Anak Kembar CEO Kaya

Anak Kembar CEO Kaya
21. Bertemu Kembali


__ADS_3

..."Sebenarnya dia ceroboh mirip siapa, sih? Darimana dia bisa mencari ayahnya jika dia saja tidak tahu wajah ayahnya seperti apa!"...


...***...


Begitu Winona sampai dengan mobilnya, Zoya yang sudah menunggu-nunggu di depan rumah langsung buru-buru mendekat dan mendudukkan dirinya di bangku depan. Tidak ada senyuman atau basa-basi. Zoya sedang sangat kesal saat ini.


"Tenang, tenang." Winona berusaha menenangkan sahabatnya. Zoya yang masih bersungut-sungut itu lantas menatap gadis di sebelahnya dengan kesal.


"Aku benar-benar kesal sekarang." Ujarnya. Winona menepuk-nepuk pelan bahu sahabatnya, masih mencoba membuatnya tenang.


"Apa Noah memberikanmu petunjuk?"


Zoya sedang menutup mata untuk menenangkan pikiran. Mendengar pertanyaan yang baru saja dilemparkan oleh Winona, segera saja ia menyerahkan sebuah kertas yang telah teremas dengan menyedihkan itu padanya.


"Wew, benar-benar sadis." Winona mencoba mencairkan suasana. Kertas itu benar-benar tidak berbentuk sekarang.


Winona menerima remasan kertas yang disodorkan oleh Zoya dengan segera. Benda itu pastilah petunjuk terakhir yang diberikan oleh Noah hingga Zoya benar-benar merasa kesal. Winona pun merasa takjub, bisa-bisanya sahabatnya itu mengubah kertas tersebut menjadi tidak berbentuk lagi.


"Kalau berdasarkan kertas ini ... " Gadis itu membaca informasi di dalam kertas. Tak butuh waktu lama, ia kembali menatap sahabatnya dengan wajah bingung.


"Mencari ayah?" dari matanya terlihat bahwa Winona juga kaget setelah membacanya.


"Itu yang kubilang, sebenarnya dia ceroboh mirip siapa, sih? Darimana dia bisa mencari ayahnya jika dia saja tidak tahu wajah ayahnya seperti apa!" Kesal Zoya. Anaknya itu benar-benar membuat kepalanya sakit.


Winona mengangguk-angguk. Jika untuk masalah itu, memang benar. Noah sama sekali tidak tahu siapa ayahnya atau bagaimana rupanya itu. Jadi, bagaimana dia bisa mencari?


"Tapi, Zoya. Kupikir dia mirip denganmu untuk urusan ceroboh." Ujar Winona yang kemudian mendapatkan hadiah lirikan tajam darinya. Ya, dia paham. Jelas saja Winona ingin mengejeknya yang sangat-sangat ceroboh ini. Bukankah Noah ada juga karena kecerobohan itu?


"Kurasa ini bukan saatnya untuk bercanda." Suaranya terdengar dingin.


Winona berusaha untu menghentikan tawanya, lalu mulai berbicara secara perlahan, "Oke, sekarang aku akan serius. Apa kamu punya cara untuk menemukannya?"


Wanita dua anak itu bereaksi mendengar pertanyaan itu. Zoya mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, segera membuka sebuah aplikasi yang tampaknya memang terpasang di ponselnya.


Winona terlihat serius memerhatikan apa yang akan Zoya lakukan. Untungnya, Zoya telah memperkirakan adanya kemungkinan semacam ini meski tentu saja dia berharap bahwa hal ini tidak terjadi. Dengan cekatan, Zoya yang tampak mengotak-atik sesuatu itu langsung menunjukkan hasil kerjanya saat sesuatu yang sedang ia cari berhasil ditemukan, "Jam tangan yang selalu Noah dan Milo pakai itu pemberian Dafa. Dafa sudah memasang GPS di kedua jam tangan itu untuk berjaga-jaga. Aku sudah memeriksanya, tampaknya Noah ada disini jika dilihat dari titik GPS nya."


Winona memerhatikan titik posisi keberadaan Noah, sedikit mengerutkan dahi saat menyadari sesuatu.

__ADS_1


"Alat ini tidak akan salah, kan?" Tanya Winona sesaat setelah ia melihat titik koordinat tersebut. Jaraknya cukup jauh, agak kurang meyakinkan bila Noah bisa pergi sejauh itu. Atau mungkin anak itu sebenarnya diculik? Ah, tidak mungkin. Yang ada penculiknya akan kerepotan karena Noah benar-benar banyak akal. Lagipula, mereka tidak punya harta ataupun benda berharga. Tidak mungkin seseorang menculik anaknya karena Zoya tidak akan punya uang untuk menebusnya.


"Kita akan kesana sekarang." Ujar Winona langsung.


Zoya menghela napas panjang dan mengangguk. Ada-ada saja kelakuan anaknya ini. Meski GPS itu berhasil menunjukan keberadaan anaknya, tak elak sebenarnya Zoya khawatir juga. Bagaimana jika Noah ternyata tidak ada disana? Apa yang harus ia lakukan jika ternyata terjadi sesuatu pada anak laki-lakinya?


Noah, apa kamu sebegitunya menginginkan ayah sampai berani melakukan hal ini?


Winona menyadari kegelisahan sahabatnya. Tanpa bertanya lagi, wanita yang juga merupakan guru Noah itu langsung mengemudikan mobilnya untuk menuju ke tempat yang ada dalam maps tersebut.


***


Kedua wanita itu sama-sama terbengong di depan sebuah gedung. Jika mengikut pada titik lokasi di aplikasi itu, tentu benar bahwa disinilah lokasi Noah sekarang berada. Namun, yang benar saja!


"Apa kita tidak salah tempat? Bagaimana mungkin Noah ada disini?" Winona bertanya dengan berbisik. Zoya kembali memeriksa ponselnya, memeriksa apakah mungkin mereka salah tempat.


"Kalau berdasarkan aplikasi ini, ya memang benar Noah ada disini. Tapi bagaimana mungkin anak itu bisa masuk ke restoran mewah seperti ini?" Zoya tak kalah bingungnya saat ini. Kalaupun benar Noah ada di dalam, bagaimana ceritanya anak itu bisa sampai disana? Mengikuti orang random hanya untuk makan gratis?


Winona yang memperhatikan ekspresi Zoya pun tentu bingung dengan kondisi saat ini. Rasanya tidak bisa dipercaya, tapi titik koordinat yang ditunjukkan memang benar ada disini. Ataukah mereka harus masuk dulu, untuk mencari kalau-kalau memang benar Noah ada disini?


Disaat kedua wanita itu tengah sibuk dengan pikiran mereka masing-masing, pintu restoran tiba-tiba terbuka. Dari jarak sejauh ini pun, Zoya yang masih berdiri memandang ke depan langsung dapat melihat dengan jelas siapa orang yang baru saja keluar dari sana.


"Itu Noah, kan? Iya, kan?" Ujar Winona yang terlanjur senang.


Zoya tersenyum lebar. Benar, itu Noah! Putranya benar-benar ada disini!


"No---" Suara Zoya tercekat. Bukannya kembali memanggil atau berlari mendekati Noah, wanita itu justru tiba-tiba berbalik arah menuju ke parkiran setelah melihat sesuatu. Ah, dia benar-benar tidak bisa berpikir sekarang!


Bagaimana mungkin Noah benar-benar bertemu dengan ayahnya?


***


"Mama?"


Gallen menoleh ke arah yang dilihat oleh Noah. Wanita yang tengah menatap ke arahnya itu adalah orang yang sama yang dirinya temui bersama Noah di mini market kemarin.


"Paman, itu Mama. Aku ingin memperkenalkan paman pada Mama, boleh?" Tanyanya dengan ekspresi wajah yang imut. Gallen menatap dengan bingung, namun sepertinya dia tak kuasa untuk menolak jika melihat tatapan manis yang ditunjukkan oleh anak yang baru saja mengajaknya untuk bertemu ini.

__ADS_1


"Hm, baiklah. Mamamu pasti sedang mencarimu. Aku juga merasa bersalah karena mengajakmu pergi tanpa pamit lebih dahulu, karena itu sekarang aku akan meminta maaf padanya." Jawab Gallen.


Noah tersenyum dengan senang mendengar itu. Bocah laki-laki itu kemudian berbalik memunggungi Gallen, diam-diam tersenyum licik karena rencananya akhirnya berhasil.


"Mama!" Noah langsung berlari untuk mendekat ke arah Mamanya. Di belakang, Gallen berjalan mengikuti.


"Noah, Mama dan Bu guru benar-benar khawatir padamu. Kanapa kamu pergi tanpa memberitahu kami?" Ujar Winona ketika anak itu telah berada di depannya.


"Hihi, Bu guru. Aku hanya ingin bertemu dengan paman ini. Dia orang yang baik, kok!" katanya dengan ceria.


Winona agak heran. Kok tiba-tiba Noah berekspresi seperti itu? Bukankah anak itu jarang menunjukkan ekspresinya?


Ah, apakah Noah hanya berpura-pura karena sedang ada di depan pria yang disebutnya paman itu?


"Oh, ya." Winona melihat ke arah Zoya yang masih membalikkan badan. Ingin kabur, namun anaknya itu sudah terlanjur memanggilnya, "Temuilah Mamamu. Dia mungkin sedang syok sekarang." Kata Winona.


Zoya memejamkan mata. Tidak! dia tidak ingin ditemui sekarang! Apalagi, Gallen ada disana. Bagaimana ia harus memasang wajah saat mereka saling berhadapan?


"Mama, aku ingin memperkenalkan paman ini pada Mama. Kemarilah!" Ajak Noah dengan menarik-narik tangan Mamanya.


Zoya meringis kaku dan menolak, namun Noah masih terus memintanya menemui paman yang baru saja ditemuinya.


"Ah, jadi Anda bukan Mamanya Noah?" Suara Gallen terdengar. Suara yang sama seperti yang pernah Zoya dengar enam tahun lalu. Gallen bertanya pada Winona karena baru menyadari bahwa gadis itu ternyata bukan Mama yang Noah maksud. Winona pun menggeleng, menunjuk ke arah Zoya yang ada di belakangnya.


"Saya teman Mamanya. Mamanya yang itu." Katanya.


Mendengar itu, Gallen tentunya langsung memasang perhatian pada wanita yang ditunjuk oleh Winona. Dia secara tulus ingin meminta maaf atas tindakannya yang membawa Noah tanpa meminta izin. Jika wanita itu ingin menuntut tanggung jawab, Gallen pun tak akan keberatan.


Tubuh Zoya menjadi semakin kaku saat menyadari tatapan yang terarah padanya. Noah yang memang merencanakan agar kedua orang itu dapat bertemu akhirnya berhasil menarik Zoya, lalu mengajaknya untuk bertemu dengan Gallen disaat Zoya tengah lengah.


"Paman, ini Mamaku." Ujar Noah.


Gallen menatap wajah wanita itu, yang secara otomatis membuat kedua matanya langsung terbuka lebar.


"Zoya?"


***

__ADS_1


__ADS_2