
..."Apa kita benar-benar tidak pernah bertemu sebelumnya, selain di restoran ini?"...
...***...
"Pacar apaan? Aku enggak punya pacar, kok." Zoya merasa keheranan dengan pertanyaan Sari yang tiba-tiba.
Semua karyawan memang tahu tentang kondisinya yang telah memiliki dua orang anak. Mereka juga tahu bahwa Zoya tak memiliki seorang suami. Itulah yang membuat mereka berpikir bahwa ada sesuatu diantara Zoya dan Dafa, karena mereka memang sangat dekat satu sama lain. Itu saja. Namun, mengapa tiba-tiba rekannya itu mengira bahwa Zoya sekarang telah memiliki kekasih?
Rekan kerjanya itu menepuk jidatnya. Melihat kebingungan Zoya, membuat Sari merasa geregetan sendiri. Dia mengambil ponselnya dari saku pakaian. Sambil menyuruh Zoya untuk menatap lurus ke depan, dirinya mengambil foto bagian belakang wanita itu.
"Nih, lihat sendiri." Sari menunjukkan hasil jepretannya pada Zoya.
Zoya mengambil ponsel itu, terbelalak saat melihat apa yang difoto oleh rekannya.
"Dasar Bos---" Zoya menutup mulutnya. Ia menyadari bahwa Sari menatap dirinya, namun Zoya tak memberikan penjelasan apapun terkait hal itu.
Ia kembali melihat tanda merah yang begitu jelas di belakang lehernya.
Itu mulut atau penyedot debu, sih? Kok bisa sampai semerah itu padahal aku langsung mendorong Bos begitu sadar dia melakukan sesuatu!
Zoya mengembalikan ponsel temannya tanpa bicara apapun. Sari kemudian bertanya pada Zoya.
"Kamu beneran gak sadar sama 'itu'?"
Zoya menggeleng. Tentu saja ia tak menyadari hal itu sama sekali, karena posisinya ada di belakang. Zoya tak bisa melihatnya. Dan pelakunya tidak sama sekali mengatakan hal itu padanya. Dasar.
"Gimana, nih? kalau yang lain lihat, bisa aja mereka mikir yang aneh-aneh." Zoya menjadi panik.
Sedari tadi dirinya memang menggerai rambut, namun itu dirinya lakukan karena mereka sedang berada di jam bebas. Namun saat sedang bekerja, tentu saja Zoya harus mengikat rambutnya dengan rapi. Itu adalah standar pelayanan di restoran mereka. Jika tidak, bisa saja ada rambutnya yang jatuh atau pelanggan merasa tidak nyaman karena menilai bahwa pelayanan di restoran ini tidak bersih.
Sari bisa memahami hal itu. Karena bagaimana pun juga, dia telah terbiasa bekerja di sektor ini.
"Sebentar, kayaknya aku punya sesuatu."
Wanita itu lalu pergi meninggalkan Zoya yang masih kebingungan. Tak berselang lama, dia kemudian kembali lagi sembari membawa tas besarnya dan duduk di samping Zoya.
"Kalau enggak salah aku bawa benda itu, tapi belum pasti juga." Sari membuka resleting tasnya dan menggeledah isi yang ada di dalam.
Mereka berdua sama-sama mencarinya. Saat barang yang dicari terlihat, kedua wanita itu kompak merasa bahagia. Syukurlah, ternyata Sari benar-benar membawa barang yang dirinya katakan.
__ADS_1
"Ketemu!" ujar mereka berdua berbarengan. Sari kemudian terkekeh.
"Untung aja aku membawa syal lilit ini." Sari merasa bersyukur. Begitu juga dengan Zoya. Jika wanita itu tak membantunya, ia pasti akan merasa malu.
"Biar aku bantu pasang."
Zoya mengangguk. Dengan sangat telaten, Sari memasangkan syal lilit itu di leher Zoya. Terlihat cocok, sebenarnya. Namun karena saat ini cuaca cukup panas ...
"Aku harap kamu bisa bertahan meskipun memakai benda itu."
Zoya menghela napas. Tentu saja ia harus memaksakan diri. Karena jika tidak melakukan ini, apalagi yang bisa Zoya lakukan?
"Makasih ya, Sar."
Sari mengangkat tangan kanannya dan membuat simbol 'OK'. Mereka kemudian membereskan barang-barang Sari yang berantakan, lalu berdiri bersama untuk masuk ke dalam restoran.
"Kalau kamu menikah dengan Bos, jangan lupa undang kami, ya." Katanya.
Sari kemudian pamit, berjalan ke arah lain karena harus meletakkan tasnya kembali ke tempat penitipan. Zoya terdiam sambil mengerutkan alis. Pasti Sari mengatakan itu karena melihat lehernya tadi, kan? Lalu wanita itu minta diundang ke pernikahan mereka? Memangnya Sari kenal dengan Gallen?
***
Jam makan siang telah berakhir, tidak banyak pelanggan yang masih berada di restoran mereka. Semua karyawan kembali bersantai seperti tadi.
"Hm, kenapa?" Ia bertanya pada rekannya tadi yang berlari sampai ngos-ngosan.
Rekan kerjanya tadi menyeka keringat dingin dengan tisu, kembali bersemangat saat akan berbicara dengan Zoya, "Kamu tahu, orang-orang penting itu kembali datang!" Katanya dengan bersemangat.
Zoya menatap jam dindingnya kembali. Benar, kok. Jam makan siang telah usai. Apa orang penting itu melewatkan waktu istirahatnya karena sibuk dengan pekerjaan?
"Hm, itu bagus, kan. Berikan saja pelayanan yang terbaik." Saran Zoya. Meskipun saat ini seharusnya semua orang bisa istirahat, tapi bukan berarti mereka akan meninggalkan orang yang ingin menikmati hidangan di restoran mereka. Justru, dengan adanya ini Zoya beserta rekan-rekannya bisa memberikan yang terbaik untuk pelanggan mereka.
"Iya, itu memang benar. Tapi ... " Rekan kerjanya itu meminta Zoya untuk mendekat, karena sesuatu yang rahasia akan diberitahukannya hanya pada wanita itu.
"Nyonya Pamela Prawijaya memintamu menemui dia. Namun karena tak ingin terlalu kelihatan, dia ingin kita semua melayaninya.
Zoya sempat terdiam selama beberapa saat.
"Nyonya Pamela Prawijaya ingin menemuiku?" Tanyanya setelah mendapatkan kesadarannya kembali.
__ADS_1
Rekan kerjanya mengangguk. Tepat sekali.
Otak kecil Zoya mulai berpikir keras. Sebenarnya ia tak keberatan jika harus membawakan makanan wanita itu kedepan, karena itu sudah merupakan tugasnya sebagai pelayan di restoran ini. Namun, bertemu dengannya? Ia merasa telah menyelesaikan kesalahpahamannya dengan Nyonya Pamela Prawijaya hari itu. Zoya bukan orang yang wanita itu kenal, meski mungkin bisa saja wajahnya sangat mirip dengan orang itu. Jadi, bukankah seharusnya wanita itu tak berpikir bahwa Zoya adalah orang yang mungkin pernah dirinya temui?
Itu memang sangat membingungkan. Namun saat aneka ragam makanan yang dipesannya selesai, Zoya dan rekan-rekannya membawakan makanan itu tanpa pikir panjang lagi.
"Selamat menikmati makanan anda, Nyonya." Salam semuanya dengan kompak.
Nyonya Pamela mengangguk. Dia juga mempersilakan mereka untuk kembali bekerja.
"Kecuali kamu, yang memakai syal di leher."
Rekan-rekannya menoleh. Mereka baru sadar jika Zoya memakai syal dilehernya.
Sedangkan Zoya, ia sempat terdiam saat merasa bahwa dirinya lah yang dipanggil. Wanita dihadapannya itu tersenyum, seolah memanggilnya untuk mendekat. Saat menyadari bahwa pikirannya tidaklah salah, Zoya lantas cepat-cepat bergerak untuk menghampiri, mana tahu ada sesuatu yang dibutuhkan wanita itu lagi.
"Apa ada yang perlu saya bantu, Nyonya?" Tanya Zoya dengan sopan.
Pamela tersenyum. Dia lalu menunjuk kursi di depannya, meminta Zoya untuk duduk.
"Duduklah, aku tidak mungkin menghabiskan semua makanan ini sendirian. Aku sengaja memanggilmu untuk menemaniku makan." Katanya. Terlihat sangat santai.
Zoya menatap wanita itu dan hidangan di hadapan mereka dengan bingung. Bukankah dia sendiri yang memesannya? mengapa dia memesan semua itu padahal ia tahu bahwa tak mungkin baginya untuk menghabiskan semuanya sendiri?
Pamela yang mengajak Zoya untuk makan bersamanya jelas menyadari apa yang dipikirkan oleh wanita itu. Dia tersenyum dengan lembut, menatap wanita dihadapannya yang tak juga duduk di tempatnya.
"Jangan khawatir, aku sengaja memesan sebanyak ini agar tak merasa bersalah karena memintamu datang dan menemaniku. Aku ingin berbicara denganmu, itu saja." Katanya.
Zoya masih menatap wanita itu bingung. Namun saat Nyonya Pamela menunjuk kursi didepannya sekali lagi, mau tak mau Zoya menuruti dan duduk di hadapannya. Tal sopan rasanya bila ia menolak hal baik itu lagi dan lagi.
"Anda sungguh-sungguh hanya ingin saya menemani Anda, Nyonya?" Zoya bertanya.
Jujur saja, sebenarnya Zoya merasa tak pernah bertemu dengan wanita itu meskipun sekarang dirinya tinggal di rumah Gallen yang notabene nya adalah keponakan dari wanita itu. Lalu mengapa Nyonya Pamela masih terus bersikap begini? atau secara diam-diam, sebenarnya ia pernah melihat Zoya bersama Gallen?
"Aku hanya ingin tahu sesuatu, yang sebenarnya sudah pernah kutanyakan padamu juga." Nyonya Pamela meletakkan sendok dan garpunya kembali. Ia tersenyum pada Zoya.
"Apa kita benar-benar tidak pernah bertemu sebelumnya, selain di restoran ini?"
***
__ADS_1