
Yunia mendekati Bik Sumi...
"Bi... Sebentar..." Katanya sambil setengah menarik tangan Bik Sumi agar mengikutinya ke kamar. Walaupun dengan kening berkerut, Bik Sumi mengikuti Yunia masuk ke kamar.
"Ada apa?" Tanyanya dengan nada risau. Sesaat Yunia ragu mau cerita, tapi dia sadar, situasi mendesak. Engga baik ditunda-tunda.
"Itu... Di depan... Ada orang yang datang mengantar ikan...." Kening Bik Sumi berkerut makin dalam. Beliau tidak berkata apa-apa, tapi ditatapnya Yunia, seolah dengan tatapan itu beliau bertanya... "siapa?" Tapi dengan konotasi negatif. Ya, kalau orang yang "enggak bermasalah" enggak mungkin Yunia mengajaknya bicara serahasia ini.
"Rico..." Lanjut Yunia pelan. Mendengar ini Bik Sumi langsung menarik nafas panjang. Kelihatan mulutnya sudah membuka, dari ekspresi wajahnya kelihatannya beliau sudah mau mengomel, tapi kemudian beliau menggelengkan kepalanya.
"... Engga usah diterima...." Kata Bik Sumi akhirnya.
"Ngomongnya gemana?" Tanya Yunia bingung.
"Bilang aja, ... makanan di sini sudah kebanyakan, nanti engga kemakan..." Kata Bik Sumi setelah berpikir sebentar.
Yunia paham, setelah itu dia lalu kembali ke depan untuk menyampaikan ke bapak-bapak suruhan keluarga Rico itu.
Di depan, dilihatnya orang yang bernama Taslim itu masih ngobrol dengan Wisnu.
"Eh, pak..." Panggil Yunia saat mereka sudah dekat. Pak Taslim segera menghentikan obrolannya dan bersiap untuk berdiri.
"Oh, iya... Mau diturunkan sekarang?" Tanyanya.
"Eng... Enggak pak... Gini... Saya minta maaf... Kami enggak bisa menerima pemberian ini... Maaf sekali..." Ujar Yunia dengan nada menyesal dan takut-takut. Kelihatannya bapak itu seperti tidak menyangka, kalau bakal menerima penolakan dari tuan rumah.
"Wah... kok begitu ... saya harus ngomong apa sama juragan ini....?" Tanyanya tertular rasa was-was dari Yunia.
__ADS_1
"Maaf, pak... Kami sudah terlanjur pesan cukup banyak untuk lauknya... takut mubasir nanti...." Jawab Yunia.
"Engga bisa buat tambah-tambah gitu...?" Ujar bapak itu sedikit mendesak. Mungkin dia juga takut dimarahin oleh majikannya, kalau sampai tidak berhasil menjalankan tugas.
"Maaf, pak..." Sahut Yunia. Kali ini dia bicara dengan nada final tapi penuh penyesalan, membuat bapak itu ragu untuk mendesak lagi. Wisnu yang duduk di samping Yunia merasakan ketegangan dalam nada suara Yunia. Walaupun hatinya bertanya-tanya, "KENAPA?" tapi dia tidak menyela.
"Saya mohon maaf sekali, pak... Biar nanti saya menelpon Rico, untuk menyampaikan permohonan maaf ini... juga kepada ibu..." Ujar Yunia, karena Yunia yakin Rico pasti menyampaikan niatnya ini kepada ibunya, bukan kepada ayahnya. Karena itu dia merasa perlu untuk menyampaikan permohonan maafnya itu juga pada ibunya Rico.
Akhirnya setelah sedikit berbasa-basi, Pak Taslim pulang dengan membawa kembali pemberian yang ditolak itu. Seperti biasa, Yunia dan Wisnu mengantarkan sampai keluar pintu, dan baru masuk lagi setelah tamu mereka menjauh.
"Kenapa di tolak, Yun?" Tanya Wisnu begitu mereka berbalik untuk masuk ke dalam rumah.
"Kan tadi udah dibilangin...." Yunia berusaha nge-les... Wisnu enggak ngomong apa-apa, tapi dia terus menatap Yunia, seakan dengan tatapan itu dia ngomong..."kamu pikir aku percaya?!". Yunia meringis...
"Sebelumnya, Yunia minta maaf, mas... tapi, bisa enggak kita bahas ini nanti... ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan ini..."
"Apa ini menyangkut hal yang serius?" Tanya Wisnu mencari petunjuk.
"Ayo ..." Katanya sambil menggandeng tangan Yunia, menuntunnya berjalan ke arah kamar. Awalnya Yunia nurut saja, tapi waktu mereka memasuki ruang tengah, tempat orang-orang sedang duduk di lantai sambil merakit kerdus, terdengar celetukan...
"Masih pagi, masa mau ngamar, Yun?"
Refleks, Yunia menarik tangannya dari gandengan Wisnu. Kedua menoleh kearah asal suara. Di sana, mereka melihat ibu-ibu tetangga itu sedang tertawa-tawa kecil menggoda mereka. Seketika wajah Yunia memerah. Wisnu juga kelihatan tersipu, tapi tidak sampai membuat wajahnya memerah seperti Yunia.
"Ih... Enggak... Yunia cuma mau..." Yunia berusaha berpikir cepat. "... mau ambil flash disk..." Lanjut Yunia beralasan.
"Ngamar beneran juga enggak apa-apa, Yun... Udah sah ini, kok..." Celetuk salah seorang dari mereka lagi. Yang langsung disambut tawa teman-temannya.
__ADS_1
Yunia masih mau menyahut, tapi Wisnu memberi isyarat agar mengabaikan mereka dan segera masuk, membuat Yunia yang barusan merasa jengah langsung berganti dengan perasaan tegang... ah, ya... dia merasa akan di sidang oleh Wisnu. Kedua perasaan itu sungguh membuatnya tidak nyaman...
Mengabaikan tawa dari para ibu itu, Yunia mengikuti Wisnu masuk ke kamar. Di dalam kamar, Wisnu langsung duduk di kursi belajar Yunia, sedang Yunia sendiri duduk di tepi pembaringannya.
"Coba ... sebenarnya ada apa...?" Tanya Wisnu langsung. Walaupun takut, akhirnya Yunia bercerita perihal Rico dengan sangat hati-hati. Tentang "kecurigaan" mengenai perasaan Rico terhadapnya. Wisnu mendengarkan dengan penuh perhatian.
"... Kamu suka sama dia?" Tanya Wisnu setelah Yunia selesai bercerita. Pandangan matanya tak lepas memperhatikan setiap perubahan ekspresi wajah Yunia.
"Em.... dulu aku sempat suka sama dia..." Jawab Yunia takut-takut "... tapi sekarang enggak lagi...." Imbuh Yunia cepat, takut Wisnu keburu salah paham.
"Kenapa?" Tanya Wisnu lagi.
"Enggak boleh sama bapak..." Jawab Yunia spontan.
"Jadi kamu enggak pacaran kan sama dia?" Wisnu minta ketegasan.
"Enggak." Jawab Yunia tegas. Ya, apapun jenis hubungan mereka kemarin, tidak pernah ada deklarasi pacaran diantara mereka. Jadi Yunia bisa dengan yakin mengatakan, mereka tidak pernah pacaran.
Setelah mendengar jawaban Yunia, Wisnu bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Yunia. Direngkuhnya pundak Yunia, hingga kepala Yunia merapat di dadanya. Membuat jantung Yunia berdebar kencang.
"Mas tahu... hubungan kita ini masih baru, tapi mas sudah berjanji, akan mempercayakan kebahagiaan mas padamu, Yun. Kamu bisa menjaga kepercayaan itu, kan?" Ucap Wisnu penuh perasaan. Terasa oleh Wisnu kepala Yunia mengangguk. Wisnu menunduk, mencium puncak kepala Yunia.
"Maafkan Yunia, mas... Yunia janji. Mulai sekarang akan menjaga kepercayaan, mas Wisnu." Ucap Yunia. Dia menengadah menatap wajah Wisnu, sementara tangannya memeluk pinggang Wisnu begitu saja. Wisnu tersenyum. Wajahnya mendekat. Ia mengecup Yunia, mulai dari kening, mata kiri dan kanannya, puncak hidung lalu terakhir bibir Yunia. Hanya kecupan ringan, tapi terasa begitu indah untuk Yunia.
"Masih mau lanjut?" Tanya Wisnu, saat dilihatnya Yunia masih menengadah sambil terpejam. Yunia yang tadi memejam saat Wisnu mengecup matanya segera membuka mata. Dilihatnya Wisnu tersenyum mencurigakan. Mendengar perkataan Wisnu terakhir, membawanya pada ingatan akan kejadian tadi pagi. Seketika wajahnya memerah.
"E eng..." Rengek Yunia manja. Dia merasa malu. Wisnu tertawa kecil sambil kembali mendekap Yunia, membiarkan Yunia menyembunyikan wajah ke dadanya.
__ADS_1
"Di sini tempatmu, Yun.... kamu mau marah, mau menangis, mau tertawa, mau berkeluh kesah, mau manja sekalipun.... di sini tempatmu... di dadaku..." Ujar Wisnu lirih sambil kembali mengecup puncak kepala Yunia dengan penuh kasih.
🍃 🍃 🍃 🍃 🍃 🍃