
Acara selamat 100 hari meninggalnya bapak sudah selesai. Hari Senin, sesuai dengan rencana semula, Wisnu dan Yunia kembali ke kota B.
Sebelum pergi, mereka berdua menyempatkan diri untuk "berpamitan" ke makam bapak dan ibu Yunia. Di sana sekali lagi Yunia mendengar Wisnu berjanji akan menjaga dirinya dan calon anak mereka dengan baik. Yunia tersenyum. Ya, biarlah bila cinta memang belum hadir diantara mereka. yang penting mereka kini saling menyayangi dan berjanji untuk selalu bersama dan menjaga satu sama lain. Bukankah orang tua berkata.... Wiwitaning tresno jalaran Soko kulino...?
...* * *...
"Yun ... Yun ... udah sampai..." Ucap Wisnu. Saat itu, mereka baru saja pulang dari rumah bapak. Mereka di jemput oleh pak Yono di bandara dan Yunia yang kelelahan jatuh tertidur tak lama setelah mobil meninggalkan bandara.
Telapak tangan Wisnu menepuk-nepuk pipi Yunia pelan. Yunia yang kepalanya bersandar di lengan Wisnu, perlahan membuka mata.
"Emmm udah sampai ya..." Katanya setengah bergumam sambil mengangkat kepalanya dari lengan Wisnu. Sesaat dia memperhatikan sekelilingnya. Ternyata mobil yang dikendarai oleh pak Yono itu sudah masuk dan berhenti di garasi rumah. Pak Yono sendiri sudah turun untuk mengeluarkan barang-barang bawaan mereka dari bagasi mobil.
"Iya... Ayo turun..." Ucap Wisnu mengecup kening Yunia sepintas lalu membuka pintu dan turun. Yunia masih berusaha mengumpulkan kesadarannya yang tercerai berai saat tertidur tadi, sebelum ikut melangkah keluar dari dalam mobil.
"Halo sayang...."
Terdengar suara Wisnu menyapa seseorang. Spontan saja mata Yunia beredar, mencari tahu siapa yang disapa suaminya itu.
"Ma...ma...ma...ma ...." Panggilan dari sebuah suara kecil menarik perhatiannya.
"Halo Sabina sayang..." Sapa Yunia, saat matanya menemukan tubuh kecil Sabina dalam gendongan ibu yang baru melangkah keluar dari dalam rumah. Segera saja dia melangkah, menyusul langkah Wisnu yang sudah lebih dahulu mendekati keduanya.
"Assalamualaikum, Bu..." Sapa Wisnu pada ibu sambil meraih tangan ibu.
"Waalaikum salam..." Sahut ibu.
Selesai mencium punggung tangan ibu, Wisnu mencium pipi anaknya kanan kiri. Tapi saat ingin mengambil Sabina dalam gendongannya, Sabina malah mengajukan tubuhnya ke arah Yunia.
"Kangen mama, sayang..." Ucap Yunia sambil tertawa kecil. Dia meraih Sabina dalam gendongannya, setelah itu baru dia mencium punggung tangan ibu.
"Assalamualaikum..." Salamnya.
"Waalaikum salam..." Balas ibu lagi. "Bagaimana perjalanannya, aman-aman saja kan?" Tanya ibu.
"Alhamdulillah, aman Bu..." Jawab Wisnu.
"Kamu enggak mabuk, Yun?" Tanya ibu. Beliau tahu kalau Yunia mulai mengalami mual-mual akibat kehamilannya.
"Enggak terlalu Bu... Yunia membawa ini... " Sahut Yunia sambil menunjukkan buah jeruk yang bentuknya sudah layu karena kulitnya sudah beberapa kali diremas untuk sekedar dihirup aromanya.
__ADS_1
"Kenapa enggak bawa minyak aromaterapi saja Yun..." Usul ibu.
"Kurang mantap baunya, Bu... Yunia lebih senang aroma kulit jeruk asli..." Jawab Yunia.
"Ya, sudah.... terserah kamu deh. Kalau ada apa-apa, kamu jangan sungkan-sungkan bicara sama ibu, ya..." Ujar ibu sambil mengelus kepala Yunia lembut. Yunia mengangguk patuh.
"Sini, papa saja yang gendong..." Pinta Wisnu. Tapi Sabina malah merangkul Yunia lebih erat.
"Enggak apa-apa, mas...Lagi kangen dia..." Ujar Yunia. Lalu menciumi pipi Sabina bolak-balik. Sabina terkekeh.
Mereka lalu berjalan masuk ke ruang keluarga. Ibu duduk di salah satu kursi di sana. Wisnu ikutan duduk. Melihat ibu dan suaminya duduk, akhirnya Yunia juga ikutan duduk di sebelah Wisnu, masih asik bermain dengan Sabina.
"Bagaimana proses selamatannya? Lancar?" Tanya ibu ingin tahu.
"Alhamdulillah, semua berjalan dengan lancar...." Jawab Wisnu. Tapi sementara berbicara dengan ibu, matanya memperhatikan anak dan istrinya.
Sabina yang sedang senang belajar berjalan berdiri melonjak-lonjak di atas pangkuan Yunia. Keduanya bercanda sambil tertawa. Tidak tahu apa yang membuat mereka berdua bisa tertawa sesenang itu. Wisnu senang mendengar mereka tertawa, tapi dia teringat kondisi Yunia yang tengah hamil, hingga menjadi khawatir melihatnya. Dia takut kaki Sabina yang melonjak-lonjak mengenai perut Yunia.
"Sayang jangan seperti itu... ayo sama papa..." Katanya berusaha membujuk Sabina agar mau pindah ke pangkuannya.
"Ndak... Ndak..." Ucap Sabina masih sambil terus melonjak.
"Wawat..." Celoteh Sabina membuat kening Wisnu berkerut dan menatap ibu dan istrinya minta petunjuk. "Wawat..." Ulang Sabina. Yunia tertawa.
"Dia ingin naik pesawat..." Ucap Yunia menjelaskan. "Iya, sayang.... Ina mau naik pesawat?" Tanya Yunia pada Sabina. Sabina mengangguk.
"Wawat... Wawat..." Ulangnya.
"Iya... nanti Sabina naik pesawat." Sahut Wisnu.
"Bukan pesawat asli, mas... itu, Sabina ngajak main pesawat-pesawat-an ..." Jelas Yunia. Lalu dia berdiri untuk menunjukkan permainan pesawat yang dimaksud. Sabina masih dalam pelukannya. Kakinya melingkar di pinggang Yunia. Lengan Yunia melingkar di punggung Sabina dan ... Swiiing ... Tubuh Yunia berputar di tempat.
"Eehh...!!!"
Seru ibu dan Wisnu hampir bersamaan. Wisnu shock melihatnya. Ibu malah sudah hampir berdiri untuk menghentikan Yunia. Tapi Wisnu bergerak lebih cepat. Dia segera mendekap tubuh Yunia dan Sabina sekaligus untuk menghentikan mereka. Sementara Sabina malah terkekeh senang, telah berputar dengan posisi setengah terlentang dengan kedua tangan mencengkram lengan Yunia erat.
"Eh...?! Sudah-sudah.... " Perintahnya seperti panik. Wisnu beneran khawatir seketika. Yunia kan masih suka pusing, bagaimana kalau keduanya malah terjatuh? Dia langsung meraih Sabina dalam gendongannya.
"Jangan main seperti itu lagi ya." Ucap Wisnu pada Yunia, nadanya agak tinggi sebentar, karena cemasnya. "Sayang kalau mau main pesawat sama papa saja ya..." Ucap Wisnu lagi tapi kini berganti pada Sabina.
__ADS_1
"Papa Wawat..." Ucap Sabina.
Yunia agak kaget mendengar nada suara Wisnu yang meninggi. Baru sekarang Wisnu berbicara dengan nada tinggi seperti itu. Sesaat dia menatap Wisnu tidak suka.
Menerima tatapan Yunia, seketika Wisnu sadar akan kesalahannya.
"Maaf... " Katanya. "Jangan mainan seperti itu lagi, nanti kamu bisa pusing dan jatuh... kasihan yang ada di dalam sini..." Ucap Wisnu sambil mengusap perut Yunia sekilas. Yunia menghela nafas. Akhirnya dia paham maksud suaminya.
Ibu menyadari situasi...
"Papa lelah sekarang, sayang... ayo, Sabina makan dulu..." Ibu yang sedari tadi memperhatikan menyela obrolan "Alit...!" Panggil ibu.
Alit yang mendengar namanya dipanggil segera menghampiri.
"Makanan untuk Sabina sudah siap?" Tanya ibu setelah melihat Alit berdiri menghadapnya.
"Sudah Bu..." Sahut Alit.
"Bawa Sabina makan dulu, biar mama papanya mandi dan beristirahat sebentar..." Perintah ibu.
Alit mengangguk dan membujuk Sabina agar mau ikut dengannya. Setelah berhasil, Alit membawa Sabina ke halaman depan beserta semangkuk menu nasi lengkap untuk menyuapi Sabina.
"Kalian beristirahat lah, ibu ke dalam dulu..." Ucap ibu sambil melangkah meninggalkan keduanya.
Setelah ibu pergi, Wisnu segera mendekati Yunia.
" Kamu enggak pusing kan sayang.." Tanyanya. Kedua tangannya memegang pipi Yunia kanan kiri.
Yunia menggeleng.
"Jangan marah ya... mas cuma ingin menjagamu... Yunia sekarang kan sedang hamil, jadi harus lebih hati-hati... paham maksud mas kan?" Ucap Wisnu sambil membelai pipi mulus itu penuh sayang.
"Iya mas..." Sahut Yunia.
Mereka melangkah menuju kamar untuk bersih-bersih dan berbenah barang bawaan mereka.
"Tapi aku masih bisa ikut PKL kan?" Tanya Yunia sambil tiba-tiba berhenti melangkah dan menatap Wisnu.
"Hem..." Sahut Wisnu enggak pasti.
__ADS_1
...🍃 🍃 🍃...