
Yunia menyerahkan lembar fotocopy-an beserta daftar nama orang yang akan diundang pada teman-temannya.
"Ini tulis... nanti kalau udah selesai, tolong di susun lagi sesuai urutan ini ya... Supaya enak nanti nganterinnya, enggak musti ngelompokin lagi..." Ujar Yunia memberi petunjuk kepada teman-temannya.
"Siap bos... upahnya mana?" Kata Santi.
"Udah... kerjain dulu, udah beres baru tanya upah..." Sahut Yunia sok galak. Teman-temannya langsung tertawa. Tawa mereka seketika mereda ketika melihat Wisnu berjalan mendekat. Yunia tadi memang masuk duluan, karena Wisnu yang melihat paman dan pak Yono berada di halaman samping, memilih untuk menghampiri mereka lebih dulu.
"Assalamualaikum ..." Salam Wisnu saat masuk ke rumah dan melihat Yunia sedang bersama teman-temannya.
"Waalaikum salam..." Jawab mereka hampir bersamaan.
"Teman sekolahnya, Yunia?" Tanya Wisnu saat melihat mereka masih mengenakan seragam.
"Iya, mas... kenalin... ini Santi... Lesti sama Mawar..." Yunia yang menjawab sambil menunjuk temannya satu-satu. Yang ditunjuk segera menghampiri dan menjabat tangan Wisnu. Tak lupa mereka memberikan senyum terbaik mereka padanya.
"... Emmm, silahkan... saya masuk dulu..." Pamit Wisnu kemudian setelah selesai berjabat tangan dan saling melempar senyum...Ya, yang satu senyum manis, yang satu lagi senyum rikuh... 😅
Setelah mengatakan itu, Wisnu langsung melangkah masuk ke ruang tengah, diikuti tatapan kagum dari teman-teman Yunia.
"Udah tuh tolong diselesaikan cepat, biar bisa disebar sore ini..." Perintah Yunia mengalihkan perhatian mereka dari Wisnu.
"Eh, Yun... kamu mau kemana?" Tanya Lesti saat melihat Yunia meraih keresek yang sempat dia taruh di meja tadi, saat mereka berpelukan heboh, dan kemudian melangkah ke ruang dalam.
"Ini... mau ngewadahin sop buah... kalian mau enggak?" Tanya Yunia sambil menunjukkan bungkusan yang tadi dibawanya.
"Mauuu...!" Sahut mereka spontan dengan antusias. Yunia tertawa. Dia sudah menduga reaksi mereka akan seperti itu kalau melihat sop buah ini.
"Ya, udah... tunggu sebentar..." Katanya lalu melanjutkan langkah masuk ke ruang tengah.
Di ruang tengah, Yunia melihat orang-orang yang tadi merakit kerdus masih ada, tapi pekerjaan mereka sudah ganti. Sekarang mereka sedang membungkus pisang dengan adonan tepung untuk membuat molen pisang.
__ADS_1
"Hai... " Sapanya, sambil lalu menuju dapur untuk mengambil wadah sop buah yang dibelinya tadi...
🍃🍃🍃 singkat cerita 🍃🍃🍃
Hari Jumat...
Pagi-pagi Yunia sudah terbangun. Begitu membuka mata, otaknya langsung bekerja, mengingat-ingat apa saja yang akan dia lakukan....
Pagi ini, jadwal pekerjaan Yunia banyak sekali... Setelah selesai sholat shubuh, dia harus membantu ibu dan bibi menyiapkan menu sarapan untuk semua keluarga dan ibu-ibu tetangga yang turut membantu, juga untuk beberapa orang yang akan tadarusan sebagai pembuka acara tahlilan.
Agak siang sedikit, dia akan berziarah ke makam bapak dan ibu... selesai berziarah, dia harus mengambil pesanan kue ke rumah Tante Mia ... mengemas semua makanan yang sudah disiapkan untuk berkat orang-orang tahlil. Baru, setelah proses tahlilan selesai, pekerjaannya selesai pula... untuk sementara.
Ya, cuma untuk sementara, karena setelah urusan tahlilan selesai, dia sudah harus mempersiapkan segala sesuatunya untuk keperluan praktek kerja lapangan dari sekolahnya.
"Hadeuh... kok banyak sekali yang masih harus dilakukan, ya..." Pikir Yunia sambil berusaha bangkit dari tidurnya. Tapi... Loh kok susah amet ya. Yunia melihat sebuah tangan setengah melingkar di atas perutnya. Setelah ditelusuri, ternyata itu tangan Wisnu yang tidur menyamping di sebelahnya sambil memeluk perutnya. Serta merta wajah Yunia merona, saking capeknya, semalam dia tertidur pulas sekali, sehingga tidak merasakan saat Wisnu menyusul tidur di sampingnya dan memeluk tubuhnya erat.
"Mas... aku mau bangun... " Ujar Yunia sambil berusaha melonggarkan pelukannya Wisnu. Tadinya dia mau diam-diam saja bangun, tapi karena kesulitan, akhirnya dia sedikit mengguncang tubuh Wisnu, agar yang punya tangan bangun dan melonggarkan pelukannya.
"Mas... Udah shubuh ini..." Ujar Yunia lagi.
"Sebentar...." Desis Wisnu serak dan terdengar memaksa. Yunia yang tidak paham menatap Wisnu bingung. Hingga beberapa detik kemudian dirasakan Wisnu mengeratkan pelukan, tubuhnya menegang sedang wajahnya dia selusupkan di bawah lengan Yunia, setengah bersembunyi. Beberapa detik mereka berdua diam dalam posisi seperti itu, hingga...
"Mas..." Panggil Yunia sedikit khawatir. "Ada apa dengan mas Wisnu?" Pikir Yunia.
"Sudah ... Sana kalau mau bangun duluan..." Sahut Wisnu. Kali ini suaranya sudah terdengar normal. Dia juga melepaskan pelukannya pada Yunia. Perlahan Yunia bangkit.
"Mas Wisnu enggak apa-apa?" Tanya Yunia sambil terus menatap wajah Wisnu. Wisnu tersenyum kelihatan seperti malu.
"Enggak... mas enggak apa-apa... cuma lapar..." Jawab Wisnu sambil cengengesan.
"Oh, ya udah Yunia segera siapkan sarapan untuk mas..." Ujar Yunia lalu bergegas pergi.
__ADS_1
"Hem..." Gumam Wisnu menanggapi ucapan Yunia. "Padahal aku lapar pengen makan kamu Yun..." Sambungnya dalam hati.
Ya, ada hasrat yang menuntut untuk dilepaskan, tapi Wisnu bingung cara memulainya dengan Yunia. Apalagi semalam dilihatnya Yunia begitu pulas tidurnya, hingga dia peluk pun Yunia tidak terbangun. Untuk sengaja membangunkan pun Wisnu jadi enggak tega. Dia tahu Yunia sibuk sekali seharian kemarin. Dia yang sekedar membantu saja capek, apalagi Yunia ... jadi... oke lah... dia akan menunggu waktu yang tepat untuk memulai pacaran model dewasa mereka. 😂
Sesuai rencana... Setelah menziarahi makam bapak dan ibu, Yunia dan Wisnu pergi ke rumah Tante Mia untuk mengambil pesanan mereka. Sampai di rumah, kaum wanita yang ada segera mengemas berkat untuk para undangan tahlil, sementara para pria, karena kebetulan hari itu hari Jumat, mereka menghentikan kegiatan mereka dan bersiap untuk sholat Jumat.
"Yun, itu ... mas-mu sudah selesai mandi, sudah kamu siapkan pakaiannya...?" Tanya Bik Sumi dari arah dapur yang memang bersebelahan dengan kamar mandi. Yunia menoleh ke arah kamar mandi. Dilihatnya Wisnu sudah melangkah menuju kamar mereka. Yunia segera bangkit dan mendahului masuk kamar.
"Mau Sholat Jumat, mas?" Tanya Yunia saat mereka sudah berada di dalam kamar. Yunia pergi ke lemari untuk mengambilkan pakaian untuk Wisnu.
"He em." Sahut Wisnu sambil mengibaskan rambutnya yang masih basah. Yunia berdiri di depan lemari sambil mendekap pakaian yang dia ambil untuk Wisnu. Matanya menatap tubuh Wisnu yang hanya memakai handuk sebatas pinggang. Tangannya masih juga mengibas-ibaskan rambutnya.
"Udah wudhu, belum?" Tanya Yunia.
"Ya, sudahlah... kan sekalian mandi tadi. Kenapa?" Tanya Wisnu heran. Dia menyangka Yunia memerlukan bantuan atau apa, dan Yunia takut merusak wudhu nya. Yunia cuma angkat bahu, lalu perlahan mendekati Wisnu. Wisnu menunggu sambil terus memperhatikan gerak gerik istrinya. Separuh heran separuh curiga.
Yunia berhenti dan berdiri dekat suaminya. Tanpa berniat untuk menyentuh bagian tubuh Wisnu, dia berjinjit dan berbisik di dekat telinga Wisnu.
"Mas seksi sekali..." Katanya. Lalu tanpa berniat melihat reaksi Wisnu, Yunia melangkah mendekati kasur dan meletakkan pakaian Wisnu di sana.
Sesaat Wisnu terpana, tapi hanya sepersekian detik, tiba-tiba dia memaki.
"*****!" (makiannya terserah pembaca deh dari pada kena sensor) 🤗 Wisnu buru-buru meraih tubuh Yunia yang sudah mau beranjak keluar. Yunia tertawa melihat Wisnu memaki. Ya, walaupun Wisnu memaki dia tidak marah.
"Kamu ngerjain aku ya..." Tuduhnya sambil tertawa. Yunia tertawa tambah keras sampai berguling-guling di atas kasur karena diburu gelitikan dari Wisnu.
"Ampun mas... ampun... " Kata Yunia sudah hampir menangis karena tertawa. Tapi sepertinya Wisnu belum puas membalas godaan Yunia tadi. Untung saja terdengar suara ibu berteriak dari luar kamar...
"Wisnu... mau pergi ke masjid bareng paman enggak?"
"Sebentar lagi, Bu...!" Sahut Wisnu. Sesaat kemudian ibu mendengar suara keduanya saling menyalahkan walau masih diiringi tawa...
__ADS_1
🍃 🍃 🍃