
..."Karena terlalu tiba-tiba ... makanya aku enggak tahu harus bersikap bagaimana."...
...***...
Setelah selesai sarapan, seperti rencana mereka bertiga akan pergi ke rumah kontrakan lama Zoya untuk mengambil barang-barang. Zoya mengenakan pakaian santai, Begitupun Gallen dan Noah yang akan membantu pindahan nanti. Sekarang, ketiganya telah selesai bersiap-siap dan mereka langsung pergi keluar untuk menuju mobil.
"Noah masuk dulu." Perintah Zoya setelah membukakan pintu untuk putranya.
Putranya itu menurut. Setelah Noah masuk dan duduk, Zoya juga berencana untuk mengikuti Noah dan duduk di sampingnya. Namun, rencananya harus gagal karena sebuah dehaman yang membuatnya seketika menoleh.
"Ekhem."
Zoya menatap Gallen. Pria itu telah membukakan pintu di samping kemudi, lalu memberikan kode pada Zoya untuk masuk. Zoya agak ragu untuk menuruti itu, namun pada akhirnya ia menutup pintu tengah dan masuk ke tempat yang ditunjukkan oleh Gallen.
"Padahal aku bisa duduk bersama dengan Noah di belakang." Kesal Zoya dengan suara pelan, namun tentunya masih dapat terdengar oleh Gallen.
"Lalu aku harus duduk di depan sendiri? Sayang sekali, aku juga tidak menginginkan itu." Jawabnya.
Zoya menyipitkan matanya. Bukankah Gallen pun sudah biasa pergi kesana kemari sendirian? Lalu mengapa dia harus mempermasalahkan hal kecil semacam ini?
"Seperti anak kecil aja." Ejek Zoya, "Tapi, yah, terserah bos sajalah." Zoya terlalu lelah untuk bertengkar dengan pria itu. Lagipula ia sudah cukup paham dengan sifat bosnya yang memang labil dan suka berubah-ubah ini.
Zoya lalu menyandarkan punggungnya pada kursi, membuang wajahnya ke luar jendela. Rumah kontrakannya agak jauh dari rumah Gallen, jadi butuh waktu sekitar setengah jam untuk sampai disana. Itupun, kalau mereka tidak terkena macet.
"Oh, ya." Zoya menoleh pada Gallen yang masih sibuk menyetir karena teringat sesuatu, "Semalam sebenarnya aku udah tanya-tanya tentang kontrakan yang kosong ke temen kerjaku, mungkin kita --- " Zoya berhenti bicara karena Gallen yang mengerem mendadak.
"Astaga, Bos. Bos enggak apa-apa?" Tanya Zoya khawatir. Pasalnya, pria itu tampaknya sangat syok akan sesuatu.
Gallen terus menatap stir mobilnya untuk beberapa saat, seperti berusaha menerima dan mencerna sesuatu di kepalanya.
"Kau benar-benar ingin langsung pindah?" Tanyanya.
Zoya mengerutkan dahi. Ia sudah menjelaskan hal ini berkali-kali sebelumnya. Namun mendengar Gallen bertanya seperti ini, tampaknya pria itu tak pernah menganggap serius kata-katanya. Saat Gallen menatapnya meminta jawaban, wanita itu pun mengangguk mantap, "Ya, enggak mungkin kami menumpang di rumah bos terus, kan." Katanya.
__ADS_1
"Tapi aku tidak merasa keberatan meskipun kalian benar tinggal di rumahku terus." Jawabnya dengan tak kalah serius.
Zoya menatap wajah Gallen, tak menemukan ekspresi bercanda di wajahnya. Aneh, entah mengapa ada perasaan senang bercampur sedih saat mendengar itu. Apa jangan-jangan Zoya sudah mulai menaruh simpati pada pria itu? Astaga, tiba-tiba saja perasaanya menjadi tak karuan.
"Hah, Bos." Zoya menatap ke depan. Gallen terus mengatakan bahwa dirinya bisa membaca pikiran dan hati Zoya dari ekspresi wajahnya, jadi tentu saja Zoya tak boleh menunjukkan wajahnya pada Gallen
"Tamu menginap satu kali dua puluh empat jam aja wajib lapor ke pak RT, lalu kalau tinggal dalam waktu yang lama lapor ke mana?" Tanyanya. Apalagi, mereka tak punya hubungan apa-apa. Zoya pun tak bekerja dengan Gallen.
Gallen tampak tenang-tenang saja. Ia tak terlihat terganggu dengan pertanyaan Zoya. Pria itu malah menyilangkan tangan di depan dada, menatap Zoya dengan percaya diri.
"Apa susahnya? Palingan juga ke KUA." Jawab Gallen yang kemudian mendapat tatapan tajam dari Zoya.
"Enggak lucu, ah." Zoya memberengut dengan kesal, "Masa harus ke KUA." Tambahnya.
Gallen memejamkan mata sembari menarik napas panjang lalu menghembuskannya dengan kasar. Ditatapnya lagi wanita yang duduk di sampingnya itu, "Tidak, sebenarnya aku penasaran. Apa yang membuatmu begitu berat untuk menerimaku? Apa aku terlalu jelek di matamu?" Tanya Gallen kemudian. Pertanyaan yang sangat wajar ditanyakan karena Zoya terus saja menolaknya.
Zoya menatap pria itu dari atas sampai bawah. Rambut dan mata yang berwarna kecoklatan, kulit eksotis yang membuatnya terlihat seksi, hidung mancung ala-ala bule yang biasanya hanya dilihatnya dari TV, lalu tubuh atletis yang bahkan terlihat jelas dari kaus berlengan yang dipakainya. Bagaimana mungkin yang seperti itu dibilang jelek? Zoya pasti katarak kalau sampai menjadikan itu sebagai alasan.
"Enggak, sih. Bos enggak jelek." Jawabnya. Zoya yakin wajahnya akan menjadi merah semerah kepiting rebus kalau sampai harus menyebutkan kesempurnaan pria itu. Sialan.
Zoya ternganga. Untuk dirinya yang tak lebih dari remahan rengginang bagi pria itu, bagaimana bisa dirinya mengatakan bahwa Gallen kurang kaya? Lihat pakaiannya, bermerk! Lihat pula seberapa mewah rumahnya, padahal katanya itu bukan rumah utama keluarga Prawijaya. Dan jangan lupa kemewahan mobil yang saat ini dirinya duduki. Astaga, Zoya merasa insecure jika harus menyebutkan semua kekayaan yang pria itu miliki.
"Enggak. Bos sangat kaya." Katanya.
"Lalu apa? Apa yang membuatmu berat untuk mengatakan iya?"
Zoya tersenyum canggung. Sebenarnya jika orang desanya tahu bahwa Zoya menolak pria sehebat, sekaya, dan seganteng Gallen, ia pasti akan menjadi bulan-bulanan masyarakat. Dianggap tidak tahu diri, mungkin. Karena secara penampilan, meski mungkin dirinya termasuk cantik, kecantikannya itu tak sebanding dengan kecantikan para gadis yang ada di kota. Itu baru gadis kota biasa. Apalagi untuk pria sekelas Gallen begini, wanita cantik nan seksi sekelas model dan artis bukan tak mungkin akan dengan rela bergelayut di lengannya demi mendapat perhatian pria itu. Lalu Zoya yang secara hoki didekati oleh Gallen malah menolak? Kurang ajar. Sangat-sangat tidak tahu diuntung!
"Mungkin karena terlalu tiba-tiba," Zoya menundukkan kepalanya, "Karena terlalu tiba-tiba ... makanya aku enggak tahu harus bersikap bagaimana." Zoya menatap Gallen. Pria itu terdiam mendengar Zoya.
"Ah, pokoknya begitulah!"
Zoya salah tingkah sendiri. Apa Gallen bisa memahami perkataannya? Apa kata-katanya itu bisa sampai ke hati pria itu?
__ADS_1
Gallen menatap Zoya yang membuang wajahnya. Tiba-tiba saja, rasa panas menjalari pipinya.
"Kau ... apakah kau baru saja memberiku kesempatan?" Gallen bertanya dengan mata yang terbuka lebar.
Zoya bilang bahwa ia hanya merasa kebingungan karena semuanya terlalu tiba-tiba, kan? Kalau begitu jika Gallen mendekatinya dengan perlahan, bukan tak mungkin wanita itu akan menerimanya suatu hari nanti, ya kan?
"Bos jangan membuatku mengulang kata-kata, dong. Malu sama anak." Ujar Zoya yang saat ini telah menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Gallen tersenyum lebar. Baru kali ini, setelah bertahun-tahun merasa hampa dan kesepian, akhirnya dia merasa bahwa ada sesuatu di dunia ini yang menunggu untuk dirinya perjuangkan.
Dan itu, adalah Zoya dan anak-anaknya.
"Uh," Gallen menyembunyikan wajahnya di lengannya yang kini terlipat di stir, "Sialan, aku jadi malu sendiri sekarang." Katanya.
Zoya menoleh, terkejut karena Gallen tiba-tiba mengatakan kata-kata kotor yang selama beberapa waktu ini ditahannya.
"Bos! Mulut!" Teriak Zoya.
Gallen terkekeh. Padahal selama di depan Milo dan Noah dia selalu berusaha untuk menjaga kata-katanya agar tak mencemari telinga kedua anak itu, namun karena salah tingkah kata-kata itu justru terucap kembali.
"Maafin Papa, ya." Katanya. Gallen menoleh ke belakang dimana Noah berada, "Oh, apakah kau bisa memanggilku Papa sekarang?" Pintanya. Karena selama ini Noah dan Milo selalu memanggilnya Paman, Gallen ingin sekali panggilannya diubah.
Yah, dia hanya tidak tahu saja.
Padahal kedua anaknya itu sengaja memanggilnya begitu saat di hadapannya. Sedangkan saat di belakang, mereka memanggil Gallen dengan sebutan Papa.
"Bisa enggak kata-kata 'kau' itu diganti 'kamu'? Rasanya agak aneh mengatakan itu di depan anak." Saran Zoya.
Gallen menyeringai. Ia menatap Zoya, membuat wanita itu mengernyitkan dahinya lagi.
"Mungkin bisa. Bagaimana kalau panggilan 'Bos' juga diganti dengan 'sayang'?" Ujarnya.
Zoya mendelik. Tentu saja, wajahnya benar-benar merah seperti kepiting rebus sekarang.
__ADS_1
"Ih, Bos!"
***