
Yunia mengambil ponselnya. Digesernya ikon hijau itu ke atas diikuti tatapan bertanya dari Bik Sumi.
"Rico..." Ujar Yunia memberi tahu.
"Jangan malam-malam tidurnya..." Kata Bik Sumi kemudian sambil melangkah meninggalkan Yunia. Yunia mengangguk walaupun tahu, bibinya itu tidak melihat anggukkannya.
"Halo... assalamualaikum..." Salam Yunia.
"Hai, waalaikum salam... aku enggak mengganggu waktu kamu kan...?" Tanya Rico basa basi.
"Engga... aku baru aja selesai menyalin catatan Santi..." Kata Yunia, terdengar Rico ber-Ooo ria. "Ada apa?" Tanya Yunia kemudian.
"Engga ada apa-apa... Cuma pengen ngobrol sama kamu aja, boleh kan ...?"
...Dan jadilah mereka ngobrol kesana-kemari, tertawa bersama mentertawakan hal-hal konyol yang mereka lakukan siang tadi, sampai terdengar seruan bibi kembali memperingatkan untuk Yunia agar tidak tidur terlalu malam.
🍃🍃🍃
Beberapa hari kemudian.....
"Yun, kamu beneran engga mau PKL bareng kita-kita...?" Tanya Mawar mengalihkan perhatian Yunia siang itu. Saat itu mereka sedang menghabiskan waktu istirahat hanya dengan duduk-duduk di koridor depan kelas, sambil menonton kawan-kawan lain bermain basket di lapangan. Bukan pertandingan resmi, cuma kegiatan iseng anak-anak yang menghabiskan waktu istirahat saja, dan Rico ada diantara mereka.
Yunia hampir terhanyut memperhatikan Rico berebut bola dengan lawan mainnya. Matanya begitu fokus memperhatikan setiap gerakannya. Dari cara dia melompat, berlari, mendribble bola, sampai cara menyibak rambut depannya yang agak basah karena keringat kelihatan begitu ... Ah... Astaga... Hanya dengan menatapnya saja membuat jantungnya dag dig dug engga karuan... 🤦
"Yun!" Sentak Mawar.
"Astaghfirullah..." Yunia hampir terlonjak. Dia mengucap istighfar bukan hanya karena sentakan dari Mawar, tapi juga karena tiba-tiba saja dia sadar dan teringat akan Wisnu.
"Kamu tuh, kalo matanya udah ngeliat Rico yang lain langsung jadi the invisible ..." Sungut Mawar.
"Rico...!" Seru Listi tiba-tiba. Rico yang baru melakukan shoot menoleh. "Aku padamu...!" Lanjut Listi sambil memberi isyarat dengan jari-jari tangannya yang membentuk hati. Rico tertawa kecil lalu melemparkan ciuman jauh yang dia arahkan bukan pada Listi, tapi pada Yunia. Membuat wajah Yunia merona seketika.
__ADS_1
SUIT SUIT
Kembali ledekan teman-teman mereka bergema.
"Wah, udah mulai berani terang-terangan nih..." Ledek Nugraha. Rico cuma tertawa sambil terus menatap Yunia yang sudah sok sibuk dengan teman-temannya.
"Yun.. tuh dilihatin Rico... Halah sok buang muka, tadi aja engga berkedip ngeliatin.. " Goda Santi. Yunia pura-pura engga denger omongannya.
"Kamu tadi ngomong apa?" Tanya Yunia pada Mawar.
"Eh?!" Mawar hampir lupa dengan pokok bahasannya tadi... "Eng... Itu... Kamu beneran engga mau PKL bareng kita-kita..." Ulang Mawar akhirnya setelah berhasil mengingat.
"Bukannya engga mau, tapi aku sudah terlanjur minta tolong sama mas Wisnu untuk urusan PKL ini ... Setelah dia repot-repot ngurusin masa harus aku tolak.... Engga enak lah..." Ujar Yunia beralasan.
Ya, Wisnu sudah memutuskan untuk menempatkan Yunia PKL di salah satu perusahaannya. Untung saja Yunia ambil jurusan akuntansi di SMK nya, jadi ditempatkan di mana saja bisa.
Ya, sekarang ini, perusahaan apa yang tidak ada sistem akuntansi-nya. Oleh Wisnu, Yunia disuruh milih, mau di tempatkan di konfeksi, di restoran atau di perusahaan travel nya. Sampai saat ini, Yunia belum memutuskan, mau ditempatkan di mana. Padahal PKL akan dimulai diawal bulan depan dan artinya itu tinggal seminggu lagi. Dan artinya lagi, mulai minggu depan mereka enggak bakalan bisa ketemuan sampai selesai masa PKL, yaitu selama tiga bulan ke depan.
"Hei... Bentar lagi kita bakalan pisahan nih... Ngadain acara yuk..." Ajak Listi.
"Ya, acara apa aja... Yang penting kita bisa barengan..."
"Aku engga bisa, say... Kalian tahu, empat hari lagi peringatan empat puluh hari meninggalnya, bapak..." Ujar Yunia.
"Oh, iya... Udah mau empat puluh hari ya..." Kata Santi yang diangguki oleh dua sahabat lainnya.
"Kalo mau, kalian bikin acara di rumah ku aja... Temanya .... bantu masak..." Usul Yunia yang langsung di sambut "HUU" dari teman-temannya. Mereka tertawa. Yunia tahu, walaupun kelihatannya seperti keberatan, tapi teman-temannya itu pasti nanti muncul saat acara.
"Hei..." Sapa seseorang yang suaranya sudah begitu akrab di telinga Yunia. Ya, suara siapa lagi... Suara Rico lah. Gemana enggak bakalan hapal. Sekarang hampir setiap malam dia telpon.
"Ehem... Ehem..." Teman-teman Yunia mendadak melakukan test suara. Yunia hampir salah tingkah karenanya.
__ADS_1
"Yun, nanti pulangnya bareng aku ya..." Ajak Rico tanpa basa basi. Membuat suara deheman di sekitar semakin kencang.
"Lis, nanti jangan lupa kacangnya dibungkus..." Cetus Santi. Listi mengangguk.
"Iya, panen kacang kan kita..." Sahut Listi.
"Hadeuh... Kasian banget kita ya... Cantik-cantik dikacangin..." Timpal Mawar mengeluh. Rico tertawa mendengar omongan mereka, tapi pandangannya masih tetap tertuju pada Yunia.
"Em... Mereka?" Tanya Yunia. Dari dulu memang begitu... Yunia engga mau diantar kalau cuma berdua. Teman-temannya musti ngikut. Rico menghela nafas agak mendengus.
Harapannya dia bisa berduaan dengan Yunia, tanpa Teman-temannya itu. Tapi kalau dia engga mau ngajak para dayang itu dia juga engga bisa ngajak sang putri...
"Sekali ini, boleh dong kita cuma berdua..." Pinta Rico. Yunia cuma tersenyum, tapi senyuman itu bisa dipastikan berarti NO. Melihat Yunia tersenyum seperti itu. Santi, Listi dan Mawar juga merekah kan senyum lebar. Rico juga tersenyum, tapi senyumannya senyuman kecut... 😂
"Ya, sudah, kita pergi bareng-bareng ... Tapi nanti kita jalan-jalan dulu ya..." Ujar Rico akhirnya.
"Dengan senang hati..." Sambut teman-teman Yunia.
"Kami juga ikut ya..." Timpal teman-teman Rico dari arah belakang. Entah sejak kapan mereka sudah berada di belakangnya dan mendengar ajakan Rico tadi.
"Dasar..." Gerutu Rico pelan, tapi masih bisa didengar oleh mereka. Tanpa belas kasihan mereka langsung tertawa terbahak.
Bagi Rico lebih baik keluar biaya lebih untuk mengajak teman-teman Yunia sekalian dari pada tidak bisa keluar bersama Yunia sama sekali...
Yunia tidak yakin tindakannya itu benar atau salah. Yang pasti, dia hanya ingin bersama teman-temannya dan juga Rico.
"Pak, Yunia engga salah kan? Sebentar lagi kami akan berpisah, mungkin karena PKL, mungkin juga karena melanjutkan sekolah kami... Yunia cuma ingin bersama teman-teman Yunia..."
"Pak ... Yunia engga pacaran kok, setelah masa sekolah ini selesai, Yunia akan belajar jadi istri yang baik untuk mas Wisnu... Untuk saat ini, izinkan Yunia menikmati masa-masa sekolah Yunia..."
"...Pak....Walaupun cuma sebentar, Yunia ingin mempunyai kenangan bersama Rico.... Maafkan Yunia, pak..." Bisik hati Yunia.
__ADS_1
Sayang sekali... Yunia lupa untuk menyadari efek sebuah kenangan bisa berakibat seperti tsunami yang bisa memporak-porandakan hati dan kepercayaan...
🍃🍃🍃