
Pulang dari taman, Yunia membiarkan Alit membawa Sabina ke kamarnya untuk berganti pakaian, karena pakaian yang dipakainya terkena noda makanan yang berantakan saat di taman tadi.
"Sudah pulang kamu, Yun..." Sapa ibu saat Yunia melintas di ruang makan. Saat itu terlihat ibu sedang duduk mengupas buah pepaya.
"Iya, Bu..." Sahut Yunia sambil mendekat, bermaksud mencium tangan ibu, tapi ibu menunjukkan telapak tangannya yang kotor, memberi tahu kalau beliau tidak bisa menerima salam Yunia. Yunia tersenyum, lalu meraih pergelangan tangan ibu dan mencium pergelangan tangannya alih-alih punggung tangan ibu. Kini ibu yang tersenyum pada Yunia.
"Duduklah...." Perintah ibu. Yunia menurut, lalu dia duduk di kursi dekat ibu.
"Sini, Yunia kupas kan, Bu..." Pinta Yunia.
"Enggak usah... sekalian tangan ibu yang kotor." Ucap ibu.
"Pepaya ini kalau dibuatkan sambal rujak enak kayaknya, Bu...." Celetuk Yunia sambil membayangkan segarnya rujak buah di benaknya.
"Ha ha ha... kalau mau, bikin saja Yun. Itu coba di lihat.... di kulkas ada buah lainnya enggak?" Ujar ibu sambil tertawa.
"Ah, iya...." Sahut Yunia antusias, dia senang usulnya di sambut ibu. Dia segera bangkit untuk memeriksa isi kulkas.
"Ada melon... semangka.... anggur... Ya, buah-buahan ini sebenarnya enggak cocok dibikin rujak bu. Ini cocoknya dibikin sop buah..." Komentar Yunia setelah melihat isi kulkas.
"Kalau memang ingin, kamu beli saja, Yun. Mau beli rujak nya atau bahannya? Itu minta antar ke pak Yono ...." Kata ibu.
Sesaat Yunia berpikir. Enaknya gemana ya... Hingga dari arah ruang keluarga, muncul pak Yono sambil membawa telpon rumah.
"Ish... panjang umur, baru mau dipanggil, pak." Kata Yunia
"Iya...? Ada apa, Neng?" Tanya Pak Yono merasa kalau dirinya sedang ditunggu oleh majikannya. Tapi kemudian dia ingat maksudnya menghampiri Yunia.
"Oh Maaf, Neng Yunia. Ini ada telepon..." Katanya sambil menyerahkan gagang telepon itu pada Yunia. Yunia mengerutkan keningnya, siapa yang menelponnya lewat telepon rumah? Dia kan enggak kenal siapa-siapa di sini? Tapi tanpa banyak bertanya, dia lalu menerima gagang telpon itu dan mendekatkannya ke telinganya.
__ADS_1
"Halo...?" Sapa Yunia ragu.
"Yun, kamu ditelpon dari tadi kok enggak diangkat sih..." Gerutu orang yang diseberang.
"Mas Wisnu?" Ujar Yunia saat mengenali suara si penelpon.
Sejenak Yunia bertukar pandang dengan ibu. Dalam benaknya dia bertanya, ada dimana suaminya ini sekarang, karena rasanya sejak kemarin dia tidak melihatnya. Dia ingin bertanya pada penghuni rumah lainnya, tapi Yunia malu, masa dimana suaminya berada dia tidak tahu?
"Iya, ini aku. Hape kamu kemana? Kenapa di telpon dari tadi enggak diangkat?" Tanya Wisnu.
"Yunia tadi main ke taman dengan Sabina. hapenya enggak dibawa..." Jawab Yunia. Hape Yunia tadi memang sedang di charge, lagi pula walaupun dibawa juga percuma, pikir Yunia. Di taman enggak ada WiFi, sedangkan paket data Yunia sudah habis beberapa hari lalu. Dari kemarin-kemarin Yunia mau beli pulsa, tapi Yunia pikir agak sayang karena baik di rumah ataupun di restoran, Yunia bisa memakai fasilitas WiFi yang tersedia.
"Ya sudah. Sekarang, kamu datang ke restoran cabang mall Permata ..." Perintah Wisnu.
"Loh, bukannya kalau hari Minggu Yunia dapet libur, mas?" Potong Yunia.
"Waalaikum salam...." Jawab Yunia pelan sambil menatap gagang telpon itu. Seakan-akan gagang telpon itu yang bersalah karena memutus obrolan yang belum selesai.
"Ada apa, Yun?" Tanya ibu yang masih duduk di kursinya dan mendengarkan percakapan antara anak dan menantunya itu.
"Mas Wisnu mau Yunia pergi ke restoran cabang mall Permata..." Sahut Yunia dengan nada yang seperti belum yakin akan apa yang dia dengar barusan.
"Mau apa? Kamu enggak libur hari Minggu?" Tanya ibu. Ibu paham kalau bisnis restoran malah tambah rame di hari Minggu. Tapi Yunia kan statusnya masih PKL, bukan di bagian produksi lagi, jadi buat apa kerja di hari Minggu?
"Yunia kurang tahu, Bu... Ini Yunia malah di suruh ngajak Sabina segala...." Jawab Yunia. Kening ibu mengernyit, seperti ibu sama dengan Yunia. Sama-sama enggak tahu apa maksud Wisnu menyuruh Yunia datang ke mall itu bersama Sabina.
"Mungkin dia mau ngajak Sabina main di Area Game sana..." Tebak ibu.
"Iya, mungkin..." Sahut Yunia. "Ya, udah Bu. Yunia mau siap-siap dulu. Mas Wisnu tadi bilangnya jangan lama-lama..." Lanjut Yunia.
__ADS_1
"Hem..." Gumam ibu. Setelah itu Yunia segera pergi ke kamarnya dan meminta Alit menyiapkan keperluan Sabina.
Beberapa menit kemudian....
Yunia masuk ke restoran milik suaminya. Ini adalah kali pertama dia datang. Pak Yono yang mengantarkan sampai pintu masuk area restoran. Semula Yunia akan akan bertanya pada greater yang bertugas di depan pintu. Tapi sepertinya sang greater sudah mengenal pak Yono yang berjalan di belakang Yunia, dan Sabina yang berada di gendongan Yunia.
"Selamat, siang.... Mbak Yunia, ya..." Tebak greater itu menyambut.
"Iya... mas Wisnu nya dimana?" Tanya Yunia langsung.
"Oh, Pak Wisnu sedang keluar sebentar. Tadi beliau sudah memberi tahu saya, kalau mbak Yunia akan datang. Mari, saya antar ke meja mbak, sambil menunggu pak Wisnu kembali..." Ujar greater itu sambil mempersilahkan yunia untuk mengikutinya.
"Neng, saya tunggu di parkiran saja ya..." Ujar pak Yono saat Yunia mulai melangkah.
"Eh, kenapa enggak tunggu di sini saja, pak..." Tanya Yunia merasa tidak enak. Menurutnya menunggu di dalam restoran kan akan lebih nyaman, dari pada di basemen mall yang panas. Tapi untuk pak Yono sendiri malah jadi tidak nyaman kalau jadi 'pengganggu' acara kencan majikannya.
"Saya di basemen saja neng. Kalau ada apa-apa, langsung telpon saja. Nanti saya akan segera kemari..." Jawab Pak Yono. Akhirnya Yunia mengangguk setuju.
Pak Yono pergi ke basemen. Yunia dipersilahkan duduk di kursi yang berada di tepi jendela. Karena restoran ini berada di lantai tiga. Yunia bisa melihat pemandangan yang ada di bawahnya. Bukan pemandangan alam seperti di buku pelajaran bahasa Indonesianya tentu saja. Pemandangan yang dimaksud disini adalah keramaian lalu lintas kota yang setengah padat. Yunia melihat deretan mobil seperti tidak pernah putus melaju perlahan, mulai dari perempatan lampu merah di sisi kanan hingga pertigaan yang juga ada lampu merah nya di sisi kiri.
"Mbak silahkan dinikmati ..." Ujar seorang pelayan perempuan menarik perhatian Yunia dari memandangi deretan mobil di bawahnya. Pelayan itu meletakkan sepiring kecil puding di meja.
"Terima kasih..." Ujar Yunia sambil mendudukkan Sabina di kursi. Ya, sedari tadi Yunia tidak menurunkan Sabina dari gendongannya.
"Mam mam mam..." Oceh Sabina.
"Iya, mamam ..." Ujar Yunia. Lalu dia mulai menyuapi Sabina, puding itu dengan telaten dan penuh kesabaran.
πΌπΌπΌπππ
__ADS_1