
Hampir jam setengah delapan, saat Yunia selesai bersih-bersih. Yunia membongkar kopernya untuk mengambil baju ganti.
"Pakaian Yun ini nanti, Yun taruh di mana, mas?" Tanya Yunia, setengah berseru karena Wisnu masih berada di dalam kamar mandi sedang membersihkan kumis dan jenggotnya agar jangan sampai terlihat tumbuh.
"Masukkan ke lemari itu... buku-buku mu, bisa kamu tata di meja." Sahut Wisnu juga agak berseru, menandingi dengung suara shaver elektrik yang dipakainya.
Yunia membuka pintu lemari yang ditunjukkan oleh Wisnu. Di dalam lemari itu, Yunia melihat pakaian Wisnu tertata rapi. Cuma ada satu rak kosong di sana, tempat yang lain sudah ada isinya.
"Cuma satu rak?" Pikir Yunia. Bukan karena apa-apa Yunia berpikir begitu. Dari sekian rak yang ada di lemari empat pintu itu, cuma ada satu rak yang tersisa untuknya? Banyak banget pakaian Wisnu, ya...? Tapi...
Yunia meneliti kembali tumpukan pakaian di rak sebelah kanan... di rak sebelah kiri Yunia tahu itu tumpukan kemeja punya Wisnu, tapi yang sebelah kanan? Masa bajunya mas Wisnu ada yang motif bunga-bunga sama polkadot? Yunia meraih satu baju dan dia bentang di depannya. loh... ini kan gaun pendek? Punya siapa?
Iseng-iseng, Yunia juga membuka pintu lemari yang lain. Di tempat gantungan baju, Yunia juga melihat beberapa gaun tergantung bersebelahan dengan jas-jas milik Wisnu. Ada perasaan enggak enak menyusup. Jangan-jangan ini baju punya ibunya Sabina?
"Mas..." Yunia sudah mau berseru lagi, tapi saat berbalik badan menghadap ke arah kamar mandi, nampak Wisnu berjalan keluar.
".... ini punya siapa?" Tanya Yunia sambil berusaha mengendalikan intonasi suaranya yang seperti ingin menangis. Sesaat Wisnu menatap gaun yang dibentangkan Yunia. Gaun dengan warna dasar kuning dan motif bunga-bunga kecil berwarna ungu dan biru.
"Manis... kamu pasti cantik pakai gaun itu..." Komentar Wisnu enggak nyambung dengan pertanyaan Yunia.
"Punya siapa...?" Tanya Yunia lagi berusaha bersabar. padahal aslinya pikiran-pikiran buruk sudah mulai menguasai benaknya. Kalau benar gaun ini milik ibunya Sabina, jangan harap Yunia mau memakainya.
"Ya, punya kamu lah, sayang. Punya siapa lagi?" Jawab Wisnu akhirnya membuat kening Yunia berkerut.
"Baju punya Yunia? Sejak kapan aku punya baju model begini? Lagian kalaupun benar, kenapa bisa ada di sini?" Yunia bicara sendiri dalam hati.
Melihat ekspresi wajah Yunia, Wisnu cuma tersenyum.
"... Sejak bapak menyampaikan maksudnya agar meminta kami menjaga kamu, ibu sudah bersiap-siap untuk mempunyai anak perempuan, karena itu, setiap kali beliau membelikan pakaian untuk Sabina, ibu juga pasti membeli pakaian untuk kamu..." Akhirnya Wisnu menjelaskan tentang pakaian-pakaian perempuan yang ada di lemari itu.
"Sebanyak ini...?" Tanya Yunia hampir tidak percaya sambil memperhatikan tumpukan pakaian yang katanya disediakan untuknya. Wisnu cuma angkat bahu menanggapinya.
__ADS_1
"Sudahlah, kamu nge-beresin bajunya nanti saja, sekarang mas lapar, Kalau kamu enggak cepat bersiap, mas makan lagi kamu..." Ujar Wisnu sambil menahan senyum. Sungguh pagi ini rasanya dia ingin tersenyum terus. Ada rasa bahagia memenuhi dadanya. Yunia mencebik, menutupi rasa jengah dengan bahagia yang juga memenuhi dadanya.
"Jangan gitu... " Ujar Wisnu memperingatkan. Sejujurnya, dia selalu merasa tergoda setiap kali melihat Yunia mencebik seperti itu. Untuknya, itu seperti undangan untuk **********. Mendengar ucapan Wisnu, Yunia tanpa sadar segera menggigit bibir bawahnya.
"Jangan gitu..." Terdengar lagi suara Wisnu melarangnya.
"A' aaa... " Rengek Yunia merasa serba salah. Wisnu tertawa.
"Sudah... ayo kita sarapan. Lapar banget nih..." Ujar Wisnu akhirnya sambil meraih pinggang Yunia dan mendorongnya untuk berjalan meninggalkan kamar.
Di luar kamar, Yunia tidak melihat siapapun. Dia celingukan mencari tanda-tanda "kehidupan".
"Pada ke mana, orang-orang, mas?" Tanya Yunia.
"Emmm Bayu ngantor, mungkin ayah juga... yang lain... mas enggak tau. kan dari tadi mas bareng sama kamu..." Jawab Wisnu sambil ikutan celingukan.
"Bik....!" Panggil Wisnu saat belum juga melihat orang hingga mereka duduk di meja makan.
"Iya, Den...." Terdengar suara sahutan dari jarak yang sepertinya jauh. Yunia menatap Wisnu seakan bertanya... "Orangnya di mana?" ... Tapi tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki. Yunia menoleh ke arah asal suara. Dari arah ruang laundry yang berada di samping kamar Bayu, muncul Bi Iyam.
"Aku lapar..." Kata Wisnu.
"Oh, iya... sebentar bibi siapkan... " Kata bi Iyam paham. Wanita setengah baya itu lalu bergegas ke dapur. Yunia mengikutinya maksudnya ingin membantu.
"Apa yang bisa Yunia bantu, bi?" Tanya nya.
"Eh, neng Yun udah... duduk saja di sana, nanti bibi siapkan... enggak lama kok..." Kata bi Iyam.
"Bibi masak apa?" Tanya Yunia basa basi sambil memperhatikan pekerjaan bi Iyam.
"Ini tadi bibi bikin opor ayam, neng Yun suka engga sama opor ayam?"
__ADS_1
"Suka... Ngomong-ngomong, ayah dan ibu ke mana ini bi?"
"Tuan menemani Nyonya, katanya hari ini jadwal imunisasi untuk non Sabina..."
"Oh...." Seperti ada yang menohok di dada Yunia. Sabina itu kan sekarang harusnya menjadi tanggung jawabnya, tapi dia malah enak-enak tidur. Sedari tadi tidak pernah sedikitpun terlintas soal Sabina dalam benaknya. Yunia kembali ke meja makan dan duduk di samping Wisnu.
"Mas... hari ini jadwal imunisasi untuk Sabina ya...?" Ujar Yunia. Terlihat Wisnu seperti berpikir sebentar.
"Enggak tahu, iya kali... " Jawab Wisnu yang memang tidak tahu kapan jadwal imunisasi untuk anaknya.
"Maafkan Yunia, ya..." Kata Yunia lagi sambil menunduk penuh rasa bersalah. Wisnu yang enggak ngerti asal usul nya kenapa Yunia minta maaf jadi bingung.
"Maaf untuk apa?" Tanya Wisnu.
"Minta maaf, karena Yunia belum bisa menjadi ibu Sabina dengan baik..."
"Eh ...?!" Wisnu merasa terharu untuk kepekaan Yunia terhadap anaknya, dia lalu meraih Yunia mendekat lalu memeluknya erat.
"Semua perlu proses, sayang... " Ujar Wisnu sambil mengelus-elus punggung Yunia. "Mas maklum kok. Yunia masih belum terbiasa melibatkan Sabina dalam kehidupan sehari-hari Yunia, Mas juga kok... apalagi kalau sedang banyak pekerjaan, kadang suka lupa dengan Sabina. Karena itu, mas perlu Yunia untuk mengasuh dan menyayanginya. ..." Lanjut Wisnu. Yunia tidak menjawab, tapi dia mengangguk tanda paham.
"Bik...!" Panggil Yunia tiba-tiba sambil melepaskan diri dari pelukan Wisnu. Refleks Wisnu juga melepaskan Yunia sambil berbalik menghadap ke arah dapur.
Di sana, tampak Bu Iyam tengah berbalik hendak masuk lagi ke dapur. Rupanya tadi, Bi Iyam sudah akan mendekat sambil membawa mangkuk opor untuk ditaruh di meja makan, tapi karena melihat tuan mudanya itu sedang berpelukan dengan istrinya, dia merasa tidak enak dan akan berbalik ke dapur lagi.
"Emmm ini opor nya, Den..." Ujar bi Iyam agak malu sendiri sambil mendekat bersama mangkuk yang masih mengepulkan asap di tangannya.. Yunia sendiri juga malu, ketahuan sedang peluk-pelukan, walaupun dengan suaminya sendiri. Dia menunduk sambil mempermainkan serbet di depannya.
"Silahkan, Den... Ada lagi yang bisa bibi bantu?" Tanya bi Iyam sambil membuka tudung saji lalu menyiapkan piring untuk Yunia dan Wisnu.
"Enggak ada, bi..." Jawab Wisnu.
"Kalau ada yang kurang, panggil bibi saja, Den. Bibi ada di ruang laundry sedang membereskan cucian dengan Nani..." Kata bi Iyam memberi tahu.
__ADS_1
"Iya, bi. Terima kasih..." Yunia yang menjawab. Setelah bi Iyam melangkah pergi, Yunia mengambil piring dan mengisinya dengan nasi serta lauknya untuk Wisnu.
πΌπΌπΌπππ