Andai Cinta Bisa Memilih

Andai Cinta Bisa Memilih
Warning


__ADS_3

Hampir jam lima sore, waktu Yunia sampai di rumah. Rico yang mengantar pulang. Bisa ditebak, Rico sengaja mengantarnya terakhir agar bisa berlama-lama bersama Yunia.


"Baru pulang, Yun?" Sapa ibu tetangga depan rumah, yang kebetulan sedang duduk-duduk bersama suaminya di teras depan rumah mereka, saat melihat Yunia turun dari mobil.


"Eh, iya Bu." Sahut Yunia sambil mengangguk sopan untuk menyalami. Ibu itu balas mengangguk sambil tersenyum, matanya memperhatikan Rico yang sudah ikut turun. Menyadari ada yang memperhatikan, Rico menoleh ke arah ibu itu dan ikut mengangguk menyalami. Setelah itu dia mengikuti Yunia sampai depan pintu rumah.


Yunia berdiri di depan pintu, tangannya menggapai-gapai bagian dalam tasnya untuk mencari anak kunci.


"Aku engga masuk, ya..." Kata Rico, saat Yunia sudah menemukan yang dicari, dan berusaha membuka kunci pintu.


"Em... ya, engga apa-apa..." Kata Yunia. Dia sendiri sebenarnya bingung, mau ditawari masuk atau engga Rico ini. Kondisi rumah yang kosong membuatnya canggung untuk menawari Rico masuk ke dalam rumah. Apalagi pandangan ibu tetangga depan rumah yang seperti memberinya peringatan membuatnya harus ingat akan status barunya. Untung Rico sadar diri... 😅


"Nanti malam aku telpon ya... " Ujar Rico, membuat Yunia berpikir sejenak. Itu tadi maksudnya minta izin menelpon atau sekedar pemberitahuan?


"Em... ya. makasih ya..." Sahut Yunia akhirnya.


"Aku yang makasih... Kamu udah mau hadir di acaraku ... di hidupku..." Imbuhan kata terakhir membuat jantung Yunia berdesir.


Ya Tuhan... ada yang salah dengan kalimat itu... dengan hati ini... dengan kondisi saat ini... dengan semuanya.... Ditatapnya wajah Rico dengan perasaan campur aduk. Ingin bicara tapi lidah terasa kelu. Beberapa detik mereka saling tatap hingga...


"Kamu sudah pulang, Yun..." Suara Bik Sumi menyadarkan keduanya. Seketika Yunia menunduk. Berlawanan dengan otak yang menyatakan kalau kelakuannya itu salah, wajahnya malah merona. Lain dengan Rico... dia tampak begitu bahagia bisa saling bertukar pandang dengan Yunia. Seakan dari tatapan Yunia tadi dia sudah bisa membaca kalau hatinya sudah dia dapat.


"Bik..." Sapa Rico sambil menghampiri Bik Sumi yang sudah berjalan melewati pagar rumah untuk menyalaminya. Dia mencium punggung tangan Bik Sumi.


"Kok sampai sore, Yun." Ujar Bik Sumi... Entah itu bertanya atau menegurnya. Yunia hanya bisa meringis memohon maaf.


"Maafkan saya, Bik. Saya tadi engga pamit ke bibi untuk mengajak Yunia ke acara saya..." Rico malah yang minta maaf. Sesaat Bik Sumi memperhatikan Rico.


"Nak Rico yang katanya ulang tahun itu ya..." Ujar Bik Sumi kemudian sambil tersenyum bijak. "Wah selamat ulang tahun ya... semoga panjang umur, sehat dan banyak rezeki..." Doa Bik Sumi selanjutnya.


"Terima kasih, Bik..." Sahut Rico. Beberapa detik mereka saling diam. Canggung. Hingga Bik Sumi mendehem memperingatkan.


"Eh, saya pamit pulang dulu, Bik." Ujar Rico sadar diri. Bik Sumi mengangguk. Rico lalu menoleh ke arah Yunia yang masih berdiri di depan pintu yang sekarang sudah terbuka.


"Aku pulang dulu..." Katanya pada Yunia yang dibalas anggukan kecil oleh Yunia. Setelah itu dia kembali menyalami Bik Sumi. Bik Sumi mengangguk.

__ADS_1


Rico kembali ke mobilnya. Setelah mengangguk berpamitan pada pasangan tetangga yang masih duduk-duduk di teras rumah tadi, dia pun pergi, diikuti oleh pandangan Yunia hingga hilang di tikungan jalan.


"Ehem..." Bik Sumi memdehem menyadarkan Yunia sambil berjalan mendahului masuk ke dalam rumah. Segera saja dia ikut masuk. Ada Warning dalam deheman bibi tadi. Karena belum siap di sidang, Yunia langsung masuk ke kamar.


"Aku mau bersih-bersih dulu..." Katanya beralasan.


🍃🍃🍃


Yunia duduk menghadapi meja belajar di kamarnya. Bik Sumi yang menemaninya malam ini tidak terdengar suaranya, tapi suara TV di ruang tengah terdengar. Pasti bibi sedang menonton TV.


Selesai makan malam tadi, Bik Sumi sudah menceramahi nya. Menyuruhnya hati-hati dalam bergaul.


"... Ingat, Yun. Kamu sekarang sudah menjadi istri orang.... Hati-hati dengan perasaan orang, jangan sampai karena keteledoran mu, ada hati yang tersakiti... Ingat, nama baik bapak mu jadi taruhannya..." Kata Bik Sumi seperti mengancam, membuat Yunia termangu.


Sejujurnya, dia sendiri engga ngerti dengan perasaannya sendiri. Diakuinya dia suka dengan Rico, tapi karena selama ini bapak selalu melarangnya pacaran, perasaan itu mengendap begitu saja. Engga merasa gemana-gemana juga. Makanya waktu ternyata dia dinikahkan dengan Wisnu, dia juga engga gemana-gemana.... Tapi kejadian tadi siang bikin efek lain.


Perasaan yang semula sudah mengendap itu tadi seperti air kopi yang diaduk-aduk. Terasa manis, tapi juga pahit.... terasa hangat tapi juga bikin sakit kepala...


intro lagu Attention- nya Charlie Puth yang menjadi ringtone ponsel milik Yunia mengalun


......


'Cause you knew that I, knew that I, knew that I'd call you up


.....


Yunia dengan malas meraih ponselnya yang tergeletak di meja belajarnya.


"Mas Wisnu..." Katanya dalam hati. Lalu ia menggeser icon telpon berwarna hijau.


"Halo... Assalamualaikum..." Salam Yunia.


"Waalaikum salam.... sedang apa, sayang?" Sapa Wisnu... Yunia tertegun. Bulu romanya meremang seketika mendengar kata "sayang" yang diucapkan Wisnu. Ini bukan pertama kalinya Wisnu memanggilnya "sayang". Tapi, sumpah demi apa, kata "sayang" yang diucapkan Wisnu kali ini kok rasanya lain ya? Jantungnya seperti berdenyut memberi sensasi yang gemana.... gitu.


"Halo...?" Terdengar suara Wisnu memanggil.

__ADS_1


"Eh, iya... halo mas." Sahut Yunia sedikit tergagap.


"Kamu lagi sibuk...?"


"Engga..."


"Dengan siapa kamu sekarang?"


"Bibi... lagi nonton TV tuh di depan..."


"Gemana sekolahnya? Hari ini kamu mulai sekolah lagi kan?" Dan... mulailah Yunia bercerita.


Seperti kebiasaannya kalau Wisnu sedang telpon ke bapak. Cerita dari mulutnya mengalir begitu saja. Semua dia ceritakan, kecuali perasaannya tentu. Wisnu mendengarkan dengan sabar, seperti biasanya. Dia sering menerima cerita-cerita receh dari Yunia.


"... Hemmmm jadi hari ini kamu udah seneng-seneng ya... Hati-hati jaga kesehatan, jangan sampai masuk angin." Kata Wisnu setelah mendengar kalau Yunia ikutan terlempar ke kolam ikan.


"Iya...iya..." Sahut Yunia.


"... ya udah, salam buat bibi. Nanti mas telpon lagi...." ujar Wisnu setelah dirasa cukup lama mereka telponan. Yunia mengangguk, lupa kalau Wisnu engga bisa melihatnya.


"... untuk masalah praktek kerja, nanti mas atur. Kamu tunggu kabar dari mas ya..." Imbuh Wisnu. Sekali lagi Yunia mengangguk.


"..Halo... sayang, kamu masih di sana?" Tanya Wisnu saat tidak mendengar jawaban dari istrinya.


"Eh, iya... masih... aku udah ngangguk, lupa kalau mas engga lihat aku..." Jawab Yunia sambil tertawa kecil. Terdengar suara Wisnu mendengus.


"Ya, udah... sampai nanti... Assalamualaikum."


"Waalaikum salam..." Sahut Yunia. Telepon ditutup. Yunia menatap telpon itu sesaat sebelum diletakkan kembali ke atas meja.


"... Dari Wisnu..?" Tanya bibi tiba-tiba dari arah pintu kamar. Hampir saja membuat Yunia terlonjak kaget.


Hist!


Dia sama sekali tidak mendengar langkah bibi mendekat. Entah sejak kapan bibi sudah berdiri di sana.

__ADS_1


Baru saja Yunia hendak menjawab, saat suara Charlie Puth kembali terdengar... Diliriknya ponsel itu lagi... ada nama Rico lengkap dengan photo profil-nya muncul di sana.....


👉👈 👉👈. 👉👈


__ADS_2