
Mobil meluncur meninggalkan kompleks perumahan, menyusuri jalanan kota yang sudah lumayan padat karena memang saat itu adalah jam sibuk, saat dimana orang-orang mulai beraktivitas di tempat kerja atau tempat belajar masing-masing.
Di tengah jalan, tiba-tiba terdengar suara ponsel Wisnu berbunyi. Wisnu segera memasang headset-nya dan berbicara dengan orang yang berada di seberang telepon. Yunia tidak tahu siapa itu dan tidak bisa menebaknya, tapi yang pasti itu urusan pekerjaan. Sepertinya yang menelpon Wisnu tadi mengharap kehadiran Wisnu segera ditempatnya.
"....Ya, aku akan ke sana, tapi mungkin agak terlambat. Jalanan agak macet ini..." Sahut Wisnu pada si penelepon. Sesaat Wisnu terdiam mendengarkan ucapan si penelpon lalu dia memutuskan sambungan telepon itu.
"Yun... tadinya mas mau kenalin Yun langsung sama GM restoran tempat Yun PKL, tapi barusan mas ditelpon harus segera ke konveksi, ada masalah..." Ujar Wisnu kemudian sambil menoleh ke arah Yunia.
"Lah....?! Terus Yunia gemana dong, Yun takut kalau ke sana sendiri..." Ujar Yunia mulai khawatir.
Bukan karena dia manja atau gemana. Hari ini adalah hari pertamanya untuk PKL di tempat itu. Dia sama sekali tidak mengenal siapapun, bahkan proposal PKL nya pun bukan dia yang memberikan. Jadi dia benar-benar "gelap" soal PKL ini. Dia tidak tahu harus menemui siapa dan akan ditempatkan dimana...
"Kok, takut... takut sama siapa?" Tanya Wisnu.
"Bukan takut seperti itu, mas... Yun kan orang baru disini.... enggak kenal siapa-siapa juga enggak kenal lingkungannya... kalau ada apa-apa, Yun mau minta tolong sama siapa...?" Jawab Yunia.
"Di sana kamu kan enggak sendirian, Yun... Kamu bisa minta tolong sama siapapun yang ada di sana..." Hibur Wisnu..
"Tapi kan enggak semudah itu minta tolong sama orang yang sama sekali enggak dikenal...' Gumam Yunia pelan setengah merajuk.
Wisnu nampak berpikir sebentar.
"...Sebentar...." Ujar Wisnu. Dia lalu memijit-mijit keypad ponselnya untuk membuat hubungan telepon. Sambil menunggu hubungan tersambung, Wisnu kembali memasang headset nya.
"... Halo... Assalamualaikum...." Ucap Wisnu setelah telepon itu tersambung. "Rat ... kamu masuk jam berapa?" Tanya Wisnu pada orang yang di seberang telepon.
"...."
__ADS_1
"...Oh, ya udah. Ini, Yunia aku antar sekarang ke restoran, tapi aku enggak bisa nunggu lama, soalnya aku harus ke pabrik ... sudah ditungguin disana..." Ucap Wisnu lagi.
"..."
"Oh, gitu... ya udah... tolong hubungi dia... oke, makasih...." Setelah itu Wisnu memutuskan hubungan telepon dan kembali menoleh ke arah Yunia.
"GM nya akan datang jam sembilanan... tapi tadi dia bilang, dia udah kasih tau kepala akunting nya, Bu Ari, soal kamu. Nanti kamu temuin dia aja dulu, sebelum GM nya datang..." Ujar Wisnu memberi petunjuk.
Yunia terdiam. Sebenarnya dia merasa kurang senang jika harus menemui orang yang disebut Bu Ari ini sendiri. Dalam bayangannya tadi, dia akan ditemani Wisnu hingga urusan penempatannya selesai. Jika setelah itu dia ditinggalkan di sana sendiri enggak masalah. Dia hanya merasa takut untuk memulainya sendiri. Itu saja. Tapi jika situasinya seperti sekarang ini, Yunia bisa apa? Masa dia musti merengek untuk tetap minta ditemani?
"Jangan manyun gitu, dong..." Goda Wisnu sambil tertawa kecil, melihat wajah Yunia yang merenggut.
"Tau ah...!" Ucap Yunia kesal. Maksudnya tadi dia mau sok bersikap "oke, everything is gonna be alright". Tapi digoda Wisnu seperti itu, spontan kekesalannya muncul. Yang ada sekarang bibir Yunia mengerucut lebih tajam. Seketika Wisnu tergelak melihat ekspresi wajah Yunia.
"Duh... mamanya Ina ngambek..." Goda Wisnu lagi. Dia sengaja memakai sebutan "mama Ina" Untuk mengingatkan Yunia, bahwa dia harus bersikap "lebih dewasa" untuk menyikapi situasi saat ini. Tapi Yunia sudah terlanjur bad mood, jadi diingatkan tentang posisinya yang sudah jadi "mama" dan dituntut untuk bersikap lebih dewasa malah membuatnya tambah kesal.
"Ya, sudah... Nanti mas temenin deh sampai ketemu sama Bu Ari..." Ujar Wisnu akhirnya memutus khayalan buruk Yunia, karena dia tak tega melihat kekusutan di wajah istrinya. Seketika Yunia menoleh ke arah Wisnu.
"Iya?!" Yunia memastikan. Wisnu mengangguk. "Terima kasih... Yun janji, setelah ini, Yunia enggak akan ngerepotin mas lagi... Yunia cuma minta ditemani untuk hari ini saja... besok-besok, kalau Yunia udah kenal dengan situasi di sana, Yun bisa kok sendiri...." Ujar Yunia mulai ceria kembali.
"Jangan bilang gitu... Yunia enggak ngerepotin mas kok... Lagian, mas yang senang direpotin sama Yunia. Kalau Yunia mau menghadapi semua masalah Yunia sendiri, lalu ... apa fungsinya mas Wisnu sebagai suami Yunia?" Sahut Wisnu panjang lebar. Yunia sampai terharu mendengarnya.
"Terima kasih, mas..." Kata Yunia penuh apresiasi.
"Sama-sama, sayang..." Sahut Wisnu sambil mengusap kepala Yunia lembut dengan tangan kiri, karena tangan kanannya masih memegang kemudi. Dia senang, karena bisa membuat Yunia tersenyum lagi.
Beberapa (puluh) menit kemudian.... Mobil memasuki area parkir yang Yunia pastikan adalah restoran tempat dia akan melaksanakan PKL. Seorang security yang merangkap sebagai juru parkir segera mendekat, membantu memandu Wisnu untuk memarkirkan mobilnya. Setelah selesai parkir, Wisnu segera turun diikuti oleh Yunia.
__ADS_1
"Selamat pagi, pak..." Sapa security itu.
"Pagi... Bu Ari sudah datang?" Tanya Wisnu setelah menjawab salam security.
"Sudah, pak... tadi saya sudah lihat mobilnya terparkir di halaman belakang..." Jawab security, sambil matanya melirik Yunia sekilas. Dia ingin menyapa gadis yang berdiri agak di belakang Wisnu itu, tapi enggak berani dan merasa sungkan kepada Wisnu.
"Oh, ya sudah. Terima kasih..."Ucap Wisnu pada security itu. "Ayo..." Lanjutnya beralih kepada Yunia. Yunia mengangguk dan berjalan mengikuti Wisnu setelah melempar senyum sekilas pada si security. Security itu membalas senyuman Yunia dan melangkah kembali ke pos-nya dengan mata masih mengikuti kedua orang itu hingga hilang ke dalam bangunan gedung restoran.
Yunia berjalan agak merapat di belakang Wisnu. Wisnu sendiri kurang menyadari hal itu. Perhatiannya terarah pada sapaan para karyawan restoran yang masih bersiap-siap membersihkan area serta menyediakan semua perlengkapan untuk menyambut tamu mereka hari ini..
"Pagi, pak..." Sapa orang-orang itu silih berganti sepanjang jalan yang mereka lalui.
"Pagi..." sahut Wisnu. Yunia tidak ikut menjawab karena tau sapaan itu bukan untuk dirinya. Dia hanya mengangguk sambil tersenyum kecil jika pas mata mereka bertemu. Dalam waktu singkat terdengar dengungan gosip menyebar seantero restoran....
Wisnu mengajaknya ke lantai dua restoran itu melalui area kitchen, bukan lewat tangga buat tamu, tapi tangga khusus karyawan.
"Mas...."Panggil Yunia pelan saat mereka di tangga dan mereka hanya berdua.
"Ya..." Sahut Wisnu tanpa menghentikan langkahnya.
"Mas kok kenal sama para karyawan di sini sih?" Tanya Yunia juga masih mengikuti langkah Wisnu menaiki anak tangga.
Mendengar pertanyaan Yunia langkah Wisnu terhenti sejenak. ada senyum dikulum menghiasi bibirnya. Ternyata dia lupa memberitahu Yunia kalau restoran ini adalah miliknya.
"Emmm... itu... karena GM di restoran ini temen mas Wisnu..." Jawab Wisnu akhirnya sambil melanjutkan langkahnya.
"Ooooh...." Ucap Yunia tanpa suara dan kembali mengikuti langkah Wisnu....
__ADS_1
π€¦πΈπΈπΈπππ