleh Zoya.
Zoya melirik Gallen dengan tajam.
"Ini salah Bos juga!"
Gallen hanya menganggukkan kepala sambil tertawa. Yah, terserah saja Zoya mau menyalahkannya seperti apa. Karena yang terpenting adalah wanita itu tak lagi marah kepadanya. Itu saja sudah cukup.
Zoya langsung membuang gorengannya yang gosong tadi. Untungnya gorengan sebelumnya dimasak dengan baik, jadi mereka masih bisa menikmati camilan sambil menonton TV.
"Eum, Mama dan Paman kenapa lama sekali di dapur?" Noah bertanya saat kedua orang itu kembali.
Zoya meletakkan gorengannya di atas meja.
"Mama lama karena harus memukul serangga dulu."
"Pffft."
Zoya menatap tajam lagi pada Gallen yang terkekeh mendengar ucapannya.
"Ya, Mamamu benar." Gallen terpaksa mengiyakan. Meski dia tahu bahwa serangga yang dimaksud adalah dirinya, namun itu lebih baik daripada dia mengelak lalu Zoya kembali marah kepadanya.
"Oh, Paman." Mata cokelat yang berbinar itu terarah pada tahun Gallen yang seharusnya terpasang arm sling, "Tangan paman sudah sembuh?"
"Ini?" Gallen mengangkat tangannya, "Ya, Mamamu yang sudah menye---akh!"
Gallen terjongkok di bawah menahan sakit. Astaga, apa jangan-jangan wanita ini belajar beladiri? Hampir saja Gallen mengira bahwa tangannya benar-benar patah karena Zoya memelintirnya lumayan kuat.
"Hm, Paman cukup kuat. Dia baik-baik saja sekarang."
__ADS_1
Zoya langsung mendudukkan pantatnya di atas sofa. Noah bertepuk tangan mendengar itu. Tanpa berkata apapun, dengan matanya Zoya meminta Gallen duduk.
Sekarang Gallen baru sadar, bahwa Zoya sebenarnya galak juga.
Dia langsung mengikuti apa yang diperintahkan oleh Zoya. Noah duduk di tengah-tengah, sementara Gallen ada di sisi kanannya dan Zoya ada di sisi kiri Noah. Mereka menonton TV bersama, namun fokus Gallen sebenarnya lebih kepada wanita itu. Ia mengakui bahwa dirinya telah melakukan hal yang tidak pantas pada Zoya, karena Gallen menciumnya tanpa izin. Tapi, tapi ...
"Aku ingin lagi."
Noah dan Zoya menatapnya bersamaan. Gallen yang tengah memegang bibirnya langsung terkejut.
"Paman ingin minum?"
Wajah Zoya berubah menjadi merah. Tentu saja, ia pasti mengerti dengan maksud kata-kata Gallen. Dan karena lagi-lagi dia melakukan kesalahan ...
Hah, siap-siap saja karena Zoya pasti akan memukulinya lagi dengan wajan.
***
"Bulan ini kita pasti dapat bonus, kan?" Salah satu rekan kerja Zoya bertanya dengan semangat.
"Aku rasa iya, restoran ini kan makin terkenal sekarang. Bahkan orang-orang penting juga sering datang." Rekannya yang lain menimpali.
"Bener tuh, kita pasti bakal dapat bonus. Iya kan, Zoya?"
Zoya terkejut saat semua tatapan terarah padanya.
"E-Eh, kenapa jadi natap aku?" Zoya melihat teman-temannya tersenyum. Salah seorang rekan kerjanya menyenggol bahu Zoya dengan bercanda.
"Kamu kan temennya Bos, bahkan kalian dekat juga. Mungkin Bos ada cerita sesuatu sama kamu." Katanya.
Zoya hanya tersenyum kecil. Meskipun Dafa bilang bahwa dia memang akan memberikan bonus kepada karyawannya, namun Zoya tidak punya kewenangan untuk mengatakan hal itu sebelum semuanya pasti.
"Tungguin aja, kalau ada pasti dikasih, kok." Jawab Zoya.
Semua rekannya mengeluh. Mereka sangat berharap Zoya bisa memberikan jawaban, namun pada akhirnya wanita itu hanya memberikan jawaban yang tak pasti. Wanita itu tertawa melihat reaksi rekan kerjanya.
Seperti biasa, sebelum ada pelanggan yang datang ke restoran, Zoya dan para karyawan yang bertugas melayani pelanggan akan bermalas-malasan setelah membersihkan kursi dan meja. Biasanya mereka akan berkumpul di satu tempat, atau menyendiri di tempat yang mereka mau jika mereka sedang tidak ingin bergabung.
Dan tak seperti kemarin, hari ini Zoya bergabung bersama mereka.
Ia melihat jam yang terpasang di dinding. Sebentar lagi, jam makan siang akan tiba. Zoya dan para rekan kerjanya harus segera bersiap, karena restoran pastinya akan kedatangan pelanggan. Ia mengambil tali rambutnya dari saku baju.
Zoya selalu mengikat rambutnya menjadi kuncir kuda saat bekerja. Namun tadi, kecuali saat membersihkan dan membereskan restoran, sejak datang ke restoran dan bersantai bersama rekan-rekannya Zoya hanya menggerai rambutnya saja. Makanya karena sekarang ia harus bekerja lagi, Zoya pun langsung mengambil ikat rambutnya.
Ia mengumpulkan rambutnya menjadi satu, berniat menguncinya.
"Zoya!"
Zoya terkejut saat salah satu rekannya yang duduk tepat disamping dirinya memanggil namanya dengan sedikit berteriak. Rekan kerjanya itu langsung menutup mulut, sadar bahwa dirinya telah berbicara dengan kelewatan.
"Maaf, maaf." Ujarnya dengan pelan. Rekan kerjanya yang lain telah bangkit dari duduk mereka, memilih masuk ke dalam restoran lebih dulu.
"Ada apa, Sar? Zoya bertanya pada Sari, rekan kerjanya yang paling dekat dengan dirinya.
Sari kemudian mendekatkan mulutnya pada telinga Zoya, berbisik.
"Kamu punya pacar, ya?" Tanya Sari yang membuat Zoya bingung sendiri.
"Hah?"
__ADS_1
***