Anak Kembar CEO Kaya

Anak Kembar CEO Kaya
12. Kecurigaan


__ADS_3

...Enggak mungkin, kan? Kami hanya melakukannya sekali, jadi enggak mungkin benar-benar itu, kan?...


...***...


"Lho?"


Zoya meringis. Ibunya yang terkejut melihat keberadaannya itu kemudian menyuruhnya untuk masuk.


"Kamu kemana aja? Hampir sebulan enggak ada kabar." Tanya ibunya setelah mereka duduk. Dia memberikan segelas air putih untuk putri satu-satunya itu yang terlihat pucat. Sebagai seorang ibu, tentunya dia khawatir pada putrinya itu yang menghilang tanpa kabar setelah pamit untuk pergi bekerja.


Zoya melihat wajah ibunya. Ia ragu untuk bercerita. Bagaimana bisa ia menceritakan pengalaman sebulannya ini? Pun kalau ingin mengatakan yang sesungguhnya, ia khawatir ibunya pingsan setelah mengetahui apa yang terjadi pada dirinya.


"Zoya kecopetan, Bu." Ujarnya. Ibunya terlihat kaget. Ia kemudian menyentuh pundak anaknya.


"Tapi kamu enggak kenapa-napa, kan?"


Zoya menggeleng dengan senyuman kecil. Meski awalnya baik-baik saja, tapi endingnya ia tetap kehilangan keperawanannya.


Bapak dan Ibu pasti kecewa kalau tahu.


Zoya memegang tangan Ibunya, "Bu, Bapak kemana?" Alihnya.


"Ladang," jawab sang Ibu singkat, "Kamu sengaja mengalihkan pembicaraan, ya."


Zoya meringis kembali.


Ketahuan.


Ibunya menggeleng, "Dimana Linda? Kok kamu pulang sendiri?"


"Kak Linda ... " Zoya jadi menggaruk tengkuknya. Apa yang harus dirinya katakan?


"Kok kamu jadi bingung begini, sih?"


"Bu," Zoya tak tahu harus berbohong macam apa. Jadi sekarang ia memutuskan untuk jujur saja. Toh ibunya ini sudah seperti detektif, ia jujur pun akan percuma, "Sebenarnya, pekerjaan yang Kak Linda bilang itu untuk menjadi pelacur." Katanya kemudian yang membuat sang ibu terbangun dari duduknya.


"Pelacur?" dia memandangi anaknya, "Kamu diapain disana?"


Zoya meminta ibunya untuk duduk kembali, "Enggak diapa-apain, Zoya kabur duluan begitu tahu." Jawabnya. Ibunya melihat dengan tatapan yakin tak yakin. Yah, tidak bisa disalahkan juga. Zoya pun benar-benar kehilangan mahkotanya meski tak dijadikan sebagai pelacur sungguhan.


"Yasudah, istirahat kalau begitu. Ibu mau cari bapakmu dulu."


Zoya mengangguk dan membiarkan ibunya pergi. Sepeninggal ibunya, Zoya beranjak untuk mandi. Karena saat Bapaknya mendengar kepulangannya nanti, Zoya pasti akan dimarahi.


***


Zoya meletakkan sepiring ikan goreng di atas meja. Ini adalah lauk terakhir yang harus dihidangkan. Di atas meja, sudah ada sayur asam dan goreng tempe serta tahu.


"Makan, Pak." Tawar Zoya. Sang bapak melirik tajam.


"Sudah dibilang di desa saja, ngotot mau pergi. Lihat bagaimana sekarang."


Zoya hanya duduk dan tersenyum canggung. Sudah diduga, bapaknya pasti marah, "Maaf, Pak. Namanya juga nyari pengalaman."

__ADS_1


Bapaknya melirik tajam. Sang ibu yang mengerti tabiat anak dan suaminya itu lantas menyendok nasi ke piring suaminya, juga mengambil sayur dan lauk pauk lainnya, "Makan, Pak. Jangan marahin anak terus."


Mendengar suara sang istri membuat pria yang rambutnya mulai memutih itu berhenti menatap tajam. Dia mengambil sendoknya, mulai menyuapi makanan yang disajikan sang istri ke dalam mulut. Lagipula dia memarahi Zoya bukan karena benci padanya. Dia hanya khawatir anaknya kenapa-napa. Siapa Ayah yang akan tega memarahi anak satu-satunya? Zoya itu seperti permata baginya.


Tapi, caranya berbicara memang terdengar jahat.


"Besok-besok jangan pergi jauh lagi, disini saja." Katanya. Zoya mengangguk, tak ingin bertengkar.


Sang ibu hanya tersenyum kecil melihat pertengkaran anak dan suaminya. Gitu-gitu, suaminya itu sangat sayang pada anaknya. Jadi dia tak begitu khawatir dengan pertengkaran mereka karena pada akhirnya mereka pasti akan berdamai kembali.


Pada akhirnya, mereka tenggelam dalam pemikiran mereka dan melanjutkan makanan mereka sampai habis.


***


Zoya tengah menyiram bunga di depan rumahnya. Saat tetangganya lewat, ia menyapa dan tersenyum. Gadis berusia dua puluh tahun itu benar-benar menikmati waktu santainya selama dua mingguan ini meski sesekali teringat dengan bosnya.


"Zoya, sarapan dulu."


Panggilan ibunya membuatnya membalikkan tubuh. Ia meletakkan gembor yang dipegangnya dan menjawab, "Sebentar, Bu." Ia kemudian segera masuk untuk sarapan.


Saat bekerja di rumah Gallen, Zoya mengurusi banyak hal. Memasak, membersihkan rumah, bahkan urusan cuci-mencuci juga dirinya yang mengurus. Yah, meski pria itu pun turut membantu seringnya. Namun di rumahnya sendiri, Zoya tak benar-benar mengurus semuanya. Biasanya mereka saling berbagi tugas, bahkan bergantian mengerjakannya seperti saat ini.


Dan sekarang, Ibunya sudah selesai memasak dan Zoya tinggal makan saja.


"Bapak mana, Bu?"


"Ada, masih di kamar kayaknya."


Gadis itu mengangguk dan segera mengambil posisi. Ia sudah sangat penasaran dengan makanan apa yang Ibunya siapkan. Sang ibu menggeleng dan tersenyum kecil. Meski sudah berusia dua puluhan tahun, Zoya masih saja terlihat seperti gadis kecil.


"Udah, beberapa hari yang lalu kami ketemu, kok. Kenapa ibu ngomongin Dafa terus?" Zoya menggoda sang ibu. Ibunya terus saja membicarakan teman masa kecilnya itu, seolah-olah Dafa adalah anaknya.


Ibunya pun tersenyum, "Yah, Dafa kan temanmu. Dia juga anaknya baik. Waktu kamu menghilang selama satu bulan itu, dia ikutan nyari info meskipun sebenarnya sibuk kuliah." Jawabnya.


Melihat anaknya yang santai-santai saja, Ibunya pun kembali bertanya, "Kamu gak punya perasaan sama dia?"


"Ibu tanya apa, sih?" Zoya tertawa, "Karena kenal dari kecil, rasanya udah enggak ada perasaan romantis lagi diantara kami, Bu. Dafa juga pasti merasa begitu." Jawab Zoya.


Ibunya hanya geleng-geleng kepala. Sama seperti bapaknya, sepertinya Zoya juga tidak peka terhadap perasaanya sendiri.


Saat bapaknya keluar dan duduk bersamanya, Zoya tak lagi membicarakan Dafa. Begitu pula ibunya. Karena bapak merasa Zoya masih kecil, jadi dia selalu marah saat anak dan istrinya membicarakan pria seolah-olah Zoya akan segera menikah.


Ibunya yang masih menempatkan makanan di mangkuk dan piring kemudian meletakkannya di meja makan setelah selesai. Saat itulah, makanan yang terlihat menggoda tiba-tiba tercium aneh di hidung Zoya.


"Ukh!"


Zoya menurut mulut dan hidungnya. Bapaknya yang duduk di sisi samping kemudian menengok ke arahnya, "Kamu kenapa?"


Zoya menggeleng, "Enggak, tapi kok bau makanannya aneh, ya?"


Mendengar kata-kata anaknya, bapak pun mencoba menciumi makanan yang baru diletakkan istrinya tadi, "Biasa aja, kok. Mungkin kamu masuk angin."


Zoya mengangguk. Yah, sepertinya benar kata bapaknya. Apalagi semalam hujan turun dan udara terasa dingin. Tapi bagaimana pun juga, dia harus makan. Nanti, mungkin dia akan mencari obat untuk mengatas mualnya.

__ADS_1


"Ukh!"


Zoya berlari dari tempat duduknya dan pergi ke kamar mandi. Tidak bisa, sepertinya ia tidak bisa makan dengan perutnya yang terus bergejolak seperti ini!


"Zoya?" Ibunya mendekat. Karena pintunya dikunci, ibunya pun hanya bisa berbicara dari luar, "Perutnya masih sakit? Mau ibu belikan obat?"


Zoya bersandar di dinding. Perutnya sepertinya hanya bergejolak saat mencium aroma makanan yang begitu dekat. Karena saat ibunya menyiapkan makanan di dapur, Zoya masih bisa mentolerirnya meski memang perutnya sudah terasa tak enak sejak masuk ke dalam rumah.


"Enggak usah, Bu. Nanti Zoya pergi sendiri."


"Yakin?" Ibunya mencoba memastikan. Zoya mengangguk, meski tentunya ibunya tak bisa melihat itu.


"Iya, Nanti Zoya pergi sendiri."


Mendengar kata-kata Zoya, ibunya lantas kembali ke meja makan. Ayahnya yang berpikir bahwa perut putrinya mungkin sedang tidak enak lantas beranjak untuk membuatkan teh hangat, juga menyiapkan roti dan selai yang memang kebetulan ada di rumah mereka. Zoya yang mengetahui tindakan manis bapaknya pun tersenyum. Karena jarak kamar mandi dan meja makan tak begitu jauh, Zoya mendengar percakapan mereka dengan jelas meski bapaknya berusaha berbicara dengan pelan sekalipun.


Setelah bapaknya selesai makan dan pergi ke ladang, Zoya keluar dari kamar mandi. Ibunya yang khawatir karena dirinya lama keluar pun datang menghampiri, "Beneran mau pergi sendiri?"


Zoya mengangguk. Lagipula ia sudah terbiasa pergi-pergi sendiri.


"Oh, ya. Belinya di apotik aja, ya. Sekalian ibu mau titip sesuatu." Ujar Ibunya.


Zoya bersedia. Karena apotik berjarak lebih dari lima kilometer dari rumahnya, ia jadi bisa sekalian berjalan-jalan.


"Yaudah, tulis aja yang mau dibeli."


Ibunya lantas menulis beberapa daftar obat-obatan yang ingin dibelinya. Sebenarnya bukan obat untuk penyakit, karena isinya hanya madu, vitamin, dan juga susu untuk tulang.


Setelah semua daftar sudah ditulis, ibunya pun memberikan uang. Zoya kembali ke kamar dan bersiap-siap. Ia mengganti pakaiannya dan sedikit merapikan penampilan. Setelah selesai, gadis itu lantas berpamitan dan pergi mengendarai sepeda motornya untuk pergi ke apotik sendirian.


"Mbak, saya mau beli beberapa barang." Ia memberikan daftar belanjaannya pada penjaga apotik.


"Tunggu sebentar, ya."


Penjaga apotik itu pergi untuk mengambilkan barang-barang yang dibutuhkan Zoya. Gadis itu pun menunggu di depan etalase toko. Tak beberapa lama kemudian, seorang wanita yang kelihatannya beberapa tahun lebih tua darinya datang dan berbicara dengan penjaga toko lainnya. Zoya hanya melihat sekilas, lalu kembali melihat ke depan.


"Mbak, saya mau beli testpack." Katanya dengan suara pelan.


Jantung Zoya berdetak kencang saat mendengar nama itu disebut. Saking terkejutnya, gadis itu bahkan sampai menengok ke arah wanita itu. Penjaga toko kemudian memberikan beberapa testpack seperti permintaan wanita itu, yang kemudian dibayarkan dengan cepat dan wanita itu pun langsung pergi kembali dari sana.


"Ini mbak, pesanannya." Penjaga apotik yang melayani Zoya pun kembali. Zoya yang berkeringat dingin itu hanya terdiam, tak mendengar saat penjaga apotik itu memanggilnya.


Enggak mungkin, kan? Kami hanya melakukannya sekali, jadi enggak mungkin benar-benar itu, kan?


"Mbak?" Panggil sang penjaga apotik itu kembali. Zoya menengok dengan terkejut, membuat penjaga apotik meminta maaf.


"Tolong tambahkan testpack juga." Ujar Zoya tiba-tiba.


Penjaga apotik itu tersenyum. Tampaknya, ia mengira bahwa Zoya pastinya bahagia dengan kemungkinan kehamilannya.


"Selamat ya, Mbak." Ujarnya saat Zoya membayar semua belanjaannya. Zoya hanya tersenyum kaku, tak tahu lagi harus menjawab apa.


Dengan langkah kaki yang cepat, gadis itu segera pulang ke rumah. Tentu, ia menyembunyikan beberapa barang yang dibelinya tadi dalam saku jaketnya. Ibu dan bapaknya tidak boleh tahu jika anak mereka yang masih gadis ini membeli barang seperti itu!

__ADS_1


***


__ADS_2