Anak Kembar CEO Kaya

Anak Kembar CEO Kaya
6. Ternyata Seperti Ini Rasanya?


__ADS_3

"Mengapa aku terus bersikap aneh di depan gadis bodoh itu? Apa karena aku hampir selalu tidak punya teman, terlebih lagi seorang wanita, maka dari itu aku selalu salah tingkah di depannya?"


\*\*\*


Gallen batuk-batuk kecil. Bukan batuk betulan, hanya pura-pura saja. Melihat gadis itu yang terlihat begitu senang hanya karena dirinya dimaafkan membuat Gallen merasa aneh sendiri. Dia menatap gadis itu dari atas hingga bawah, hingga tiba-tiba Gallen menyadari sesuatu.


"Kau tidak mandi?" Tanyanya pada gadis itu. Zoya menatap dirinya sendiri, lalu segera mengibaskan tangannya dengan cepat.


"Saya mandi, kok." Katanya. Zoya mencium bau tubuhnya sendiri. Apa dirinya sebau itu? Tapi sepertinya sabun hotel yang dirinya pakai sangat wangi. Jadi, tidak mungkin tubuhnya mengeluarkan aroma tak sedap hingga membuat Gallen bertanya demikian.


Dan Gallen yang menyadari kebingungan gadis itu pun berdeham kecil, menahan ekspresi wajahnya setenang mungkin karena tingkah gadis itu yang entah mengapa terlihat lucu, "Aku hanya bertanya karena kau tidak berganti pakaian." Katanya. Karena tidak memerhatikannya sedari awal, Gallen baru menyadarinya sekarang bahwa pakaian yang gadis itu pakai sekarang adalah pakaian yang sama dengan kemarin.


Zoya menatap Gallen selama tiga detik, lalu kembali menjawab setelah tahu alasannya, "Oh, kalau itu memang benar." Jawabnya.


Gallen penasaran. Dengan mengangkat sebelah alis, pria itu seolah meminta Zoya untuk bercerita. Bukankah wajar jika sebagai bos, Gallen ingin sedikit memerhatikan kebutuhan pegawainya?


Zoya menatap pria di hadapannya dan bercerita dengan jujur, "Bukankah saya sudah bilang kalau saya ditipu? Karena kabur dengan terburu-buru, tas berisi pakaian yang saya bawa tertinggal disana." Jawabnya. Gallen yang mendengar itu mengerutkan dahi, merasa bingung.


"Bahkan dompet ataupun ponsel pun kau tidak punya?" Tanyanya lagi.


"Ah, sebenarnya saya membawa tas kecil berisi uang dan ponsel saat kabur. Tapi saat di jalan, saya kecopetan." Jawabnya. Gallen menyipitkan matanya. Bukankah gadis dihadapannya ini benar-benar ceroboh? Ia melupakan tasnya saat kabur. Dan ia juga menghilangkan dompet juga ponselnya di jalan.


Sepertinya dia benar-benar sial kemarin.


Gallen hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala atas pemikirannya barusan. Tentu saja, dimana lagi dia bisa melihat gadis seceroboh Zoya? Apalagi jika mengingat kondisinya kemarin. Dia sudah seperti tumbuhan yang kekeringan di tengah keramaian karena tak mendapatkan satu tetespun air.


Tepat setelah ia menceritakan kondisinya, Zoya tiba-tiba teringat akan sesuatu saat matanya bertemu dengan mata Gallen yang tengah sibuk dengan pikirannya sendiri, "Tiba-tiba saya teringat sesuatu. Karena malam itu bos juga tampak kebingungan saat mencari sesuatu, bukankah bos juga kecopetan?" Tanyanya.


Gallen merasa seperti ditarik pada kenyataan kembali. Dia hanya diam, tiba-tiba sadar akan kebodohannya. Bukankah dia juga mengalami hal yang sama dengan gadis itu kemarin?


Sialan. Sepertinya benar kalau aku kecopetan.


Gallen menatap Zoya dengan serius. Hari itu, dia memberikan beberapa lembar uang tunai kepada Zoya. Dan Gallen pun yakin dengan pasti bahwa dia masih memegang dompetnya saat itu. Tapi jika ternyata dia kehilangan dompetnya disekitar coffee shop siang kemarin, maka kemungkinan besarnya memang ada pencopet yang beredar dan menunggu mangsa untuk datang ke tempat itu. Dengan kata lain, ponsel dan dompet Gallen memang sudah hilang sejak siang kemarin. Menyebalkan. Pantas saja tidak ada seorangpun yang mengganggu aktivitasnya satu harian penuh. Ternyata alasannya karena ponsel miliknya hilang?


Sebenarnya itu tidak terlalu buruk, tapi tetap saja ponsel itu sangat penting!

__ADS_1


Pria itu terus tenggelam dalam pemikirannya sendiri. Pencopet itu mungkin merasa sangat bersemangat saat menyadari bahwa mereka berhasil mencuri ponsel mahal, tapi sayangnya dia tidak tahu jika kali ini dirinya berhadapan dengan Gallen yang kesabarannya hanya setipis tisu. Dia, Gallen Alexander Prawijaya, tidak akan membiarkan pencopet itu tenang sebelum semua barang miliknya itu kembali!


Gallen terlihat menggerak-gerakkan lehernya, membuat suara aneh yang cukup membuat ngilu. Pria itu bahkan melemaskan otot-otot bagian tubuhnya, terlihat seperti tengah bersiap untuk bertarung. Zoya yang berdiri tepat di depan pria itu pun menelan air liurnya sendiri, bingung dengan situasinya saat ini. Tak lama setelah menyadari bahwa ponselnya kecopetan, Gallen yang awalnya tenang langsung berubah menjadi lebih menakutkan.


"Orang-orang bodoh itu, aku pasti akan membuat mereka tidak berani melihat matahari lagi!" Gallen berbicara dengan sangat yakin. Zoya tak tahu pasti apa yang dipikirkan oleh bosnya ini, tapi ia merasa sesuatu yang tidak baik pasti akan terjadi. Maka dengan sangat berhati-hati, gadis itu berusaha untuk menyadarkan bosnya kembali.


"Bos, Anda tidak boleh menghajar orang sembarangan jika tidak ingin terkena masalah." Katanya. Gallen menunduk, menatap gadis itu yang lebih pendek darinya.


"Apa kau pikir aku akan menghajar mereka secara langsung?"


"Memangnya tidak?"


Gallen terdiam, lupa bahwa gadis di hadapannya ini sebenarnya bodoh.


"Begini, ya." Dia sudah sangat sabar pada gadis itu. Aneh. Kenapa juga Gallen harus sesabar ini saat menghadapi seorang gadis? Bukankah biasanya dia selalu berbicara dengan kasar?


"Aku ini tidak seperti kau yang bodoh, jadi tidak mungkin aku menggunakan kekerasan secara langsung untuk menangkap pecundang-pecundang itu." katanya. Zoya berkedip beberapa kali, berusaha mencerna makna kata pria di hadapannya itu.


"Berarti secara tidak langsung bisa? Bos mau menyewa orang bayaran untuk menghajar orang-orang itu?" Tanyanya lagi dengan polos. Gallen membuka mulutnya, merasa heran dengan isi kepala gadis itu.


"Terserah apa yang kau pikirkan." Jawab Gallen. Dia telah lelah menjelaskan segala sesuatunya pada gadis itu. Sekarang, terserah bagaimana gadis itu berpikir tentangnya, Gallen tak peduli.


Namun tampaknya, hal itu benar-benar menakuti Zoya.


"Oh, ya, mengenai pakaianmu." Gallen menatap serius pada Zoya. Zoya yang mendapati tatapan aneh dari Gallen pun menelan air liurnya kembali, tersenyum dengan kaku.


"Y-Ya? Sa-saya baik-baik saja, bos." Jawabnya. Gallen jelas mendengar kata-kata gadis itu, tapi dia justru meminta Zoya untuk mengikutinya. Meski ketakutan setengah mati, Zoya yang tak memiliki pilihan lain itu pun mengikuti langkah kaki Gallen dari belakang. Mereka terus berjalan, melewati banyak pintu-pintu mewah. Hingga mereka tiba di kamar paling ujung di lantai 2, barulah Gallen membuka pintu tersebut.


"Masuklah." Ajaknya setelah menyalakan lampu. Gadis itu pun menuruti kata-kata Gallen untuk masuk. Rasa takutnya masih ada, namun entah mengapa perlahan menyusut saat dirinya melihat pemandangan di dalam.


Disana, Zoya bisa melihat sebuah kamar dengan furnitur yang lumayan lengkap. Kamar tersebut sangat rapi, dengan beberapa foto yang tak satupun dirinya lihat di ruangan lain. Zoya melihat satu foto sembari lewat, sebuah foto yang memperlihatkan keluarga bahagia yang terdiri dari Ayah, Ibu, dan anak mereka.


Apakah itu bos dan istrinya? Wajahnya memang mirip, tapi sepertinya bukan?


Klek

__ADS_1


Gallen membuka sebuah pintu yang ada di sana. Pria itu lantas menatapnya, seolah meminta Zoya untuk mendekat. Zoya yang untungnya lumayan peka kali ini, mendekat dan mengikuti Gallen yang perlahan masuk ke dalam.


"Oh, ini lemari?" Tanya gadis itu, "Saya merasa furnitur di kamar tadi memang cukup lengkap, tapi saya heran mengapa tidak ada lemari disana. Ternyata orang kaya memang beda, ya?" Ujarnya. Lagi-lagi, Zoya yang lugu ini tidak tahu apapun mengenai kehidupan masyarakat perkotaan.


Gallen hanya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, "Ini namanya walk in closet. Catat itu." Jelasnya.


Zoya menganggukkan kepala, tapi sebenarnya lumayan bingung. Bukankah closet artinya kamar mandi?


"Pilihlah." Ujar Gallen tiba-tiba. Zoya yang tak paham maksud kata pria itu pun menatapnya.


"Maksud bos?"


"Pakaian dan aksesoris yang akan kau pakai. Ini memang keluaran lama, jadi pilih saja mana yang masih keliatan bagus." Katanya lagi.


Zoya menatap sekeliling. Berbagai macam pakaian dan aksesoris tersimpan rapi disini. Sekali lihat saja, gadis itu yakin dan percaya bahwa pakaian-pakaian itu pasti harganya sangat mahal. Bagaimana mungkin pria itu membiarkannya memakai pakaian orang lain dengan semudah ini?


"Bos, Anda serius meminta saya memilih? Pakaian-pakaian ini terlalu mahal untuk saya, mana mungkin saya cocok memakainya." Tolak Zoya. Ia sama sekali tidak merasa pakaian-pakaian itu kelihatan tua atau apapun itu, tapi ia memang yakin harga pakaian itu sangat mahal sehingga tidak mungkin ia memakainya.


Gallen mengerti apa yang dipikirkan gadis itu. Tapi, tetap saya dia tidak bisa membiarkan Zoya terus memakai pakaian yang sama sedari kemarin. Bukan bau atau apa, hanya saja dia merasa justru Zoya lah yang akan merasa tidak nyaman jika memakai pakaian itu terus-menerus.


"Bodoh, aku meminjamkan pakaian itu padamu. Kau kan bisa mengembalikannya nanti. Lagipula--" Gallen menghentikan bicaranya saat menyadari sesuatu. Bodoh, bagaimana mungkin Gallen hampir membocorkan dengan mulutnya sendiri jika dia berpikir bahwa Zoya sepertinya tidak nyaman dengan pakaiannya?


"Lagipula?" Tanya Zoya. Ia penasaran mengapa Gallen menghentikan bicaranya tiba-tiba.


Gallen berkeringat dingin. Apa yang harus diingat jawab? Jujur? Tapi, bagaimana mungkin dia mengatakan dengan jujur bahwa dirinya terus memerhatikan Zoya sehingga menyadari dengan jelas ketidaknyamanan gadis itu?


"Ck, pokoknya pakai saja. Aku akan mengajakmu berbelanja bahan makanan, jadi pastikan kau tidak berpenampilan kumal!" Ujar Gallen kemudian. Setelah mengatakan itu, pria yang wajahnya memerah tersebut langsung keluar dari tempat itu, membiarkan Zoya sendirian. Gallen juga memerlukan udara segar untuk menjernihkan kembali kepalanya yang bermasalah dalam dua hari ini.


Mengapa aku terus bersikap aneh di depan gadis bodoh itu? Apa karena aku hampir selalu tidak punya teman, terlebih lagi seorang wanita, maka dari itu aku selalu salah tingkah di depannya?


Gallen benar-benar merasa aneh dengan dirinya sendiri. Apakah semua bujangan yang tak pernah dekat dengan wanita memang selalu seperti ini saat tiba-tiba berdekatan dengan mereka? Atau ...


Memang dirinyalah, satu-satunya yang bertingkah aneh seperti itu?


***

__ADS_1


__ADS_2