Andai Cinta Bisa Memilih

Andai Cinta Bisa Memilih
Rico


__ADS_3

Wisnu dan Yunia akhirnya memutuskan untuk masuk ke restoran dengan menu andalan makanan khas Sunda, setelah sebelumnya Wisnu mengusulkan untuk masuk ke restoran yang menu andalannya western, dan sukses di tolak oleh Yunia.


"Aku enggak mau mas kalau menu western... enggak ngenyangin ..." Kata Yunia.


"Ya, makan yang banyak dong, biar kenyang..." Wisnu berusaha bertahan dengan usulannya.


"Tapi enggak bisa bertahan lama kenyang nya... enggak seperti makan nasi soto..." Yunia juga tetep bersikukuh. Wisnu nampak berpikir sebentar...


"Oke, enggak makan di restoran western... tapi aku juga enggak mau makan nasi soto..." Ujar Wisnu akhirnya.


"Kenapa?" Yunia ingin tahu alasan Wisnu.


"Karena kalau makan nasi soto, kamu nanti minta di ajak ke warteg Mbok Jas..." Sahut Wisnu. Yunia langsung tertawa mendengar Wisnu menyebutkan nama Mbok Jas. Mbok Jas Itu adalah nama rumah makan yang berada di dekat rumah mereka, yang menjadi langganan Yunia sejak dulu.


"Ya, udah... enggak makan nasi soto deh... Jadi sekarang kita makan apa nih?" Tanya Yunia akhirnya. Sesaat keduanya mengedarkan pandangan kearah deretan restoran di dekat mereka.


Ada begitu banyak restoran di sekitar mereka yang mempunyai pilihan menu utama berasal dari mancanegara seperti Korean food, Chinese food atau menu Thailand. Tapi ada juga restoran dengan menu lokal seperti rumah makan Padang atau rumah makan khas Sunda..


"Kita ke sana aja ya, mas... " Usul Yunia akhirnya sambil menunjuk ke sebuah restoran, dengan menu andalan makanan khas Sunda. Wisnu mengangguk setuju. Karena itu, jadilah akhirnya mereka duduk di salah satu kursi di restoran itu.


"Selamat datang, mas... mbak... "Ujar seorang pelayan wanita dengan nada yang ramah sekali sambil menuangkan welcome drink untuk Yunia dan Wisnu,


"Terima kasih..." Ucap Yunia dan Wisnu hampir bersamaan.


"Silahkan dipilih menu andalan kami..." Lanjut pelayan itu kemudian, sambil menyerahkan buku menu yang dia bawa sekalian di atas nampan, bersamaan dengan welcome drink tadi.

__ADS_1


"Maaf, apakah mas dan mbak mau order sekarang atau masih perlu waktu untuk memilih...?" Tanya pelayan itu lagi dengan ramahnya. Memberi kesempatan memilih secara privasi kepada mereka berdua. Sesaat Wisnu yang Yunia bertukar pandang. Yunia mengangkat bahu, memberi isyarat "terserah" pada Wisnu.


"Minta set menu aja, mbak..." Kata Wisnu akhirnya. Pelayan itu akhirnya memberi tiga pilihan set menu restoran mereka. Karena model menu khas Sunda, tidak banyak item dalam set menu itu. Hanya makanan pembuka, makanan utama, dan makanan penutup. Dan akhirnya Yunia dan Wisnu memilih set menu yang menu utama ikan bakar.


Tak lama kemudian, makanan pesanan mereka datang ...


"Risoles?" Pikir Yunia dalam hati sambil menatap menu pembuka mereka. "Mana kenyang makan beginian..."


Untunglah tak lama setelah itu, menu utama langsung menyusul. Nasi putih lengkap dengan sayur asem, ikan bakar, tahu dan tempe goreng disertai lalapan pelengkap lainnya. Mencium aroma ikan bakar itu langsung saja membuat perut Yunia yang semula biasa-biasa saja, mendadak menjadi lapar, seperti orang yang seharian tadi berpuasa... πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


"Ayo makan mas..." Ujar Yunia, sambil mengambilkan nasi untuk Wisnu. Kebetulan nasi yang disajikan pihak restoran tidak langsung di atas piring masing-masing, tapi dalam bakul kecil yang terbuat dari bambu.


Wisnu menerima piring nasinya. Setelah itu mereka berdua mulai menikmati hidangan pilihan mereka. Sesekali Yunia memisahkan daging ikan dari durinya dan meletakkannya di piring Wisnu.


"Sudah... kamu makan saja..." Ujar Wisnu.


"Ekonomis sekali..." Pikirnya. Yunia merasa rugi kalau makanan yang sudah mereka pesan itu sampai enggak habis mereka makan. πŸ˜‚


🌼🌼🌼 Di sudut lain restoran 🌼🌼🌼


Sekelompok orang baru memasuki area restoran, seorang greater mengantar mereka ke suatu tempat agak di sudut, yang sepertinya memang telah disiapkan sebelumnya oleh pihak restoran. Hal itu bisa dilihat dari tatanan meja dan kursi yang terlihat digabung-gabung untuk bisa menampung sejumlah orang sekaligus. Rico nampak ada diantara mereka.


Malam itu, kebetulan ibunya berulang tahun. Ayah Rico mengajak seluruh anggota keluarganya, termasuk paman, bibi dan sepupu Rico, untuk makan-makan di restoran itu. Setelah semuanya duduk, lalu mereka semua ramai meminta menu makanan untuk masing-masing. Tampak beberapa pelayan dikerahkan untuk mencatat pesanan orang-orang itu.


Sementara menunggu giliran memesan, Rico mengedarkan pandangannya ke sekitar ruangan restoran, hingga matanya terpaku pada sosok yang selalu hadir, tidak saja dalam angan tapi juga dalam mimpi.

__ADS_1


Ya, sosok itu tidak lain adalah Yunia. Gadis itu terlihat begitu cantik tanpa pakaian seragam yang selalu dia kenakan jika sedang bersamanya. Baru berapa hari enggak ketemu, rasa rindu di dadanya terasa begitu membuncah.


Sebetulnya dari kemarin-kemarin dia ingin menelpon Yunia. Apalagi pas acara tahlilan itu, dia ingin hadir di sana, tapi penolakan Yunia atas ikan pemberiannya, membuatnya berpikir ulang. Apalagi ibunya memberi peringatan halus, agar Rico mulai menjaga jarak dengan gadis itu.


"...Kamu boleh suka dengan gadis itu, tapi jangan kamu berikan hatimu sepenuhnya padanya. ... Dia sudah berani menolak pemberianmu, bisa jadi dia memang enggak cinta sama kamu..." Begitu ucapan ibu pada Rico waktu itu.


Inginnya Rico menyanggah ucapan ibu, tapi dia sendiri juga enggak tahu pasti, bagaimana perasaan Yunia terhadapnya. Ya, setelah acara ulang tahunnya dulu, dia sempat yakin kalau Yunia punya perasaan yang sama dengannya. Tapi setelah adanya penolakan atas pemberiannya, apalagi selama beberapa hari setelah itu, saat Rico sengaja tidak menelponnya, kelihatannya Yunia adem ayem aja, enggak ada kesan keberatan atau reaksi apapun, membuat Rico mempertanyakan kembali keyakinannya. Kini, Rico malah melihat Yunia sedang asik makan malam dengan seorang pria. Cuma berdua lagi. Enggak seperti saat bersamanya, Yunia selalu menolak hanya berduaan dengannya.


🌼🌼🌼 kembali ke meja Yunia 🌼🌼🌼


Saat sedang nikmat-nikmatnya makan, tanpa sengaja, mata Yunia mengarah ke salah satu sudut ruangan restoran yang ramai oleh percakapan pengunjung. Dia penasaran, ada apa sih di sana, kok ramai sekali. Setelah diperhatikan, ternyata, mereka itu (sepertinya) keluarga besar yang sedang mengadakan acara makan malam bersama. Kelihatan sekali anggota keluarga itu berbicara dan bercanda saling menimpali.


Yunia sudah akan mengalihkan pandangannya dari kelompok itu, saat tanpa sengaja, matanya menatap sepasang mata yang juga sedang menatapnya.... RICO ?!


Uhuk Uhuk


Yunia tersedak karena kaget. Yunia melihat tatapan Rico sulit diartikan. Apakah itu tatapan marah, atau heran? Tatapan cemburu atau penasaran? Entahlah.


Melihat Yunia tersedak, Wisnu langsung membantunya. Dia mengambilkan Yunia air minum sambil mengelus leher belakang Yunia dengan tangan kirinya yang tidak terkena makanan.


"Pelan-pelan makannya, Yun..." Katanya. Yunia cuma mengangguk berusaha melegakan pernafasannya.


"Hei...!" Sapa sebuah suara mengalihkan perhatian mereka. Yunia dan Wisnu segera menoleh ke arah asal suara. Rico. Kini dia sudah berdiri di dekat meja mereka.


"Hai..." Jawab Yunia dengan suara tercekat. Sesaat keduanya bertukar pandang, mencoba saling membaca perasaan masing-masing...

__ADS_1


πŸŒΌπŸŒΌπŸŒΌπŸ‘‰πŸ‘‰πŸ‘‰


__ADS_2