
Yunia duduk termenung, dia benar-benar tidak tahu, apa yang akan dia lakukan jika Wisnu benar-benar kembali pada Adriana. Relakah dia jika harus berbagi dengan Adriana? Itupun kalau Wisnu masih mau bersamanya. Kalau Wisnu malah ingin berpisah dengannya?
"Bapak.... aku musti bagaimana....?" Rintih Yunia lirih sambil mengusap genangan air di sudut matanya. Dia benar-benar sudah tidak tahan lagi. Dia terisak-isak sambil memeluk lutut, wajahnya dia tenggelamkan di antaranya. Hingga....
Yunia mendengar suara pintu mobil dibuka. Segera saja dia berpaling ke arah yang berlawanan dengan suara tadi, sembunyi-sembunyi dia menghapus air matanya.
"Pak, langsung pu...." Ucapan Yunia terhenti, karena ketika dia menoleh, dilihatnya yang masuk ke dalam mobil ternyata bukan pak Yono seperti dugaannya.
"Ma ma ma..." Celoteh gadis kecil dalam gendongan sang ayah.
"Tuh, mamamu Na... ditungguin lama ternyata malah duduk di sini..." Sindir Wisnu pada Sabina. Sabina mencondongkan tubuhnya minta di gendong Yunia. Yunia meraih dan memeluknya. Dia enggak tahu harus bicara apa pada Wisnu. Jengkel iya. Tapi semua kosa katanya seperti buyar waktu melihat Wisnu malah tersenyum seperti tidak ada masalah sama sekali.
"Kenapa malah duduk di sini, Yun?" Tanya Wisnu yang kini sudah duduk di samping, dengan posisi menghadap ke Yunia. Yunia terdiam. Dia bersedih, karena Wisnu sudah mendiamkannya beberapa hari ini. Dia ingin marah, karena melihat ternyata Wisnu ada bersama Adriana, Dia juga ingin menangis, karena takut Wisnu dan Sabina pergi dari sisinya. Dan terakhir...dia juga jengkel, karena dirasa Wisnu tidak peka, masih saja bertanya dia kenapa. Saking bingungnya Yunia dengan perasaannya yang bercampur baur, akhirnya dia hanya bisa tunduk... diam... menangis .... lagi.🤦
"Yun..." Panggil Wisnu tidak menyangka kalau Yunia akan menangis lagi. Diraihnya Yunia dalam rengkuhan nya. Diperlakukan seperti itu, tangis Yunia semakin pecah. Tubuhnya bergetar menahan diri agar tidak menangis kencang. Walau bagaimanapun, Yunia masih sadar kalau dia sekarang ada di tempat umum. Tapi beneran dia sudah tidak bisa berpura-pura kalau dia baik-baik saja.
"Ish... udah-udah.... jangan nangis dong..." Bujuk Wisnu pelan sambil membelai punggung Yunia. Tapi Yunia yang sudah terlanjur sesak dadanya dengan emosi yang campur baur tetap menangis.
"Yun, jangan nangis lagi dong... lihat, kasihan Sabina lihat kamu nangis jadi mau ikutan nangis..." Bujuk Wisnu lagi. Walaupun menyadari efek tangisannya pada Sabina, tentu saja enggak bisa secepat itu Yunia menghentikan tangisnya.
Akhirnya karena bingung, Wisnu membiarkan Yunia menangis, menyalurkan semua yang dia rasakan dalam tangis, tapi Wisnu tidak melepaskan pelukannya, sebelah tangannya yang lain juga tidak berhenti mengelus punggung Yunia seraya sesekali mencium puncak kepalanya.
Akhirnya, karena merasa nyaman dengan perlakuan Wisnu, lambat laun tangis Yunia mereda dan berhenti.
__ADS_1
"Sudah merasa enakan?" Tanya Wisnu saat merasa tubuh Yunia tidak lagi bergetar oleh tangis. Yunia mengangguk. Tapi wajahnya masih dia sembunyikan di dada Wisnu. Kini dia malu karena sudah menangis seperti anak kecil.
"Rasanya ada masalah yang harus kita luruskan ya, Yun... Tapi tempat ini enggak enak buat ngomong. Kamu mau kembali ke restoran?" Tanya Wisnu. Cepat Yunia menggeleng. Dia malu kalau harus ke restoran dan memperlihatkan wajahnya yang pasti sudah kusut karena habis menangis.
Menerima jawaban Yunia, akhirnya Wisnu memanggil pak Yono. Dia meminta kunci mobil yang sekarang ini mereka naikin dan menyuruh pak Yono untuk membawa pulang mobil yang tadi Wisnu bawa ke tempat itu. Pak Yono datang menyerahkan anak kunci sambil memberikan tas Yunia yang tertinggal di restoran.
"... Pegawai restoran tadi menitipkannya pada saya untuk diserahkan ke Neng Yunia..." Kata pak Yono menjelaskan.
"Terima kasih, pak... saya tinggal dulu, bapak langsung pulang saja enggak apa-apa, pak." Ujar Wisnu memerintah. Pak Yono mengangguk. Setelah mobil bergerak untuk meninggalkan area basemen, Pak Yono segera menuju mobil Wisnu yang terparkir tidak terlalu jauh dari situ.
...* * * beberapa saat kemudian * * *...
"Yun... sebenarnya ada apa...?" Tanya Wisnu.
Suasana taman tidak sepi saat siang menjelang sore itu, tapi tidak terlalu ramai juga. Wisnu sengaja memilih tempat yang tidak terlalu sunyi agar Yunia bisa membaur dengan lingkungan dan tidak hanyut dengan perasaan yang Wisnu sendiri tidak tahu bagaimana sebenarnya.
Sesaat Yunia terdiam, bingung, bagaimana cara mulai menjelaskan persoalan yang dia rasakan.
"Mas... mas marah sama Yunia?" Akhirnya Yunia balik bertanya.
"Marah? Kenapa kamu bisa berpikir kalau aku marah?" Wisnu balik bertanya lagi. Seingatnya, dia tidak pernah berkata keras atau mengatakan sesuatu yang bisa mengindikasikan kalau dia sedang marah.
"Terakhir kali, waktu kita masih di restoran... mas kelihatan marah sama Yunia. Setelah itu selama beberapa hari ini, Yunia merasa, mas Wisnu ngediemin Yun. Yunia enggak tahu kenapa. Yunia mau tanya, apa salah Yunia... Tapi sebelum Yunia tanya, Mas Wisnu muncul dengan dia... Mas, emang Yunia salah apa...?" Sampai di sini, ucapan Yunia tersendat, matanya sudah mulai berkaca-kaca lagi
__ADS_1
"Ish, jangan nangis lagi dong...." Bujuk Wisnu melihat gelagat itu. Dia takut orang-orang salah paham kalau melihat Yunia menangis.
"Mas enggak marah sama kamu, mas juga enggak pernah bermaksud mendiamkan kamu..." Kata Wisnu.
"Terus beberapa hari terakhir ini... Mas kemana? Mas enggak ngajak ngomong Yunia, mas pergi pun enggak ngomong sama Yunia." Potong Yunia. terbawa emosi lagi.
"Kalau Yunia punya salah, tolong kasih tau, mas. Mas boleh marahin Yunia... Tapi jangan cuekin Yunia ... Yunia enggak punya siapa-siapa lagi sekarang, Yunia takut...." Ujar Yunia dengan tersendat-sendat.
Dengan lembut akhirnya Wisnu menarik Yunia mendekat dan memeluknya.
"Mas minta maaf, sayang... Bukan maksud mas Wisnu untuk nyuekin kamu... Tapi beberapa hari terakhir ini, pikiran mas Wisnu memang sedang terganggu dengan kehadiran Adriana...." Wisnu mengambil jeda bicara. Selain untuk menenangkan perasaannya sendiri yang memang agak galau gara-gara Adriana, Wisnu juga harus pandai-pandai memilih kata, supaya Yunia tidak semakin salah paham.
"Mas Wisnu masih cinta ya sama mamanya Sabina..." Tebak Yunia. Dalam hati Yunia sangat takut, bagaimana jika jawaban dari pertanyaan nya itu 'IYA'?
Wisnu tersenyum miris. Tak bisa dipungkiri, dalam hatinya masih ada tempat istimewa untuk Adriana, karena mereka berpisah bukan karena ada pihak yang menyakiti. Justru mereka berpisah pada saat seharusnya ikatan diantara mereka semakin kuat. Adriana akan tetap bersamanya seandainya saja Wisnu tidak lebih memilih anak mereka dan mengikuti perintah ayah untuk menikah dengan Yunia.
"Mencintai atau enggak, aku enggak tahu... " Jawab Wisnu akhirnya sambil menatap jauh ke depan.
"... Tapi yang pasti sekarang aku ada bersamamu ... menyayangimu... dan ingin hidup bahagia denganmu... bisakah kamu terima itu Yun?"Lanjut Wisnu.
Yunia tercenung.... Bisakah dia menerima hal itu? Entahlah... Tapi yang pasti, Yunia tidak akan sanggup jika harus pergi dari sisi Wisnu....
🌼 🌼 🌼
__ADS_1